Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
467


__ADS_3

Sidang berjalan hikmat,jaksa penuntut meminta hakim menjatuhkan hukuman kepada Malvin dan Sindi selama 7 Tahun penjara dan denda 5 milyar rupiah.


Sontak para hadirin dibuat syok mendengar dakwaan tersebut termasuk Malvin dan Sindi sendiri.


" Pa " Ucap Sindi menoleh kesuaminya.


Malvin diam menggigit bibir bawah merasa benar2 sudah sangat pasrah akan hidup yang penuh lika liku.


" Apa apaan ini Pak !" Bentak Yuni tak terima.


" Yank tenang " Kata Romi kaget dengan aksi nekad istrinya.


" Gimana aku bisa tenang Mas,7 tahun itu bukan waktu sedikit !" Bentak Yuni emosi.


Romi menyuruh Yuni duduk tapi wanita itu enggan mematuhi aturan suaminya.


" Mengambil sesuatu yang bukan milik kalian apa itu dibenarkan ? apalagi orang tuanya tidak tau menau ?" Tanya penuntut melawan Yuni.


" Samuel sudah lebih 17 tahun,jadi dia berhak menentukan hidupnya sendiri !" Sahut Yuni geram.


" Ya dia memang hak untuk itu,tapi dia masih punya orang tua yang mendampingi keputusan dan kalian tidak mempunyai izin apapun !" kata Penuntut tegas.


" Yank sudah " kata Romi mulai was2.


" Ini tidak bisa dibenarkan,seenak jidat aja nuntut orang " Gerutu Yuni emosi.


Risa melihat Sindi,terlihat sekali wanita itu begitu sedih mendengar ucapan jaksa yang begitu menyayat apalagi Doni tak lepas sedikit pun dari orang tuanya.


" Harap tenang " ucap Hakim mengetuk palu.


" Yuni duduk " Tegur Tito lembut.


" Pa,Sindi gak bersalah !" kata Yuni kesal.


" Iya tapi duduk dulu,itu belum keputusan hakim " Kata Tito menenangkan.


" Aku gak mau Pa " Rengek Yuni kesal.


Tito menghela nafas dan menarik tangan wanita itu agar tenang.


" Udah diem2 disini,pengacara yang akan mengurusnya " Ucap Tito melemah.


Yuni menarik nafas dan mengangguk pasrah,ia masih geram mendengar tuntutan tak masuk akal orang pengadilan tersebut.


Di kursi belakang,seorang pria juga merasa sedih akan dakwaan kedua mertuanya.


Samuel sangat tau apa yang Winda rasakan saat ini,wanita tersebut pasti akan sangat kecewa kepadanya yang tak bisa melakukan apapun.


" Kenapa Winda bisa ada disini ya ? padahal kan dia tadi ada dirumah ?" Gumam Lutfia melihat Winda yang duduk tenang disamping orang tuanya.


Pony diam2 melirik Samuel yang memasang wajah super datar seperti Zaki dan Rafael.


Ketiga pria itu tak banyak bicara,tak ada yang tau apa yang sedang mereka pikirkan.


Hakim kembali bertanya kepada Sindi dan Malvin sebagai tersangka dan Samuel pun disuruh maju untuk menjadi saksi.


" Ya saya dan Samuel sudah menyepakati persyaratan yang kami buat " Ucap Malvin tenang.


" Kenapa tidak meminta izin orang tuanya ?" tanya Hakim.


" Kami tidak punya waktu dan Samuel tidak mau orang tuanya tau " jawab Malvin mengingat.

__ADS_1


" Apa itu benar saudara Samuel ?" tanya hakim.


" Ya itu benar,saya melakukannya tanpa persetujuan mereka " Jawab Samuel jujur.


" Mengapa anda melakukan itu ?" Tanya Hakim lagi.


Samuel berbalik badan,lelaki itu menatap Winda yang duduk diam memperhatikan orang tuanya.


" Saudara Samuel ?" Ulang Hakim menegur.


" Saya kasihan " Jawab Samuel tenang.


Deg....


Winda yang mendengar jawaban suaminya tersentak begitupun Malvin dan Sindi.


" Kasihan ?" ulang hakim.


" Ya,saya pikir setiap orang punya kesempatan untuk hidup,melihat semangat dia untuk maju membuat saya tergerak untuk menolong " Jawab Samuel.


" Bukankah anak tersangka itu istri mu ?" Tanya Hakim lagi.


Samuel kembali menoleh kebelakang dan tak mendapati apa yang ingin ia lihat.


" Winda mana ?" Gumam Samuel mengernyit.


Disana hanya ada Doni yang diambil alih oleh Salsa,Nenek dan Kakeknya.


Salsa yang menyadari Samuel mencari Winda hanya bisa menghela nafas panjang.


Salsa tidak tau kemana Winda pergi,tapi firasat wanita itu mengatakan sahabat suaminya tersebut pasti melakukan sesuatu.


" Ya hm dia istri ku " Jawab Samuel menghadap kedepan.


Hakim mangut2 mengerti dan memberi pertanyaan lain.


Malvin dan Sindi tak merasa terpojok atas kesaksian yang diberikan Samuel,lelaki itu juga memberikan balasan yang menuju kearah kebebasan tapi jaksa penuntut meminta Samuel berhenti karna sudah habis waktu yang dibutuhkan.


Sidang kembali berjalan,Yuni bersuara lagi memberi kesaksian.


Mereka semua tidak melibatkan Romi sedikit pun karna Yuni tak mau suaminya ikut andil,sudah banyak pengorbanan yang Romi lakukan,wanita itu takut suaminya terseret kasus.


Romi pun mematuhi aturan yang sudah ditegaskan sang istri karna sebelum sidang Romi sudah mendapat ancaman mematikan dari istrinya tersebut.


Pihak Zaki juga tidak melibatkan Romi dalam kasus ini mengingat Romi bukan orang sembarangan dan mereka terikat pekerjaan yang sangat penting.


Diluar ruangan 3 orang perempuan saling bertatapan dengan isi otak masing2.


Winda memutuskan keluar ruangan menemui mertua dan nenek Samuel yang berpamitan ke toilet tadi.


" Ada apa ?" Tanya Pony bersedekap dada.


" Aku ingin membuat kesepakatan " jawab Winda serius.


" Kesepakatan apa ?" tanya Lutfia mengernyit.


" Bisa kita bicara disana ?" tanya Winda menunjuk kursi dan meja yang kosong.


Lutfia dan Pony saling melihat,keduanya mengangguk bersamaan.


Winda tersenyum dan mengarahkan mereka menuju lokasi.

__ADS_1


" Beritahu apa mau mu " Ucap Pony setelah duduk cantik.


" Baiklah,aku disini bukan sebagai istri Samuel melainkan menantu kalian " Kata Winda membuka suara.


" maksud mu ?" tanya Pony bingung.


" Ma,Nek,aku tau aku salah,aku tau tindakan orang tua ku mungkin tidak benar dimata kalian,kami memang banyak kekurangan dan tidak setaraf dengan kalian,tapi kami juga manusia yang...." Ucap Winda bergetar diakhir kalimat.


" Langsung saja " kata Lutfia tenang.


Winda menarik nafas panjang dan mengangguk pelan.


" Sekarang aku ingin membuat kesepakatan kepada kalian berdua "Kata Winda yakin.


" Apa ?" tanya Pony masih tenang.


" Lepaskan orang tua ku maka aku akan....." Jawab Winda tak sanggup.


" Akan apa ?" tanya Lutfia penasaran.


" Aku akan em aku...." Jawab Winda meremas baju kemejanya.


Lutfia dan Pony masih menunggu jawaban menantu mereka.


" Melepaskan Samuel " Lanjut Winda memejamkan mata.


" Apa !" Pekik Lutfia kaget.


" Ya aku akan melakukannya dengan syarat kalian harus membebaskan orang tua ku dan tak mengganggu kami lagi dari segi apapun " Kata Winda tegas.


Lutfia masih menganga begitupun Pony yang tak menyangka gadis lemah itu berani berbicara seperti itu kepadanya.


Plakkkkkk....


Seketika pipi Winda memerah mendapat tamparan pedas dari Mama Samuel.


" Setelah semua yang kamu lakukan kini kau berani meninggalkan Samuel !" bentak Lutfia emosi.


Winda memegang pipinya dengan jantung berdebar.


" Ya,bukankah ini yang kalian inginkan,aku akan mengabulkan nya Ma,aku yang akan menggugat Samuel,jadi biarkan aku yang menanggung semuanya dan Sam kembali kepada kalian " Kata Winda menahan tangis.


" Winda !" bentak Lutfia emosi.


" Aku mohon Ma,kasihanilah aku dan orang tua ku,Doni masih kecil Ma,7 tahun bukan waktu yang singkat untuk kami,aku mohon Ma hiks hiks " Kata Winda bersimpuh dikaki Lutfia.


Pony melihat perempuan itu dengan tatapan yang sulit dimengerti.


" Apa kau sudah hamil ?" Tanya Pony hati2.


Deg...


Lutfia terbelalak dengan pertanyaan ibunya.


Winda mendongak dengan air mata yang kembali jatuh.


Ia teringat akan permintaan suaminya yang ingin segera punya anak.


❤❤❤❤


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.

__ADS_1


__ADS_2