Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
471


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat,tak terasa sudah 2 hari Samuel tak bertemu istrinya.


Winda kembali meminta waktu untuk tinggal bersama Nenek kakeknya,meski merasa ada yang mengganjal tapi Samuel memberi izin kepada wanita itu,apalagi ia juga sibuk diperusahaan.


Seperti hari ini dirumah Risa sudah kedatangan seorang wanita dari pihak Samuel membawa pengacaranya.


Lutfia datang baik2 menemui keluarga Winda yang masih tinggal dirumah besar itu.


" Mba " Tegur Sindi sopan.


Lutfia mengangguk pelan melihat Sindi dari ujung kaki hingga kepala.


Sindi yang sedang memakai celemek masak merasa minder dilihat wanita kaya tersebut.


" Silahkan masuk " ucap Sindi mengulurkan tangan.


Lutfia mengangguk dan masuk lebih dalam.


Terlihat seorang bocah juga memakai celemek dengan dipenuhi tepung.


" Bibi " Pekik Doni mengenali Lutfia.


Lutfia tersenyum kecil menyahut Doni yang menegurnya.


" Kebetulan Bibi kesini,aku sama Mama lagi bikin kue loh " kata Doni mengadu.


" benarkah ?" tanya Lutfia tersenyum.


" Iya Bi,nanti aku bagi sama Bibi ya " Kata Doni ramah.


Lutfia mengangguk tersenyum.


" Mm mau minum apa Mba ?" tanya Sindi tak enak.


" Apa aja " Jawab Lutfia tenang.


Sindi mengangguk,wanita itu pun berpamitan kedapur.


" Apa itu orang tuanya ?" tanya Pengacara Lutfia.


" Ya itu Mama Winda " jawab Lutfia.


Lelaki itu mengangguk paham dan mulai mengeluarkan berkas.


Lutfia menarik nafas panjang,sungguh hatinya tak tenang saat ini,ia merasa takut akan keputusan yang akan ia ambil.


Tak lama Sindi kembali membawa 2 cangkir teh hangat dan kue buatannya.


" Silahkan " Ucap Sindi sopan.


Lutfia mengangguk.


" Hm apa Winda ada ?" tanya Lutfia tanpa basa baai.


" Dia masih diluar bersama Papanya " Jawab Sindi.


" Apa kau sudah tau ?" tanya Lutfia lagi.


" Ya Winda sudah cerita " jawab Sindi berusaha tenang.


Hening....


Lutfia diam memperhatikan wajah Sindi berubah sedikit sedih.


" Maafkan saya,tapi kita harus melakukannya " Kata Lutfia sopan.


" Aku gak tau apa yang Mba pikirkan tentang kami,tapi aku sangat menyayangkan keputusan ini " Kata Sindi tenang.

__ADS_1


" Ya ini sulit bagi kami,Samuel anak lelaki saya satu2nya,saya masih butuh dia " Balas Lutfia.


" Aku harap setelah ini Samuel bahagia,dan terima kasih sudah membebaskan kami " Kata Sindi menunduk sopan.


Lutfia diam tak membalas..


" Saya punya sedikit uang untuk kehidupan kalian dimasa depan,bukan karna saya kasihan tapi ini sebagai konfensasi dari saya untuk Winda " Kata Lutfia menyerahkan amplop coklat yang sangat tebal.


" Terima kasih,tapi kami tidak mau menerima nya,kami akan melakukan apa yang mba inginkan tanpa upah sedikit pun " Tolak Sindi mendorong uang itu perlahan.


" Apa Winda mengandung ?" tanya Lutfia.


" Tidak,dia tidak mengandung " Jawab Sindi.


" Bagus lah " Gumam Lutfia menghela nafas.


Nyessss.....


Hati Sindi terasa tertusuk mendengar ucapan besannya barusan.


Wanita itu merasa begitu hina didepan keluarga Samuel,Sindi sebagai ibu dari anaknya begitu sakit hati tapi ia dan Malvin sepakat tak mau memulai masalah lagi dan berusaha menerima apapun yang sudah ditetapkan untuk mereka.


Tak lama Winda dan Malvin pulang,Lutfia menatap menantunya nanar.


" Mama " Ucap Winda lirih mengenali Lutfia.


" Ayo " Ajak Malvin menegur sang putri.


" Iya Pa " jawab Winda berusaha tenang.


Keduanya berjalan mendekat,sungguh Winda merasa inilah akhir segala penderitaanya selama ini.


" Ini berkas nya,kami sudah menyerahkan kepengadilan " Ucap Malvin membuka suara.


Pengacara Lutfia menerima berkas itu dengan anggukan kecil.


" Ini akan mudah Bu " Ucap pengacara tersenyum.


" Maafkan saya Winda,ini demi kalian " Ucap Lutfia lembut.


" Iya Ma,terima kasih sudah menerima aku menjadi menantu Mama kemarin,maaf jika banyak kesalahan yang aku perbuat " Ucap Winda menahan tangis.


Lutfia memeluk wanita itu sebentar dan tersenyum.


" Saya akan berusaha melupakan semua ini,semoga kamu berbahagia setelah ini tanpa Samuel " Ucap Lutfia tulus.


Nyessssss.....


Jantung Winda seolah berhenti mendengar kata akhir ibu mertuanya.


" Iya Ma,semoga Sam..." Ucap Winda menggantung.


" mmh semoga Sam menemukan pengganti yang lebih baik dari aku " Lanjut Winda bergetar.


Lutfia mengangguk,keduanya duduk menandatangi kesepakatan bersama.


Semua tubuh Winda merasa gemetaran setelah map tertutup yang artinya pernikahan nya pun harus selesai.


" Saya pamit,terima kasih banyak " Kata Lutfia sopan.


Sindi dan Malvin mengangguk melihat wanita itu berjalan menjauh.


Setelah pintu tertutup rapat,Winda terjatuh kelantai dengan wajah nanar.


" Winda " Panggil Sindi bergetar.


Wanita itu tak kuasa menahan tangis melihat anaknya begitu terpukul dengan nasib yang ia terima.

__ADS_1


" Ini akhir segalanya Ma " Ucap Winda berderai air mata.


" Maafin Mama Nak hiks hiks " Balas Sindi menangis memeluk wanita itu.


Malvin terduduk di kursi dengan wajah frustasi.


Ayah mana yang tega melihat anaknya menderita dari kecil hingga besar,bahkan saat menikah pun pernikahannya tak berjalan mulus.


Winda tak bisa berkata kata lagi,hanya air mata yang bisa menjelaskan isi hatinya saat ini.


" Bawa aku pergi Ma " Ucap Winda memejamkan mata.


" Iya sayang,kita akan pergi dari kota ini " kata Sindi yakin.


Beberapa saat saling berduka,Winda bangun dengan tubuh lemah.


Ia merasa tak sanggup lagi hidup penuh dengan liku,tapi Tuhan seoalah meminta dirinya kembali bersabar dengan ujian yang bertubi tubi.


Wanita malang itu berjalan gontai mendekati kamarnya yang baru direhab oleh sang Nenek.


Praaaaanggggggggg.....


Bunyi pecahan gelas terdengar nyaring saat acara meeting berlangsung.


" Sam " Tegur Rafael kaget.


" Maaf2,saya tidak sengaja " Ucap Samuel langsung menunduk.


" Jangan " Pekik Zaki menahan.


" OB " Panggil Zaki sedikit berteriak.


Seorang pria masuk dengan wajah kaget.


" bersihkan ini cepat " kata Zaki menunjuk pecahan.


Samuel terdiam melihat gelas itu berhamburan bersama air putih disana.


" Kok aku deg2an ya ?" Gumam Samuel meraba dadanya yang terasa berdebar.


Ob bergerak cepat membersihkan beling,setelah selesai meeting kembali berlanjut meski Samuel mendapat bisikan dari para karyawan.


" Kamu gak papa ?" tanya Rafael menegur anaknya.


" Aku mau telfon Winda dulu Pa " Jawab Samuel.


" Jangan " tahan Rafael.


" Sebentar Pa,perasaan aku gak enak " kata Samuel kekeh.


" Sam,nanti kita sedang meeting gak enak dilihat klain !" Tegur Rafael tegas.


" Tapi Pa Win...


" Samuel " tegur Zaki tegas.


Samuel menarik nafas panjang dan mengangguk pasrah.


" Lanjutkan " Ucap Samuel mempersilahkan karyawan yang ingin bicara.


Acara meeting kembali berlangsung,pikiran Samuel sudah melayang entah kemana.


Ia sudah tak fokus lagi dengan pekerjaan saat otaknya sibuk memikirkan Winda yang akhir2 ini sulit dihubungi.


Rafael sesekali melirik sang putra,lelaki itu tau Samuel punya firasat tentang Winda yang belum mau pulang kerumah,bukan hanya Rafael tapi Zaki juga melakukan hal yang sama.


Kedua lelaki itu sudah mengetahui bahwa Lutfia sudah menyelesaikan semua masalah yang ada.

__ADS_1


❤❤❤❤


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2