Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Enam Lima "TSJC"


__ADS_3

Next Korea...


Hari ini Riko mengajak Citra kembali jalan-jalan. Riko mengajak Citra ke sebuah wahana permainan terbesar yang ada di Korea selatan.


Tempat yang pertama kali mereka berdua masuki adalah ruangan yang semua peralatannya terbuat dari es. Citra masuk ke dalam tempat itu dengan kagum.


"Waahh,, ini adalah tempat tinggal kak Riko sepenuhnya." ucap Citra mengejek Riko.


"Maksud kamu apa?" tanya Riko heran.


"Semuanya terbuat dari es,, kak Riko kan manusia es, hahaha." ejek Citra sambil tertawa.


"Kamu yah, dasar pendek." ucap Riko lalu mencoba menangkap Citra.


Citra menghindar. "Aku ngga pendek kak, tinggi aku 165, aku ngga pendek.." gerutu Citra kesal karna di ejek pendek oleh Riko.


"Kamu memang pendek, kepala batu." ucap Riko lalu menangkap Citra.


Keseruan mereka terus berlanjut di dalam ruangan itu, mereka bermain di mobil yang terbuat dari es, Citra mengemudi dan Riko penumpangnya, Riko menyuruh Citra belok kiri tapi Citra malah belok kanan.


"Kanan itu kesana, bukan kesini. kamu itu lemot juga yahh." gerutu Riko mengejek Citra, dan Citra hanya mengerucutkan bibirnya.


Kemudian mereka bermain piano yang juga terbuat dari es, Riko memainkannya dan membuat suara piano dari mulutnya, seolah-olah dia bermain piano sesungguhnya, Citra berpura-pura menikmati piano tersebut sambil bergoyang tidak karuan, sambil mereka sesekali tertawa, karna tingkah konyol mereka.


Citra juga bermain di rumah iglo yang terbuat dari es, Citra bertingkah seperti penguin lalu berjalan masuk ke dalam rumah iglo tersebut. Citra menghampiri Riko dengan berjalan seperti penguin kemudian menjitak kepala Riko. Riko hanya tertawa melihat tingkah Citra.


Puas bermain di dalam ruangan yang terbuat dari es, Riko kemudian mengajak Citra bermain ice skating.


Citra tidak mengetahui bagaimana cara berjalan di atas es dengan menggunakan sepatu ice skating. Riko kemudian membimbing Citra dengan menarik tanganya. Sesekali Riko menjaili Citra dengan melepaskan tangan Citra dan membuat Citra hilang keseimbangan dan terjatuh.


Riko tertawa melihat Citra dan Citra mengerucutkan bibirnya kesal dengan Riko.


Riko menghampiri Citra dan kembali menarik tangan Citra di belakangnya, mereka mengelilingi tempat itu selama beberapa menit.


Tidak sampai disitu, mereka terus bermain layaknya anak kecil, mereka memakai sebuah benda mirip dengan sepeda tapi tidak memiliki ban, (ok silahkan menghayal, hehe)


Riko menaiki benda itu, kemudian Citra mendorongnya, Riko sempat melarang Citra mendorongnya, tapi Citra yang keras kepala terus mendorongnya sampai Riko terjatuh.


Citra segera melarikan diri sambil tertawa.


"Citraaa.." teriak Riko kesal terhadap Citra, tapi Citra hanya mengejek Riko dengan mengeluarkan lidahnya.


Rikopun mengejar Citra, berakhirlah mereka berlari-larian, Riko menangkap Citra dan memeluk Citra dengan erat, tiba-tiba salju turun. Citra sangat kagum dengan pemandangan tersebut. Di tengah turunnya salju, Citra merasa kedinginan, Riko kemudian memegang erat tangan Citra dan menghangatkannya. Citra tersenyum dengan perlakuan Riko, Rikopun tersenyum melihat Citra. Canda tawa dan senyuma terus terpancar di wajah suami istri tersebut.


Next, masih di hari yang sama.


Riko kemudian bertanya kepada Citra, permainan apa lagi yang ingin Citra mainkan, dan Citra segera menarik Riko menuju permainan Royal Coaster.


"Aku mau naik itu kak." ucap Citra antusias sambil menunjuk permainan itu.


Riko menelan ludahnya saat melihat tikungan-tikungan roal coaster tersebut.

__ADS_1


"Kita cari tempat lain." ucap Riko lalu menarik tangan Citra.


Citra menolak dan ingin terus menaikinya tempat itu. Tapi Riko terus membujuk Citra agar mau naik permainan lain.


"Jangam-jangan kak Riko takut." ejek Citra menatap wajah khawatir Riko.


"Siapa bilang aku takut, aku ngga takut." ucap Riko yakin.


"Ya udah kalau gitu kita naik." tantang Citra


"Ok." Riko menerima tantangan Citra, padahal seluruh tubuhnya gemetaran.


Riko memang takut ketinggian, tapi karna gengsi, makanya dia terima tantangan Citra.


Riko dan Citra berdiri menunggu giliran mereka untuk naik, Citra sudah sangat tidak sabar untuk menaiki wahana tersebut, sementara Riko wajahnya sudah pucat sambil menelan ludah.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mereka pun naik. Roal Coaster awalnya berjalan perlahan-lahan, Riko masih santai bertingkah sok cool, perlahan-lahan roal coaster pun mulai kencang, disitulah jiwa wanita Riko meronta-ronta.


Riko berteriak histeris sambil terus membenamkan wajahnya di pundak Citra. Citra yang tadinya juga takut, tiba-tiba tertawa melihat Riko yang berteriak seperti anak kecil.


Beberapa menit kemudian Roal coasterpun berhenti, Riko langsung turun meninggalkan Citra, pandangan buram, pikirannya kosong wajahnya pucat dan dia sangat malu dengan Citra.


Citra mengejar Riko yang sudah berjalan duluan, Riko mempercepat langkahnya saat dia mendengar Citra memanggilnya, tapi Citra berlari sangat cepat dan berdiri tepat di depan Riko.


Riko segera menutupi wajahnya dengan telapak tangannya karna malu.


"Kak Riko ngga usah malu.." ucap Citra mencoba menyingkirkan tangan Riko dari wajahnya sambil tertawa mengejek Riko.


Ok masih di tempat yang sama.


Mereka sekarang sudah baikan, karna Citra merayu Riko dengan ice Cream, merakapun berjalan-jalan sambil menikmati ice creamnya, sambil Citra menggandeng lengan Riko


Tiba-tiba mereka berdua terkejut saat orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya menangis.


"Mereka kenapa kak?" tanya Citra ke Riko penasaran dengan apa yang terjadi, Riko hanya menggeleng tanda tidak tau.


Riko kemudian bertanya dengan salah satu pengunjung yang pacarnya juga sedang menangis.


"Kenapa semua orang menangis? ada apa?" tanya Riko menggunakan bahas korea.


Orang itu kemudian menujuk ke arah ruangan yang memang terlihat menyeramkan dari luar.


"Apa katanya kak?" tanya Citra lagi.


"Katanya dia habis dari sana, dan pacarnya menangis." ucap Riko menunjuk ke arah itu.


"Kita kesana yuk kak." ajak Citra antusias.


"Kamu ngga takut?" tanya Riko serius.


"Aku ngga seperti kak Riko yang penakut." ejek Citra lalu berlari meninggalkan Riko.

__ADS_1


Riko merasa tersinggung dengan perkataan Citra, kemudian mengejar Citra.


"Awas aja yah, kalau kamu nanti nangis kayak dia." ucap Riko sambil menunjuk salah seorang gadis yang sedang menangis sambil di rangkul oleh pacarnya.


"Palingan nanti yang nangis itu bukan aku, tapi kak Riko. uweeee.. uweeeee.. uweee.." ejek Citra sambil mempraktekkan adegan menangis.


Riko semakin kesal dengan ejekan Citra, merekapun tiba di depan penjaga untuk mengambil peralatan berupa senter lalu Citra pun melangkahkan kakinya masuk dengan penuh percaya diri.


Citra yang berjalan di depan. suasana masih aman, Citra masih terlihat sombong, Riko mencoba berjalan di samping Citra, tapi Citra menahan Riko untuk tetap berjalan di belakangnya.


"Ngga usah kak Riko di belakang saja, biar aku yang jagain kak Riko." ucap Citra sombong.


Riko hanya memutar bola matanya sambil menghela nafas dengan kasar kesal dengan Citra.


Mereka terus melangkah masuk dalam kegelapan, lorong demi lorong mereka masuki dan suasana masih normal.


Dan tibalah mereka di suatu ruangan yang sangat menyeramkan, Citra tidak sengaja menendang sesuatu, Citra penasaran lalu menyorotnya dengan senter, seketika Citra langsung berteriak histeris melihat benda yang di tendang itu ternyata adalah kepala yang berlumur dengan darah, yang matanya melotot. Citra langsung melompat kepunggung Riko.


Riko berusaha menahan tawanya melihat tingkah Citra.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka, setiap lorong yang mereka lewati di penuhi dengan suara teriakan dan jeritan Citra.


Akhirnya merekapun keluar, dan benar apa yang Riko katakan, Citra menangis karna ketakutan.


Riko terus menertawai Citra, tanpa mencoba menenangkan Citra.


"Makanya jangan songong, liat sendiri kan akibatnya, senjata makan tuan." ejek Riko.


"Kak Riko sih,, ngga bilang sebelumnya kalau di dalam isinya begituan semua." gerutu Citra kesal.


"Ya ampun Cit, dari luar aja udah kelihatan, makanya sebelum masuk itu tulisannya di baca "GHOST HOUSE" artinya rumah hantu bukan rumah makan." ketus Riko.


Citra makin kesal dengan perkataan Riko, dia pun meninggalkan Riko dengan wajah cemberutnya.


Riko mengejar Citra, kemudian merangkul Citra dan mengacak-acak rambut Citra.


"Dasar Pendek." ejek Riko membandingkan tingginya dengan Citra sambil berjalan di samping Citra.


Citra kemudian mendorong Riko karna kesal, kemudian Riko kembali marangkul Citra.


"Aku minta maaf." ucap Riko.


"Udah dong nangisnya, kita beli ice Cream lagi yuk." ajak Riko.


Citra masih mempertahankan wajah cemberutunya.


"Ya udah kalau kamu ngga senyum, kita ngga akan beli ice cream." ucap Riko.


Mendengar perkataan Riko, Citra langsung tersenyum candid.


"Gitu dong, kan cantik diliatnya." ucap Riko puas melihat senyuman Citra.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke toko ice cream yang berada di dalam gedung wahana tersebut.


__ADS_2