
Li Kui mengangguk dan berkata,
"Aku akan usahakan yang terbaik.."
Guo Yun sudah turun di samping Sian Sian dan berkata,
"Kita serahkan saja pada Yang maha kuasa, bila sudah takdir itu adalah musibah, yang harus kita terima."
"Mau kita pakai cara apapun menghindar, pada akhirnya tetap tidak akan bisa terhindarkan.."
"Begitu pula dengan berkah, dan biasanya di balik musibah akan selalu ada berkahnya.."
"Kita jalani saja.."
ucap Guo Yun sambil menepuk bahu Sian Sian dengan lembut, untuk membantu menguatkan rasa percaya diri gadis itu.
Sian Sian mengangguk dan berkata,
"Sian Sian percaya dan akan selalu patuh dengan kakak Yun, sesuai pesan kakak Ba.."
"Bagus,.. ayo bantu kakak kedepan, kita akan bantu saudara Li Kui menentukan arah kapal.."
ucap Guo Yun sambil memberi kode, agar Sian Sian ikut dengan nya.
Sian Sian pun berlari kecil menyusul Guo Yun keanjungan perahu.
Sian Sian, bertugas mengawasi sisi kiri, sedangkan Guo Yun sisi kanan.
Sesuai dengan ucapan Sian Sian tadi, semakin mendekat kearah kabut merah, arus mulai makin kencang.
Seperti ada arus kuat yang berusaha menarik kapal untuk terseret kedalam kabut merah itu.
Layar kapal sudah di turunkan oleh Li Kui, menghindari pusaran angin tak menentu, yang bisa mengacaukan arah laju kapal mereka.
Li Kui memutuskan membiarkan kapal melaju sendiri, mengikuti arus dan petunjuk dari Guo Yun dan Sian Sian.
Seperti kata Sian Sian, begitu memasuki perairan kabut merah itu.
Ikan ikan pemangsa, yang di tandai dengan sirip hitamnya yang besar besar, mulai muncul di permukaan air, mengelilingi sekitar badan kapal.
Sesekali mereka akan mencoba menabrak pinggiran kapal, untuk menggoyang kapal.
Kalau bisa kapal ingin mereka jungkir balikan, agar bisa memangsa para penumpang di dalam nya.
Atau mereka berharap saat kapal berguncang, ada penghuni kapal yang kurang hati-hati terjungkal kedalam laut..
Bila itu terjadi puaslah dahaga mereka, akan target yang sedang mereka incar.
Semakin dalam memasuki wilayah kabut merah, batu batu karang tajam, seperti deretan gigi raksasa mulai bermunculan menyambut mereka.
Bila tadi Guo Yun, Li Kui, terutama Sian Sian, mereka hanya merasa seram akan kehadiran ikan ikan pemangsa itu.
__ADS_1
Kini mereka bertiga mulai harus bahu membahu bekerja keras, agar kapal mereka, bisa berhasil melewati halangan gugusan karang tajam, dan arus laut yang semakin lama semakin kuat.
Di mana arus itu terus berusaha menyeret kapal mereka, untuk di benturkan kearah karang karang tajam.
,
Yang paling Guo Yun takut kan, bukan karang karang di permukaan laut, tapi justru karang yang tertutup di bawah air kah, yang jauh lebih berbahaya.
Guo Yun menggunakan sebuah tongkat panjang, untuk membantu mendorong kapal menjauhi gugusan karang tajam.
Sepandai pandainya mereka berusaha menghindar, sekali dua tetap saja, kapal mereka menabrak karang.
Sehingga lambung kapal yang bocor semakin banyak, air yang masuk ke Lambung kapal semakin lama semakin banyak.
Bahkan kini air mulai naik ke lantai satu kapal, memenuhi lantai pertama, mencapai semata kaki.
Tapi Guo Yun dan Sian Sian tanpa menghiraukan hal itu, mereka berdua hanya fokus membantu mengarahkan kapal menghindari karang.
Sedangkan Li Kui, dia hanya berusaha fokus mengarahkan kestabilan laju kapal, mengikuti arahan Guo Yun dan Sian Sian.
Kerja sama ketiga orang itu, akhirnya berbuah hasil yang cukup baik, meski akhirnya kapal mereka karam, teronggok puluhan meter dari bibir pantai pasir putih.
Setidaknya mereka telah berhasil mendarat dengan selamat, melewati gugusan batu karang tajam.
Meski sudah memasuki wilayah bibir pantai pasir putih, yang airnya hanya sebatas dada manusia dewasa.
Tapi ikan ikan pemangsa yang ukurannya tidak terlalu raksasa, masih mengikuti dan berkeliling melakukan patroli di sekitar kapal mereka.
ucap Guo Yun sambil berdiri di anjungan kapal.
Guo Yun sambil tersenyum mengulurkan tangan kearah kedua rekannya.
"Siapa yang akan mencobanya lebih dulu..?"
ucap Guo Yun menatap kedua orang rekannya.
"Aku saja dulu..!"
ucap Sian Sian sambil maju menyambut uluran tangan Guo Yun.
"Bersiap,..! satu..dua .tiga..! terbang lah..!'
ucap Guo Yun sambil tersenyum lebar.
"Aihhhh..!"
jerit Sian Sian tertahan, sebelum kemudian dia tertawa gembira, saat mendarat ringan di tepi pantai yang berpasir halus dan lembut.
Selanjutnya adalah Li Kui, tanpa kesulitan Li Kui menyusul Sian Sian terbang menuju bibir pantai pasir putih, yang halus dan lembut.
Selanjutnya adalah Guo Yun yang melompat terbang di udara, saat turun dia menendang ringan air di bawahnya, lalu tubuhnya terbang kembali keatas.
__ADS_1
Setelah.mengulsnginya hingga 5 kali, akhirnya Guo Yun, berhasil menyusul Sian Sian dan Li Kui.
Guo Yun mendarat ringan di dekat mereka.
Mereka bertiga saling pandang, dan akhirnya mereka tertawa bersama.
"Ayo kita cari kayu bakar untuk buat api unggun, Lalu kita yang memangsa mereka.."
ucap Guo Yun sambil menunjuk kearah ikan ikan pemangsa.
Di mana ikan ikan itu mulai terlihat meninggalkan bangkai kapal.
Mereka memilih kembali ke laut dalam, di gugusan karang, yang menjadi sarang mereka.
Karena mereka sadar mangsa yang mereka incar telah selamat tiba di area, yang bukan wilayah kekuasaan mereka lagi.
Melihat kondisi pulau asing yang cukup menyeramkan, apalagi sebelumnya Sian Sian sudah mengingatkan akan bahayanya pulau ini.
Maka Guo Yun memutuskan mereka bertiga tidak akan pernah berpencar.
Kemanapun mereka akan selalu bersama sama, minimal dalam jarak pandang masih bisa saling mengawasi.
"Ayo kita pergi cari kayu bakar bersama sama, tapi kita tidak boleh berpencar terlalu jauh.."
"Setidaknya kita dalam batas jangkauan bisa saling mengawasi."
ucap Guo Yun serius.
Sian Sian dan Li Kui mengangguk patuh, mereka sadar kekhawatiran Guo Yun sangat beralasan.
Ini semua juga demi kebaikan mereka.
Mereka tidak perlu sampai memasuki hutan, karena di pinggir hutan pun pulau kosong ini memiliki stok kayu kering yang berlimpah.
Tanpa kesulitan mereka bertiga berhasil membuat sebuah api unggun besar.
"Kalian berdua tunggu aku di sini, jangan kemana-mana, aku pergi menangkap ikan sebentar.."
"Bila ada sesuatu yang tidak wajar, berteriak lah, aku akan segera kembali.."
ucap Guo Yun berpesan.
Li Kui dan Sian Sian mengangguk, tanpa di pesan sekalipun, mereka berdua juga tidak punya nyali untuk berkeluyuran sembarangan.
Gunung hitam dengan pepohonan rimbun disekelilingnya, yang terletak persis di tengah tengah pulau neraka.
Membuat pulau itu terlihat sangat angker dan misterius, Sian Sian dan Li Kui, tentu tidak ingin menambah masalah tidak perlu.
Mereka hanya ingin secepatnya bisa memperbaiki kapal mereka, setelah itu mereka bisa melanjutkan perjalanan mereka menuju pulau Peng Lai, tempat tinggal kakek Sian Sian.
Bila bukan karena badai tak terduga itu, saat ini mereka pasti sudah tiba di pulau Peng Lai, tidak akan sampai terdampar di tempat ini.
__ADS_1