LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
DUEL


__ADS_3

"Kamu bocah busuk..!"


"Haisss..!"


Ling Wu kesal hingga mengangkat tangannya ingin menghajar adiknya.


Tapi tangan nya, di tahan oleh Guo Yun dan berkata,


"Ling Wu, adik mu benar.."


"Lelaki sejati berani berbuat, berani bertanggung jawab.."


"Biarkan dia menjalani duelnya.."


Selesai berkata, Guo Yun pun berjalan menuju ketengah lapangan.


"Zhou Wei, apa kamu siap melanjutkan tantangan duel tadi..!?"


Tanya Guo Yun sambil menoleh kearah Zhou Wei.


Zhou Wei segera mengangguk dan berkata,


"Saya siap Yang Mulia.."


Ping Mei menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Suamiku ku mohon jangan lanjutkan duel itu, kamu dengan tangan sebelah dan kaki terikat.."


"Bagaimana mau memainkan ilmu tombak keluarga Zhou..?"


"Aku tidak mau melihat sesuatu yang buruk terjadi padamu.."


"Lebih baik kita lupakan saja, ini semua adalah salah ku.."


Ucap Ping Mei sambil menatap kearah suaminya dengan cemas.


Zhou Wei tersenyum dan berkata,


"Terimakasih atas perhatiannya, ada perhatian ini aku sudah cukup puas.."


"Percayalah pada ku, aku pasti bisa..kamu tenang saja.."


"Jaga putri kita baik baik, aku pergi dulu.."


Ucap Zhou Wei sambil mencium kening istrinya.


Setelah itu dia segera maju ketengah lapangan sambil menggenggam tombak andalan keluarganya di tangan.


Guo Yun menoleh kearah Ling Wu dan berkata,


"Ling Wu,..! kemarilah bantu ikat tangan Zhou Wei, juga tolong pasangkan borgol kaki ini.."


Ucap Guo Yun sambil mengeluarkan sepasang borgol kaki yang terhubung dengan sebuah rantai besi.


Borgol itu adalah borgol Guo Yun sendiri, saat dia mengalami keracunan hebat dulu.


Borgol ini sempat Guo Yun gunakan untuk mengunci diri nya, setiap malam bulan purnama tiba.


Ling Wu segera maju menghampiri Zhou Wei dan dia segera mengikat sebelah tangan Zhou Wei dengan erat.


Lalu dia memasang sepasang borgol di kedua kaki Zhou Wei.


"Maafkan aku saudara Zhou, aku yang bersalah tidak mendidiknya dengan baik.."


Ucap Ling Wu pelan sambil memasang borgol kaki Zhou Wei.


Ling Wu benar benar merasa tidak enak hati dengan sahabatnya tersebut.


"Tidak apa apa saudara Ling kamu hanya jalankan tugas.."


"Mengenai adik mu, sepenuhnya bukan tanggung jawab mu.."

__ADS_1


"Dia sudah besar, sudah harus bisa berpikir sendiri.."


"Dia juga paham resikonya, dan harus bertanggung jawab penuh atas semua tindak tanduknya di luar rumah.."


Ucap Zhou Wei bersikap tenang dan gentle.


"Saudara Zhou aku mohon kalau bisa ampunilah nyawanya.."


Ucap Ling Wu dengan suara pelan.


Zhou Wei tersenyum pahit dan berkata,


"Saudara Ling kamu terlalu memandang tinggi aku, dan meremehkan adik mu.."


"Adik mu tidaklah selemah yang terlihat.."


"Dengan tangan dan kaki terikat, seharusnya aku yang memohon belas kasihan dari mu.."


Ucap Zhou Wei sambil tersenyum pahit.


Ling Wu menghela nafas panjang, dan berkata semoga saja..


"Aku permisi dulu saudara Zhou, jaga diri.."


Ucap Ling Wu sambil bergerak mundur dari tempat tersebut.


Zhou Wei mengangguk pelan, dia berjalan pelan menuju tengah lapangan.


Menghampiri, Guo Yun dan Ling Tai yang sedang menunggunya di sana dengan sepasang pedang terhunus.


Setelah Zhou Wei tiba di sampingnya Guo Yun pun berkata,


"Kalian berdua sudah siap..?"


"Apa ada keberatan yang ingin di sampaikan, sebelum pertandingan dimulai..?"


Tanya Guo Yun sambil menatap kearah kedua orang di samping kanan kirinya secara bergantian.


Guo Yun pun berkata,


"Baiklah bersiaplah dalam hitungan ketiga pertandingan sudah boleh di mulai.."


"Satu..!"


"Dua..!"


"Tiga...!"


"Trangggg..! Trangggg..!"


"Tringgg..! Tringgg..!"


"Trangggg..! Trangggg..!"


"Tringgg..! Tringgg..!"


"Trangggg..! Trangggg..!"


"Tringgg..! Tringgg..!"


Begitu pertandingan di mulai, Guo Yun bergerak mundur.


Ling Tai dengan gerakan sangat cepat, langsung memainkan sepasang pedangnya.


Bergerak menyerang kearah Zhou Wei secara bertubi tubi.


Zhou Wei langsung berada di bawah angin, dia terlihat terdesak hebat.


Hingga dia harus terus menggunakan tombaknya, untuk menangkis dan main mundur.


Melihat hal ini, Ling Tai menjadi semakin bersemangat, menyerang dan mencecar Zhou Wei.

__ADS_1


Hingga Zhou Wei di buat jatuh bangun oleh serangan Ling Tai yang datang bertubi tubi.


Kini Ping Mei yang sepenuhnya sadar akan kelicikan Ling Tai dan sifat culas tak bertanggung jawab nya.


Dia terus menatap kearah keadaan suaminya dengan cemas.


Sepasang tangannya bersedekap di depan dada, mulutnya terlihat berkomat Kamit membaca doa untuk keselamatan suaminya.


Meski suaminya orang nya kasar tidak pandai bicara, tapi kini dia sadar sepenuhnya.


Suaminya jauh lebih baik dan bisa di andalkan ketimbang Ling Tai yang tampan berwajah halus, dan bermulut semanis madu, tapi aslinya menyimpan racun mematikan.


Trangggg..! Tringgg..! Trangggg..!'


Dalam satu kesempatan, setelah menangkis tiga kali serangan pedang cepat.


Zhou Wei melihat kesempatan, bagian pertahanan kaki Ling Tai sedang terbuka dan lemah.


Dengan gerakan cepat setelah menangkis serangan, Zhou Wei langsung bermaksud ingin melakukan gerakan menyapu, dan menjegal sepasang kaki Ling Tai.


Tapi Zhou Wei lupa, sepasang kakinya terpasang borgol, yang terhubung dengan sebuah rantai pendek.


Sehingga mengganggu kebebasan bergerak nya, gerakan Zhou Wei yang tadinya ingin menyerang.


Malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, tendangan sapuannya tertahan oleh rantai.


Hingga yang terjungkal bukan Ling Tai tapi dirinya sendiri.


Melihat kesempatan di depan mata, Ling Tai langsung bergerak cepat menyarangkan sepasang pedangnya bertubi tubi.


Menyerang Zhou Wei yang berusaha menangkis dan menghindari serangan, sambil terus bergulingan diatas tanah.


Melihat hal ini, Ping Mei di sana ditepi lapangan, tidak bisa menahan diri untuk menjerit kaget.


Dia buru buru menarik putrinya kedalam pelukannya, agar tidak melihat keadaan ayahnya, yang sedang berjuang keluar dari lubang maut.


Jeritan kaget Ping Mei, justru memicu Ling Tai menjadi lebih geram dan bersemangat ingin menghabisi Zhou Wei.


"Trangggg..! Tringgg.! Trangggg..!"


"Trangggg..! Tringgg.! Trangggg..!"


"Trangggg..! Tringgg.! Trangggg..!"


Zhou Wei sambil bergulingan terus menangkis dan menghindari serangan bertubi tubi tanpa ampun dari Ling Tai.


Ling Tai yang berada diatas angin terlalu gembira hingga menjadi lengah akan pertahanan diri nya.


Zhou Wei di bawah sana kembali melihat munculnya celah, untuk memberikan serangan balasan.


Zhou Wei berpura pura sedikit terlambat menangkis serangan Ling Tai.


Sehingga terdengar suara,


"Breeet...!"


Bagian pundak Zhou Wei terpapas oleh salah satu pedang di tangan Ling Tai.


"Ahhhhh...!"


Ping Mei kembali menjerit kaget melihat keadaan bahu suaminya yang terluka dan berdarah.


Bila tidak ingat dia sedang memeluk putrinya di sana.


Dia pasti sudah menerjang ketengah lapangan, untuk menghentikan pertarungan tidak adil, dan berat sebelah itu.


Setelah berhasil melukai pundak Zhou Wei, Ling Tai semakin bersemangat.


Dengan cepat dia melakukan gerakan tebasan secara menyilang kearah leher Zhou Wei yang sedang tergeletak di bawah sana.


"Trangggg...! "

__ADS_1


"Cringggg...,!"


__ADS_2