
Suasana rumah menjadi sepi,Winda menatap kamarnya dengan wajah nanar.
Sungguh ruangan yg biasanya ramai kini sepi senyap.
Afdhal dibawa Sindi keluar agar Winda bisa menenangkan dirinya.
Wanita itu yakin sang anak pasti bisa menyembuhkan luka batinnya sendiri.
" Apa yg harus aku lakukan ?" Gumam Winda menghela nafas.
Wanita itu melihat sekeliling dan mendapati sebuah lukisan usang yg ditempel Restu didepan lemari pakaian.
Winda ingat itu merupakan hasil karya sang putri.
" Apa yg akan terjadi 10 tahun kedepan ? kenapa aku begitu berani ?" Gumam Winda menggeleng pelan.
" 10 tahun aku menggadaikan putri ku demi kesembuhan dan masa depan yg baik,lalu apa yg akan terjadi nanti ?" Lanjut Winda bingung.
Terbesit dalam otaknya rasa penyesalan yg mendalam karna melepas Nur dengan orang lain,tapi jika tidak begitu Winda juga tak tega kepada sang anak.
Mereka benar2 tak punya pilihan lain lagi,keluarga besar Malvin juga sedang sulit jika mengharapkan Romi,Winda takut dirinya tak mampu membayar karna biaya yg dibutuhkan benar2 sangat banyak.
" Ya Tuhan,maafkan aku " Pinta Winda melihat keluar ruangan.
Disebuah pesawat seorang gadis duduk gelisah di temani sepasang suami istri.
Karna baru pertama naik burung terbang tersebut membuat Nur merasa takut dan mual.
" Kamu gak papa ?" tanya Lutfia menoleh.
" Aku mau muntah " Jawab Nur polos.
" Hah Muntah ?" Ulang Lutfia kaget.
Nur mengangguk polos,tak lama gadis itu beneran memuntahkan isi perutnya.
Rafael begitu terkejut,Lutfia dengan sigap membantu gadis itu mengeluarkan semuanya.
" Ini minyak angin " kata Rafael memberi sesuatu kepada istrinya..
Lutfia menerima dan membuka baju gadis itu dengan gerakan cepat.
" Aaakhh " Pekik Nur kesakitan.
" Ada apa sayang ? mana yg sakit ?" Tanya Lutfia terkejut.
Nur memegang bahunya,Lutfia membuka habis baju gadis itu dan melotot melihat banyaknya luka lebam disana.
" Ya Tuhan " pekik Lutfia menutup mulut.
" Astaga " kata Rafael juga terkejut.
Rafael menyentuh bahu Nur dan mengusap nya lembut.
" Apa ini menyakitkan ?" Tanya Rafael lembut.
Nur mengangguk kecil.
" Bahunya cidera Pa,mungkin terkena tongkat " Ucap Lutfia menghela nafas.
" Sepertinya begitu Ma,coba lihat yg dipunggung " Kata Rafael serius.
Lutfia langsung membalik pelan badan Nur dan mengangguk pelan.
" Semuanya lebam " Jawab Lutfia nanar.
Rafael menghela nafas berat seraya mengusap kepala gadis itu..
" Aku gak papa Kek,Nek,kata Mama ini bisa sembuh sendiri " Kata Nur tersenyum kecil.
__ADS_1
" Mama bilang begitu ?" Tanya Lutfia mengernyit.
" Iya,biasanya Mama atau Nenek kasih obat biar birunya hilang " Jawab Nur semangat.
Lutfia berkaca kaca,hatinya kembali terenyuh dengan sikap dewasa Nur.
" Kita harus membuatnya sembuh total Pa " Kata Lutfia tegas.
Rafael mengangguk setuju,gadis itu pun dipakaikan lagi baju yg baru dan mendapat pijatan kecil dari Lutfia.
Nur tak banyak merengek,gadis itu belum merasa rindu kepada orang tuanya.
Hampir 12 belas jam perjalanan,akhirnya mereka sampai.
Nur berapa kali tertidur dan muntah,Lutfia begitu telaten mengurus gadis malang tersebut.
Mereka menuju lokasi,Nur sudah tertidur lelap didekapan Rafael.
" Aku seperti punya cucu sendiri Ma " Ucap Rafael mengusap punggung Nur yg bersandar didadanya.
" Iya Pa,Nur begitu cocok jadi cucu kita " Balas Lutfia.
" Iya,huh Samuel kapan ya mau kasih kita cucu,Papa rasanya pengen gendong bayi " Kata Rafael lesu.
" Iya,Mama juga mereka udah nikah lumayan lama tapi belum ada juga kabar terbaru " Kata Lutfia ikut lesu.
Pasangan itu tidak tau apa yg terjadi dalam rumah tangga Samuel karna Lutfia sudah lepas tangan begitu pun Rafael yg memang tak mau ikut campur.
Setibanya di apartmen pribadi Lutfia,ketiganya langsung beristirahat sebelum besok pergi konsultasi.
Ditempat lain,sepasang suami istri saling berhadapan.
Samuel dan Leni sedang makan malam dirumah keluarga besar Leni.
Awalnya Samuel menolak ikut tapi mertuanya begitu ngotot ingin pewaris kekayaan itu menuruti perintah.
" Kalian sudah cek up ke dokter kan ?" Tanya Papa Leni seraya menyesap kopi panasnya.
" Ya cek kehamilan lah " Jawab Mama Leni terkekeh.
" Hamil ?" Ulang Leni syok..
" Iya Len,tunggu apalagi kami sudah tua untuk punya cucu " jawab Mama Leni gemas.
Leni melirik Samuel,lelaki itu terlihat tenang tak menyahut.
" Sam " Panggil Papa Leni menegur.
" Iya Pa " Jawab Samuel menoleh.
" Kapan ?"
Samuel hanya membalas dengan senyum kecil.
" Mama pikir kamu bukan pria mandul " Kata Mama Leni nyeleneh.
" Apa !" Pekik Samuel syok.
" Ma " Ucap Leni melotot.
" Ya,maaf jika kamu tersinggung,soalnya kalo Leni dia pasti bisa mengandung " Kata Mama Leni tersenyum smirk.
Samuel berusaha tenang meski tangan lelaki itu terkepal.
" Jika Leni normal aku sudah melakukannya " Ucap Samuel pelan.
" Hah maksud kamu ?" tanya Papa Leni tak kedengeran.
" Sam " Pekik Leni terbelalak.
__ADS_1
" Akhhh ini menjijikan sekali " gumam Samuel kesal.
" Sam apa yg kau bicarakan !" Kata Mama Leni bingung.
" Aku lelah " Jawab Samuel berdiri.
" Kau mau kemana ?" tanya Leni ikut berdiri.
" Mencari wanita normal yg bisa aku hamili " Jawab Samuel asal.
" What ?!" Pekik Mertua lelaki itu kaget.
Leni terdiam,Samuel pun melesat pergi dari rumah besar tersebut tanpa pikir panjang.
" Apa maksud suami kamu Len ?" tanya Papa Leni emosi.
" Dia bercanda Pa " Jawab Leni mengalihkan.
" Dia terlihat serius " Balas lelaki itu tegas.
Leni diam,kakinya mulai gemeteran melihat raut wajah kedua orang tuanya.
Didalam mobil,Samuel membanting stir mobil dengan kesal.
Lelaki itu terlihat begitu setres dengan apa yg ia lalui.
" Akkkhhh sialan " Umpat Samuel geram.
Tanpa tunggu lama Samuel langsung melaju meninggalkan rumah besar itu.
Disepanjang jalan,Samuel gelisah,hatinya tak tenang dan otaknya kacau.
Mobil terus berkendara hingga ia tiba disebuah rumah kecil dengan lampu kuning ditengahnya.
Samuel tersadar dan terdiam melihat seorang wanita sedang duduk seorang diri seraya menggendong anaknya.
" Winda " Gumam Samuel nanar.
Seluruh tubuh Samuel melemah,wanita yang ia tatap saat ini begitu sederhana dengan daster sebetis dan rambut acak2an.
Senyum kecil pun terbit diwajah lelaki itu,Samuel membuka kunci mobilnya untuk keluar.
Tapi detik berikutnya lelaki itu tersadar bahwa wanita yg ia tatap bukan miliknya.
" Apa yg aku lakukan ?" Gumam Samuel menepak kepalanya..
Samuel diam beberapa saat masih memantau dari kejauhan,tak lama hape lelaki itu berbunyi.
Samuel menoleh kesamping dan mendapati sebuah pesan.
" Restu ?" Gumam Samuel syok.
" Dia ada dimana ?" Lanjut Samuel melihat foto yg dikrim anak buah Papanya.
Samuel menelfon anak buahnya tersebut dan mendapatkan info yg diluar nalar.
" Jadi Restu dan Nur dibawah pengawasan Papa ?" tanya Samuel melotot.
" Iya Bos " Jawab Anak buah Rafael jujur.
Tut.
Panggilan terputus,Samuel menaruh hapenya di samping mobil dan seketika turun.
Winda yg melihat seseorang berjalan kearah rumahnya begitu terkejut apalagi wajah pria tersebt tak nampak jelas.
" Winda " Gumam Samuel nanar.
Winda mengernyit,detik berikutnya manik Winda melotot saat pelukan tiba2 ia dapatkan.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.