
Hari terus berlalu,kondisi Restu dan Nur tidak ada perkembangan.
Keduanya masih sangat membutuhkan bantuan Winda maupun keluarga.
Saat ini keluarga Winda dan Restu berkumpul diruang tamu.
Ibu Restu meminta putranya dibawa kekampung saja untuk berobat,mereka merasa hidup di kota sangatlah sulit apalagi semua kebutuhan naik drastis.
" Emak bukannya mau memisahkan kamu dan Restu Win,hanya saja kalau dikampung Emak bisa leluasa jagain Restu dan Nur " Ucap mertua Winda memberi pengertian.
" Disini juga percuma kan,Restu udah gak punya kerjaan,kamu juga,Nur dan Afdhal butuh makan dan minum yg layak " Lanjut mertua Winda.
" Aku akan cari kerjaan Mak,Afdhal udah bisa dilepasin sama Mama " Balas Winda.
" Emak kasihan sama kamu Win " Kata mertua Winda menangis.
Winda menghela nafas dengan senyum kecilnya.
" Aku kuat Mak,kami akan melalui masa sulit ini bersama2 " Ucap Winda menenangkan.
" Maafin Mak gak bisa bantu banyak "
Winda tersenyum mengangguk,wanita itu tidak rela jika harus berjauhan dengan suaminya apalagi Restu dalam kondisi sulit.
Bukan hanya itu saja tapi Winda punya planing yg jauh dari itu karna dirinya akan membawa Restu dan Nur berobat.
Winda tak berani cerita kepada mertuanya,wanita itu takut sang Mertua akan tersinggung nanti dengan tindakan yg ia ambil,walaupun ujung2 nya Winda harus jujur juga.
Malvin dan Sindi hanya diam saja,keduanya memilih tak ikut campur dulu.
" Kalau kamu gak setuju gak papa,tapi Mak tetap pulang,Mak akan bekerja dikampung " Ucap Mertua Winda tegas.
" Iya Mak,Mak gak usah banyak mikir kami,aku akan bertanggung jawab atas Mas Restu " Balas Winda tersenyum..
" Mak bangga punya menantu seperti kamu Win " Kata wanita tua itu memeluk Winda.
Nyessss....
Hati Winda terasa tertusuk,sakit dan senang menyatu padu saat kata2 itu keluar dari mulut mertuanya.
" Makasih Mak " Balas Winda terharu.
Keduanya berpelukan hangat sejenak,Winda melihat orang tuanya dan mengangguk kecil seolah memberi kode yg hanya mereka ketahui.
Kebesokan paginya,orang tua Restu benar pergi.
Restu terlihat sangat sedih,tapi lelaki itu tak bisa melakukan apapun saat ini selain pasrah.
" Mas " Panggil Winda menegur.
" Kapan kamu mau bawa Nur ke mereka ?" Tanya Restu datar.
" Kamu mengizinkan ?" tanya Winda kaget.
Restu diam masih menatap nanar kejalanan sepi.
" Maafin aku Mas,tapi ini keputusan akhir " Ucap Winda sedih.
" Aku tau ini baik untuk putri kita,tapi aku rasanya tidak rela dia bersama orang lain " Ucap Restu menoleh.
" Aku pun begitu Mas,tapi apa kamu tega melihat Nur selamanya seperti itu ? dia masih kecil Mas,belum saatnya Nur merasakan sakit yg kita aja gak mampu " Kata Winda hampir menangis..
Manik Restu terpejam,sekilas bayang2 kenangan putrinya berlari2 ditaman dengan wajah ceria begitu menyakitkan bagi lelaki itu.
__ADS_1
Sungguh Restu tak ingin ini terjadi kepada keluarganya.
" Aku harap kamu ikhlas Mas begitupun aku " Kata Winda mengusap bahu pria tersebut.
" Apa mereka akan mengambil Nur dari ku ?" tanya Restu melihat istrinya.
" Tidak,Nur tetap anak kita,mereka hanya menolong " jawab Winda meyakinkan.
" Aku takut Nur terlalu nyaman dengan mereka dan melupakan aku " Kata Restu menunduk.
" Dia tidak akan melupakan cinta pertamanya sayang " Kata Winda lembut.
Senyum Restu terbit,lelaki itu sedikit terhibur dengan ucapan alay Winda barusan.
" Kamu juga harus sembuh,nanti kita bisa jalan2 " Kata Winda semangat.
" Aku trauma berjanji " Balas Restu menggeleng
" Yaya,aku mengerti " Kata Winda paham.
Keduanya kembali mengobrol hangat,Restu banyak bertanya apa saja planing Winda dan orang tua Samuel nanti kepada anaknya.
Sebelumnya Restu begitu syok saat tau Orang tua Samuel bersedia membantu kesembuhan bahkan masa depan Nur,bahkan lelaki itu sempat mendiamkan Winda karna menganggap Winda sudah mengkianati cintanya,tapi ternyata dugaan Restu salah,Winda hanya ingin yg terbaik.
Menuju siang,sebuah mobil mewah berhenti didepan rumah.
Turunlah seorang wanita dengan beberapa paperbag ditangannya.
" Nenekkk " Pekik Nur mengenali wanita tersebut.
Lutfia tersenyum manis dan mendekati bocah yg sedang duduk lesehan dengan beberapa boneka usangnya.
" Mana yg lain ?" tanya Lutfia tersenyum.
" Nenek ada didalam Nek " Jawab Nur polos.
" Apa kabar ?" tanya Sindi mengulurkan tangan.
" Baik,kamu gimana ?" Tanya Lutfia ramah.
" Baik juga " jawab Sindi tersenyum.
" Aku pikir kau sudah tau kedatangan ku kemari " Kata Lutfia to the point.
" Ya " Jawab Sindi menghela nafas.
" Kamu tenang saja,Nur akan saya anggap seperti cucu sendiri " Kata Lutfia tegas..
" Apa itu tidak terlalu lama ?" tanya Sindi hati2.
" Aku pikir 10 tahun bukan waktu yg cepat " Lanjut Sindi lesu.
" Ya,tapi itu kesepakatan kami " Balas Lutfia.
" Dia akan merindukan orang tuanya " Kata Sindi mengusap kepala Nur.
" Kami tidak melarangnya untuk berhubungan dengan kalian,anggap saja ini seperti kami mengadopsi dia dalam jangka waktu tertentu " Kata Lutfia ramah.
" Nur " Panggil Sindi lembut.
" Iya Nek " Jawab Nur melihat sang Nenek.
" Nur mau tinggal sama Nenek Lutfi ?" Tanya Sindi.
__ADS_1
" Nur harus sembuh Nek,biar bisa banggain Papa " Jawab Nur tenang.
Deg...
Sindi tersentak mendengar jawaban cucunya.
" Nanti kalo Nur bisa jalan lagi,Nur akan sekolah dengan baik dapat nilai bagus dan bawa Papa berobat " Kata Nur membayangkan dirinya.
" Kamu belum waktunya melakukan itu Nak " Ucap Sindi menangis haru.
Lutfia ikut terharu,wanita itu begitu kasihan kepada Nur dan ingin menolong.
" Nenek jangan sedih,Mama aja gak sedih " Kata Nur mengusap air mata Sindi.
" Nenek sayang sama kamu " Kata Sindi memeluk cucunya.
" Nur juga Nek " Balas Nur memeluk erat Sindi.
Lutfia banyak bertanya dan dibalas Sindi dengan jujur termasuk keungan mereka yg memang sedang sulit.
Sekilas Sindi merasa besannya berubah drastis seperti pertama mereka kenal.
" Waktu merubah segalanya " Batin Sindi pelan.
Beberapa hari kemudian,tibalah saatnya Nur akan dibawa keluarga Samuel pergi.
Winda menangis semalaman tak sanggup melepas putrinya.
Restu yg sebenarnya begitu rapuh mencoba menenangkan istrinya.
" Jika kamu kuat,Nur juga pasti kuat Win " Ucap Restu lembut.
" 10 tahun tidak bersama kita apa yg akan terjadi kepadanya Mas ?" tanya Winda dengan wajah sembab.
" Aku hanya berharap jika waktu itu tiba,aku masih hidup dan melihatnya tumbuh dewasa " jawab Restu.
Winda semakin menangis,ini pertama kalinya Winda harus merelakan sang putri pergi jauh bersama orang asing,orang tua Samuel sudah membuat kesepakatan resmi bahwa mereka akan menyekolahkan Nur hingga menjadi perempuan sukses,suatu hal yg sulit Winda tolak karna tak banyak yg punya kesempatan seperti itu.
Tapi demi kesembuhan Winda harus merelakan semua itu.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka,masuklah Malvin dengan wajah yg sembab.
" Kamu juga harus bersiap Res " Ucap Malvin serak.
" Iya Pa " Jawab Restu lesu.
" Kalian akan pergi dalam waktu bersamaan dengan tujuan yg berbeda " Kata Malvin berkaca kaca.
" Kami akan baik2 saja,aku dan anak ku,kami manusia yg kuat " kata Restu meyakinkan diri.
Malvin mengangguk setuju,koper lelaki itu pun dibawa keluar.
Terlihat Rafael dan anak buahnya sudah menunggu didepan.
" Papa,semoga Papa cepet sembuh ya " ucap Nur memeluk Restu yg duduk lemah di kursi roda.
" Kamu juga Nak,Papa akan sangat merindukan kamu " Kata Resti tak kuasa menahan air matanya.
Keduanya saling berpelukan dengan kursi roda masing2.
Tangis Winda dan Sindi kembali pecah,kini Winda harus bersiap diri ditinggal anak dan suaminya untuk menjemput kesembuhan di kota orang.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya