
Mobil Romi masih mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Silfa sampai dirumah Silfa.
Silfa mengetahui bahwa Romi mengikutinya, setelah membayar taksi, Silfa segera turun dan buru-buru masuk kedalam rumahnya. Sementara Romi juga sudah tiba didepan rumah Silfa.
Romi menghampiri Silfa juga dengan cepat, Silfa masih mencoba membuka kunci pintu rumahnya, disaat Romi sudah semakin dekat, pintu rumah Silfa terbuka, dan Silfa segera masuk lalu mencoba menutup pintu rumahnya.
Belum sempat Silfa menutup pintunya dengan rapat, Romi sudah menahannya dari luar, Silfa berusaha mendorong dengan keras begitupun Romi yang juga berusaha menahannya agar tidak tertutup.
"Sil, gue minta maaf." ucap Romi sambil menahan pintu.
"Ngga ada,, gue ngga mau maafin lo,, sekarang lo pergi dari sini, gue males liat muka lo." gerutu Silfa kesal sambil terus menahan pintu.
Disaat pintu hampir tertutup, Romi langsung mengeluarkan segala kekuatannya dan mendorong pintu dengan keras, membuat Silfa terhempas dan terjatuh dilantai.
Buuukk..
"Akhhhhh.. pekik Silfa lagi terjatuh dilantai dan pantatnya kesakitan.
"Lo ngga ppa,, maafin gue." ucap Romi yang sudah masuk di dalam rumah dan menolong Silfa.
"Lo tuh kenapa sih Rom,, segitu bencinya yah lo sama gue.. kenapa sih lo selalu berbuat kasar sama gu." ucap Silfa kesal.
"Gue ngga sengaja Sil, gue minta maaf." ucap Romi menyesal.
"Lo ngga usah minta maaf, males gue mendengar permintaan maaf lo,, selalu kayak gitu, setiap lo ngelakuin kesalahan, lo selalu minta maaf, gue bosen mendengar itu." ucap Silfa lagi dengan kesal sambil berusaha berdiri.
Romi berusaha membantu Silfa untuk berdiri, tapi Silfa langsung menolaknya. Silfa berjalan dengan keadaan memegang bokongnya yang sakit dan dahinya yang bengkak.
"Sil,, sini gue bantuin lo." ucap Romi sambil menuntun Silfa untuk duduk di sofa.
"Ngga usah sok baik." ketus Silfa menolak.
Perlahan-lahan Silfa duduk di sofa, sambil terus menutup dahinya yang memang sudah bengkak, dan Silfa malu kalau sampai Romi liat.
"Dahi lo ngga ppa." ucap Romi sambil berusaha memeriksa dahi Sifa dengan berusaha menyingkirkan tangan silfa yang menutupinya.
"Ngga usah sok perduli, sekarang lo pergi dari sini, gue ngga mau liat lo,, gue benci sama lo." teriak Silfa kesal sambil berusaha menghindar agar Romi tidak melihat dahinya, tapi Romi tetap ngotot, dan akhirnya Romi berhasil.
"Ahhhkk.. pekik Silfa kesakitan lagi, saat tangannya tidak sengaja menyenggol dahinya.
Romi menatap dahi Silfa yang kini memar dan bengkak, Romi langsung berlari menuju dapur Silfa mengambil es batu untuk mengompres dahi Silfa.
Silfa hanya menatap Romi dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Kenapa gue bisa suka sama cowok kayak dia." gerutu batin Silfa kecewa.
Setelah mengambil peralatan untuk mwngompres dahi Silfa, Romi langsung kembali ke sofa untuk menemui Silfa, tapi Silfa sudah tidak ada, Silfa sudah masuk kedalam kamarnya.
Romi langsung menuju kearah kamar Silfa, Romi ingin masuk tapi kamarnya dikunci.
"Sil,, buka pintunya,, gue mau ngompres dahi lo yang memar." pinta Romi sambil mengetuk pintu kamar Silfa.
"Ngga usah sok perduli deh lo,, pergi dari sini, gue ngga mau melihat lo lagi." ketus Silfa kesal.
"Sil,gue minta maaf, gue beneran ngga sengaja, please jangan kayak gini, gue khawatir dengan jidat lo yang memar itu." ucap Romi khawatir.
Silfa merasa sedih mendengar perkataan Romi, Silfa merasa kalau Romi sebenarnya ngga perduli sama perasaan Silfa, dia hanya khawatir dengan luka memar yang ada di jidat Silfa.
"Gue maafin lo, sekarang lo pergi, gue bisa urus diri gue sendiri." ketus Silfa.
"Ngga bisa Sil, gue harus mastiin kalau jidat lo beneran baik-baik aja, baru gue mau pergi." pinta Romi lagi.
"Please Sil, biar gue yang mengobati luka lo." ucap Romi dengan nada kasihan.
Silfa merasa tidak enak mendengar ucapan Romi yang terdengar tulus dan merasa bersalah, akhirnya Silfa membuka pintu kamarnya dan membiarkan Romi untuk mengompres jidatnya.
Silfa sedang duduk disofa, sementara Romi sibuk mengompres dahi Silfa.
Romi menghentikan aktifitasnya dan menunduk menyesal, karna selama dia menyukai Silfa, dia tidak pernah berbuat baik sama Silfa, malahan sebaliknya, Romi selalu kasar dan bertingkah rese di depan Silfa. Romi melakukan itu karna dia merasa frustasi dengan perasaannya sendiri yang tidak bisa dia ungkapkan.
"Lo ngga salah Sil,, gue yang salah, gue laki-laki pengecut, pecundang, gue ngga bisa menjaga lo dengan baik." ucap Romi lirih sambil tertunduk menyesal.
"Maksud lo apa sih." ucap Silfa bingung.
"Maafin gue Sil, gue selalu berbuat seenaknya sama lo, tanpa memikirkan perasaan lo dan gue tidak bisa mengungkapkan perasaan gue sendiri, gue harusnya memperlakukan lo dengan baik, sesuai perasaan gue, tapi tetap tidak bisa Sil, gue laki-laki yang tidak baik, gue pecundang." ucap Romi menyesal dan itu mwmbuat Silfa semakin bingung dengan perkataan Romi yang bertele-tele.
"Bisa ngga sih, lo itu kalau ngomong di singkat aja, ngga usah bertele-tele, muter-muter ngga jelas, gue ngga ngerti maksud dari perkataan lo." ketus Silfa kesal.
Romi menatap Silfa yang terlihat kesal.
"Gue suka sama lo." ucap Romi refleks.
"Wahh,, kok gue bisa ngomong ini sih." batin Romi tidak percaya karna berhasil mengatakannya.
Silfa menatap Romi tidak percaya, ternyata Romi mengungkapkan perasaannya. Semetara Romi sudah deg-deg'an menunggu jawaban Silfa.
Silfa yang tadinya merasa senang, langsung kesal kembali, Silfa merasa Romi itu laki-laki yang tidak romantis, karna Romi mengungkapkan perasaannya diwaktu yang tidak tepat.
__ADS_1
"Gue ngga akan nerima lo." ketus Silfa lalu mencoba kembali kekamarnya.
Romi terkejut mendengar jawaban Silfa.
"Kenapa lo ngga nerima gue, penyebabnya apa,, apa lo ngga suka sama gue, tapi itu ngga mungkin, karna kelihatannya lo juga suka sama gue." ucap Romi masih mengikuti Silfa.
"Iya gue suka sama lo, tapi gue ngga mau nerima lo jadi pacar gue." ketus Silfa sambil terus berjalan.
"Kenapa lo ngga mau nerima gue,, apa karna si Din itu yang mau ngelamar lo? gue juga bisa ngelamar lo kalau lo mau Sil." ucap Romi sambil menahan tangan Silfa.
Silfa kembali heran dengan perkataan Romi, yang menyalahkan Din,, siapa Din? Silfa pun mengingat, mungkin yang Romi maksud adalah Din temannya, karna tadi dia berbicara dengannya.
"Kenapa lo bengong? jadi perkataan gue bener, lo ngga nerima gue karna si Din itu." ketus Romi.
"Bukan karna dia, tapi karna lo sendiri. Lo itu cowok apa bukan sih, lo tuh ngga ada romantisnya sama sekali, setelah lo membuat jidat gue bengkak dan memar lo bikin pantat gue sakit karna jatuh di lantai, lo tiba-tiba ngungkapin perasaan lo tanpa rasa bersalah, dan itu alasan gue ngga menerima lo. Gue akan nerima perasaan lo sekarang." ketus Silfa lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Caranya gimana? biar lo nerima gue." tanya Romi bingung.
"Lo harus ngungkapin perasaan lo di tempat yang romantis, dan lo ungkapin dengan kata-kata yang romantis, ngga seperti tadi." ketus Silfa yang berdiri diambang pintu kamarnya dan membuat Romi kembali bingung.
"Mending sekarang lo pulang, dan pikirin di rumah lo." ketus Silfa lagi.
"Tapi Sil, gimana caranya, ini pertama kali buat gue, dan gue ngga tau harus gimana, apa ngga ada yang lebih mudah." keluh Romi.
"Ngga ada, itu udah paling mudah Rom, masa sih lo ngga bisa menuhin syarat dari gue." gerutu Silfa lagi.
Romi semakin pusing lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Silfa merasa Romi sangat lucu dengan tingkah bingung Romi.
Cup...
Silfa mengecup bibir Romi sekilas, lalu bergegas masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya, Romi terkejut dengan tindakan Silfa tiba-tiba.
"Ini maksudnya apa?" tanya Romi dari luar pintu kamar Silfa.
"Itu hadiah, biar lo semangat, sekarang lo pulang lalu pikirin caranya dirumah lo, gue ngga akan nemuin lo sebelum lo memenuhi syarat itu." Ucap Silfa malu-malu.
"Hei,, Sil, lo nyuruh gue pulang gitu aja, harusnya ngga segini doang kan." gerutu Romi mengharapkan lebih.
"Ngga usah mengharap yang lebih, lo pulang sekarang juga sebelum gue berubah fikiran dan menolak lo.".ancam Silfa.
"Ok gue balik." ucap Romi senang lalu meninggalkan rumah Silfa sambil menyentuh bibirnya yang sudah dikecup Silfa dan tersenyum.
Silfa penasaran apakan Romi sudah pergi atay belum, perlahan Silfa membuka pintu kamarnya lalu memeriksa sekeliling sudah tidak melihat Romi, seketika pipi Silfa memerah karna malu dengan tindakannya tadi. Silfa langsung masuk kedalam kamarnya lalu membuang dirinya keatas kasurnya sambil terus mengeliat senang sekaligus malu, karna dia mengecup bibir Romi.
__ADS_1