
Pergerakan Ying Zheng, sedikit tertunda dengan banyaknya kamar di dalam bangunan gedung tersebut.
Apalagi, gedung ini adalah gedung kediaman pangeran Ji Ao dan istrinya Gongsun Yan.
Bukan kediaman Guo Yun dan Gongsun Li, yang gedungnya agak terpisah, di batasi oleh taman dan halaman luas.
Selagi Ying Zheng sedang sibuk menendangi kamar satu persatu.
Kebetulan ada seorang pelayan wanita melintas lewat.
Melihat aksi brutal Ying Zheng , pelayan itu sangat kaget, hingga nampan yang dipegangnya terlepas.
Sehingga jatuh berkerontangan, piring mangkok dan cawan jatuh pecah berserakan di atas lantai.
"Trangggg. ..!"
Ying Zheng yang mendengar suara berisik barang jatuh, dia segera menoleh keasal suara.
Begitu dia melihat di sana berdiri seorang pelayan wanita, yang sedang menatap kearah nya dengan wajah ketakutan.
Ying Zheng buru buru melesat menghampiri gadis pelayan itu.
Pelayan yang ketakutan itu, langsung ingin menjerit minta tolong.
"To....!"
Tapi dia menyelesaikan teriakan nya, mulutnya sudah di tutup oleh Ying Zheng.
Dengan sepasang mata melotot, Ying Zheng berkata dengan penuh ancaman.
"Bila ingin selamat, segera tunjukkan, di mana kamar Gongsun Li..?"
Ying Zheng sambil bertanya, dia menodongkan ujung pedangnya, yang runcing dan dingin, di tempelkan ke leher gadis pelayan itu.
Pelayan yang mulutnya sedang di tutup oleh Ying Zheng. dengan cepat menganggukkan kepalanya karena takut.
Dengan di antar oleh gadis pelayan itu, Ying Zheng bisa lebih cepat tiba di depan kamar Gongsun Li, yang terlihat gelap dan agak remang-remang.
Gadis pelayan itu dengan takut takut menunjuk kearah kamar itu dan berkata dengan suara gemetaran.
"Di..di...disana.."
Baru saja dia selesai berkata,
"Crebbb..!"
Pedang Ying Zheng sudah menembus punggung hingga tembus ke bagian dada.
Gadis pelayan yang sial itu, langsung tewas bersimbah darah, sebelum dia sempat berteriak.
__ADS_1
Ying Zheng tidak mau ada yang tahu aksinya ini, jadi pelayan yang tahu terlampau banyak ini, harus di tutup mulutnya.
Menurut pikiran dia, hanya orang mati lah yang bisa di suruh tutup mulut.
Ying Zheng dengan santai melangkahi mayat pelayan itu, dia terus berjalan menghampiri kamar Gongsun Li.
Dengan sekali dorong pintu pun terbuka lebar.
Dalam suasana remang remang, Ying Zheng yang melihat tubuh Gongsun Li yang molek.
Sedang tertutup selimut, dalam keadaan tertidur pulas, dalam posisi memunggunginya.
Dia langsung menyimpan pedangnya kedalam sarung, dia berjalan dengan langkah pelan, menghampiri tubuh molek yang terpampang jelas di hadapan nya.
Melihat lekuk pinggul yang begitu bulat sempurna, tanpa sadar Ying Zheng langsung menelan ludahnya sendiri.
Sementara itu gadis di balik selimut hasil penyamaran Xiao Tie, gadis itu benar benar ketakutan.
Tubuh nya yang bersembunyi di balik selimut, sedikit gemetaran dan berkeringat dingin.
Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, Xiao Tie sadar sepenuhnya, malam ini bagaimana pun.
Dia tidak akan bisa lolos dari petaka, yang lebih mengerikan dari maut itu.
Sesuatu yang paling berharganya, pasti akan di rampas paksa oleh Ying Zheng si manusia laknat itu.
Tapi dia tidak punya cara lain, demi keselamatan Gongsun Li dan adiknya, tidak ada yang bisa dia lakukan, selain menyerahkan dirinya memuaskan nafsu binatang Ying Zheng.
Bila rencana ini berhasil, biar harus mati sekalipun, dia tidak akan pernah menyesal lagi.
Setidaknya dia bisa membalas Budi besar Gongsun Li dan Guo Yun, yang dikagumi nya itu.
Inilah saatnya bagi dia membalas Budi kebaikan kedua majikannya itu, pikir Xiao Tie dalam hati.
Hal lainnya adalah dia juga termasuk berkorban, untuk keselamatan adik tunggal, yang sangat di sayanginya itu.
Dari kecil dia dan adiknya sudah di tinggal pergi oleh ibunya, yang pergi menikah lagi dengan pria lain.
Saat itu dirinya dan adiknya masih kecil, jadi boleh di bilang dia lah yang menggantikan tugas ibunya merawat adiknya.
Hal ini membuat dirinya dan adiknya memilki ikatan yang sangat kuat.
Berpikir dirinya juga bisa menyelamatkan adiknya, tekad Xiao Tie pun menjadi semakin kuat.
Dia mulai bisa lebih tenang, dia bahkan berpikir saat Ying Zheng lengah, dia akan menghabisi Ying Zheng.
Dengan belati yang dia sembunyikan di bawah bantalnya.
Ying Zheng yang sudah tidak bisa menahan diri segera menerkam Xiao Tie yang malang, bagaikan seekor serigala kelaparan.
__ADS_1
Bila Ying Zheng tahu Xiao Tie bukan Gongsun Li, dia pasti tidak akan seperti ini.
Dalam hal urusan ranjang, meski Ying Zheng masih muda, tapi dia sudah tidak asing dengan hal itu.
Di rumah kediaman nya saja, dia punya puluhan selir, yang cantik cantik dan berasal dari keluarga baik baik dan terhormat.
Jadi dia tidak mungkin segila itu, sampai pergi menggauli seorang pelayan secara paksa.
Bahkan yang perawan sekalipun, dia belum tentu tertarik, kecuali pelayan itu memang memilki kecantikan sangat luar biasa.
Tapi itupun, dia hanya akan menjadikannya sebagai mainan belaka, setelah puas dan bosan, tentu akan dia tinggalkan tanpa status.
Xiao Tie yang malang hanya bisa menutup matanya, dan meronta kecil dengan memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, saat Ying Zheng sedang menikmati tubuhnya.
Dia tidak berani memberikan perlawanan, saat satu persatu pakaian nya di lepas oleh Ying Zheng.
Beterbangan keluar dari ranjang jatuh diatas lantai.
Xiao Tie hanya bisa menutupi mulutnya menahan Isak, dengan airmata bercucuran.
Saat seluruh tubuhnya digerayangi secara kasar oleh Ying Zheng.
Hingga saat sepasang pahanya di lebarkan, dan Ying Zheng dengan antusias membenamkan wajahnya kesana.
Xiao Tie yang belum pernah mengalami perlakuan seperti itu, dia sangat terkejut.
Tubuhnya sedikit tersentak keatas, kepalanya juga sedikit mendongak keatas.
Mulutnya hampir tidak bisa menahan suara aneh nya, yang seumur hidup belum pernah terjadi.
Xiao Tie buru buru menggunakan tangannya, untuk menutupi mulutnya sendiri.
Agar suara anehnya tidak sampai kelepasan terdengar keluar.
Xiao Tie dengan sekuat tenaga berusaha menahan rasa geli dan nikmat, yang hampir membuatnya melayang layang di udara.
Tapi serangan permainan liar Ying Zheng, yang lidahnya menari nari di celah sempitnya.
Benar benar membuat tubuh Xiao Tie mengkhianati pikiran jernihnya.
Tanpa terkendali pinggul Xiao Tie bergerak naik turun, mengikuti permainan lidah Ying Zheng.
Baru setelah Xiao Tie merasa ada benda tumpul keras dan licin, memaksa menyeruak masuk ke celah sempitnya.
Xiao Tie pun tersentak tubuhnya dan berteriak lirih, airmatanya langsung melompat keluar dari sudut matanya.
Sepasang tangannya langsung mencengkram lengan Ying Zheng yang kurus dengan erat.
Mulutnya terbuka lebar, pasrah, saat Ying Zheng menutupinya dengan mulut dan lidahnya menyapu liar di dalam sana.
__ADS_1
Tubuh Xiao Tie tersentak sentak oleh dorongan kuat pinggul Ying Zheng yang naik turun penuh hasrat.