
Guo Yun meski hatinya sangat kesal dan keki.
Karena pangeran Ji Ao, jelas jelas di lecehkan berulang kali oleh kedua orang itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Selain memendam semuanya di dalam hati, tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini.
Begitulah memang pada dasarnya sifat manusia, bila orang itu bisa mendatangkan manfaat.
Tentu akan sangat di hormati, di puja puji setinggi langit, bila sudah hilang manfaatnya.
Tentu akan di tendang jauh jauh dan tidak akan di anggap lagi.
Terhadap orang yang tidak mendatangkan manfaat, tentu akan di pandang remeh, syukur syukur tidak sampai terkena hinaan lewat ucapan.
Selain itu mereka juga akan di hindari jauh jauh oleh semua orang.
Takut orang itu akan mengemis hidup pada mereka, di tolak susah tidak ditolak sulit.
Jadi paling tepat adalah hindari jauh jauh, agar orang itu tidak akan menjadi beban buat mereka.
Kalau perlu berpura-pura tidak saling kenal, atau bila terpaksa cukup anggukan sedikit kepala saja, itu pun sudah terasa berlebih.
Sebaliknya bila bertemu dengan yang mungkin bermanfaat atau menguntungkan nya.
Mereka akan bersikap over acting, sekalipun orang yang di dekati nya mengabaikan nya.
Hal ini biasa terjadi di dunia ini tidak ada yang perlu di heran kan, bisa pada orang tua, saudara, teman hingga sahabat, semua bisa saja terjadi.
Pangeran Ji Ao sendiri juga menyadari hal tersebut, tapi dia bisa apa?"
Selain menerima dan menelan semua penghinaan dan pelecehan ini di dalam hatinya, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan..
Bermuka tembok dan pura pura tidak mengerti dan berpura-pura bodoh adalah jurus yang terbaik.
Anggap saja suatu pelatihan pengendalian emosi meningkatkan kesabaran.
Pangeran Ji Ao menoleh kearah istrinya dan adik iparnya, lalu berkata,
"Yan er,..Li er,.. kalian berdua tolong bantu siapkan jamuan terbaik untuk tamu kita.."
"Tak perlu, kami hanya sebentar saja, ada beberapa pokok urusan yang perlu di rundingkan dengan saudara Yun.."
ucap Raja ZhuangXiang yang tidak memberi muka kepada tuan rumah.
Sekali ini Guo Yun sudah tidak bisa menahan diri lagi, sambil mengerutkan alisnya Guo Yun berkata,
"Kakak Li sudah hampir 5 tahun lebih, aku tidak makan masakan mu."
"Kedepannya tidak tahu sampai kapan lagi, aku bisa kemari untuk mencicipinya.."
"Hari ini bagaimana pun, sebelum berbicara pekerjaan, aku harus makan dulu.."
"Bolehkah yang mulia raja Zhuang..?"
ucap Guo Yun tidak mau kalah, dan tidak mau memberi muka kepada raja tersebut.
Menanggapi ucapan Guo Yun, Raja ZhuangXiang jadi serba salah,. akhirnya dia melirik kearah perdana menterinya, meminta pendapat.
Lu Bu Wei sambil tersenyum berkata,
__ADS_1
"Raja ZhuangXiang selalu menempatkan urusan pekerjaan di atas segalanya, itu adalah hal yang sangat bagus.."
"Tapi mengisi perut sebelum bekerja, agar bisa kerja dengan lebih fokus, itu juga bukan hal yang buruk.."
"Menurut ku kita bisa berbicara sambil makan, bagaimana menurut kalian semua.."
Pangeran Ji Ao hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Guo Yun pun tersenyum dan ikut mengangguk,
"Hamba tentu menyambut gembira usul perdana menteri, tapi sebagai hamba, aku hanya bisa mengikuti apa kehendak raja ."
Raja ZhuangXiang tersenyum canggung dan berkata,
"Maaf aku terlalu bersemangat, hingga kurang teliti dalam memutuskan.."
"Masih perdana menteri yang telah berpikir dengan teliti mempertimbangkan segala aspek yang paling tepat.."
"Baiklah, aku setuju, kita ikuti saja ide perdana menteri Lu.."
Guo Yun menoleh kearah Gongsun Li menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Gongsun Li sambil menahan senyum, segera berlalu dari sana sambil menggandeng lengan kakaknya.
Kedua wanita itu buru buru berlalu dari sana, pergi menyiapkan makanan untuk para tamu.
Ucapan Guo Yun sebenarnya tidak sepenuhnya menantang raja ZhuangXiang dan menyelamatkan wajah Ji Ao.
Tapi hal ini juga ada unsur pribadi, dirinya memang sangat rindu dengan masakan Gongsun Li.
Di mana menurut Guo Yun, itu adalah masakan paling enak yang pernah di makannya.
"Ngomong ngomong kemana Pangeran Ying Zheng ? bukan kah tadi dia ikut kemari..?"
Guo Yun menjawab sambil lalu, sebelum menikmati teh ditangannya.
"Tadi pangeran permisi kebelakang, mungkin salah makan sebelum kemari ."
"Sudah cukup lama sih dia pergi, apa perlu di susul ?"
Tanya Guo Yun sambil lalu, setelah itu dia menyesap seteguk teh panas, lalu meletakkan kembali cawan di tangannya keatas meja.
"Tak perlu panggil pelayan saja,.."
ucap Raja ZhuangXiang.
Pangeran Ji Ao tersenyum canggung dan berkata,
"Maaf yang mulia, di tempat hamba tidak tersedia pelayan, satu orang pun.."
Raja ZhuangXiang menoleh kearah Ji Ao dengan tatapan mata kesal dan berkata,
"Kalau begitu kamu saja yang pergi menyusulnya.."
Pangeran Ji Ao tidak berani membantah, dia segera hendak berdiri dari duduknya.
Pergi menjalankan tugas dari Raja ZhuangXiang.
Tapi bahu pangeran Ji Ao di tahan oleh Guo Yun dan berkata,
__ADS_1
"Baik dari segi usia, maupun dari segi kedudukan, yang paling pantas kesana tentu saja aku.."
"Mana sampai ke giliran yang mulia pangeran Ji Ao."
ucap Guo Yun yang sengaja menekankan kata Yang mulia.
Agar raja ZhuangXiang sadar, bahwa Junjungan nya masih terhitung seorang bangsawan.
Mana boleh menjalani perintah penuh penghinaan ini.
Selesai berucap, Guo Yun sudah meninggalkan tempat itu, pergi menuju bagian belakang taman.
Sebelum sempat terjadi saling bantah antara Lu Bu Wei dan Raja ZhuangXiang, yang tentunya tidak ingin Guo Yun yang pergi.
Karena dengan perginya Guo Yun, tentu saja pembicaraan penting mereka jadi tertunda.
Guo Yun juga bukan tidak sadar dengan hal ini, dia memang sengaja ingin membalas mengerjai kedua orang itu.
Sebagai wujud balas dendam nya, terhadap sikap pelecehan mereka terhadap pangeran Ji Ao yang sangat dia hormati.
Dengan bertanya tanya pada beberapa pengawal, yang sedang melakukan tugas jaga.
Guo Yun akhirnya berhasil menemukan posisi pangeran Ying Zheng, yang sedang terduduk lemas tidak jauh dari toilet.
Wajahnya terlihat pucat kehijauan, terlihat sangat lemas, seperti orang kehabisan tenaga, akibat berlari jauh puluhan Km.
"Pangeran Ying Zheng bagaimana keadaan mu,? apa perlu di panggilkan tabib kemari ?"
tanya Guo Yun basa basi.
Pangeran Ying Zheng membuka matanya yang sedang terpejam erat.
Dia terburu buru menggoyangkan kedua tangannya kedepan dan berkata,
"Tidak perlu,..tidak perlu,..aku sudah cukup baik kan sekarang.."
"Saudara Yun, ada apa kamu sampai menyusul kemari..?"
tanya Ying Zheng heran.
"Ohh tidak apa-apa, aku hanya ingin mengabarkan Raja' ZhuangXiang dan perdana Mentri Lu Bu Wei, sudah hadir di paviliun.."
"Raja ZhuangXiang yang mengutus Ku kemari untuk melihat keadaan mu.."
Baru saja Guo Yun selesai berbicara, sebelum sempat pangeran Ying Zheng menjawabnya.
Perut pangeran tersebut sudah lebih dulu memberikan jawaban.
"Kriukkk,.! .krukkkk,.. ! kriuukkk,..!"
Wajah Ying Zheng tiba-tiba berubah aneh, seperti orang mau menangis tidak, mau tertawa tidak.
Dia buru buru bangkit berdiri, lalu kembali masuk kedalam kecil.
"Preeetttt,..! Prooottttt,..! Siuuut..!"
"Ufffhh,..! Ahhhh,..! Serrrrrrr,..!"
"Preeetttt,..! Prooottttt,..! Siuuut..!"
__ADS_1
Ufffhh,..! Ahhhh,..! Serrrrrrr,..!"