
Kakinya tak berhenti melangkah, masih mondar-mandir di tempat yang sama, dengan raut wajah cemas.
Menghela nafas berat sesaat setelah panggilannya tak kunjung terjawab. Sudah lebih dari lima menit lamanya dia terus menerus memainkan benda pipih itu hanya untuk menghubungi nomor yang sama, namun hasilnya juga tetap sama, tidak ada respon.
Langkahnya terhenti bersamaan dengan helaan nafas untuk kesekian kalinya.
Sementara Indra dan Ayu, hanya terduduk diam sambil pandangan mereka terus menyaksikan setiap gerak gerik putra semata wayangnya. Menghela nafas pelan, Ayu beranjak dari duduknya, melangkah mendekati putranya yang terlihat sangat cemas itu.
"Tidak dijawab?" tanyanya, yang langsung diangguki oleh Riko.
"Coba kamu telefon Doni!! siapa tau aja dijawab sama dia!!
Benar juga! mereka kan bersama tadi!!. pikirnya sesaat setelah ucapan mamahnya menyadarkannya.
Pikirannya saat ini hanya terpaku pada satu orang, yaitu Romi. Bukan tanpa alasan Riko lebih memikirkan Romi, karena sejatinya mereka memang sangat dekat sejak mereka SMA sampai sekarang, bahkan persahatan itu sudah merangkak menjadi saudara. Jadi wajar jika orang yang pertama dia khawatirkan adalah Romi. Mungkin karena sudah terjalin ikatan batin yang kuat, makanya bisa seperti ini.
Saat ini benda pipih berwarna hitam itu kembali menempel di telinganya, menunggu dengan perasaan penuh harap agar panggilannya terkawab.
"Halo Rik!!
Suara berat dari seberang telefon berhasil membuat Riko bernafas lega.
"Lo dimana sekarang?" Tanyanya tanpa basa basi.
( .... )
"Gue di depan ruang bersalin!!
( .... )
"OK!
Panggilan pun terputus.
...****************...
Pria ber alis tebal itu menghela nafas pelan, lalu beranjak dari duduknya.
Menepuk pelan pundak Romi yang saat ini terlihat sangat menyedihkan. Romi mengangkat pandangannya menatap pria yang menepuknya.
"Aku mau menemui Riko sebentar." tuturnya yang hanya diangguki oleh Romi, detik berikutnya langkahnya melesat meninggalkan area ruang operasi itu.
...----------------...
Badan tegap Doni kini terlihat oleh tiga pasang mata yang memang sedang menunggu kedatangannya.
Belum sampai dia di depan ruangan bersalin itu, langkahnya tiba-tiba terhenti saat Ayu sudah berdiri tepat di depannya.
"Apa yang terjadi nak?" Tanyanya tidak sabaran, dengan raut wajah yang juga sudah sangat cemas. Sementara Riko batinnya sudah menebak apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Mah!! biarkan Doni menjelaskannya pelan-pelan." Indra menghampiri istrinya yang sudah sangat resah.
Bukan tanpa alasan Ayu menjadi seperti itu. Sejak tadi pikirannya sudah tidak tenang memikirkan Romi, dia takut terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa Romi. Karena kedekatan diantara Riko dan Romi membuat dia juga menjadi dekat dengan anak itu. Dia sangat mengenal Romi sama seperti dia mengenal putranya sendiri. Baginya Romi itu sudah seperti anaknya sendiri, dia menyayangi Romi sama seperti sayangnya pada Riko.
"Begini!! Kata Doni berhasil membuat semuanya terkesiap menunggu apa selanjutnya.
"Silfa mengalami kecelakaan, dia ter-- Kalimatnya terpotong karena terkejut melihat Ayu yang tubuhnya hampir tumbang, untung Indra dengan sigap menahan tubuh istrinya itu.
"Lalu bagaimana sekarang? keadaan Silfa? Romi?" Ayu kembali bertanya dengan nada yang sudah bergetar.
"Kamu tenang dulu sayang!! biarkan Doni menjelaskan semuanya dulu!" Indra kembali mencegah istrinya yang saat ini berada di pelukannya.
Riko juga sama seperti Ayu, saat ini dia sedang mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Silfa terjatuh dari kamar mandi, kepalanya terbentur keras, hingga membuat pendarahan hebat di otaknya. Karena kondisinya yang kritis membuat dokter mengambil tindakan untuk segera mengeluarkan anak yang ada di dalam kandungan Silfa." tuturnya panjang lebar.
Mendengar itu seketika Ayu menangis, Dia merasa sangat kasihan dengan Romi, Silfa dan juga bayinya.
"Lalu bagaimana dengan Silfa?" untuk pertama kalinya Riko mengangkat suaranya.
Dengan raut wajah sedih Doni menggeleng pelan menjawab pertanyaan Riko.
Tiga manusia itu kembali terkesiap, mata mereka membulat tak paham dengan maksud gelengan Doni.
"Apa maksudnya itu?" tanya Ayu lagi dengan raut wajah yang sudah sangat cemas.
"Dokter bilang, tingkat keselamatan Silfa sangat kecil." tuturnya membuat kaki Ayu semakin lemas.
Gurat kecemasan semakin tergambar jelas di wajah Riko, tatkala dia teringat istrinya. Pasti dia sangat terpukul, jika mengetahui kondisi Silfa saat ini.
"Mah, Pah! tolong, untuk saat ini jangan ada yang memberi tahu Citra tentang musibah yang menimpa Silfa." Pinta Riko dan diangguki oleh mereka.
"Ya udah, papah sama mamah, jagain Citra yah, aku mau menemui Romi dulu." ucap Riko lagi dan kembali diangguki oleh kedua orang tuanya.
"Nanti papah nyusul!! cetus Indra.
Riko mengangguk pelan sebelum akhirnya melesat meninggalkan orang tuanya, diikuti oleh Doni di belakangnya.
...****************...
Romi menatap nanar pintu bercat coklat tua ruangan itu, yang masih tertutup rapat. Sudah lebih dari tiga jam pintu lebar itu masih tertutup rapat, entah sampai kapan pintu itu akan terus tertutup.
Wajahnya saat ini sangat suram, dengan deru nafas yang terasa berat, membuatnya hanya mampu merintih dalam diam.
Tanpa sengaja ujung matanya menangkap sosok yang tengah duduk tidak jauh darinya, hanya berjarak tiga bangku kosong saja.
Romi tersadar akan sesuatu saat netranya menatap gadis berambut lurus itu, dia merasa bersalah padanya, karena tadi dia sudah menuduh dan memarihnya tanpa alasan.
"Saya minta maaf." suara berat Romi berhasil membuat Siti mengangkat pandangannya. Siti merasa heran dengan ucapan majikannya barusan.
__ADS_1
"Tadi saya bertindak kasar sama kamu, saya juga menyakiti perasaan kamu, maafkan saya." tuturnya lagi merasa malu pada dirinya sendiri.
"Tidak pak! ini memang salah saya." ucapnya juga merasa bersalah.
"Kamu tidak bersalah, dari awal saya yang bersalah, saya tidak becus sebagai suami." cetusnya lagi lalu segera memalingkan wajahnya.
Yah, Dia suami yang tidak becus. Dia tidak bisa menjaga anak dan istrinya sendiri, dia sangat tidak becus. Pikiran itu semakin membuat dadanya terasa sesak. Ditambah penyesalan yang membuatnya sangat sulit untuk bernafas.
Iya dia menyesal! sangat menyesal!!, Jika saja dua hari yang lalu dia mengantar Silfa untuk memeriksakan kandungannya, mungkin saat ini istrinya itu tidak harus berada di dalam ruangan itu.
Jika saja dia menjadi suami yang sedikit lebih peka, dengan keluhan istrinya dua hari yang lalu mungkin saat ini dia tidak berada di tempat ini.
Dia menyesal. Karena memang dua hari yang lalu Silfa merasa tidak enak pada kandung kemihnya, setiap kali bayi yang di dalam rahimnya bergerak pasti itu membuat Silfa ingin langsung buang air kecil.
Sejak dua hari yang lalu itulah Silfa jadi sering bolak balik masuk kamar mandi. Dan kemarin malam Silfa kembali mengeluh padanya karena punggung kaki Silfa membengkak. Bukannya kasihan Romi malah menertawakan bentuk kaki Silfa yang terlihat gemuk itu.
Tadi pagi Silfa kembali merengek padanya, untuk menemaninya ke dokter dan izin saja. Tapi Romi kembali menolak dengan alasan nanti siang saja. Silfa mengangguk meskipun dia kecewa.
Mengingat semua itu, membuat Romi menunduk menangis terisak.
Siti menoleh menatap sendu majikannya itu. Seketika dadanya terasa sesak saat mendapati majikannya itu menangis terisak, membuatnya semakin merasa bersalah.
Riko langsung mendudukkan dirinya disamping Romi saat dia sudah tiba di depan ruang operasi itu. Riko merangkul pundak sahabatnya itu yang masih menunduk dengan pundak yang bergetar. Romi menoleh saat menyadari lengan seseorang menyentuh pundaknya. Romi pun langsung menghambur ke pelukan Riko.
Pertahanan Riko runtuh, dia tak bisa lagi menahan cairan bening itu untuk tidak menetes, tatkala dia merasakan tubuh Romi bergetar hebat! sangat hebat!
Romi melepas pelukannya, dengan masih terisak dia menatap Riko sendu "Rik!! ini salah gue Rik!! istri gue Rik! anak gue Rik! gue nggak becus jadi suami Rik!! Ucapnya dengan nada bergetar menyalahkan dirinya sendiri.
Riko mengusap air mata sahabatnya itu lalu menepuk pelan pundaknya.
Riko menggeleng pelan "Lo nggak salah!!
Romi menggeleng lemah. "Gue salah Rik, harusnya gue nemenin dia, menuruti dia dua hari yang lalu! harusnya gue lebih mengutamakan dia lebih dari apapun!!! Rik!!! gue suami yang tidak berguna!!! Romi masih menyalahkan dirinya sendiri.
"Berhenti menyalahkan diri lo sendiri!! Lo ngga salah!! tidak ada yang bisa disalahkan dari musibah ini, ini sudah ketentuanNya!! jadi berhenti untuk menyalahkan diri lo sendiri." Ucap Riko menatap penuh haru sahabatnya ini.
"Yang harus kita lakukan saat ini adalah berdoa agar mereka berdua bisa selamat." tutur Riko lagi, Romi menggeleng lemah, menyalahkan ucapan Riko.
"Hanya satu yang bisa selamat Rik, kata dokter itu, hanya anak gue yang bisa mereka selamatkan. Tidak dengan istri gue." tuturnya lagi masih dengan suara yang sudah serak.
"Lo nggak boleh pesimis, mereka bukan Tuhan!! yang menentukan hidup dan mati seseorang, selama itu belum pasti!! lo harus yakin kalau mukjizat itu ada." Ucapnya lagi berhasil membuat Romi kembali memeluk Riko lagi.
Doni yang berdiri di samping Riko, merasa terharu dengan pemandangan di hadapannya itu. Dia mengakui persahabatan antara Riko dan Romi sudah seperti saudara, yang saling menyemangati dan saling mendukung. Hanya di depan Riko, Romi bisa menjadi selemah ini dan seterbuka ini. Pikirnya.
Saat suasana sudah sedikit tenang, tiba-tiba saja pintu lebar itu terbuka. Semua pasang mata tertuju pada benda yang berbentuk tempat tidur kecil seperti boks bayi yang terbuat dari bahan plastik keras berwarna transparan. Di dalam benda itu terlihat jelas anak manusia bertubuh kecil dengan alat medis menempel di tubuhnya, lewat di depan mereka dengan di dorong seorang perawat.
Yah, anak Romi sudah lahir, namun yang membuat hatinya kembali sedih bayi itu lahir belum waktunya, membuat bayi tak berdosa itu harus berada di dalam inkubator, dengan alat yang medis di tubuhnya. Maafkan papa sayang!! maafkan papa!! gumamnya lirih.
-tbc-
__ADS_1
...Gimana-gimana? apa part ini alurnya menyentuh kalian, atau datar-datar saja....
...tunggu extra part selanjutnya yah....