LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MISI LI BA


__ADS_3

Seorang pengawal muncul berlutut di hadapan Wang Jian dan berkata,


"Siap terima perintah Jendral."


"Siapkan kuda, aku harus segera kekediaman gubernur Dai sekarang juga.."


ucap Wang Jian cepat.


"Siap laksanakan perintah, permisi Jendral."


Setelah berkata, dan memberi hormat, prajurit itu buru buru pergi dari hadapan Wang Jian, untuk menjalankan tugas yang baru diterimanya.


Wang Jian sendiri setelah memberi perintah, dia juga bergerak meninggalkan ruangan tersebut, langsung menuju halaman depan rumahnya.


Saat tiba di halaman rumah, melihat kudanya sudah siap di sana menantinya.


Wang Jian langsung melompat ringan keatas punggung kuda nya, melarikan kudanya meninggalkan kediaman nya.


Langsung menuju kediaman gubernur Dai, gubernur kota Chen.


Dua barisan pasukan tombak berlari mengejar dari belakang, mengikuti kemana arah kuda Jendral nya pergi.


Mereka dengan susah payah dan nafas memburu, akhirnya berhasil menyusul kuda tersebut di depan kediaman gubernur Dai.


Tapi saat mereka tiba di halaman depan kediaman gubernur Dai, di sana hanya terlihat kuda Wang Jian, yang sedang di tuntun oleh pelayan penjaga pintu depan gubernur Dai.


Wang Jian sendiri sudah tidak terlihat di sana.


Pasukan Wang Jian pun, hanya bisa berbaris rapi menunggu jendral mereka di halaman depan.


Wang Jian sendiri terlihat sudah duduk di hadapan gubernur Dai yang wajahnya terlihat pias.


Saat mendengar berita yang di bawa oleh Wang Jian untuk nya.


Dengan wajah pucat dia berkata,


"Terimakasih atas beritanya Jendral Wang, maaf aku harus permisi dulu."


"Aku harus segera pergi mengurus evakuasi gawat darurat masyarakat kota Chen.."


ucap gubernur Dai sambil memberi hormat.


Wang Jian juga ikut bangkit berdiri membalas penghormatan, bahkan teh yang di sajikan belum dia minum.


Dia sudah bergegas meninggalkan kediaman gubernur Dai, langsung menuju markas militernya.


Untuk mengatur segala sesuatunya, guna menghadapi kedatangan pasukan harimau hitam nanti.


Kota Chen mengalami kesibukan luar biasa, setelah gubernur Dai mendapatkan berita dari Wang Jian.


Semua rakyat kota Chen sekali lagi mereka semua di ungsikan ke kota Shang Qiu kota terdekat dari kota Chen.


Gubernur Dai sendiri yang memimpin proses evakuasi tersebut.


Seluruh rakyat kota Chen bergerak keluar dari gerbang sebelah barat.


Terus bergerak meninggalkan kota Chen, membentuk sebuah barisan panjang seperti ular sedang merayap.


Suara tangis anak anak yang memilukan mewarnai suasana evakuasi mendadak tersebut.


Sebelum nya, evakuasi hanya bersifat sementara tidak total, tapi sekali ini berbeda, sekali ini evakuasi bersifat total.


Seluruh kota Chen hanya terisi pihak militer, mirip dengan yang terjadi di kota Dan Yang saat di serang oleh Guo Yun.


Sesuai perkiraan mata mata, tepat tengah malam di hari berikutnya, pasukan harimau hitam di bawah pimpinan Li Ba dan Li Kui telah kembali mengepung kota Chen.


Sekali ini pasukan Harimau Hitam begitu tiba di kota Chen, mereka langsung membagi diri menjadi 4 kelompok.


Masing masing kelompok bergerak menjaga pintu gerbang Timur barat Utara Selatan.


Semua gerbang kota di jaga ketat oleh barisan pasukan panah dan tameng bertombak pasukan harimau hitam.


Setiap gerbang di awasi oleh jendral Lim Guan Xing Fu.


Sedangkan Li Kui dan Li Ba masing masing terlihat muncul di gerbang barat dan gerbang timur.


Di bawah komando keempat Jendral Lim Guan Xing Fu.


Pasukan harimau hitam mulai bergerak mendekati tembok kota Chen.


Begitu tiba di posisi jarak tembak, pasukan harimau hitam mulai menyerang kearah bagian atas tembok kota dengan anak panah mereka yang di luncurkan dari bawah ke atas.


Sebaliknya Wang Jian yang sudah membagi pasukan dari bawahan nya, menjadi 4 kelompok.


Mereka juga sambil bertahan di atas tembok, memberikan serangan balasan dari atas kebawah, kearah pasukan Harimau Hitam.


Perang anak panah terus berlangsung dalam keadaan gelap, hanya di terangi oleh bintang di langit.


Di kala kesibukan saling panah berlangsung, diam diam pasukan harimau hitam mulai melaksanakan strategi mereka.


Pertama tama mereka mulai memasang peledak, di daerah sekitar jembatan tarik, yang bisa di kontrol naik turun dari dalam benteng kota Chen.


Setelah itu mereka diam diam dari balik pasukan tameng, yang sedang menghalau anak panah, yang datang dari pasukan Qin diatas tembok sana.


Pasukan harimau hitam diam diam melepaskan mahluk mahluk kecil, yang buntutnya di ikat dengan seutas sumbu panjang yang menyala.


Mahluk mahluk itu begitu di lepaskan dari kandang.


Mereka berlari cepat memasuki benteng kota Chen dari 4 penjuru.


Mahluk itu seperti berlomba lomba menghambur kedalam kita Chen mengikuti arah Indra penciuman mereka.


Pasukan Qin yang berjaga diatas benteng kota melihat ada mahluk kecil yang menarik benda menyala di belakangnya.


Mereka langsung berteriak heran,


"Hei apa itu..!?"


Di antara mereka ada yang melepaskan panah mengincar mahluk itu.


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


"Ciiiiitttt,..! Ciiiiitttt,..! Ciiiiitttt,..!"


terdengar bunyi mencicit, saat diantara mahluk itu ada yang terkena tembakan panah.


"Hahhhh,..! tikus...! itu tikus..!"


teriak pasukan Qin dari atas tembok heran.


Wang Jian juga mendengar dan melihat nya dari atas menara pengawas, dia merasa ada yang tidak beres.


Tiba-tiba Wang Jian teringat sesuatu, wajah nya seketika pucat, dia langsung berteriak keras dari tempatnya,


"Habisi,..! Habisi..! Habisi kawanan tikus itu..!"


"Jangan biarkan masuk ke dalam kota..!"


Mendengar teriakkan Wang Jian, pesan berantai pun langsung sampai ke gerbang lain, kini seluruh pasukan panah di atas tembok kota, fokus menembaki tikus tikus yang bergerak menerjang kedalam kota.


Tapi kawanan tikus itu, dengan cepat mencapai tembok kota, menggali lubang menyusup kebawah tembok kota.


Membuat terowongan menyusup kebalik tembok kota.


Suara mencicit terdengar di segala penjuru, saat tikus tikus itu ada yang terkena anak panah pasukan Qin.


Saat melihat ada kawanan tikus yang berhasil lolos dari pasukan panah diatas benteng kota.


Kini sedang menerobos masuk kedalam kota.


Pasukan Qin yang bertahan di dalam kota, langsung menyebar menebas dengan golok di tangan mereka, ataupun melakukan tusukan dengan tombak di tangan.


Pasukan Qin penjaga bagian dalam kota berusaha membantai tikus tikus yang menerobos masuk kedalam kota tersebut.


Wang Jian sendiri di atas menara pengawas benteng kota, harus membayar mahal atas suara teriakan peringatan nya tadi.


Karena tadi saat dia berteriak memberikan instruksi.


Di kegelapan jauh di bawah sana, Li Ba yang menemukan posisi keberadaan Wang Jian.


Tanpa membuang waktu, dia langsung mengeluarkan busur kumalnya, melepaskan anak panah energinya.


"Serrrrrrr..!"


Sebatang anak panah energi meluncur deras membelah udara malam, menerjang kearah Wang Jian.


Pasukan pengawal pelindung Wang Jian langsung maju menggunakan tameng, untuk menahan serangan anak panah energi tersebut.


"Blaaaarrr...!"


"Arggghh...!"


10 lapis pasukan tameng, yang mencoba menghadang dengan tameng mereka.


Semuanya terpental terjengkang kebelakang malang melintang, dengan tameng dan dada berlubang, mengeluarkan asap tipis.


Mereka di tembus begitu saja oleh anak panah dahsyat, yang di lepaskan Li Ba.


Wang Jian sendiri juga ikut terjatuh bersandaran di tembok menara pengawas.


Menatap tak percaya kearah luka berlubang di dada kanannya, yang mengeluarkan asap, baru di susul dengan darah mengalir deras dari luka di dada kanannya.


Seharusnya Wang Jian langsung tewas dengan jantung berlubang,


Karena yang di incar oleh Li Ba adalah dada kirinya.


Tapi di luar perhitungan nya, terhalang oleh pasukan tameng pengawal Wang Jian yang berlapis lapis.

__ADS_1


Sehingga arah panahnya membelok saat tiba di sasaran.


Beberapa pengawal Wang Jian yang tidak ikut maju menghalau anak panah.


Mereka buru buru maju memapah Wang Jian, yang terluka parah meninggalkan menara pengawas.


Langsung di larikan kekediaman gubernur Dai, untuk mendapatkan perawatan.


Setelah mendapat perawatan seadanya, atas petunjuk dari gubernur Dai, yang mendampingi Wang Jian, Wang Jian yang setengah sadar.


Di bawa meloloskan diri dari kota Chen melalui jalan rahasia di kediaman gubernur Dai.


Di tempat lain pasukan penjaga di dalam kota mulai kuwalahan.


Tikus tikus yang menembus dari bawah tembok semakin banyak.


Tikus tikus itu dengan gesit menghindar menyelamatkan diri, dari golok dan tombak pasukan Qin.


Karena jumlah hewan itu semakin lama semakin banyak, akhirnya pertahanan pasukan di dalam kota mulai bobol.


Tikus tikus yang berhasil meloloskan diri, mulai bergerak cepat menuju titik titik yang mereka incar lewat indera penciuman mereka.


Sekejap saja mereka sudah tiba di posisi posisi titik tumpukan bahan peledak.


Tikus tikus itu tanpa banyak pikir langsung berlari berhamburan mengincar bungkusan yang sebelumnya di lemparkan oleh ajudan Jenderal Lim Guan Xing Fu, ke tumpukan bahan peledak secara diam diam.


Pasukan penjaga di sana yang melihat tikus tiku itu datang membawa sumbu api.


Mereka mati matian mencegah tikus itu mendekati barang yang mereka jaga.


Tapi usaha itu sia sia tikus terlalu lincah untuk di tahan oleh mereka, alhasil begitu tikus itu lolos sumbu yang terikat di ekor mereka bersentuhan dengan tumpukan bahan peledak.


"Boooom,..!" Boooom,..!"


"Boooom,..!" Boooom,..!"


"Boooom,..!" Boooom,..!"


"Boooom,..!" Boooom,..!"


Ledakan di segala penjuru mulai terdengar mengguncang seluruh kota Chen.


Api berkobar kobar, asap hitam menggulung gulung memenuhi langit gelap di atasnya.


Seluruh kota Chen di kepung api dan guncangan gempa dahsyat.


Suara teriakan panik histeris pasukan Qin, mewarnai kesunyian malam di kota tersebut.


Seiring dengan ledakan di dalam kota, jembatan penghubung di empat penjuru gerbang kota, beserta gerbangnya pun, akhirnya di buka oleh pasukan Qin, yang berhamburan ingin menyelamatkan diri.


Tapi begitu jembatan di turunkan, panah api dari pasukan harimau hitam yang berjaga di sana.


Langsung mendarat di atas bahan peledak yang mereka tanam di dekat jembatan di turunkan.


"Booommm..!"


"Booommm..!"


"Booommm..!"


"Booommm..!"


Kembali terdengar ledakan dahsyat yang menghancurkan jembatan penghubung di empat penjuru gerbang kota.


Pasukan Qin yang sebagian, telah mencapai tengah jembatan, saat jembatan di ledakkan.


Mereka semua langsung tercebur kedalam kolam parit yang dalam.


Saat mereka berusaha untuk keluar dari dalam parit, mereka menjadi sasaran empuk pasukan panah tombak dan pasukan tameng, yang bertahan di atas pinggiran parit.


Perjuangan mereka untuk naik keatas jadi sia sia hanya mengantarkan nyawa saja, buat di musnahkan pasukan Harimau Hitam.


Sedangkan yang belum sempat menyeberang, kini mereka sudah tidak punya kesempatan untuk maju.


Saat ini mereka hanya ada dua pilihan, satu melompat menyusul kedalam parit.


Kemudian berjuang mencoba melepaskan diri dari kepungan pasukan harimau hitam yang berjaga di sepanjang pinggiran parit.


Atau pilihan kedua adat pasrah, membiarkan diri mereka habis di lalap ledakan si jago merah.


Banyak juga yang tidak mau menerima kematian tanpa berjuang.


Mereka satu persatu mulai berlompatan kedalam parit, tapi hasil usaha mereka semua sia sia.


Mereka yang masuk kedalam parit, tidak ada satupun yang berhasil keluar hidup hidup dari dalam parit.


Bila di lihat dari atas, pemandangan kota Chen saat ini sangatlah mengerikan.


Kota tersebut telah menjadi lautan api, api menjilat jilat keangkasa, sedangkan gulungan asap hitam terus membumbung keudara.


Membawa bau sangit daging terbakar, memenuhi udara di sekitarnya.


Mereka semua berdiri terpaku, menatap kearah kota Chen yang menjadi lautan api, dengan perasaan bercampur aduk.


Tidak tahu mau senang ataupun sedih untuk nya.


Li Kui di tempatnya terlihat menghela nafas berulang kali, hati nya yang welas, memberontak keras melihat kekejaman perang yang terjadi di hadapannya.


Di mana dia juga turut berkontribusi atas kejadian mengerikan ini.


Dia sendiri mulai meragu dengan keputusan dirinya sendiri, ikut terlibat dalam peperangan ini.


Hati kecilnya mulai memintanya untuk mundur dari jabatannya, kembali ke pulau neraka untuk hidup bebas dan bahagia bersama istri tercintanya.


Berbakti pada kakek dan paman Kakek nya yang sudah tua.


Tapi hatinya yang lain menahannya, agar terus ikut membantu kedua saudaranya hingga tuntas.


Kerja tidak boleh setengah setengah, bila mau bantu bantulah hingga tuntas.


Akhirnya prinsip ini, dan rasa kesetiaan persaudaraan nya, mengalahkan keinginan pribadinya.


Dengan berat hati, Li Kui memimpin pasukannya mundur, untuk berkumpul kembali dengan Li Ba yang berjaga di gerbang timur.


Di gerbang timur sendiri Li Ba terlihat tersenyum puas, dan berkata,


"Mampus kamu manusia rendah,.."


Yang di maksud oleh Li Kui tentu saja adalah Wang Jian yang membuatnya kesal.


Karena tidak bersedia bermain terang terangan, selalu bermain kucing dan tikus dengan nya


Tapi Li Ba tidak tahu, bahwa saat ini sebenarnya Wang Jian gubernur Dai dan beberapa pengawal setia nya.


Sedang menggunakan sebuah perahu kecil bergerak meninggalkan kota Chen yang menjadi lautan api.


Mereka saat ini sudah memasuki bagian pertengahan sungai, dengan tujuan menyeberangi sungai Huai, langsung menuju kota Xian Yang.


Wang Jian yang sudah sadar dari pingsannya, dia terlihat termenung menatap kearah kota Chen yang menyala nyala di tengah kegelapan malam.


Sepasang mata Wang Jian menatap dengan tatapan mata kosong dan sedih melihat kearah kota tersebut.


Wang Jian berulang kali menghela nafas panjang, melepaskan himpitan perasaaan kecewanya.


Akhirnya jendral tua itu saat teringat dengan seluruh bawahan yang sudah lama mengikutinya berperang kesana kemari.


Kini mereka sudah pergi semua, hanya menyisakan dirinya yang bertahan hidup.


Seperti seekor anjing yang melarikan diri dari pertempuran.


Akhirnya dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Jendral tua itu menangis dalam diam, ini adalah suatu pukulan kekalahan telak yang baru pertama kali di alaminya.


Kalah dengan sangat tragis, hingga tertelungkup menyembah tanah.


Gubernur Dai yang mencoba menghibur jendral tua itu, tapi tak berhasil.


Dia akhirnya memilih diam, membiarkan Wang Jian menenangkan diri nya sendiri.


Mereka bergerak dalam keheningan meyeberangi sungai Huai.


Keesokan paginya terlihat Li Ba dan Li Kui berdiri berhadap hadapan.


Mereka berdua saling memegangi bahu saudara mereka.


Setelah saling tatap cukup lama, akhirnya Li Kui buka suara,


"Jaga diri mu baik baik kakak kedua.."


"Hati hati di jalan.."


Li Ba mengangguk dan berkata singkat.


"Kamu juga adik ketiga.."


Selesai berkata kedua saudara angkat itu saling berpelukan erat sejenak.


Beberapa saat kemudian mereka saling melepaskan pelukan, langsung memalingkan wajah membalikkan badan.


Secara hampir bersamaan mereka berkata,


"Sampai jumpa..!"


Lalu mereka berdua mengambil jalan yang terpisah, mereka sama sama menghapus dua butir airmata yang runtuh.


Mereka sama sama tidak ingin saudara mereka melihat airmata tersebut.

__ADS_1


Li Ba melompat keatas punggung kudanya, yang menunggunya di sana.


Dia langsung memacu kudanya, di ikuti oleh Jendral Lim dan Jendral Fu, yang memimpin 150.000 pasukan.


Rombongan Li Ba bergerak kearah Xin Cheng.


Li Kui juga melakukan hal yang sama, melompat keatas punggung kudanya, memacu nya meninggalkan tempat tersebut.


Di belakangnya mengikuti Jendral Guan dan Jendral Xing yang memimpin 100.000 pasukan.


Mereka bergerak menuju kota Shang Qiu.


Beberapa hari kemudian Li Ba dan rombongan pasukan nya, akhirnya tiba di perbatasan kota Xin Cheng.


"Jendral Lim Kita bangun kemah di dekat sini saja."


"Menurut mu kita sebaiknya membuat kemah di sebelah mana..?"


tanya Li Ba berhati hati, mengingat nasehat Li Kui sebelumnya.


"Sebentar tuan, biar saya lihat peta dulu.."


ucap Jendral Lim berhati hati.


Dia langsung turun dari kudanya, menggunakan punggung beberapa prajuritnya, untuk menggelar peta besarnya.


Jendral Lim memperhatikan dengan seksama.


Sesaat kemudian dia berkata,


"Di sebelah timur dari sini ada bukit burung hantu ."


"Kurasa kota bisa berkemah di sana, tempat itu lumayan tersembunyi.."


"Tidak mudah di ketahui musuh, mudah menyerang mudah bertahan.."


Li Ba mengangguk dan berkata,


"Baiklah Jendral Lim, kalau begitu kita kesana sekarang.."


"Urusan perkemahan kita dan pertahanan kita jadi tanggung jawab mu.."


"Siap tuan..!"


jawab Jendral Lim cepat.


Setelah itu dia segera pergi mengatur segala sesuatunya.


Li Ba lalu menoleh kearah jendral Fu dan berkata,


"Jendral sebelum kita menyerang kota Xin Cheng, sebaiknya kamu pimpin beberapa orang pergi mencari informasi.."


"Sekaligus apabila bisa menghubungi rekan rekan lama kita Raja An Wi, pangeran An Hui atau penasehat Yo.."


"Itu akan memudahkan kita menahlukkan kota itu.."


ucap Li Ba memberi instruksi, sesuai saran dari Guo Yun dulu.


"Siap tuan, !"


"Kalau begitu saya pamit permisi sekarang tuan.."


ucap Jendral Fu sambil memberi hormat.


"Pergilah kami menunggu kabar baik dari mu, di puncak bukit hantu sana ."


ucap Li Ba sambil memberi kode agar Jendral Fu boleh pergi.


Setelah membagi tugas, Li Ba mengikuti rombongan Jendral Lim, menuju bukit burung hantu.


Tempat itu di katakan bukit burung hantu, karena dari jauh di bagian puncak bukit ada batu gunung yang mirip burung hantu yang bertengger di puncak bukit.


Li Ba dan pasukannya besarnya berkemah diatas bukit tersebut.


Sambil menunggu kabar berita dari Jendral Fu.


Butuh tujuh hari mengumpulkan segala informasi, akhirnya Jendral Fu pun kembali ke markas utama mereka memberikan laporan ke Li Ba.


Di dalam kemah terlihat Li Ba Jendral Lim mendengarkan laporan informasi dari Jendral Fu hingga selesai.


Setelah selesai Li Ba baru berkata,


"Jadi penghubung kita tinggal penasehat Yo ya ?"


"Karena Raja An Wi dan pangeran An Hui, sudah di eksekusi oleh Bai Qi, saat dia berhasil menahlukkan kerajaan Han..?"


tanya Li Ba memastikan.


Jendral Fu mengangguk dan berkata,


"Menurut penasehat Yo memang. begitulah ceritanya.."


Li Ba mengangguk, sesaat kemudian dia kembali bertanya,


"Lalu saat ini penasehat Yo punya berapa banyak pengikut, yang siap membantu kita .?"


"Paling banyak cuma 100 orang lagi yang tersisa.."


jawab Jendral Fu sejujurnya.


Li Ba menggeleng pelan dan berkata,


"Kelihatannya manusia bernama Bai Qi sungguh tega dan kejam.."


"Dia telah mencabut rumput hingga hampir habis akarnya.."


ucap Li Ba bergumam sendiri.


Tapi Jendral Fu menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Pimpinan tertingginya memang Bai Qi, tapi eksekutor di lapangan bukan dia.."


Maksud Jendral Fu..?"


tanya Li Ba kaget, bercampur penasaran.


"Eksekutor nya adalah putra ketiga Bai Qi, yang bernama Bai Hu.."


"Atau terkenal dengan julukan harimau putih, Bai Hu ini selain mewarisi sifat tanpa ampun ayahnya.."


"Dia adalah seorang jendral muda yang cerdas dan kuat, karena kabarnya dia pernah menerima gemblengan ilmu silat dari pertapa di pegunungan Himalaya.."


Ucap Jendral Fu menjelaskan.


"Berapa besar kekuatan pasukan Qin di Xin Cheng..?"


tanya Li Ba terlihat bergairah, saat mendengar informasi pimpinan militer di kota Xin Cheng adalah seorang yang memilki kemampuan tinggi


Li Ba jadi penasaran ingin segera bertemu dan menjajal kekuatan nya.


"Sekitar 300.000,"


ucap Jendral Fu singkat.


Mendengar itu, Li Ba pun terdiam, beberapa saat kemudian baru berkata,


"Musuh bertahan di dalam benteng saja, kekuatannya 2 kali lipat di bandingkan dengan kekuatan kita.."


"Menurut kalian bagaimana cara menghadapinya.?"


tanya Li Ba sambil menatap kearah dua Jendral di hadapannya dengan serius.


"Siasat..!"


jawab Jendral Lim dan Jendral Fu kompak


"Siasat apa,..?"


tanya Li Ba sambil menatap kearah kedua jendral nya, secara bergantian.


"Siasat penderitaan daging..!"


ucap kedua Jendral itu kompak.


Lalu kedua orang itu pun saling pandang kemudian mereka berdua tertawa dengan kompak.


Tersisa Li Ba yang menatap kedua nya dengan heran.


Sesaat kemudian dia berkata,


"Apa maksud kalian berdua, aku kurang paham, coba jelaskan lebih detil."


Sesaat kemudian, terlihat Jendral Fu dan Jendral Lim menjelaskan secara bergantian dengan suara berbisik bisik pelan.


Mereka bertiga terlihat, terlibat dalam obrolan yang sangat serius.


Hingga penjelasan selesai hanya terdengar suara tawa keras Li Ba sampai terdengar keluar dari kemahnya.


"Ha...ha..ha...ha..!"


"Bagus,..sungguh ide yang sangat bagus..!"


Hanya ucapan inilah yang terdengar keluar kemah.


Sesaat kemudian terlihat mereka bertiga makan minum bersama, menjelang tengah malam.


Akhirnya Jendral Fu dan Jendral Lim keluar dari dalam kemah Li Ba.

__ADS_1


Mereka berdua berangkulan sambil berbicara pelan, dan tertawa-tawa bersama, berjalan meninggalkan kemah Li Ba.


__ADS_2