
Diperjalanan,Winda merentangkan kedua tangan dan kakinya menikmati angin yang begitu segar.
Pemandangan disana sangat bagus,meski ditutupi banyak lalang dan pohon..
" Pegangan " Ucap Samuel menegur.
" Udaranya sejuk,aku suka " Balas Winda tersenyum.
" Hm " Jawab Samuel mengegas motor dengan santai.
Karna motor kecil lelaki itu dan Winda harus duduk dempetan membuat keduanya terlihat dekat.
" Kamu suka gak tinggal disini ?" tanya Winda melihat wajah Samuel.
" Suka " Jawab Samuel mengangguk.
" Aku juga,meski sepi disini aman " Kata Winda tersenyum.
" Kamu suka keheningan ?" tanya Samuel.
" Iya,aku dari kecil emang susah cari teman,teman aku cuma Alexi dan Kak Serkan " Jawab Winda.
" Yang Dokter itu ?" Tanya Samuel.
" Iya tapi sekarang Kak Serkan tinggal jauhhhh sama istrinya " Jawab Winda semangat.
Samuel mangut2 paham.
" Oh iya,em gimana kalo kita lewatin rumah kamu " Ajak Winda ragu.
" Hah " kata Samuel melotot.
" Kamu mau mati ?" tanya Samuel berubah tenang.
" Aku yakin kamu pasti kangen sama Mama dan Papa kamu " Jawab Winda
" Tidak usah bahas mereka " Balas Samuel datar.
" Kenapa ?" tanya Winda mengernyit.
" Aku akan membenci mu " Jawab Samuel.
Deg...
Winda terdiam dan mundur perlahan.
Samuel melirik gadis itu sebentar lalu fokus lagi.
Keduanya sama2 diam,Winda tau kemana arah pembicaraan lelaki itu saat ini.
Ntah mengapa saat Samuel mengatakan kata yang tajam membuat Winda begitu terluka,ia ingin berteman dengan Samuel tapi respon Samuel tak sama yang diharapkan gadis malang tersebut.
Saat asik2nya berkendara manik Samuel melihat sebuah mobil Pajero hitam lewat didepan mereka.
Lelaki itu menoleh lalu membelalakkan matanya mengenali stiker mobil yang terpasang disana.
" Astaga ini orang2 Kakek " Batin Samuel.
Mobil itu lewat begitu saja melaju kencang kearah rumah yang ia tempati.
Samuel berhenti membuat Winda bingung.
" Ada apa ?" tanya Winda.
Samuel diam masih memperhatikan mobil itu melaju.
Tak lama mobil hitam kembali lewat,Samuel membuang muka kearah lalang sedangkan Winda melihat kearah mobil itu yang menampakkan seorang pria berkaca mata hitam melihat dirinya.
Setelah mobil itu lewat,Samuel kembali tancap gas.
Kini Samuel mengendarai motor sedikit kencang membuat Winda takut.
__ADS_1
" Ada apa Sam ?" Tanya Winda bingung.
" pegangan !" Kata Samuel tegas.
" Apa yang terjadi ?" tanya Winda heran.
Samuel diam dan terus tancap gas.
Jantung lelaki itu berdetak kencang,ia begitu mengenali mobil yang dipakai orang2 tadi.
" Kakek sudah bergerak cepat " Gumam Samuel pelan.
Winda memeluk pinggang lelaki itu erat,ia merasa begitu takut saat ini dengan sikap aneh Samuel.
Setibanya di toko mekanik,Samuel mengeluarkan kaca mata hitam di saku dan memakainya masuk ke toko.
Winda mengikuti langkah lelaki itu dengan wajah bingung.
" Kau yang beli,ini uangnya !" kata Samuel mendorong Winda pelan.
" Kenapa ? aku tidak tau " Kata Winda kembali bingung.
" Lakukan saja,serahkan ini kepada kasir mereka akan memberimu segala yang dibutuhkan " Jawab Samuel.
Winda menelan ludah kasar dan menyelisik orang2 yang sedang melihat kearah mereka.
Samuel berjalan keluar tak mau lama2 disana.
Winda pun melangkah membawa uang dan kertas yang diberi Samuel barusan.
" Cari apa Mba ?" tanya seorang pria dengan cat rmbut keemasan.
" Ini " Jawab Winda memberi kertas.
" Oh tunggu sebentar " Balas lelaki itu sopan.
Winda mengangguk dan melihat kearah Samuel yang sedang menatapnya dari kejauhan.
Gadis itu terus menunggu hingga sebuah pintu terbuka dan keluarga seorang perempuan cantik dengan rok sebetis memegang beberapa map dan kertas.
Winda yang mengenali wanita itu membulatkan matanya.
" Astaga dia kan..." Batin Winda terkejut.
Perempuan cantik tadi berjalan lenggak lenggok didepannya dengan tatapan kedepan.
Winda terus memperhatikan hingga gadis yang ia kenali itu bercengkrama dengan pegawai lain.
" Pantesan Sam gak mau masuk,ternyata ada pacarny disini " Gumam Winda menggeleng pelan.
Winda kembali diam memperhatikan Naya yang terlihat cantik dan sexy.
Diluar,Samuel merutuki dirinya.
Lelaki itu hampir ketahuan teman dan mantan pacarnya sendiri.
Samuel terkejut mendapati Naya dan teman bengkelnya pindah kerja.
Samuel pikir tak akan ada yang mengenalinya tapi lelaki itu salah,semua orang seolah mengepung dirinya saat ini.
Samuel belum berani unjuk diri,selain karna kesehatan lelaki itu juga memikirkan nasib Winda sekeluarga.
Setelah selesai,Winda berjalan kekasir membayar total belanjaan.
Gadis itu banyak menunduk dan meninggikan masker yang ia pakai.
" Totalnya 500 ribu " Ucap Naya kepada gadis didepannya.
Winda memberi uang pas dan buru2 keluar.
" Ehh tunggu " Pekik Naya berdiri.
__ADS_1
Deg....
Winda terdiam kaget mendengar Naya menahannya.
" Ini struck belanjaan nya " Ucap Naya sopan.
Winda berbalik badan dan naas tatapan keduanya bertemu.
" Makasih " Balas Winda mengambil kertas kecil itu dan berjalan cepat keluar.
Naya diam memperhatikan tubuh dari cara jalan gadis barusan.
" Rasanya aku pernah melihat gadis itu,tapi dimana ?" Gumam Naya mengingat.
Winda bergegas naik ke motor Samuel yang sudah menunggu didepan gerbang.
" Ini sudah selesai " Ucap Winda memberi sekantong besar alat2.
Samuel menaruh didepan dan meminta gadis itu naik.
Winda menurut,keduanya pun keluar pekarangan.
Selama dijalan mereka sama2 diam,Winda menunggu Samuel membuka suara tapi sudah setengah perjalanan lelaki itu masih saja diam.
" Hm tadi itu em pacar kamu kan ?" tanya Winda jengah menunggu.
" Siapa ?" tanya Samuel.
" Naya " jawab Winda ragu.
" Oh " Balas Samuel cuek.
Winda mengernyit dengan jawaban tak bersahabat lelaki itu.
" Hm kau kenapa tak bersapa dengannya ?" Tanya Winda.
" Dia terlalu cantik " Jawab Samuel.
" Hah bukannya itu yang pria mau ?" tanya Winda bingung.
Samuel tersenyum miring menambah laju kendaraan.
" Kita beli makanan dulu untuk Doni habis itu pulang " kata Samuel tenang.
" Hm " Jawab Winda memegang pinggang Samuel.
Dirumah Sindi,wanita itu begitu ketakutan melihat 2 mobil berhenti didepan rumahnya.
" Ya Tuhan aku harus bagaimana ini ?" Gumam Sindi panik sendiri.
Malvin tidak mengangkat panggilannya,lelaki itu memang sudah memberitahu bahwa ia punya jadwal padat hari ini.
Sindi berjalan mondar mandir dan terus berdoa agar anaknya tak pulang sekarang.
" Duhh moga aja motornya mogok atau apalah yang menghambat mereka pulang " Gumam Sindi menggigit ujung jarinya.
Nomor hape Romi dan Yuni terpaksa Sindi hapus untuk jaga2.
Ia takut orang2 diluar rumah mengenali Romi yang sudah membantu mereka menyembunyikan Samuel..
" Kau yakin disini ?" Tanya seorang lelaki kepada lelaki lain.
" Ya,dari info yang saya dapat Pak Romi sering kemari " Jawab pria dengan tubuh kecil itu yakin.
" Jika Pak Romi benar terlibat,dia akan dicap seorang penghianat " Gumam ketua genk disana menghela nafas.
" Kita buktikan saja Bos " Jawab pria berkaca mata hitam itu tak ingin salah paham.
3 orang pria pun berjalan mendekati rumah Sindi dan mengetuk pintu.
❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,like,Coment ya.