
Suasana sangat tegang,Yuni dan Reno terlihat menunggu didepan kamar Romi sedangkan Aktam membawa Byanca keluar untuk ditenangkan.
Gadis kecil itu terus menangis memanggil nama Ayahnya,Yuni yang tak sanggup membayangkan nasib suaminya juga ikut menangis.
" Ya Tuhan selamatkan suami ku " Gumam Yuni berjalan mondar mandir.
Reno menatap iba wanita itu,Yuni kecil kini sudah dewasa Reno tak menyangka gadis yang suka makan snack bersama Clara dulu kini menjadi istri asistennya bahkan sahabat bagi pria itu.
" Romi akan selamat " Ucap Reno menenangkan.
" Aku takut Mas Romi....huhuhu " Kata Yuni tak sanggup melanjutkan katanya.
" Tidak suami mu pria yang kuat " Kata Reno tegas.
Reno menghela nafas panjang menatap kamar yang tertutup rapat.
" Apa aku harus memberitau Alexi ?" Tanya Reno pelan.
Yuni menoleh dan menggelengkan kepalanya.
" Jangan,Alexi akan panik mendengar Ayahnya seperti ini " Larang Yuni cepat.
" Baiklah " Jawab Reno paham.
Reno tau mungkin jika Alexi tau keadaan ayahnya hal tak mungkin pria itu tidak pulang saat itu juga.
Alexi begitu menyayangi Romi sama halnya dengan anak yang lainn.
Keduanya kembali diam menunggu Dokter menyelamatkan lelaki itu.
Diruang tamu,Camelia terdiam.
Wanita itu terlihat tenang meski otaknya terus berpikir.
" Ada apa dengan ku,harusnya aku bahagia melihat Romi menderita sekarang,tapi kenapa melihat dia hampir mati aku merasa tak rela " Gumam Camelia mengusap wajahnya.
Wanita itu melihat foto yang terpampang di dinding ruang tamu,terlihat senyum keluarga kecil mantan kekasihnya begitu menghangatkan.
Mereka saling merangkul apalagi Camelia melihat putra kecilnya begitu bahagia memegang tangan Alexi.
" Huhhh aku harus tenang,Romi sedang menikmati hukumannya " Gumam Camelia menenangkan diri.
" Tapi kenapa aku iba kepadanya,gadis kecil itu masih butuh Ayah,apa dia juga akan merasakan hal yang sama saat aku kecil " Lanjut Camelia menatap Byanca yang terus menangis diluar meski Aktam sudah berusaha menenangkan.
" Hhhha aku bisa gila,aku harus pergi dari rumah ini " Gumam Camelia bangkit.
Wanita itu mengambil tasnya berjalan keluar,terlihat satu mobil ambulan datang bersiap untuk membawa Romi kerumah sakit.
" Bibi " Panggil Byanca masih dengan banjir air mata.
Camelia yang melangkah keluar pun tersentak dengan suara gemetar anak itu.
" Bibi,apa Ayah akan terus sama Byan ?" Tanya gadis itu nanar.
Deg...
Camelia terkejut,wanita itu menoleh dan terdiam melihat wajah Byanca kembali menangis.
Terlihat gadis itu sangat mirip dengan Romi,alis matanya bentuk wajah hingga postur tubuhnya yang tinggi,hanya suara gadis itu perpaduan antara Yuni dan Romi.
" Byan sayang Ayah Bibi hiks hiks " Ucap Byanca menutup wajahnya.
" Cup cup sayang,jangan nangis lagi dong,Om sedih nih " Kata Aktam memeluk anak itu.
Camelia mendekat dan mengusap air mata gadis malang itu..
__ADS_1
Melihat Byanca menangis mengingat Camelia dengan dirinya dulu saat ditinggal Ayahnya pergi ntah kemana.
Masih jelas diingatan Camelia bagaimana ia merengek meminta Ayahnya untuk tinggal tapi pria itu malah tak memperdulikan.
" Jangan menangis,Ayah kamu akan hidup,dia pria yang kuat " kata Camelia berusaha tenang.
" Huaaaaa Ayaaah " Pekik Byanca semakin menangis.
" Maaf,saya rasa harus membawanya jalan dulu " Kata Aktam sopan.
" Ya tolong jaga dia " Ucap Camelia tersenyum canggung.
Aktam mengangguk,lelaki itu pun berjalan keluar mendekati mobil.
Mereka akan pergi ke jalan2 membeli sesuatu untuk menenangkan Byanca.
Camelia pun berjalan dengan cepat keluar karna hatinya begitu bergejolak,wanita itu tidak mau ia kedapatan sedang bersedih hati.
Dikamar,Serkan menahan nafas melihat dada Ayahnya terluka mengeluarkan darah segar.
" Ini ambil pelurunya dengan hati2 " Ucap Dokter memberi jepit medis kepada lelaki itu.
" S sa aya ?" Tanya Serkan gugup.
" Ya kami akan memantau tekanan darahnya jika2 terjadi sesuatu " ucap Dokter tenang.
" Kita harus cepat,detak jantungnya berkurang " Ucap Dokter lain memeriksa denyut nadi Romi.
Serkan menarik nafas panjang seumur2 baru kali ini pria itu melakukan pekerjaan diluar pelajarannya.
Dan untuk pertama kali pasien yang akan ia selamatkan merupakan Ayah nya sendiri.
Lelaki itu tanpa sadar mengusap air matanya dengan lengan.
" Baiklah saya siap " Ucap Serkan setelah mulai tenang.
3 Dokter mengangguk,lelaki itu pun mulai mendekati dada Ayahnya dan mengambil peluru yang tersangkut disana.
" Tenang Serkan,sedikit lagi " Batin Serkan mulai gemeteran.
" Jepit yang kuat !" Ucap Dokter memantau lelaki itu.
Serkan mengangguk,dengan menguatkan jiwa dan raganya dengan sekali jepitan peluru itu perlahan ditarik keluar.
Ting...
Peluru pistol itu pun berhasil terlepas dan terjatuh ke lantai.
Serkan langsung ikut jatuh melihat dada ayahnya mengeluarkan darah segar yang begitu banyak.
" Ayah hiks hiks " tangis Serkan pecah
Seorang Dokter keluar memanggil Reno dan Yuni yang berjaga.
Pihak ambulan pun langsung membawa Romi keluar dari kamar.
" Maassssssss " teriak Yuni histeris melihat wajah suaminya pucat.
" Ayaaaahhh jangan tinggalin Serkan Ayahh " Teriak Serkan mengasal di lantai.
" Ayo cepat !" Kata Reno menepuk bahu lelaki itu.
Yuni sudah berlari mengikuti suaminya.
" Ayah Om " kata Serkan tak kuasa.
__ADS_1
" ayah mu akan selamat,cepat !" kata Reno tegas.
Serkan mengangguk,lelaki itu pun berdiri mengejar ayahnya.
Suara ambulan terdengar nyaring,para tetangga langsung heboh berhamburan keluar.
Dengan cepat ambulan itu membawa Romi menuju rumah sakit.
" Mas,kamu harus kuat Mas " Kata Yuni memegang tangan lelaki itu.
Romi tak menjawab,lelaki itu sudah jatuh pingsan.
" Cepetan Pak " Pekik Yuni kepada supir.
Terlihat Dokter berusaha tenang meski sebenarnya ikut khawatir.
*
" Ayahhhhh " Pekik seorang pria terbangun ditengah malam.
Keringat bercucuran diwajahnya,lelaki mengenakan kaos putih itu berubah pucat.
" Ayaah " Ucap Alexi gemeteran.
" Lo kenapa Lex ?" tanya teman yang tidur sekamar dengan lelaki itu.
" Lo mimpi ya,ini minum dulu " Ucap lelaki itu memberi Alexi minum
" Ini jam berapa ?" tanya Alexi sedikit tenang.
" 2 pagi " Jawab pria itu melihat jam.
" Astaga,gue mimpi buruk " Kata Alexi mengusap kasar wajahnya.
" Lo mimpi apa ?"
" Ayah gue meninggal " Jawab Alexi takut.
" Apa !" pekik lelaki itu terkejut.
Alexi mengambil hapenya dinakas dan langsung menghubungi nomor ibunya.
Pikiran lelaki itu tidak tenang bahkan jantung Alexi berdegub sangat kencang.
" Ayo Bu angkat dong " Kata Alexi tak sabaran.
Tuttt...
Panggilan berdering tapi belum juga ada yang mengangkat.
" Mungkin lagi tidur " Kata teman Alexi tenang.
" tapi gue ngak tenang " Balas Alexi lemah.
" Gue lebih ngak tenang dan gak bisa tidur lo teriak2 " Kata pria itu gemas.
Alexi diam menggaruk kepalanya malu.
" Dah ah yok tidur lagi,besok kita lembur " Kata Lelaki itu membalik badan melanjutkan tidurnya..
" Ya " Jawab Alexi lemah.
Lelaki itu pun menarik nafas berulang ulang.
" Kenapa rasanya seperti nyata ?" Gumam Alexi nanar.
__ADS_1