
Dalam perjalanan pulang, Riko tidak berhenti terus menatap istrinya yang sedang tidur, sesekali dia mengusap pipi istrinya lembut sambil terus fokus menyetir, karna dia sangat senang, saat Rani mengatakan bahwa Citra sedang hamil, meskipun itu belum pasti, tapi itu membuat Riko sangat senang.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Riko tiba di rumahnya, Riko pun turun dari mobil, kemudian menggendong Citra masuk ke dalam rumah karna Citra masih tertidur.
Riko membaringkan Citra di tempat tidurnya, merapikan rambut Citra yang menutupi wajahnya kemudian menutupinya dengan selimut.
Riko kembali menatap wajah Citra, yang memang terlihat sangat lemas dan terlihat pucat, Rikopun merasa kasihan dengan istrinya saat dia mengingat kembali masa-masa sulit saat mereka berpisah, karna memang Citra terlihat sangat kurus.
Rikopun mengecup kening istrinya dengan lembut, Citra pun terbangun saat dia merasakan kecupan Riko.
"Kamu bangun, maaf yah sayang aku udah gangguin tidur kamu, sekarang kamu tidur lagi." pinta Riko sambil memperbaiki selimut Citra.
Citra masih kesal dan cemburu karena kejadian tadi, dia bahkan tidak merespon perkataan Riko, tatapannya datar kepada Riko. Diapun menutup matanya, karena malas melihat wajah Riko. Riko yang tidak peka dengan perasaan istrinya terlihat biasa-biasa saja. .
Saat Riko masih menemani Citra, tiba-tiba ponselnya berdering, karna Riko tidak ingin mengganggu Citra, akhirnya diapun menjauh untuk mengangkat telfon, dan yang menelfonnya adalah mamanya.
Citra kembali salah paham, dia fikir yang menelfonnya itu adalah Rani.
Setelah menelfon Riko kembali menghampiri Citra, tapi Citra hanya menatap Riko dengan sinis dan matanya berkaca-kaca.
"Kamu kenapa sayang, apa yang sakit?" tanya Riko khawatir.
Citra tidak memperdulikan perkataan Riko, dia hanya mengubah posisinya membelakangi Riko.
"Cit, jangan kayak gini dong, jangan bikin aku khawatir." ucap Riko khawatir saat Citra tidak meresponnya, tapi tetap saja Citra tidak merespon.
Riko kemudian berjalan ke arah sisi kanan ranjang, karna Citra menghadap kesana, Riko ingin melihat wajah Citra.
"Kamu kenapa sayang,, kamu ngga ppa kan?" tanya Riko panik saat melihat Citra sudah menangis, diapun mendekatinya dan memeluknya.
"Kak Riko jahat, kenapa kak Riko sangat dekat sama kak Rani, kak Riko ngga tau apa? hati aku sakit saat melihat kak Riko tertawa lepas dengan kak Rani. Pokoknya aku ngga suka sama kak Rani, satu-satunya perempuan yang bisa dekat sama kak Riko hanya aku, satu-satunya perempuan yang bisa mendengar semua cerita kak Riko hanya aku,, aku ngga suka kak Riko sangat dekat sama perempuan manapun kecuali hanya aku. Aku ngga suka kak." ucap Citra sambil menangis di dada Riko.
"Tapi Rani itu hanya teman aku sayang, aku udah anggap dia sebagai kakak aku sendiri." ucap Riko menjelaskan hubungannya dengan Rani.
__ADS_1
Tapi itu tidak mempan malah membuat Citra semakin marah, Citra mendorong Riko dari pelukannya.
"Ngga ada istilah kakak adek antara laki-laki dewasa dan perempuan dewasa." teriak Citra kesal, lalu kembali memunggungi Riko.
Riko kembali berusaha membujuk Citra dengan sabar, tapi tiba-tiba Citra kesakitan.
"Akhhhh.. pekik Citra sambil memegang perutnya, membuat Riko semakin panik.
Rikopun berusaha menenagkan Citra sambil mencoba menghubungi dokter, tadinya Riko ingin menghubungi Rani, tapi dia tahan karna Citra sedang marah karna Rani, akhirnya Rikopun menelfon dokter papanya. Setelah menelfon Riko kembali menenangkan Citra yang sedang sakit. Riko pun kembali mengelus-elus perut Citra dengan lembut, tapi tidak berhasil, Citra semakin menangis karna menahan sakit. Riko semakin panik dan merasa bersalah karna dia sudah membuat Citra marah-marah.
"Maafkan aku sayang, aku minta maaf." ucap Riko pasrah melihat kondisi Citra, sambil dia terus memeluk istrinya.
Beberapa menit kemudian dokter papanya pun tiba di rumah Riko.
Dokter itu langsung masuk ke rumah Riko tanpa permisi, karna dia sudah sangat dekat dengan orang tua Riko, bahkan dia sudah menganggap Riko seperti anaknya sendiri.
"Istri kamu kenapa Rik?" tanya Dokter itu kepada Riko.
"Ya udah, sekarang kamu ambilkan istri kamu segelas air hangat." pinta dokter itu,,
Tanpa pikir panjang Riko segera berlari menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat, lalu segera kembali ke kamarnya.
Sementara dokter itu menyuntik Citra dengan obat pereda sakit, sekaligus obat penenang. tidak lama Citra pun tertidur, Dokter itu kemudian memeriksa keadaan Citra. Riko hanya memperhatikannya dengan perasaan campur aduk.
Setelah memeriksa Dokter itupun menatap Riko dengan tatapan serius.
"Ada apa om,, Citra sakit apa, apa dia baik-baik saja?" tanya Riko khawatir.
"Istri kamu hamil Rik..
Mendengar ucapan itu membuat Riko tersenyum lebar, dia sangat senang mendengar bahwa istrinya hamil.
"Kamu jangan senang dulu Rik, usia kandungan istri kamu masih sangat muda, jadi masih sangat rentan keguguran, apalagi kondisi istri kamu juga yang sedang stress banyak pikiran dan itu berdampak pada janinnya Rik. makanya kamu harus ekstra sabar menjaga istri kamu dan sabar menghadapi perubahan-perubahan sifat istri kamu Rik, dan kamu jangan biarkan dia banyak pikiran.
__ADS_1
Riko hanya mengangguk mendengar perkataan dokter papanya itu.
"Ya sudah Rik,, kamu harus sering-sering membawa istri kamu ke dokter kandungan, untuk mengetahui lebih lanjut perkembangan dan kondisi janin yang ada di rahim Citra." ucap Dokter itu.
"Iya om,,".ucap Riko.
"Ya sudah, kalau begitu om permisi, om sangat senang karna sebentar lagi kamu akan jadi papa Rik,, jaga istri kamu baik-baik, dan kalau papa kamu tau, dia pasti sangat senang karna sebentar lagi dia akan punya cucu." ucap Dokter itu sambil berjalan keluar rumah Riko dan Riko hanya tersenyum bahagia mendengar perkataan Dokter sambil mengantarnya sampai depan rumah.
Setelah Dokter itu pergi, Riko kembali ke kamarnya, dan duduk di samping Citra sambil terus menatap Citra bahagia karna sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.
"Aku akan menjaga kamu dan mama kamu sayang, kamu baik-baik yah di dalam situ, sampai akhirnya nanti kamu akan melihat mama dan papa." gumam Riko sambil mengelus perut Citra yang masih rata.
Tidak lama kemudian, Citra membuka matanya dan mencoba untuk duduk.
"Kamu jangan banyak gerak dulu sayang." ucap Riko sambil membantu istrinya bersandar di sandaran tempat tidur.
"Aku kenapa kak? kenapa kepalaku sakit." ucap Citra sambil memegang kepalanya.
"Kamu harus banyak istirahat sayang, karna sekarang kamu hamil." ucap Riko.
"Aku hamil?" tanya Citra penasaran dan Riko mengangguk.
"Aku hamil?" tanya Citra sekali lagi memperjelas dan Riko kembali mengangguk antusias.
Citra pun sangat senang dan langsung memeluk suaminya dengan erat, Rikopun memeluk istrinya dengan erat.
"Mulai sekarang kamu tidak boleh memikirkan hal-hal yang tidak penting, kamu harus banyak istirahat sayang." ucap Riko menatap Citra dan Citra pun mengangguk.
"Kamu jangan lagi berfikiran yang tidak-tidak tentang aku dan kak Rani, aku sama dia hanya teman sayang, aku akrab sama dia karna aku utang budi sama dia, dia pernah nolongin aku waktu aku kecelakaan, makanya aku dekat sama dia. lagian perempuan yang aku cintai itu hanya kamu, dan aku tidak akan pernah berpaling dari perempuan manapun, karna aku bersyukur punya istri yang sangat cantik saat dia tersenyum, tapi sangat jelek saat dia menangis." ucap Riko lembut membuat Citra malu dan tersenyum.
"Tuh kan, cantik kalau lagi senyum. kamu itu istri aku yang paling cantik dan ibu yang paling cantik buat anak aku." ucap Riko lagi sambil membelai perut Citra.
Citra sangat bahagia melihat Riko bahagia, diapun memeluk Riko dengan erat.
__ADS_1