
Seorang pria datang kerumah orang tuanya dengan nafas memburu,pria itu terlihat begitu menahan amarah.
Rumah sedang ramai seperti diadakan acara.
Braaakkkkkkkk...
Tiba2 pintu rumah digebrak dengan kencang membuat semua orang didalamnya kaget bukan main.
" Malvin " Ucap beberapa orang yang mengenali pria itu.
" Mamaaa " Panggil Malvin keras.
" Ada apa Malvin ?" tanya Papa Malvin mendekat.
" Mama mana ?" tanya Malvin berdebar debar.
" Mama mu sedang istirahat " Jawab Papa Malvin mengernyit.
Malvin langsung berjalan cepat hingga mendekati pintu kamar.
Ceklek...
Lelaki itu membuka pintu dan masuk kedalam.
" Malvin " Ucap seorang wanita sedang meminum obat dibantu anaknya.
" Kenapa Mama mengusir anak dan istri ku ?" tanya Malvin to the point.
Deg...
Risa terkejut melihat putranya tiba2 masuk dan langsung menanyakan anak istri.
" Siapa yang mengusir mereka ?" tanya Sita polos.
" Gak usah pura2 bodoh ! aku sudah tau semuanya !" Bentak Malvin membuat Risa menggelonjak kaget.
" Malvin !" bentak sang Papa masuk kedalam kamar.
" Jangan kurang ajar kamu !" Kata pria itu tegas.
" Mereka mengusir Sindi dan anak ku Pa dari rumah,apa aku harus diam melihatnya !" Teriak Malvin geram.
" Apa !" Pekik pria tersebut syok.
Risa hanya diam,anak bungsunya ikut diam merasa takut dengan raut wajah sang Abang yang begitu mematikan.
" Apa itu benar Ma ?" tanya Papa Malvin tak percaya.
" Aku tidak melakukannya,dia sendiri yang ingin keluar " Jawab Risa santai.
" Sindi tidak pernah meninggalkan aku jika kalian semua tidak ikut campur !" Teriak Malvin seraya melempar sebuah map kekasur.
Deg.....
Semua orang terbelalak,adik bungsu Malvin membuka map tersebut dan melotot melihat isi didalamnya.
" Surat cerai " Ucap wanita itu lirih.
__ADS_1
" Kalian puas ?" Tanya Malvin mengepalkan tangan.
" Ya Tuhan " Kata Papa Malvin membaca isi kertas itu.
Terlihat disana,Sindi mengajukan cerai kepada pengadilan agama untuk lepas dari Malvin.
" Kalian sungguh luar biasa,aku tidak menyangka kalian tega melakukan ini sama anak sendiri !" Ucap Malvin berdesis.
Risa menelan ludah kasar,menatap wajah anaknya yang begitu marah.
" Mereka tidak salah Ma,jika Mama membenci mereka cukup benci aku saja untuk mewakili anak istri ku,Winda sedang sakit keras Ma,dia butuh aku dan ibunya untuk bertahan,kenapa kalian tega melakukan ini semua kepada kami ?" Tanya Malvin melemah.
Papa Malvin diam melihat Malvin berkaca kaca,sungguh lelaki itu tidak tau apa yang terjadi kepada keluarga anak lelaki keduanya.
Kini masih tinggal Malvin sendiri menjadi anak lelaki dirumah itu karna saudara satunya lagi sudah meninggal saat cekcok dengan Malvin dulu.
Seorang wanita masuk kamar dan kaget melihat Malvin datang.
Malvin menatap Kakak tertuanya itu dengan tatapan tajam,Malvin tau Sita juga ikut andil membuat keluarga nya hancur.
" Malvin " Panggil Papa Malvin memegang bahu anaknya.
" Aku capek Pa,aku muak dan bosan dengan semua keegoisan kalian,Sindi begitu menderita selama ini menjadi menantu kalian,bahkan Winda merasa tak pantas hidup karna kelakuan kalian,aku tak tau lagi harus bersikap bagaimana,sekarang hidup ku benar2 sudah hancur seperti hati keluarga kecil ku,aku seperti orang gila mencari mereka setelah kalian usir,kalian tau bagaimana perasaan ku saat ini ?" Tanya Malvin nanar.
Risa menahan tangis melihat anaknya mencurahkan isi hati tentang kelakuan mereka,Sita melihat ibunya dengan tatapan tegas memberi kode agar tak terkecoh.
" Sekarang Sindi ada dimana ?" tanya Papa Malvin berusaha tenang.
" Dia tinggal dikontrakan kecil " Jawab Malvin menunduk.
" Baiklah kita kesana " Ucap pria itu tegas.
" Buat apa kau bilang ? kau tak melihat hasil kelakuan kalian selama ini ?" bentak Papa Malvin geram.
Sita langsung terdiam,Risa juga diam melihat suaminya emosi.
" Ayo " Ajak Papa Malvin menarik tangan Malvin keluar.
Malvin mengangguk lemah dan mengikuti langkah kaki Papanya.
" Malvin " Panggil Risa pelan.
Malvin berhenti melangkah dan menoleh kebelakang.
Risa diam terus menatap putranya dengan tatapan yang sulit dimengerti.
" Aku kecewa Ma " Ucap Malvin pelan.
Deg...
Risa tersentak,pria itu pun kembali melangkah keluar.
Risa terduduk lemah mendengar ucapan dari hati anaknya,sungguh ia merasa putranya benar2 telah kecewa dengan dirinya selama ini.
" Ma " Panggil Sita menegur.
" Seharusnya kita tidak sampai kesini Sit " Ucap Risa nanar.
__ADS_1
" Sindi berhak mendapatkannya Ma,Adek meninggal gara2 perempuan itu !" Kata Sita kesal.
" Tapi tidak dengan Malvin,dia juga anak Mama " Ucap Risa mulai menangis.
" Mama jangan terkecoh Ma,ini pasti Sindi yang mengadukannya kepada Malvin agar Malvin membenci kita !" Balas Sita sengit.
" Tapi anaknya juga sedang sakit " Ucap Risa teringat Winda.
" Akhhh Mama terlalu lemah,coba mama lihat selama ini memang Sindi perduli sama kita,memang dia pernah mau berkunjung kesini kalo gak sama Malvin !" Kata Sita kesal.
Risa masih diam,adik bungsu Malvin hanya diam mendengarkan tanpa membela ataupun mencaci Sindi.
Ketiga perempuan itu diam hingga Sita memilih keluar dari kamar..
" Aku rasa kita memang salah Ma,jika Kak Sindi benar memutuskan untuk berpisah maka besar kemungkinan Kak Malvin akan membenci kita selamanya " Ucap Adik Malvin bernama Uli.
Risa kembali menunduk dengan tangan meremas bajunya khawatir.
Uli menghela nafas dalam melihat ibunya,perempuan itu pun berjalan keluar.
Disebuah rumah seorang wanita terdiam setelah mengirim surat kepada sang suami tercinta.
Sindi sudah memutuskan untuk berpisah dengan Malvin lantaran lelah dengan segalanya.
Doni menangis merengek minta makan tapi Sindi seperti badan tanpa nyawa,perempuan itu tak menghiraukan anaknya hingga Winda keluar kamar mendekati bocah itu dan menganjak Doni kedapur.
" Makan sama Kakak ya " Ucap Winda lembut.
" Hiks hiks Mama jahat " kata Doni sambil terisak.
" Mama lagi banyak pikiran sayang,jangan nangis lagi ya " Bujuk Winda lembut.
" Mama gak sayang aku Kak " ucap Doni terus menangis.
Winda menahan nafasnya berusaha untuk tenang,wajah gadis itu sudah sembab air mata menangis dengan keputusan ibunya.
Sungguh Winda tak menyangka dirinya benar2 akan berpisah dengan Malvin nanti.
" Ayo makan Kakak suapin " ucap Winda mengambil nasi dan lauk.
Doni mengangguk dan menaiki kursi.
Meski terisak tapi Doni tetap membuka mulutnya menerima suapan sang Kakak.
Bocah itu terlihat sangat lapar karna tadi Doni ikut menemani Sindi ke pengadilan tanpa makan apapun.
Winda berusaha tenang meski tubuhnya merasa tak sanggup lagi.
Bukan hanya ginjal yang menjadi sakitnya tapi seluruh badan.
Gadis itu ingin sekali menyerah tapi melihat Doni yang masih butuh kasih sayang membuat Winda mati2an untuk terus hidup.
Didepan,Sindi masih diam sungguh hancur hati wanita beranak dua itu saat ini,tapi keputusan sudah ia buat dengan sebaik2nya.
Sindi sudah memikirkan sebab akibat yang akan ia terima.
Bukan tanpa alasan wanita itu sampai mengirim surat cerai,bukti Malvin bersama Ratu sungguh menyayat hati wanita itu ditambah perlakuan keluarga Malvin yang tak bisa ia terima lagi..
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.