
Winda kembali sibuk dengan belanjaannya,wanita itu terlihat begitu tenang tanpa beban.
Restu mendekat dan mengalungkan tangannya di peŕut sang istri.
" Kamu kenapa ?" Tanya Restu lembut.
" Gak papa " Jawab Winda tenang.
" Cerita sama aku ? kamu kepikiran sama Sam ?" Tanya Restu hati2.
" Mas !" Ucap Winda kaget.
" Aku gak tau isi hati kamu sayang,jika kamu beneran mikirin Sam aku gak marah kar...
" Udah !" Potong Winda tegas.
Restu terdiam melihat wajah marah istrinya.
" Aku gak pergi,kalo kamu mau kamu pergi sendiri aja " Kata Winda menarik nafas panjang.
" Tapi kamu juga diundang " Kata Restu lembut.
" Iya tapi hak aku menentukan aku mau ikut atau gak " Balas Winda.
" Kalo aku bawa Nur boleh gak ?" Tanya Restu lagi.
" Gak usah bawa anak aku !" Jawab Winda ketus.
" Pa " Panggil seseorang dari belakang.
Pasangan itu menoleh dan mendapati putri mereka berdiri diambang pintu seraya memegang gaun cantik yg sering ia pakai kondangan.
Restu melirik Winda,wanita itu kembali menghela nafas dan berbalik badan menyelesaikan belanjaannya.
" Pa jadi pelgi kan ?" Tanya Nur tersenyum manis.
" Em anu sayang " Jawab Restu bingung.
" Kenapa Pa ?" Tanya Nur mengernyit.
" Kayaknya kita gak jadi pergi deh " Jawab Restu menggaruk kepala.
" Kenapa ?" Tanya Nur kaget.
" Mama lagi gak enak badan " jawab Winda tegas.
" Hah Mama sakit ?" Tanya Nur kaget.
Restu menelan ludah kasar,lelaki itu mulai bimbang dengan suasana yg terjadi.
" Tapi aku udah janjian sama Sutal dan Uci Pa,meleka semua pelgi sama Mama Papa nya " Kata Nur sedih.
" Hm nanti em gimana ya " Ucap Restu menggaruk kepala.
Nur semakin menunduk dengan bibir menjuntai kebawah.
" Yank " Panggil Restu menegur Winda.
" Pergi aja kalo mau " Jawab Winda tenang.
" Tapi Nur ?" Tanya Restu hati2.
__ADS_1
" Gak usah " Jawab Winda ketus.
Restu terdiam,sungguh lelaki itu benar2 disituasi sulit,ia tak enak jika tak pergi ke kondangan Samuel lantaran semua karyawan diwajibkan ikut kesana,apalagi Restu bisa bekerja juga berkat bantuan Zaki dan Samuel memperlakukannya dengan baik,tapi disisi lain ia juga harus memikirkan perasaan istrinya yg mungkin sedang kacau.
Winda menghela nafas dan menatap Restu dengan wajah lembut.
" Kamu pergi aja Mas,aku emang gak enak pergi kesana ketemu Samuel dan keluarganya,bukan bearti aku masih punya rasa sama Sam,tapi aku cuma gak mau aja nanti diacara mereka bikin suasana gak enak,dan kamu jadi bahan gunjingan orang " Kata Winda mengusap bahu suaminya.
" Aku gak berfikir begitu,kamu sama Samuel sudah selesai terus apa masalahnya ?" Tanya Restu mengernyit.
" Kamu gak tau gimana mereka " Jawab Winda.
" Kalo kamu gak pergi aku juga gak pergi " Balas Restu tegas.
" Ya jangan dong,gak enak sama orang tuanya,kan kamu juga diwajibkan,nanti potong gaji gimana ? bayar cicilan gimana kalo gaji kamu gak keluar ?" Tanya Winda terkekeh.
" Histt kamu mikirnya duit aja " Cibir Restu.
" Hehe iya dong,kan mau makan,ini harus dikasih asupan yg cukup loh " Balas Winda mengusap perutnya.
" Hahah oh iya ada yg nyangkut ya disini " Kata Restu teringat.
" Iya " Jawab Winda lembut.
" Ya udah,terus kalo aku pergi Nur gimana ?" Tanya Restu melirik anaknya yg masih diam.
" Biar aku yg urus kamu pergi aja " Jawab Winda tenang.
" Nanti dia nangis Yank " Balas Restu hati2.
" Bentar doang,nanti aku bujuk pake siomay " Balas Winda terkekeh.
" Hahaha kamu bisa aja " Kata Restu tertawa ngakak.
" Hm aduh,Papa sakit perut " Ucap Restu mulai berakting.
" Papa kenapa ?" tanya Nur terkejut.
" Papa sakit perut sayang,kayaknya Papa harus kerumah sakit sekarang " Jawab Restu asal.
" Hah lumah sakit ?" Tanya Nur melotot.
Winda diam saja kembali sibuk dengan urusannya.
" Iya,duhh gak tahan lagi,Papa pergi sekarang ya dahh " Kata Restu langsung berlari keluar.
" Papa ikutttttt " Pekik Nur mengejar lelaki itu.
Restu kelabakan mengambil jasnya di ruang tamu.
" Papaaaaaaa " Teriak Nur melengking.
" Yankkkkk,lihat anak kamu " teriak Restu seraya berlari menuju motornya.
" Papaaaaaa Nul ikut Paaaa huaaaaaaaaaa " Nur langsung menangis kencang memanggil bapaknya.
Didapur Winda menghela nafas panjang,dirinya harus menyiapkan tenaga extra jika sang putri mulai mengamuk.
" Papaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa " Teriak Nur mulai mengejar.
" Astaga Nurrrrrrr " Teriak Winda kaget saat sang anak melintasi kaca dapurnya mengejar Restu yg sudah berangkat.
__ADS_1
Tanpa tunggu lama,Winda langsung berlari menangkap bocah kecil itu yg akan menuju jalan penyebrangan..
Drama ngamuk pun tak bisa dielakkan,jiwa emak2 Winda pun keluar menasehati sang putri yg begitu keras kepala pada saat tertentu.
" Papa huhuhuhu Nul ikut Paaaa huhuhu " Ucap Nur pilu.
" Maafin Mama Nak,Mama gak bisa biarin kamu disana sama Papa kamu,Mama gak mau kamu dijahatin orang " Batin Winda sedih melihat anaknya.
Sebenarnya tidak terjadi masalah jika Nur ikut,hanya saja rasa trauma Winda begitu dalam jika berhubungan dengan keluarga Samuel.
Sebelumnya Kakek Nenek Winda sudah menganjak mereka pergi bersama tapi Winda menolak cepat dengan alasan pribadi.
Disebuah kampung seorang pria terdiam saat menatap hapenya yg memberikan kabar mengejutkan.
" Kak Sam menikah " Gumam Doni pelan.
Helaan nafas terdengar berat,ntah mengapa Doni merasa ada yg mengganjal dihatinya melihat berita ter hot itu.
" Apa kabar Kak Winda ya ? apa dia baik2 aja ?" Gumam Doni sedih.
" Kenapa Bang ?" Tanya Malvin tiba2 duduk disebelah lelaki itu.
" Hah em anu Pa " Jawab Doni kelabakan.
Malvin mengambil hape anaknya dan terdiam melihat tulisan disana.
" Samuel menikah ?" Tanya Malvin melotot.
" Iya " Jawab Doni pelan.
" Akhirnya dia menemukan jodoh yg tepat " Jawab Malvin menghela nafas.
" Pa " Panggil Doni hati2.
" Kenapa ?" Tanya Malvin tenang.
" Apa Papa merasa sedikit gak enak ?" tanya Doni.
" Maksud kamu ?" Tanya Malvin bingung.
" Hm aku merasa gak rela gitu Pa hm bukan maksud aku gak setuju Kak Winda sama Kak Restu hanya saja....." Ucap Doni menggantung.
" Walaupun Kakak ipar kamu yg sekarang banyak sekali kekurangan,tapi lihat apa Winda merasa terbebani,apa dia sering menangis sendirian tanpa suara ?" tanya Malvin menepuk bahu putranya.
" Ya aku lihat Kak Restu membuat Kak Winda kembali semangat " Jawab Doni menghela nafas.
" Papa tidak menyalahkan Samuel,mungkin saja Kakak kamu dan Dia gak berjodoh lama,kita ambil positif nya aja " Ujar Malvin menasehati.
" Apa kalian gak sakit hati kepada keluarganya Samuel ?" tanya Doni.
" Sakit hati ?" Ulang Malvin terkekeh.
Doni mengangguk kecil.
" Papa dan Mama gak dendam Nak,hanya saja mereka menorehkan luka yg begitu dalam hingga menimbulkan bekas yg gak bisa kami lupakan dan Kakak mu hilangkan dalam hidupnya " Jawab Malvin tenang.
" Aku kasihan sama Kak Sam Pa,padahal Kak Sam itu baik banget sama kita " Kata Doni ingin menangis.
" Ya kalo nanti kamu gede dan sukses,kamu harus baik seperti Samuel tapi kamu juga harus tegas sama diri kamu sendiri apalagi nanti punya pasangan " Balas Malvin serius.
Doni mengangguk mengerti dan kembali membaca berita.
__ADS_1
❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya