
Citra menyadari pipinya yang memerah menatap wajah tampan Riko, berdiri dengan cepat.
"kak Riko jangan turun dulu." kata Citra sambil melirik Riko yang berusaha berdiri.
"kenapa?" tanya Riko yang sudah berdiri di samping Citra.
"di bawah ada teman-teman Citra, dan mereka belum tau kalau citra udah nikah. jadi, kak Riko jangan turun sebelum mereka pergi." jelas citra.
"ya udah, tinggal ngomong aja kalau aku itu sepupu kamu, gampang kan." kata Riko datar lalu melangkahkan kakinya maju. tapi segera citra menghalangi jalan riko di depan pintu dengan merentangkan tangannya.
"kak riko ngga kenal teman Citra, Citra mohon, jangan turun." kata Citra memohon memasang wajah imutnya.
"ahhhhhh,," Riko membuang nafasnya kasar tidak sanggup melihat wajah imut citra, lalu berbalik dan duduk di bibir ranjang Citra.
"asyiiiikkk.." kata Citra senang, dan berlari ke arah lemarinya mengambil pakaiannya, lalu masuk kamar mandi.
Citra keluar dari kamar mandi dan sudah memakai seragam sekolahnya, dia tidak menghiraukan Riko yang terus menatapnya dingin.
'dasar makhluk kutub utara.' gumam Citra lalu meraih tasnya.
"kamu mau kemana?" tanya Riko datar.
Citra berbalik, menatap Riko.
"ooohh iya, aku lupa..." kata citra lalu berjalan ke arah Riko.
"hari ini aku ada rapat pengurus osis di sekolah, aku izin yah kak." kata Citra memasang wajah imutnya lagi.
Riko mengerutkan keningnya.
"kenapa minta izin sama aku." kata Riko bingung.
"karna kak Riko suami aku." kata Citra lalu berbalik hendak pergi.
Riko meraih pergelangan tangan Citra.
"ada apa kak?" tanya Citra melirik tangannya yang di pegang Riko.
Riko yang salah tingkah melepaskan pegangannya.
"heemmm, ingat sore ini kita akan ke Jakarta, jadi kamu harus pulang cepat." kata Riko datar.
"siap." kata Citra lalu memberi hormat ke riko.
"aku berangkat dulu." kata Citra lalu menyalim tangan Riko.
Citra lalu beranjak meninggalkan Riko, tiba-tiba di depan pintu citra kembali berbalik.
"ingat, kak riko ngga boleh turun, sebelum aku pergi." kata Citra
"iyaaahh.." jawab riko acuh.
Citra segera berlari ke ruang makan.
Di ruang makan Mita dan Vivi sudah selesai sarapan.
"wahhh,, nasi goreng tante enak banget." kata mita memuji.
"iya tante enak banget." tambah Vivi
mama Ratna hanya tersenyum.
Citra tiba di dapur dan segera menarik tangan ke dua sahabatnya pergi.
"maahhh, pahhh, citra berangkat.." teriak Citra sambil berlari.
"makasih makanannya tante.." teriak mita.
__ADS_1
Citra masih menyeret kedua tangan sahabatnya sampai di ruang tamu, Riko yang melihat mereka dari tangga hanya menatap mereka dengan wajah datarnya.
"ihhh citra, kamu kenapa sih, aneh banget..." protes mita melepaskan tangannya dari citra.
"iya nih, kamu itu aneh deh.." sambung vivi.
"ngga ada apa-apa,, cuma ngga mau aja liat kalian lama-lama disini." jawab citra santai lalu berjalan meninggalkan mereka.
vivi dan mita saling menatap bingung dengan tingkah citra.
"kalian masih disitu." teriak citra yang sudah di depan pintu.
lalu merekapun berangkat..
******
"selamat pagi mah, pah..." sapa Riko kepada mertuanya lalu duduk.
"kapan kamu disini Rik, bukannya kamu datangnya besok?" tanya papa Bram sambil memakan nasi goreng.
"ehh, iya pah, papa Riko udah baikan sekarang, jadi Riko ambil penerbangan lain karna Riko banyak kerjaan pah di Jakarta." jawab Riko.
Riko menyembunyikan kalau sebenarnya mamanya yang memaksanya untuk pulang cepat.
"jadi, kapan kamu ke Jakarta sayang?" tanya mama Ratna.
"nanti sore mah." jawab riko.
"terus kamu hari ini ada kerjaan apa?" tanya papa Bram.
"Riko mau ke Hotel pah, masih ada kerjaan yang belum Riko selesaikan disana." jawab Riko tenang.
"lalu bagaimana dengan kerja sama perusahaan papa dan perusahaan Permana?" tanya papa Bram lagi.
Riko sejenak berfikir.
"ya Ampun pah,, maafin Riko pah, riko lupa soal pertemuan itu,," jawab Riko sambil tersenyum.
lalu mereka pun melanjutkan makan mereka.
*****
Sekolah Citra
Citra DKK tiba di sekolahnya. Merek segera menuju kantin karna Indah sudah menunggu mereka disana.
"Hai ndahhh.." sapa Vivi setelah sampai di kantin lalu duduk di samping indah.
"haiiii..." jawab indah sekenanya.
"udah dari tadi nunggunya?" tanya Citra lalu duduk juga di depan indah.
mita duduk di samping citra.
"bangeeettt.." jawab indah dengan nada sedikit kesal.
"aduh,, maafin kita ndah,, ini semua karena Citra yang amnesia." protes vivi.
"iihhh,, apaan sih, kok nyalahin aku.." jawab Citra membela diri.
"ngga usah bela diri deh cit, kenyataannya kok, hari ini tuh kamu aneh banget." ucap Mita membela Vivi.
Indah hanya memperhatikan gerak gerik indah dengan yang memang terlihat canggung, dan melirik kembali jari manis Citra dengan Curiga
'sebenarnya apa sih yang dia sembunyikan.' batin indah sambil terus menatap cincin Citra.
'itu cicin apa, cincin tunangan atau cincin nikah.' batin Indah.
__ADS_1
Pusing mendengar ocehan Mita dan Vivi, membuat indah tidak bisa berfikir dengan baik, tentang citra.
"kalian berisik banget sih." kata Indah sedikit kesal dengan nada yang sedikit tinggi.
mereka langsung terdiam mendengar indah.
"kalian ngga sarapan?" tanya indah kembali kalem.
"ngga ndah, kita udah sarapan di rumah Citra." jawab mita.
"ya udah kalau gitu,, kita ke ruang rapat sekarang, karna Kevin dan Aril udah ada disana." ucap indah.
Kevin adalah ketua osis di sekolah, dan Aril adalah wakilnya.
Mita dan Vivi berdiri lalu berjalan tanpa berbalik.
Citra berdiri dan hendak pergi, tapi tangannya di tahan oleh indah.
"ada apa ndah?" tanya Citra bingung menatap indah.
"ngga ada yang mau kamu jelasin cit?" tanya indah ke Citra.
Citra hanya menggelengkan kepalanya, tapi tiba-tiba indah mengangkat tangan Citra dan memperlihatkannya..
"ini apa?" ucap Indah dengan tatapan mencari tau..
Citra menyadari apa yang indah pikirkan, citra membuang nafasnya kasar lalu kembali duduk.
"aku ngga bermaksud menyembunyikan ini dari kalian, aku cuma belum siap untuk mengatakannya. tapi aku ngga nyangka kamu mengetahuinya secepat ini ndah." kata citra tertunduk.
"cepat atau lambat semuanya akan terungkap seiring berjalannya waktu cit...
jadi ini cincin apa, tunangan atau nikah.?" tanya Indah berusaha menenangkan Citra.
"nikah." jawab citra dengan suara pelan.
"apaaaaaaa.." indah kaget dan berteriak, Citra yang panik karna semua orang di kantin sudah melihat ke arah mereka menutup mulut indah.
"jangan teriak dong ndah, nanti orang lain curiga.." bisik Citra lalu melepaskan tangannya dari mulut indah.
"maaf Citt,, aku refleks." ucap indah.
"ok,, jelasin,, semuanya ke aku." tanya indah
"aku dijodohin sama anak temennya papa sebelum aku lahir ndah. terus temennya papa sakit dan masuk rumah sakit. temen papa itu meminta papa agar aku segera dinikahkan, jadi aku nikah di rumah sakit tanpa sepengetahuan aku ndah, gitu aja." jelas Citra.
"jadi,, siapa laki-laki itu?" tanya indah lagi.
Citra hanya membuang nafasnya kasar lalu menatap Indah dengan tatapan Bayi.
Indah mengerti arti dari tatapan itu.
"ok, aku ngga akan tanya lagi,, kalau butuh tempat curhat kamu bisa cerita sama aku." kata Indah tersenyum.
Citra melirik Indah sinis.
"kamu nyuruh aku, cerita masalah perasaan aku ke kamu, kamu sendiri ngga mau cerita ke aku tentang perasaan kamu ke Kevin." kata Citra.
Indah tiba-tiba salah tingkah lalu berdiri.
"udah ahh,, kita sekarang ke ruang rapat, pasti semua orang udah nungguin kita." kata indah lalu berjalan meninggalkan Citra.
Citra langsung merangkul pundak indah.
"ngga usah bohongin perasaan kamu ndah, aku tau kamu." kata Citra mengejek.
" tau dari mana." tanya Indah
__ADS_1
"dari cara kamu tatap kevin, hhhh." kata Citra mengejek Indah.
Mereka berjalan sambil terus saling menggoda satu sama lain dan tertawa.