LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
HUA RONG TAO


__ADS_3

Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,


"Katakan saja kamu mau aku bagaimana, aku akan menuruti mu.."


"Tapi berjanjilah tidak boleh bertindak sendiri tanpa memberitahu ku.."


"Ingat kita sekarang punya Meng Yun, melakukan segala sesuatu harus mempertimbangkan dia.."


"Tidak boleh keras kepala dan semau sendiri lagi.."


tegur Guo Yun sambil menatap wajah Min Min dari bawah.


Min Min tersenyum lembut, dia paham apa maksud kata kata suaminya barusan.


Dia sangat bahagia, Guo Yun sangat khawatir dan perduli dengan perasaan dan pemikiran nya.


Min Min menatap sepasang mata Guo Yun lekat lekat dan berkata,


"Bagaimana bila aku meminta mu melepaskannya..?"


Min Min terlihat ragu sendiri atas permintaannya itu.


Tapi di luar dugaan Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Baik aku menyetujui mu.."


"Kita putuskan begitu saja, tapi bila setelah ini dia masih berani datang menganggu ku atau orang orang terdekat ku.."


"Aku tidak bisa mengampuninya lagi.."


Min Min tersenyum lebar kemudian dia langsung menunduk menciumi bibir suaminya, menghisap nya dengan penuh kerinduan.


Guo Yun sedikit gelagapan, tapi perlahan lahan dia pun membalas dan menikmatinya.


"Ayah..ayah..jangan pergi..jangan tinggalkan Yun er ."


ucap bocah itu gelisah.


Guo Yun langsung menghentikan aktivitasnya yang mulai menggebu-gebu, seketika semuanya padam seperti di siram air


Matanya kini melirik kearah Meng Yun putranya, dia gagal fokus.


Sambil tersenyum canggung Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kamu istirahat' lah, kondisi mu juga belum pulih benar.."


"Aku mau temani dia.."


Min Min mengangguk, lalu dia merebahkan diri nya lagi di kursi santai memejamkan matanya.


Mencoba untuk tidur, sedangkan Guo Yun sudah berbaring di sebelah putranya dan berbisik pelan,


"Ayah di sini nak, ayah tidak kemana mana.."


Meng Yun kecil memegangi jari telunjuk Guo Yun dengan jarinya yang halus kecil.


Dia menggenggamnya erat erat, kemudian tertidur pulas kembali.


Guo Yun tersenyum lalu ikut memejamkan matanya.


Menjelang sore, keluarga kecil itu sudah meninggalkan tempat itu, menggunakan perahu kecil Guo Yun.


Dalam perjalanan sambil mengendalikan laju perahu, Guo Yun bertanya pelan,


"Sayang,.. Meng Yun,..Meng Yun (Impian Yun) apa maksud mu memberikan nama itu buat anak kita..?"


Min Min sambil tersenyum merangkul lengan Guo Yun dengan manja, dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Guo Yun dan berkata,


"Aku sangat merindukanmu, setiap melihatnya, aku selalu teringat dengan mu.."


"Mungkin saja seumur hidup kita tidak akan pernah bisa bertemu dan bersama lagi pikir ku.."


"Makanya aku memberinya nama itu, lewat dia lah aku bisa menemukan impian ku ."


"Karena dia memiliki wajah yang mirip dengan mu.."


Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Aku berjanji, selama kamu tidak pergi meninggalkan ku, aku juga tidak akan pernah meninggalkan kalian.."


Min Min mengangguk sambil tersenyum bahagia.


"Tidurlah, perjalanan masih panjang, Meng Yun kita juga sudah tidur.."


ucap Guo Yun lembut.


Min Min mengangguk dan berkata,


"Aku ingin tidur seperti ini saja.."


Lalu dia memejamkan matanya, duduk sambil tidur bersandar di pundak Guo Yun.


Guo Yun tidak menolaknya, dia duduk santai menopang kepala istrinya.


Membiarkan perahu bergerak dengan sendirinya.


Akhirnya perahu bergerak kembali ke sungai besar, menyusul ke dermaga Bei Qi, dari sana Guo Yun membeli sebuah kereta kuda di dermaga.


Melanjutkan perjalanan darat menuju Hua Rong Tao.


Meng Yun terlihat sangat gembira menikmati suasana dan pemandangan yang baru pertama kali di lihatnya.


Bocah yang duduk di apit oleh ayah ibunya, tidak berhenti menunjuk kesana kemari meminta penjelasan.


Dengan sabar Min Min dan Guo Yun menjawabnya satu persatu.


Demi kelancaran perjalanan Guo Yun memakai kumis dan jenggot palsu.


Semua orang dunia persilatan mengejarnya, dengan hadirnya Min Min dan putranya.


Guo Yun tidak bisa membiarkan mereka ikut menanggung bahaya bersama nya


Dengan menyamar semua menjadi jauh lebih lancar.


Guo Yun akhirnya berhasil menyusul rombongan besar pasukan Li Ba yang tiba satu hari lebih cepat darinya di Hua Rong Tao.


Melihat kereta kuda Guo Yun mendekati area' perkemahan pasukan harimau hitam.


Perkemahan yang tadinya terlihat sepi, tiba tiba jadi ramai.


Kereta kuda Guo Yun pun di cegat oleh pasukan harimau hitam.


Salah seorang prajurit penjaga, berjalan menghampiri kereta Guo Yun dan berkata,


"Hei kamu mau kemana ? ini wilayah terlarang, ambil jalan lain saja.."


Guo Yun mencopot Jenggot dan kumisnya, mengenakan topeng emasnya dan berkata,


"Apa begini sudah boleh lewat..?"


"Ahh,..maaf Yang Mulia,..anak buah punya mata tidak bisa melihat.."


"Maaf Yang Mulia.."


ucap prajurit itu menjatuhkan diri berlutut hingga dahi menempel diatas tanah.


Melihat sikap rekannya, rombongan prajurit lainnya mendekat


Begitu melihat siapa yang ada di kereta mereka semua langsung menyusul menjatuhkan diri berlutut.


Guo Yun sambil mengendarai kereta nya, melintas melewati mereka.


Dia berkata,


"Kalian semua bangunlah, teruskan penjagaan.."


Setelah kereta Guo Yun pergi mereka baru berani berdiri. lagi.


Guo Yun terus melewati deretan perkemahan militer hingga tiba di kemah utama.


Di mana terlihat Li Ba dan keempat Jendral nya, berdiri di depan tenda utama menyambut kedatangan Guo Yun.


Guo Yun melompat turun duluan, membantu Min Min turun dari atas kereta, baru menggendong putranya.


"Kakak..!"


"Yang Mulia ..!"


panggil mereka kompak sambil memberi hormat.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Adik kedua kakak mu ini memang penjahat cinta, kenalkan ini istri ketiga kakak Min Min dan ini putra kami, Meng Yun.."


"Yun er beri salam pada paman kedua mu, dan paman paman yang lainnya.."


ucap Guo Yun memperkenalkan anak istrinya.


Sekaligus menurunkan Meng Yun dari gendongannya.


"Salam paman kedua,.."


"Salam paman semuanya, nama ku Yun er.."


ucap Meng Yun memberi hormat dengan gayanya yang menggemaskan.


"Ha.ha..ha..!"


"Kamu menggemaskan sekali, ayo naik keatas punggung paman.."


"Paman ajak kamu jalan jalan..ya..?"


ucap Li Ba sambil tertawa gembira


"Asyik tinggi sekali.."


"Ayah ibu Yun er main sama paman boleh..?"


tanya Meng Yun gembira.


"Pergilah nak.."


ucap Guo Yun sambil tersenyum.


"Kalian jelaskan situasi ke kakak ku.."


"Aku mau pergi dulu.."


pesan Li Ba sebelum pergi dari sana.

__ADS_1


"Siap Tuan.."


jawab Jendral Lim Guan Xing Fu Yang sudah terbiasa dengan sikap atasan mereka yang satu ini.


"Paman tubuh paman besar sekali, pasti paman sangat kuat.."


"Lihat otot paman juga besar besar.."


"Paman hebat.."


ucap Meng Yun polos sambil memijit mijit tubuh Li Ba yang memang seperti tubuh Mr universe.


Li Ba menanggapi nya dengan tertawa dan berkata,


"Kelak kamu juga akan besar dan akan sekuat paman.."


"Bahkan jauh lebih, karena ayahmu jauh lebih kuat diatas paman.."


"Ahh mana mungkin,..ayah tubuhnya kecil gitu.."


"Paling bisa cuma bikin ibu ku jerit jerit.."


ucap bocah itu polos.


"Ehh apa maksud Yun er..?"


tanya Li Ba bingung.


"Itu ayah sering tarik ibu ke bilik perahu, perahu goyang goyang, ibu pun jerit jerit.."


"Ahhh,..Ahhh..ohhh...ohhh..!"


"Begitu paman.."


ucap Yun er polos.


Li Ba pun kini mengerti, dia langsung tertawa terbahak-bahak dan berkata,


"ohh itu ayah mu sedang memijat kaki ibu mu yang pegal pegal pastinya.."


"Ayo paman ajak kamu kesana bermain layangan.."


"Apa itu layangan paman..?"


tanya Sun er bingung.


Li Ba tersenyum dan berkata,


"Kamu ikut saja nanti paman tunjukkan."


Sesaat kemudian kedua paman dan keponakan yang satu besar seperti gajah yang satu mungil seperti kelinci yang imut.


Mereka bermain menerbangkan layang layang di angkasa dengan asyik hingga lupa waktu.


Di dalam kemah sendiri, terlihat Guo Yun duduk ditemani Min Min mendengarkan penjelasan dari keempat jendral nya tentang persiapan mereka.


Dan laporan pergerakan pasukan Lu Bu Wei yang sedang bergerak menuju Hua Rong Tao yang sedang mereka persiapkan untuk menyambutnya.


Min Min tidak menyela atau berkata sepatah kata pun.


Dia hanya duduk membantu mengisi cawan di depan Guo Yun bila kosong.


Setelah mendengarkan laporan dan memberikan masukan.


Guo Yun pun membubarkan pertemuan tersebut.


"Sayang aku ingin pergi meninjau ke lokasi, kamu mau ikut..?"


Min Min mengangguk gembira dan berkata,


"Tapi pakaian ku..?"


ucap Min Min ragu, Guo Yun mengeluarkan setumpuk seragam berukuran kecil dari cincinnya dan berkata,


"Ini seragam mu dulu, aku masih menyimpannya, lengkap dengan helm yang kedodoran ini.."


ucap Guo Yun sambil tersenyum menggoda istrinya.


Wajah Min Min langsung merah,


"Dasar .."


ucap nya sambil tersenyum malu.


Dia jadi teringat dirinya dulu menangis nangis di tepi sungai, menangisi Guo Yun, yang di kiranya mati di bunuh dan dilempar kedalam sungai.


Guo Yun dengan cepat dan penuh semangat membantu melepaskan pakaian istrinya.


"Sayang baju zirah emas yang pernah ku berikan mana..?"


"Kenapa cuma ada baju dalam ini saja..?"


tanya Guo Yun yang baru menyadarinya.


Sebelum sebelumnya di ruangan gelap memanfaatkan waktu Meng Yun tidur, mereka melakukan hubungan kilat.


Jadi Guo Yun tidak sempat memperhatikan nya, baru kini di dalam kemahnya.


Dia bisa melihat dengan jelas..


Min Min menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Di samping ku hanya ada Sun er saja.."


"Ying Zheng Keparat itu tidak pernah berubah, pakaian dalam mu pun dia mau.."


"Bejad..!"


bentak Guo Yun geram.


"Sudahlah, dia mau berikan saja, aku ada kamu sebagai pelindung sudah lebih dari cukup..'


ucap Min Min sambil menyentuh tangan suaminya dengan lembut.


Guo Yun menghela nafas panjang emosinya mereda setelah mendengar ucapan istrinya.


"Baiklah anggap saja itu hadiah dari mu untuk nya ."


"Sini aku bantu.."


"Hei bukan di sana, kenapa malah meraba raba .!"


"Ihh genit .!"


"Hi..hi..hi...Yun ke ke jangan..geli..!"


"Awas nanti ada yang masuk..!"


jerit Min tertahan sambil terkekeh genit.


Tak lama kemudian kedua sejoli itu, diam diam sudah melesat meninggalkan kemah.


Berangkat ke tebing Hua Rong Tao.


Min Min menemani Guo Yun melakukan inspeksi dan peninjauan pekerjaan pemasangan jebakan.


Setelah selesai dan memberikan pesan langsung perbaikan perbaikan pemasangan jebakan.


Guo Yun membawa Min Min naik keatas puncak tebing, mereka berdua duduk menikmati pemandangan dari atas.


Dan hawa udara sore yang sejuk terbawa oleh angin yang berhembus menerpa wajah dan rambut mereka hingga terlihat berkibar kibar.


Langit yang berwarna merah lembayung, menjelang matahari terbenam terlihat sangat indah.


Dari tempat mereka, mereka juga bisa melihat bagaimana asyik nya, putra tunggal mereka Meng Yun bermain dengan sangat gembira bersama Li Ba.


Layang layang yang mereka mainkan terlihat melenggang lenggok di udara.


Mengikuti arah terpaan angin yang cukup kencang.


Beberapa saat berlalu dalam keheningan, Min Min merubah posisi duduknya bersandar di dada Guo Yun.


Guo Yun melingkarkan tangannya di depan perut istrinya yang ramping.


"Yun ke ke apa rencana mu selanjutnya setelah ini..?"


tanya Min Min sambil menatap wajah suaminya dari bawah.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Tentu saja membawa mu dan Meng Yun kembali ke Guiji.."


"Aku sudah lelah berperang, begitu pula Li Ba dan pasukan pasukan ku ."


"Mereka perlu istirahat dan berkumpul dengan keluarga."


"Aku juga rindu dengan mereka berdua.."


ucap Guo Yun apa adanya.


Min Min tersenyum lembut dan mengangguk mengerti,


"Sama aku juga merindukan kakak Li yang pandai memasak dan kakak Si Si yang pandai bermain kecapi.."


Guo Yun sambil tersenyum menggoda lalu berkata,


"Kalau kamu pandai apa ?"


"Pandai pengobatan lah, emang pandai apa..?"


tanya Min Min balik sambil menahan senyum.


Guo Yun sambil tersenyum nakal berkata,


"Ada lagi yang lain, kamu pandai memuaskan ku di manapun bisa.."


"Ihh jangan sembarangan,..!"


"Gak mau aku mau pulang..!"


"Auwww,..jangan.. Aduhhh..!"


"Aku mau siapkan air mandi dan makanan buat anak kita.."


"Hi..hi..hi..!"


"Geli...!"


"Ahhh...Yun Ke ke nakal..!"

__ADS_1


Jerit tertahan Min Min sedikit bergema di puncak tebing sana.


Saat langit mulai gelap bintang bintang mulai bermunculan menghiasi langit.


Sepasang sejoli itu baru berjalan santai dengan jari kelingking saling bertaut.


Mereka melintasi deretan tenda tenda prajurit, hingga tiba di tenda Li Ba.


Terlihat Li Ba sedang membakar daging ayam hutan, ubi dan jagung buat di makan bersama Meng Yun.


Meng Yun terlihat ikut makan dengan penasaran di ajari oleh Li Ba.


Mereka berdua makan dengan tangan tanpa alat bantu apapun, selain sebatang pisau kecil yang tertancap diatas punggung ayam bakar.


Melihat hal itu Guo Yun dan Min pun ikut duduk bergabung.


Guo Yun dari dalam cincinnya mengeluarkan sebuah guci arak Ni Er Hung, berukuran cukup besar.


Dengan dua buah mangkuk kosong dan berkata,


"Adik Ba,.. minumlah.."


"Acara utama masih 3 hari lagi, kalau mau minum minumlah dengan puas."


"Tapi setelah malam ini, mulai besok pagi kamu harus puasa.."


"Siap kak..!"


ucap Li Ba dengan penuh semangat membuka tutup botol menciumnya.


"Wangi benar ini pasti dari gudang istana ya kak..?"


Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Untung aku masih sempat menyelamatkan beberapa guci, buat di simpan.."


"Terlambat sedikit aja, hampir tidak kebagian.."


ucap Guo Yun sambil tersenyum.


Li Ba hanya tertawa tawa, karena emang dirinyalah yang menghabiskan hampir semua nya.


"Paman kamu minum apa, sepertinya nikmat sekali.."


tanya Sun Er polos.


"Ini arak namanya, ini minuman pria sejati, surga dunia.."


jawab Li Ba santai.


"Boleh saya cicip paman..?"


"Hussh Yun er, anak kecil gak boleh, ayo udah malam ikut ibu aja pulang mandi tidur.."


ucap Min Min dengan cepat mencegahnya.


Sebelum anaknya yang masih kecil di cekokoki minuman keras oleh Li Ba yang suka ngawur.


Guo Yun sendiri tidak berkata apa-apa, dia serahkan semuanya ke istrinya.


"Paman aku pulang dulu, terimakasih paman.."


ucap Meng Yun sambil di gandeng tangan nya, mengikuti ibunya kembali ke kemah.


Li Ba juga membalas melambaikan tangannya kearah Meng Yun , sambil tersenyum lebar.


Guo Yun memilih duduk menemani Li Ba minum, sambil berunding strategi perang untuk menghadapi Lu Bu Wei.


Hingga seguci arak itu habis setengahnya, Guo Yun pun kembali ke kemahnya sendiri.


Di sana tetap di lanjutkan oleh keempat jendral Li Ba yang di undang untuk menggantikan Guo Yun menemaninya mabuk.


Tiga hari berlalu dengan cepat, rombongan pasukan Lu Bu Wei yang berjumlah 300.000 personil mulai mendekati Hua Rong Tao.


Lu Bu Wei memang sengaja tidak membawa banyak pasukan, karena dia sudah memberikan Wang Ben putranya Wang Jian, mewakilinya menahlukkan kerajaan Qi yang hampir runtuh.


Selama Guo Yun bergerak mengambil.kembali wilayah selatan.


Lu Bu Wei sudah mengatur strategi mengadu domba Raja Tian Jian dari Qi, dengan Sun Pin yang terus hanya bisa bertahan di daerah barat wilayah Qi.


Lu Bu Wei berhasil menyogok seorang menteri kepercayaan Raja Tian Jian yang bernama Hou Sheng.


Hou Sheng yang memang tidak menyukai Sun Pin, iri dengan kesuksesan Sun Pin.


Dia menerima dengan baik tawaran dari Lu Bu Wei dan menerima sejumlah sogokan besar dari Lu Bu Wei.


Hou Sheng kemudian melancarkan aksi terus menerus memfitnah Sun Pin yang sedang berjuang di Medan perang.


Dia juga berulang kali memberikan bukti palsu bahwa Sun Pin di sana sengaja mengulur ulur perang berkepanjangan.


Menghabiskan kas negara tanpa hasil, maju tidak mundur tidak.


Padahal kenyataannya, Sun Pin memang tidak mungkin bisa maju.


Karena dia di sana hanya bertahan dengan 300.000 pasukan.


Sedangkan pihak Qin, di bawah Lu Bu Wei itu pasukan nya terus datang mengalir tidak ada putus putusnya.


Jumlah mereka bahkan 5 kali lipat lebih besar dari Sun Pin.


Bagaimana Sun Pin berani memimpin pasukan Qi keluar menyambut musuh yang berjumlah 5 kali lipat.


Bisa bertahan pun itu sudah hebat, mana kiriman persenjataan dan ransum sering terlambat.


Karena memang sengaja di cegat oleh Hou Sheng.


Raja Tian Jian yang akhirnya sedikit demi sedikit termakan hasutan.


Akhirnya dia memanggil pulang Sun Pin menggantinya dengan yang lain.


Sun Pin di pensiunkan paksa, dia pun pulang ke kampung halamannya, melewati masa pensiunnya dengan segudang amarah dan kekecewaan, yang tertahan di dalam hatinya.


Saking kecewanya tidak berselang beberapa bulan kepulangannya ke kampung halaman.


Sun Pin jatuh sakit, kemudian muntah darah dan meninggal dengan segudang kekecewaan dan ketidakpuasan.


Untungnya saat Sun Pun pensiun di gantikan dengan yang lain, Lu Bu Wei sendiri keburu mendapat kabar.


Guo Yun dan pasukannya sudah menahlukkan berbagai kota di daerah selatan bersiap menyerang Xian Yang.


Meski dia percaya dengan Lao Hu dan Lao Lung, tapi dia tetap cemas.


Akhirnya Lu Bu Wei menyerahkan tampuk militer ke Wang Ben, dia sendiri langsung memimpin 300.000 pasukannya bergerak kembali ke Xian Yang.


Wang Ben yang mendapatkan kekuasaan penuh, dia mengikuti dan menjiplak gaya kepemimpinan Guo Yun.


Berperang dengan strategi, kebetulan yang di hadapinya bukan lagi Sun Pin.


Wang Ben mudah saja mengakalinya.


Berpura-pura menyerang di barat, Wang Ben mengirim beberapa Jendral besarnya.


Mengambil jalan memutar melalui kerajaan Yan, kerajaan yang sudah mereka tahlukkan.


Beberapa Jendral besar kepercayaan Wang Ben, memimpin pasukannya diam diam datang dari arah timur, langsung menyerang Ibukota Qi di Linzi.


Mereka mengalami sukses besar, raja Tian Jian yang terkepung, akhirnya memilih menyerah.


Dengan demikian berakhirlah kerajaan Qi, jatuh kedalam kekuasaan Qin.


Lu Bu Wei yang dalam perjalanan menuju Hua Rong Tao, mendapatkan informasi tersebut lewat merpati pos nya.


Dia sangat gembira.


Sehingga dia menjadi sangat bersemangat untuk bergerak kembali ke Xian Yang.


Untuk bekerja sama dengan Lao Lung dan Lao Hu untuk menahlukkan Guo Yun dan pasukan harimau hitam nya.


Selama ini, kelompok Guo Yun dari Yue, selalu menjadi duri dalam daging bagi setiap langkahnya, yang ingin menguasai seluruh daratan China.


Tapi dengan hancurnya Qi, Lu Bu Wei timbul keyakinan, bila berhasil mukul mundur Guo Yun dan pasukannya di Xian Yang.


Dia bisa terus bergerak ke selatan, bersama pasukan tambahan dari pihak Lao Ai.


Dia akan merebut kembali seluruh daerah Qin yang di ambil oleh Guo Yun.


Lalu dia akan menyerang dari tiga arah, arah barat dengan menyeberangi sungai Yang Tze.


Sedangkan dari arah Utara dan timur, Wang Ben akan bergerak dari wilayah Qi, menyerang kerajaan Yue dari kedua arah tersebut.


Serangan 3 arah, Lu Bu Wei yakin dia pasti akan bisa tahlukkan Guo Yun.


Berdasarkan keyakinan ini, Lu Bu Wei dengan penuh semangat memimpin pasukan nya mendekati Hua Rong Tao.


Tapi Lu Bu Wei adalah orang yang teliti cermat dan curigaan, melihat jalan yang harus dia lalui tersebut.


Dia tidak langsung bergerak masuk, pertama dia mengirim ratusan orang pasukan nya.


Bergerak memasuki Hua Rong Tao sebagian, untuk melakukan pemeriksaan.


Sebagian lagi menyebar. kearah lain, mencari jalan alternatif.


yang bisa mereka lalui, tanpa harus melewati jalur yang sangat berbahaya dan rawan ini.


Beberapa waktu berlalu, pasukan yang memasuki Hua Rong Tao memberi kode aman.


Tapi Lu Bu Wei tidak langsung bergerak, dia masih menunggu hasil penyelidikan sisa Pasukannya yang sedang mencari jalur alternatif.


Akhirnya satu persatu pasukannya datang melaporkan hasil penyelidikan mereka.


"Lapor perdana menteri, jalan memutar sebelah kanan, adalah rawa rawa lumpur hisap, yang sangat berbahaya."


"Tidak mungkin bisa di lewati oleh pasukan berkuda kita.."


"Sedangkan jalan sebelah kiri kita adalah jalur rawa rawa air payau, tanpa memilki perahu.."


"Kita tidak mungkin bisa menyeberanginya.."


"Sedangkan membuat perahu, akan menghabiskan waktu lama.."


"Takutnya kira keburu kehilangan Xian Yang.."


ucap salah satu bawahan Lu Bu Wei datang memberi laporan, mewakili bawahan nya, yang pergi melakukan penyelidikan.


"Bagaimana dengan informasi dari kota Xian Yang saat ini..?"


tanya Lu Bu Wei.


"Untuk sementara ini belum ada informasi, sepertinya semua dalam keadaan aman.."

__ADS_1


ucap bawahan nya yang lain, yang bertanggung jawab atas seluruh informasi dari kota raja.


__ADS_2