
Riko perlahan-lahan melepaskan ******* bibirnya dan menatap wajah Citra yang sedang menutup matanya dan menahan nafasnya, Riko tersenyum melihat tingkah Citra.
"Matanya di buka.." ucap Riko, Citra pun membuka matanya dan melihat Riko tersenyum.
Citra membelalakkan matanya saat melihat Riko tersenyum.
"Kenapa dia tersenyum, ada apa?, apa dia lagi ketawain aku." batin Citra bingung sambil tatapannya kemana-mana karna dia masih menahan nafasnya.
Riko mengerutkan keningnya menatap Citra yang wajahnya sudah memerah karna menahan nafasnya.
"Cit, kamu ngga apa-apa,, ambil nafas.." ucap Riko menatap Citra.
Citra menarik nafasnya dalam-dalam..
"Ya ampin kamu bodoh banget sih." batin Citra menghardik dirinya sendiri karena menahan nafasnya.
"Se...." ucapan Riko terputus karna Citra yang sudah merasa sangat malu berlari menuju kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
Riko hanya menatap Citra masuk ke kamarnya.
Citra masih bersandar di pintu kamarnya sambil menutup wajahnya karna malu..
"Iiih,, kok bisa kayak gini sih,, kenapa aku bertingkah seolah-olah aku menikmatinya.. ahhhhh,, padahal disini aku itu korban, kenapa sih dia itu selalu melakukannya tiba-tiba.." gerutu Citra.
Tiba-tiba Riko mengetuk pintu Citra dan membuat Citra langsung menutup mulutnya.
"Ada apa?.. Kak Riko ngomong disitu aja." ucap Citra.
"Beresin barang-barang kamu sekarang, aku tunggu di bawah, aku anterin kamu ke rumah mama." ucap Riko di depan pintu kamar Citra.
"Terus kuliah aku gimana kak?" tanya Citra bingung.
"Kamu ngga usah kuliah hari ini, aku udah minta izin sama pengurus kemahasiswaan kalau kamu lagi sakit." ucap Riko yang membuat Citra terkejut dan membuka pintu kamarnya sedikit dan yang nampak hanya wajahnya melihat Riko.
"Sekarang kan Citra udah ngga apa-apa kak, kok pake di minta izinin segala sih." protes Citra dan membuat Riko menatapnya sinis. Citra mengerti tatapan Riko, dan membuatnya tertunduk pasrah.
"Aku kasih waktu 20 menit untuk beresib barang kamu, habis itu kamu kebawah." ketus Riko lalu kembali ke kamarnya.
Citra hanya menurut saja dia masuk ke dalam kamarnya dan membereskan beberapa pakaian dan bukunya untuk dia bawa ke rumah mertuanya.
Next...
Di dalam Mobil seperti biasa tidak ada sama sekali yang saling tegur sapa, Riko hanya fokus menyetir dengan wajah datarnya.
Citra sesekali melirik Riko dengan kesal, karna setelah perbuatannya tadi pagi, tidak ada tanda-tanda penyesalan di raut wajahnya sedikitpun.
"Ngga mungkinlah dia menyesal dengan perbuatannya itu, dia kan sudah biasa melakukannya." gerutu batin Citra kesal menatap Riko yang fokus menyetir dengan wajah datarnya.
Beberapa menit kemudian Riko sampai di rumahnya. Riko membunyikan klaksonnya segera pak Cecep membuka gerbang Rumah Riko.
__ADS_1
Riko melajukan mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumahnya dan memarkirkan mobilnya.
Riko turun dan segera mengambil koper Citra di dalam bagasi mobilnya, Citra juga turun dari mobil dan menatap rumah mertuanya yang sangat mewah.
"Den Riko mau tinggal disini." sapa pak Cecep menghampiri Riko dan Citra.
"Ngga pak, hanya Citra yang tinggal disini, karna aku mau keluar negeri." ucap Riko sambil berlalu meninggalkan pak Cecep menuju kamarnya sambil membawa koper Citra.
Citra hanya tersenyum kepada pak Cecep, lalu segera mengikuti Riko.
Pak Cecep segera berlari ke dapur untuk bertemu dengan bi Ina bahwa Riko dan Citra datang.
Riko masuk ke dalam kamarnya lalu meletakkan koper Citra di depan lemari nya.
"Kamu tidur disini." ucap Riko.
"Ini kamar kak Riko?" tanya Citra.
"Iya, ini kamar aku, untuk sementara kamu tidur disini selama aku di luar negeri. kamu susun pakaian kamu ke dalam lemari, setelah itu kamu turun ke bawah ." ucap Riko datar lalu meninggalkan Citra.
Citra hanya menatap punggung Riko. lalu menyusun pakaiannya ke dalam lemari Riko.
"Dasar es batu,, ekspresinya itu doang." gerutu Citra lalu meniru perkataan Riko beserta dengan ekspresi Riko.
"Emang yah, kalau manusia es itu ekspresinya cuma 1 dataaa....." Gerutu Citra terputus saat Riko tiba-tiba datang.
"Udah ngatainnya.." ketus Riko yang datang tiba-tiba.
"Kok dia masih disitu sih.." batin Citra panik.
Citra berbalik ke arah Riko sambil cengengesan.
Riko berjalan ke arah Citra, dan membuat Citra panik.
"Kak Riko mau ngapain." batin Citra menatap Riko.
"Nih.." ucap Riko lalu memberikan kartu ATM ke Citra.
"Ini untuk apa kak?" tanya Citra bingung lalu mengambil kartu ATM dari tangan Riko.
"Uang jajan kamu,, kamu bisa pake itu untuk keperluan kamu, pake seperlunya aja, jangan di habisin." ucap Riko lalu kembali beranjak meninggalkan Citra yang masih berdiri di depan lemari.
"kamu belum selesai nyusun pakaian kamu?" tanya Riko yang berhenti di ambang pintu Citra hanya mengangguk.
"Makanya kalau bawa pakaian jangan 1 lemari, kamu disini cuma 3 hari bukan 3 tahun. udah nanti aja kamu selesain. kamu turun ke bawah aku kenalin sama bi Ina, aku juga udah mau berangkat ke Amrik." ketus Riko lalu meninggalkan Citra.
Citra menghela nafasnya dengan kesal karena perkataan Riko yang selalu bikin Citra nyesek. Citra kemudian turun ke bawah.
Bi Ina menatap Citra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan karna Citra sangat cantik.
__ADS_1
Citra hanya tersenyum ke arah bi Ina dan bi Ina membalas senyuman Citra.
Citra berdiri di samping Riko dan Riko memperkenalkan bi Ina ke Citra dan begitupun sebaliknya, setelah itu Riko kemudian pamit kepada Citra, Bi Ina dan pak Cecep karna penerbangannya sebentar lagi.
Riko menatap Citra yang hanya diam saat dia hendak pergi. Riko menghela nafasnya dengan kasar lalu berjalan menuju mobilnya.
Riko membuka pintu mobilnya hendak masuk tapi merasa berat karna ada sesuatu yang ingin dia sampaikan ke Citra.
Dia kembali ke arah Citra dan Citra yang melihat Riko yang tiba-tiba berjalan ke arahnya merasa bingung.
"Nihh." ucap Riko sambil menyerahkan ponsel Citra.
Citra mengambil ponselnya dari tangan Riko.
"Kok ponsel Citra ada di kak Riko?" tanya Citra menatap Riko bingung.
Riko hanya berdehem tidak menjawab pertanyaan Citra.
"Ka.. kamu itu yah,, begini sikap kamu saat suami kamu mau keluar negeri." ucap Riko salting mengalihkan pembicaraan.
"Maksud kak Riko apa?" ucap Citra bingung.
"Kamu,, kalau kamu lagi sakit jangan sok kuat. kalau kamu butuh sesuatu bilang aja langsung sama bi Ina." ucap Riko membuat Citra makin bingung dengan perkataan Riko.
"Dia kenapa sih" batin Citra menatap Riko bingung.
" 1 lagi kalau Ke kampus kamu akan diantar jemput sama pak Cecep. Jangan berani-berani kamu di antar jemput sama cowok lain. Ini rumah orang tua aku. Rumah ini sudah dipasang CCTV di mana-mana. jangan sampai mama mengecek ke adaan Rumah dan mendapati kamu sama laki-laki lain." jelas Riko membuat Bi Ina Refleks terkekeh mendengar perkataan Riko.
Citra menatap Bi Ina dengan tatapan menyelidiki, Bi Ina terdiam saat Citra menatapnya.
"Bibi kenapa?" tanya Citra.
"Ehhh ituuu.." ucap Bi Ina terbata dan menatap Riko yang mulutnya sedang komat kamit mengatakan jangan dikasi tau bi.
"Ehh ngga ada apa-apa kok non, bibi tadi mau bersin tapi tertahan, ya udah bibi ke dapur dulu non." ucap Bi Ina lalu berjalan menuju dapur.
"Den Riko den Riko, ada ada aja,, bohongin istri sampai segitunya." gumam Bi Ina berjalan menuju dapur sambil terkekeh.
Citra kembali menatap Riko.
"Kak Riko tenang aja, aku ngga akan macem-macem selama aku di rumah ini." ucap Citra.
"Bagus kalau kayak gitu, aku pergi, jaga kesehatan kamu, jangan bikin orang khawatir." ucap Riko lalu meninggalkan Citra.
Citra merasa terharu dengan perhatian Riko yang tiba-tiba.
"Kak Riko juga, jaga kesehatan kak Riko selama di Amrik. Terus kalau udah sampai di Amrik kabarin Citra." ucap Citra Refleks.
Riko yang mendengar perkataan Citra, berbalik menatap Citra lalu tersenyum sambil mengangguk.
__ADS_1
Riko kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu segera melajukan mobilnya menuju bendara karna Romi sudah menunggunya disana.