
Disebuah sofa beberapa orang wanita duduk tenang menyelisik rumah anaknya yang hampir berpuluh tahun tak ditempuh.
Sang pemilik rumah dibuat kaget dengan kedatangan tamu tersebut.
" Ma,apa itu Nenek ?" Bisik Winda pelan.
" Iya " Jawab Sindi.
Mama Malvin masih menyelisik rumah itu dengan tatapan tajam,setiap detail rumah diperiksa dengan seksama.
" Cat nya diganti Ma,perabotannya juga " Adu sang anak.
" Iya,mereka mengganti semuanya " Balas wanita bernama Risa tersebut.
Winda dan Winda masih diam memantau ibu suaminya itu.
" Gimana penyakit kamu ?" tanya Risa kepada Winda.
Deg...
Winda tersentak dengan pertanyaan Neneknya.
" Udah lumayan baik Nek " jawab Winda sopan.
" Cihhh nenek " Decih Risa geli.
Winda menunduk menahan bibir yang hampir bergetar.
Sindi melihat anaknya,wanita itu merasa sangat kasihan dengan Winda yang tak berdosa sama sekali.
" Kamu jangan deket2 sama Jonathan !" Ucap Kakak Malvin bernama Sita.
" Hah " Pekik Winda kaget
" Kenapa Tante ?" tanya Winda polos.
" Ya gak boleh " Jawab Sita garang.
Winda kembali menunduk.
" Jika saja saya tidak sayang sama Malvin,udah angkat kaki kalian dari rumah ini " Ucap Risa pelan.
Sindi mendongak mendengar ucapan mertuanya,wanita benar2 sedang menahan emosi.
Malvin tak ada dirumah,lelaki itu sedang keluar kota untuk berapa hari karna mendampingi anak muridnya ikut lomba kampus.
" Maksud Mama apa ?" tanya Sindi memberanikan diri.
" Jangan pura2 bodoh kamu " Jawab Risa.
" Jika Mama tak suka aku,aku tidak masalah tapi jangan anak2 ku,mereka tidak bersalah !" kata Sindi tegas.
" Eeh jika kau sadar diri harusnya kau tak memaksa menikah dengan Malvin dulu,gara2 mu semua keluarga kami hancur berantakan !" Bentak Sita.
" Aku tidak pernah memaksakan Mas Malvin nikahin aku " Lawan Sindi.
" Cih bagaimana Malvin tidak menikahi mu sedangkan anak haram mu itu sudah hadir !" Ucap Sita emosi.
Jedeeeerrrrrr....
Winda berasa tersambar petir mendengar ucapan bibinya barusan.
" Anak haram ?" Ulang Winda nanar.
Sindi menoleh dan langsung menggeleng cepat.
" Gak sayang,kamu bukan anak haram " Kata Sindi tegas.
Tes....
Air mata Winda jatuh tanpa ia minta,hatinya terasa tertusuk duri yang sangat tajam membuat perasaan Winda sakit tak terkira.
" Kakak jangan bicara omong kosong disini !" Bentak Sindi emosi.
" Kenapa ? kamu malu mengakuinya depan anak mu ? kau kira aku tidak tau bagaimana kejelekan mu dimasa lalu ?" Ucap Sita tersenyum miring.
" Aku tidak melakukan apapun,Winda buah hati kami setelah sah !" Kata Sindi mulai menangis.
__ADS_1
" Mama " Ucap Winda memegang bahu ibunya.
" Kamu harus percaya sama Mama sayang,Mama gak pernah gitu " Kata Sindi memohon.
Winda mengangguk pelan dengan air mata berderai.
" Aahh sudah lah Ma,ngabis tenaga kita bongkar aib dia " Kata Sita malas.
Risa mengangguk,wanita itu bersedekap dada menghadap Sindi.
" Mulai saat ini,angkat kaki dari rumah dan bawa anak2 mu " Kata Risa tenang.
Deg...
Winda dan Sindi kembali terkejut.
" Kenapa ? ngak mau ? kamu gak sadar ini rumah siapa ?" tanya Sita bersedekap dada.
Winda menatap ibunya,Sindi menunduk dalam.
" Hm biar kau lebih paham aku akan mengatakannya lagi " kata Sita tenang.
" Tidak usah !" Kata Sindi mendongak.
" Seharusnya kalian yang keluar dari rumah ini,aku istrinya Mas Malvin,aku dan anakku berhak atas rumah ini " Lanjut Sindi.
Risa dan Sita terkejut dengan keberanian wanita itu hingga salah satu dari mereka tersenyum miring.
" Kau yakin ?" tanya Sita menantang.
" Keluar dari rumah ku !" Usir Sindi.
" Jangan kurang ajar kamu !" Bentak Risa tak terima.
" Mama gak usah ikut campur urusan rumah tangga aku,jika kalian tak suka aku dan anak ku,itu urusan kalian !" Bentak Sindi berani.
" Kau begitu yakin Sindi " kata Sita menggeleng pelan.
Sindi diam menatap wanita itu nyalang,tak ada lagi rasa hormat,Sindi benar2 sudah diambang rasa sabarnya.
Sindi diam mengernyit begitu pun Winda.
" Berikan saja biar dia sadar diri " Kata Risa tanpa perasaan.
Sita mengangguk dan mengotak atik hapenya.
" Lihat ini " kata Sita menunjukkan hape.
Winda maju dan langsung terbelalak.
" Papa " Gumam Winda pelan.
Sindi ikut melihat dan langsung menutup mulutnya yang menganga lebar.
" Kau kenal wanita ini ?" tanya Sita tersenyum.
" Kenapa Mas Malvin bertemu dengan dia ?" Tanya Sindi nanar.
" Siapa dia Ma ?" tanya Winda penasaran.
Sindi diam menatap Sita dalam.
" Kemarin lusa mereka bertemu dan lihat lah raut suami mu " Kata Risa terkekeh.
" Ma,siapa wanita itu ?" tanya Winda mendesak.
Sindi memejamkan mata dengan hati yang terasa begitu sesak melihat pria yang ia cintai tersenyum bersama perempuan lain.
" Maaa " Rengek Winda menggoyangkan lengan Sindi.
Sindi menoleh dan air mata perempuan itu tak bisa dibendung.
Sindi ingat kemarin lusa Malvin pulang larut malam tanpa kata sebelum lelaki itu keluar kota.
" Kau mau tau ?" tanya Sita kepada Winda.
Gadis itu mengangguk polos.
__ADS_1
" Dia adalah istri ayah mu sebenarnya,dan ibu mu berprofesi sebagai pelakor " Jawab Sita tanpa memikirkan perasaan ponaan nya sedikit pun.
" Apa !" kata Winda terkejut.
" Akhhhh " pekik gadis itu memegang dadanya yang tiba2 nyeri.
" Winda " pekik Sindi terbelakak.
" Mama sakit " Kata Winda berjongkok dilantai.
" Ya Tuhan anak ku " Kata Sindi panik.
Winda terus meringis kesakitan,Sita dan Risa terlihat ikut panik tapi keduanya berusaha tenang.
" Mamaaaa " pekik seorang bocah diambang pintu.
Sindi menoleh dan melihat putranya pulang sekolah.
Bocah dengan seragam SD itu berlari mendekati ibunya.
" Mama,Kakak kenapa ?" tanya Doni ikut berjongkok.
" Sayang ambilin obat Kakak dikamar sekarang !" Titah Sindi cepat.
" Hah " pekik Doni terlihat bingung.
" Sekarang,botol biru " Kata Sindi emosi.
" I iya Ma " jawab Doni kelabakan dan langsung berlari.
Risa dan Sita masih melihat,Risa yang menatap cucunya sesak nafas terlihat panik.
" Ma jangan " Ucap Sita melarang wanita itu mendekat.
" Winda Sit " Ucap Risa tak tega.
" Ayo pulang,biarkan saja,dulu adik ku mati gara2 perempuan ini " Kata Sita geram mengingat masa lalu.
" Ta tapi.." Kata Risa menatap Winda nanar.
Gadis itu terlihat pucat dengan wajah yang berkali2 meringis.
Sita langsung menyeret ibunya pulang tanpa mau menolong Winda yang sedang sekarat.
Sindi menatap keduanya dengan tatapan membunuh,sungguh wanita itu menanam kebencian kepada keluarga suaminya.
" Aku bersumpah jika anak ku tak selamat,kalian tidak akan aku biarkan lepas !" Ucap Sindi sungguh2.
" Mama sakit " Ucap Winda lirih.
Doni datang dengan wajah tergesa gesa memeluk obat sang Kakak.
" Ambil air Nak " Pinta Sindi berusaha tenang.
Doni mengangguk dan kembali berlari.
Sindi dengan cepat memberi beberapa butir obat kepada Winda dengan tangan bergetar.
" Ya Tuhan Winda hidung kamu berdarah " kata Sindi terkejut.
Winda mengusap hidungnya dan terdiam menatap Sindi yang kembali menangis.
" Mama " Panggil Winda mengusap pelan wajah ibunya.
" Jangan tinggalin Mama Nak " Pinta Sindi lirih.
Winda tersenyum kecil dengan ringisan sakitnya.
" Winda " Pekik seseorang dari arah pintu.
Sindi menoleh dan terdiam melihat seorang lelaki berlari kearah mereka.
" Ya Tuhan,bawa kerumah sakit " Ucap Lelaki itu panik.
Sindi hanya diam melihat lelaki itu nanar.
Tanpa menunggu jawaban,lelaki itu pun mengangkat tubuh Winda dan berlari keluar.
__ADS_1