
"Kamu kah pemilik restoran ini ?"
tanya sebuah suara yang sedingin es kepada bos pemilik penginapan.
"Ya benar tuan, ada yang bisa saya bantu tuan..?"
tanya si pemilik restoran hati hati.
"Kamu ada lihat orang ini..?"
"Juga orang ini..?"
tanya pria berbaju hitam itu, sambil secara bergantian menunjukkan dua buah sketsa gambar wajah.
Pemilik restoran langsung mengenalinya, dengan hati hati dia bertanya.
"Maaf kalau boleh tahu, ada urusan apa tuan mencari mereka..?"
tanya si pemilik restoran bersikap hati hati, karena dia ingin melindungi privasi pelanggannya.
Pria itu kembali bertanya dengan suara lebih dingin.
",Di mana mereka saat ini..?"
Si pemilik restoran baru saja menggeleng, tiba tiba dia menjerit..
"Ahhhh,..,! ampun kalian mau apa..?"
Di dekat dada kiri pemilik restoran dan penginapan itu, terlihat sebilah bambu runcing menancap di sana.
Darah terlihat mulai mengucur dari luka tersebut.
Si pemilik penginapan meringis dan merintih, menahan rasa sakit di bagian dadanya.
Bila beberapa cm menurun ke bawah, si pemilik penginapan tersebut pasti nyawanya, tidak akan tertolong lagi.
"Si..si..siapa kalian sebenarnya, mengapa datang datang langsung melukai ku..?"
ucap si pemilik restoran penasaran.
"Jangan banyak bacot,..!"
Bentak pria berpakaian hitam itu, dengan nada dingin.
"Bila sayang nyawa, katakan saja di mana mereka berdua..?"
Si pemilik penginapan wajahnya yang pucat semakin pucat.
Tapi dia dengan nekad menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf aku.."
Belum selesai dia berucap, seorang wanita muda yang sangat cantik keluar dari dalam ruangan, yang terletak di belakang meja kasir.
"Hei siapa kalian ?!"
"Apa yang kalian lakukan pada suami ku..!?"
"Hentikan, awas kalian menyakitinya..!"
ucap wanita itu panik sambil terburu-buru menghampiri si pemilik penginapan.
"Suami ku, ahh kamu berdarah..!"
teriak wanita itu semakin panik, saat melihat luka di bagian dada si pemilik penginapan, yang merupakan suami nya itu.
Wanita cantik yang layaknya menjadi putri si pemilik penginapan, yang sudah paruh baya itu.
__ADS_1
Adalah seorang gadis dari keluarga miskin, yang baru di nikahi belum sampai seminggu, oleh si pemilik penginapan itu.
Kemunculan istri si pemilik penginapan yang cantik, langsung menarik perhatian San Lo Sa.
Sepasang mata San Lo Sa, yang sebelumnya setengah terpejam tiba tiba terbuka.
Dia menatap wanita cantik, yang memiliki bentuk tubuh langsing padat itu, dengan tatapan mata berbinar-binar.
Tanpa menghiraukan rekannya yang lain, dia langsung melayang ringan ke balik meja kasir.
Dia menarik wanita cantik itu dari sisi suaminya dengan kasar.
"Heiii.. lepaskan kamu mau apa..?!"
"Breettt,..!"
terdengar kain robek, karena istri si pemilik penginapan meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari San Lo Sa, yang sedang menariknya.
Sepasang mata San Lo Sa semakin berkilat, saat melihat pundak punggung dan lengan istri pemilik penginapan, yang terbuka lebar.
Memamerkan kulitnya yang putih halus dan sangat mulus, seolah olah nyamuk dan lalat bila mendarat di sana bakal terpeleset saking licinnya.
Si pemilik restoran, memaksa melepaskan diri dari tusukan bambu runcing si pemuda berbaju hitam.
Lalu dia merangkul istrinya kedalam pelukannya dan membentak dengan marah.
"Kamu jangan kurang ajar, berani menganggu istri orang di siang hari bolong..!"
"Cepat pergi,..! sebelum aku berteriak memanggil petugas menangkap mu..!"
Meski dia takut dan gemetar, tapi dia juga tidak rela istri yang baru dia nikahi itu, di tindas orang.
Istri pemilik penginapan yang ketakutan, dia memilih berlindung di balik punggung suaminya.
Sambil berusaha menutupi bagian dadanya yang sedikit terbuka.
San Lo Sa tanpa banyak cakap, dia melesat kedepan, mencengkram kerah baju si pemilik penginapan.
Lalu dia lemparkan ke arah si pemuda baju hitam, seperti orang melempar sampah.
"Ini kamu urus dia..!"
Si pemuda baju hitam menggeser langkahnya, sambil memiringkan tubuhnya.
Sehingga tubuh si pemilik penginapan jatuh menabrak meja restoran.
"Brakkkk..!"
Meja kursi restoran yang di timpa tubuh pemilik restoran langsung hancur berantakan.
Si pemilik restoran yang terluka babak belur, dengan kepala bocor berdarah membasahi wajah dan bajunya.
Dia berusaha untuk bangkit berdiri, sambil menahan sakit.
Dia Ingin buru buru pergi menolong istrinya, yang sedang berteriak histeris minta tolong padanya.
Karena istrinya sedang di seret oleh San Lo Sa kedalam bilik ruangan di belakang meja kasir.
"Bajingannn,.. bangsattt,.. lepaskan..Ahhh tidak jangan... breettt,..suami ku tolong...!"
"Ha...ha...ha..ha..!"
"Jangan melawan, turuti saja aku ..!"
"Aku jamin kamu akan lebih puas, dari pada bersama tua Bangka tak berguna itu..!"
"Ha.. ha..ha..!"
__ADS_1
"Breettt,.. breettt.. Breettt,.. breettt..!"
"Jangan ku mohon..jangan,.
Ahhh..jangan...jangan..!"
"Suami ku tolong...! Ahhhhhhh...!"
Mendengar suara istrinya di dalam ruangan sana, hati si pemilik restoran remuk redam di buatnya.
Dia ingin menyusul kedalam, tapi langkah nya terhenti oleh todongan bambu runcing di lehernya.
Dengan suara dingin, pemuda itu kembali berkata dengan dingin,
"Ku ulangi sekali lagi di mana mereka ?"
Si pemilik restoran terlihat ragu dan berkata,
"Lepaskan istri ku, aku akan beritahu.."
"Suami ku tolong...bajingan Ahhh,..jangan..jangan..di masukkan,...!"
"Tidak boleh..tidak...tidakkk,..!
jangan...jangan..!"
"Aaaahhhhhhhh,....!"
Mendengar jeritan putus asa istrinya, si pemilik penginapan kini mengeras wajahnya, sambil menggertakkan gigi nya.
Dia berkata,
"Kalian bukan manusia,..aku sampai mati pun tidak akan..."
"Arggghhh..!"
belum juga selesai kata kata nya, bambu runcing, sudah menembus tenggorokannya.
Pemilik restoran itu jatuh terkapar di atas lantai dengan tubuh berkelenjotan, sebelum akhirnya diam tidak bergerak.
Dari luka di.lehernya, yang tadinya hanya ada setitik merah, perlahan-lahan darah mulai mengucur deras, membasahi lantai di sekitar mayat si pemilik penginapan itu.
Kemampuan inilah yang membuat si pemuda dingin itu, mendapatkan julukan Satu titik merah dari daratan tengah.
Sementara itu di dalam ruangan, di balik meja kasir, wanita malang itu kini terlihat pakaiannya sudah robek tidak karuan di tarik oleh San Lo Sa secara brutal.
Kini dia terlentang di atas meja, tak berdaya, melawan aksi San Lo Sa, yang dengan ganas, sedang menciumi leher dan dadanya yang putih mulus.
Semua jeritan makian dan penolakan nya, tidak berhasil menghentikan aksi San Lo Sa yang semakin kalap.
Wanita itu hanya bisa menangis dengan airmata bercucuran, sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Sepasang tangannya terpentang lebar ke kiri kanan, di pegangi oleh tangan San Lo Sa.
Sepasang pahanya yang putih mulus, terlihat terpentang lebar, dengan bagian tengah di tindih oleh tubuh San Lo Sa yang tinggi besar.
Saat wanita itu merasakan ada benda tumpul keras, sedang berusaha memasuki daerah terlarang nya yang masih sempit.
Sepasang mata wanita itu terbelalak lebar seperti mata kelinci ketakutan.
Dia langsung berteriak, sekuat tenaga.
"Suami ku tolong...bajingan Ahhh,..jangan..jangan di sana,..tidak boleh,...jangan di masukkan,...!"
"Tidak boleh..tidak...tidakkk,.
jangan...jangan..!"
__ADS_1
"Aaaahhhhhhhh,....!"