
Pagi menjelang siang,seorang pria terbangun dari tidurnya dengan bertelanjang dada.
" Yankkk " Panggil pria itu serak.
Hening...
Tak ada suara.
" Yankk uhuk uhuk " panggil lelaki itu lagi sambil batuk.
Ceklek...
pintu terbuka,nampaklah seorang bocah kecil terkidik2 membawa segelas susu putih.
" Celamat Pagi Papa " sapa bocah itu tersenyum cerah.
" Sutar " Ucap Serkan ikut tersenyum.
" Sini biar Papa bantu " Kata Serkan membuka selimut.
" No no no,Sutal bica cendili " Kata Sutar menggeleng cepat.
Serkan menatap gelas putih itu dengan wajah ngeri,ia takut tangan anaknya terlepas dari genggaman..
" Ini cucu untuk Papa " kata Sutar ingin naik keranjang.
Serkan dengan cepat mengambil gelas tersebut sebelum terlambat dan menumpahi seprei.
" Makasih sayang,Mama kamu mana ?" tanya Serkan lembut.
" Mama lagi bikin calapan " Jawab Sutar duduk manis.
" Hm kamu gak bantuin Mama ?" tanya Serkan seraya menyeruput susunya.
" Mama cuka emoci Pa kalo liat aku didapul,aku kecel adinya " jawab Sutar mengkrucut.
" Kenapa ?" tanya Serkan antusias.
" Dak tau tuh Mama aneh,olang cuma bantuin ambil pico doang diomelin " jawab Sutar heran.
" Hah pisau ?" Ulang Serkan hampir menyembur.
Sutar kaget dan cepat menutup wajahnya.
" Iya " Jawab Sutar mengangguk dengan wajah tertutup.
" Astaga pantesan Histi marah kalo kamu megang pisau " kata Serkan terkekeh.
" Tan cuma pegang doang Pa,Uci juga megang tapi gak ada tuh dimalahin cama Mamanya " kata Sutar tak terima.
" Ya Suci kan punya pisau sendiri dari mainan,sedangkan kamu kan gak punya " kata Serkan mengulum senyum..
" Sutal juga pengen punya picau cendili bial bica bantu Mama potong2 " Kata Sutar bersedekap dada.
" Nanti,Sutar kan masih kecil gak boleh main benda tajam " Kata Serkan lembut mengusap kepala anaknya.
" Kalo benda tumpul boleh ?" Tanya Sutar cengengesan.
" Benda tumpul ?" ulang Serkan mengernyit.
Sutar mengangguk cepat dengan wajah polosny.
" Ehhh gak boleeehhhhhhh " pekik Serkan melototkan matanya.
" Tenapa ?" Tanya Sutar mengrrnyit.
__ADS_1
" Gak boleh,nanti gak usah bantu Mama didapur,kamu gak boleh main benda tajam maupun benda tumpul !" kata Serkan tegas.
Sutar menunduk dengan wajah sedihnya,bocah itu mengira Serkan marah.
" Hay hay " sapa seseorang dari ambang pintu.
Kedua lekaki itu menoleh dan diam melihat Histi masuk membawa mangkuk di talenan.
" Masih demam ?" tanya Histi mendekat.
Serkan menggeleng pelan.
" Loh Sutar kenapa manyun ?" tanya Histi kaget melihat wajah anaknya.
" Kamu jangan suruh Sutar main didapur,bahaya " jawab Serkan.
" Iya aku emang gak bolehin,tapi anak kamu rajin banget mau bantuin Emaknya " Balas Histi tersenyum.
Serkan dan Histi sama2 melihat Sutar,bocah yang ditatap itu pun menundukkan wajah merasa takut.
" Gak papa sayang,Papa gak marah " kata Serkan mulai paham.
" Sutal janji dak main benda tajam atau pun tumpul Pa " kata Sutar mengangkat sebelah tangannya.
" Benda tumpul ?" ulang Histi kaget.
" Iya " jawab Serkan terkekeh.
Pasangan itu saling melihat,Serkan memberi kode membuat Histi paham.
" hahaha iya gak boleh,masih unyu belum waktunya " kata Histi terkekeh.
" Apa yang unyu Ma ?" tanya Sutar.
" Gak papa,udah ah pagi2 bikin otak Mama traveling aja " kata Histi menyudahi.
" Suapin " Pinta Serkan manja.
" Sutal juga mau Ma " Kata Sutar semangat.
" Iya ini buat Papa dulu ya,Papa lagi demam gak boleh sendoknya digabung nanti nular " kata Histi lembut.
Sutar mengangguk paham,Histi mulai menyuapi suaminya dengan lugas,Serkan pun menerima perhatian istrinya dengan wajah senang.
Semalam ia pulang sangat larut,Serkan pun sempat dikerok Histi tengah malam meski Serkan sempat menolak.
Tapi berkat tangan sang istri ternyata angin beneran minggat dan saat bangun dipagi hari ia tak merasa terlalu berat lagi.
Setelah semua selesai,keluarga kecil itu keluar dari kamar bergabung dengan anggota yang lain.
" Pagi Bu,Yah " sapa Serkan kepada orang tuanya.
" Pagi " jawab Yuni dan Romi bersamaan.
Serkan menarik kursi duduk berhadapan dengan Romi,Histi dan Sutar juga tak cepat menarik kursi mereka.
" Alexi mana ?" tanya Serkan tenang.
" Belum netas " Jawab Yuni.
" Suci juga ?" tanya Histi terkekeh.
" Iya,sama semua 3 serangkai " Jawab Yuni menyesap teh hangatnya.
" Kelelahan " Sahut Romi.
__ADS_1
" Iya Yah,Kak Serkan sampe demam " Kata Histi serius.
" Ayah kamu juga,katanya masuk angin semalam " Balas Yuni.
" Iya kecapean itu,tapi sekarang udah fit lagi " Kata Romi terkekeh.
" Oh iya Serkan,semalam Mama kamu nelfon " Kata Romi teringat.
" Mama kenapa ?" tanya Serkan tersentak.
" Dia kangen cucunya,kalian belum pernah kesana ya ?" tanya Yuni.
" Iya Bu,belum pernah aku gak enak pergi sendirian gak ada Ayank " jawab Histi mengkrucut.
Serkan menyepak kaki Histi dari bawah merasa kaget dengan ucapan terakhir istrinya.
" Gak papa,kan Camelia mertua kamu juga " kata Yuni lembut.
" iya sih,tapi kan disana ada mantan " Balas Histi menyindir.
Serkan diam menyesap kopinya tenang,Romi dan Yuni saling melihat dan Sutar tak perduli obrolan orang tuanya.
" Ehm " Dehem Histi kuat memberi kode.
Serkan masih cuek bebek,lelaki itu sengaja tak mau mengubris Histi yang terus menyindir.
" Jangan gitu,Sifa udah punya suami dan anak " Tegur Yuni.
" Ya sih tapi agak aneh aku nya Bu,gak enak aja sama Mama Cam " Kata Histi mengkrucut.
" Camelia Histi jangan setengah2 " kata Romi ingin tertawa.
" Hehe iya Yah " Balas Histi cengengesan.
Romi menggeleng pelan,kadang Histi sangat melawak jika obrolan sedang serius,tapi Romi tak pernah melarang karna lelaki itu tau sifat Histi keturunan dari Bos sengkleknya dikantor.
" Datangi,kasihan Camelia dia mau ketemu Sutar " Kata Yuni kepada Serkan.
" iya Bu,hari ini bakal datang agak sorean " Balas Serkan paham.
" Yee sekalian jalan ya Yank,ngadate gitu " Kata Histi semangat.
" Ikutttt " Pekik Sutar girang.
" Haist anak kecil gak boleh ikut,Mama sama Papa mau pacaran " Larang Histi melotot.
" Kakekkkkkkk " Rengek Sutar dengan bibir tebal kebawah.
" Histiiiiiii " Tegur Romi dengan nada rendahnya.
" Iya iya ikut " kata Histi memutar mata.
" Yeeeee sayang Kakekkk " Pekik Sutar girang.
Romi tertawa geli,memang ia selalu menjadi andalan para cucunya jika orang tua mereka tak 1 pemikiran.
Histi memakan sarapannya dengan wajah kesal,ia ingin sekali menghabiskan waktu bersama hanya berdua bersama Serkan,tapi sejak ada anaknya wanita itu tak pernah lagi manja2,selalu saja Sutar menjadi objek pertama.
Serkan masih diam ditempat dengan kepala yang terus berputar.
" Aku memang jarang ketemu Mama,bahkan aku gak nelfon juga " batin Serkan merasa bersalah.
" Apa Mama akan membenci ku lagi atau Ibu karna tak memperhatikan dirinya ?" Lanjut Serkan khawatir.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.