LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KEMBALI KE LONG CHENG


__ADS_3

Guo Yun hanya makan beberapa gigitan sisanya dia dorong kehadapan Xiang Yu.


"Yu er, kamu bantu habiskan saja, bila kamu menyukainya.."


ucap Guo Yun sambil mengernyitkan hidungnya.


Xiang Yu menerimanya dengan gembira, sambil menatap heran kearah Guo Yun dia berkata,


"Kenapa kak dengan daging ini, ada yang aneh..?"


Guo Yun mengangkat kedua bahunya dan berkata,


"Tidak ada, aku hanya sedang kenyang saja.."


"Kamu makanlah bila suka, gak usah ragu."


ucap Guo Yun sedikit berkilah.


Di tempat itu sangat ramai, rata rata mereka makan barang itu dengan gembira.


Bila dia sembarangan bicara, dia bisa menimbulkan keributan tidak perlu.


Dia tidak takut dengan mereka, mereka semua di gabung bahkan satu kerajaan ini dia tidak takut.


Tapi kalau keributan ini memancing kemarahan singa tidur.


Dia bisa kembali jatuh dalam masalah.


Baru saja Guo Yun di dalam hati berpikir tentang singa tidur.


Tiba tiba singa tidur itu berdiri tepat di hadapannya, singa tidur itu terlihat termenung seorang diri di sana.


Sambil menatap jalanan dan pejalan kaki yang berlalu lalang didepan nya.


Pandangan nya selalu terarah ke pasangan yang berjalan lewat di hadapannya.


Singa tidur yang Guo Yun maksud tentu saja adalah Attila, Attila belum sepenuhnya pergi dari sini.


batin Guo Yun dalam hati.


Setelah menimbang bolak balik akhirnya Guo Yun yang melihat Attila sedang berdiri termenung di depan pedagang manisan yang bersebelahan dengan pedagang keperluan wanita.


Guo Yun menoleh kearah Xiang Yu dan berkata,


"Kamu makan saja di sini, aku mau ketemu teman sebentar di luar sana.."


"Setelah urusan ku selesai aku akan kembali menjemputmu, ini uang buat jaga jaga, kalau aku kembali terlambat."


ucap Guo Yun sambil meletakkan sebuah kantong kain berwarna hitam di depan Xiang Yu.


Xiang Yu mengangguk cepat, lalu mengantongi kantung kain itu, kedalam saku bajunya.


Guo Yun tersenyum, dan mengangguk, lalu dia segera berlalu dari sana.


Xiang Yu meski masih kecil, tapi tempaan hidup yang keras dan penuh bahaya mengintainya.


Membuat pikiran nya tumbuh dewasa lebih cepat dari usianya.


Berjalan menghampiri Attila dari belakang, baru tangan nya terulur kedepan,ingin menyentuh pundak Attila.


Tahu tahu pergelangan tangannya telah terkunci oleh cengkraman tangan Attila yang kuat.


Attila memutar badannya menatap kearah Guo Yun dengan kaget.


Dia terlihat buru buru melihat kesana kemari, dan berkata,


"Apa dia bersama mu kemari..?"


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Dia masih ada di areal pemakaman, mana mungkin bisa kemari.."


"Lepaskan dulu tangan ku, kamu hampir menghancurkannya.."


Attila melepaskan cengkraman tangan nya dan berkata,


"Siapa suruh kamu muncul seperti maling di belakang ku.?"


"Aku tidak membuat mu jadi gumpalan daging dengan satu pukulan, kamu mestinya bersyukur.."


ucap Attila santai.


Guo Yun hanya tersenyum canggung, menanggapi ucapan Attila, yang tidak pernah basa basi.


Attila tiba-tiba menatap Guo Yun dengan tajam dan berkata,


"Kamu kenapa bisa ada disini sendirian..?"


"Kamu ingkar janji ya..?"


Guo Yun tersenyum penuh kemenangan dan berkata,


"Tentu saja tidak, kalau tidak percaya, kamu boleh pergi tanya dia.."


"Dia sendiri yang mengusir ku, aku bisa apa..?"


Attila mengerutkan alisnya, dia menatap Guo Yun dengan serius dan berkata,


"Kamu pasti bermain curang, mengapa kamu tega tinggalkan dia seorang diri di sana?"


"Kalau terjadi sesuatu dengan nya, percaya tidak aku akan menghabisi semua istri dan anak mu..?"


ucap Attila geram.


Guo Yun menanggapi nya dengan tersenyum tenang dan berkata,


"Kamu jangan marah dulu, aku kemari juga karena ingin mencari mu, aku ingin menolong mu.."


"Bila tidak buat apa aku repot repot menemui mu di sini.."


"Aku bisa saja kabur jauh sebelum kamu menyadarinya.."


Attila terdiam, di dalam hati dia harus akui ucapan Guo Yun sangat masuk akal.


"Apa yang kamu inginkan dari ku..?"


tanya Attila menatap Guo Yun dengan curiga.


Attila sangat sadar, kalau adu kesaktian dia tidak akan kalah.


Tapi kalau adu kepintaran, dia belum tentu bisa menandingi Guo Yun.


Terutama adu bicara, tidak usah diadu pun, dua sudah pasti kalah.


"Kamu jangan bercuriga begitu, aku tidak ada maksud lain."


"Percayalah aku kemari untuk membantu mu, bukan ingin bermusuhan dengan mu.."


ucap Guo Yun sambil menepuk pundak Attila dengan hangat.


"Sekarang jangan banyak tanya, kamu beli ini..ini..ini..dan ini.."


ucap Guo Yun sambil menunjuk beberapa macam manisan di hadapannya.


Setelah itu dia pindah ke pedagang sebelah lain, dia kembali menunjuk sana sini.


Meminta Attila yang membelikan untuk nya.


Attila meski heran tapi dia tetap membayarkannya semua.


Dia penasaran apa yang sebenarnya Guo Yun ingin lakukan.


Jadi dia mengikuti saja kemauan Guo Yun.


Guo Yun kemudian memberikan ke Attila, dua bungkusan barang dan makanan yang di belinya.


"Ini simpanlah, kamu nanti akan memerlukannya.."


"Sekarang coba jelaskan pada ku, cerita tentang kertas kertas yang ada di saku mu itu.."


ucap Guo Yun sambil menarik tangan Attila untuk duduk santai di sebuah kedai teh pinggir jalan.


Sambil minum teh Guo Yun mendengarkan semua cerita tentang kertas ucapan keinginan, yang berasal dari lampion, yang Attila dan Camelia terbangkan di kota An Yi.


Setelah mendengar keseluruhan cerita, Guo Yun pun meletakkan satu keping perak diatas meja dan berkata,


"Ayo sekarang ikut aku, kita harus bergerak cepat kembali ketempat kamu menemukan kertas kertas itu sebelumnya."


"Kita ambil jalan yang berlawanan arah dengan dari An Yi ketempat itu."


ucap Guo Yun sambil bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kedai teh itu.


Attila meski bingung, dia tetap mengikuti langkah Guo Yun, bergerak meninggalkan kota Long Cheng.


Mereka langsung menuju kearah tempat Attila menemukan lampion yang berserakan.


Tidak butuh waktu lama, Guo Yun sudah mulai melihat ada lampion yang berserakan di atas tanah.


"Itu ada lampion coba kita periksa.."


ucap Guo Yun sambil berlari cepat,


Guo Yun lalu buru buru memeriksa kertas kecil, yang di rekatkan pada sisa lampion rusak, terlihat tinggal rangkanya saja.


"Apa ini tulisan Camelia..."


tanya Guo Yun cepat, sambil memberikan kertas itu untuk diperiksa oleh Attila.


Attila menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara nya yang agak ngebas.

__ADS_1


"Tidak bukan.."


Guo Yun mengangguk, lalu dia kembali bergerak cepat kedepan, di depan masih banyak lampion bertebaran di atas rumput pendek.


Semakin lama lampion yang ditemukan semakin banyak, hingga akhirnya Guo Yun menemukan sebuah lampion yang terlihat hanya rusak sedikit saja.


"Yang ini bagaimana..?"


tanya Guo Yun menyerahkan kertas itu ke Attila.


Attila melihatnya sejenak, tiba-tiba sepasang matanya jadi bersemangat, saat dia membaca isi kertas kecil yang Guo Yun berikan.


Dengan penuh semangat melebihi Guo Yun, Attila seperti orang gila berlarian kesana kemari mengumpulkan kertas kertas kecil yang melekat pada lampion yang di temuinya.


Beberapa waktu berlalu, kini Guo Yun hanya berdiri diam membiarkan Attila sibuk sendiri.


"Attila cukuplah, sudah.!"


"Ayo kita kembali untuk menemuinya..!"


teriak Guo Yun setelah beberapa waktu mengikuti Attila berpindah pindah dari satu tempat ketempat lainnya.


"Sebentar lagi saudara Yun, aku masih penasaran..!"


ucap Attila sambil terus bergerak.


Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Attila kalau kamu terus seperti itu, kalau dia kenapa kenapa kamu jangan salah kan aku ya..!"


Ancaman Guo Yun sekali ini, langsung mempan.


Attila benar langsung menghentikan kegiatannya, dia langsung melesat cepat meninggalkan tempat itu.


"Saudara Yun,..ayo kita pulang..!"


ucap Attila sambil melesat bak kilat.


Hanya terlihat seberkas cahaya lewat, tahu tahu orangnya sudah tiada.


"Dasar...!"


ucap Guo Yun sambil melesat menyusul nya.


Tapi bagaimana pun Guo Yun mengejarnya dengan mengempos seluruh semangat nya.


Dia tetap tertinggal, malah jarak mereka bukan semakin dekat.


Semakin lama justru semakin menjauh.


Melihat hal ini Guo Yun sambil menghela nafas panjang, dia akhirnya mengirim pesan suara, Cian Li Cuan Im ke Attila.


"Saudara Attila, kamu duluan saja, jangan lupa minta maaf, dan berikan bingkisan itu sebagai permintaan maaf mu.."


"Ingat dia bukan tidak mencintai mu, dia hanya ragu dengan perasaan nya sendiri.."


"Berjuang lah, jangan pernah menyerah,..!"


"Semoga sukses dan berbahagia..!"


ucap Guo Yun dengan Cian Li Cuan Im.


Attila langsung membalasnya,


"Terimakasih banyak saudara Yun, Attila akan ingat Budi ini.."


"Suatu hari bila bertemu kesulitan, kabari saja aku..Attila pasti akan membantu mu, sebagai balas Budi.."


"Sampai jumpa.."


Sebelum Attila selesai mengirim pesan, dia sudah menghilang dari hadapan Guo Yun.


Dia melesat dengan kecepatan yang sulit di ukur kecepatan nya.


Guo Yun kini baru sadar ternyata kemampuannya bila di bandingkan dengan Attila.


Dia benar benar tidak ada seujung kuku pemuda itu.


"Ini yang dinamakan diatas gunung yang tinggi masih ada gunung lainnya yang lebih tinggi.."


"Bahkan diatas gunung tertinggi masih ada langit,.."


Keluh Guo Yun sambil menghela nafas panjang.


Dia kini sangat bersyukur, tempo hari dia mengikuti nasehat kakek Wu Ming Lau Jen..


Bila tidak dia pasti akan mati konyol di tangan Attila.


Mungkin di dunia ini hanya Wu Ming Lau Jen dan Camelia yang sanggup menghadapi pemuda itu.


Batin Guo Yun dalam hatinya sambil tersenyum.


Guo Yun mengendurkan larinya, dua tidak mau menghabiskan energinya untuk berlomba tidak perlu.


Attila sendiri begitu tiba di area pemakaman para raja, melihat hari mulai gelap.


Dia langsung melesat cepat menuju puncak bukit di mana bangunan pemakaman pusat berada.


Saat tiba di sana melihat Camelia sedang terbaring setengah tengkurap di depan makam ayahnya.


Attila menghela nafas lega, sekaligus merasa sedikit menyesal dan bersalah terhadap Camelia.


Dengan langkah pelan Attila. menghampiri Camelia yang sedang tertidur pulas di tempat itu.


Melihat bekas bekas airmata di pipi dan sudut mata Camelia, Attila pun menyadari tunangannya itu pasti menangis hingga kelelahan dan tertidur di sana.


Melihat hal ini Attila semakin merasa menyesal dan bersalah terhadap Camelia.


Attila duduk di samping Camelia, dengan gerakan lembut, dia membelai wajah Camelia yang sedang tidur menyamping.


"Camelia bangun,.. bangunlah Camelia.."


panggil Attila pelan.


Perlahan-lahan Camelia membuka matanya, melihat ada bayangan orang dalam keadaan remang remang duduk di dekatnya.


"Ahhhh...! siapa kamu...!? hantu kah...!?"


teriak Camelia sambil bergerak mundur ketakutan menjauhi Attila.


Attila segera menyadari kebodohannya, dia segera menyalakan pemantik api kuno, sehingga tempat itu kini menjadi terang.


Wajahnya dan wajah Camelia kini terlihat dengan lebih jelas.


"Ini aku Camelia..Attila.."


ucap Attila sambil menatap Camelia dengan tatapan mata bersalah.


Camelia langsung maju memeluk Attila dengan melingkarkan sepasang tangannya di belakang leher Attila erat erat.


Camelia menempelkan wajahnya di samping wajah Attila dengan lembut melepaskan perasaan rindu dan bahagia nya


Dia sempat berpikir Attila benar benar telah pergi meninggalkannya.


Selama nya tidak akan pernah kembali lagi ke samping nya.


Camelia benar benar merasa bersedih, juga takut untuk menjalani kehidupan nya yang sendirian.


Dia benar-benar tidak biasa menjalani kehidupan tanpa Attila yang biasanya selalu setia mendampinginya.


Attila adalah tempat dia berteduh dan tempat dia menumpu kehidupannya.


Tapi sesaat kemudian Camelia tiba-tiba melepaskan pelukannya dengan wajah cemberut, dia berkata dengan ketus,


"Attila kamu jahat,.. kamu tega pergi meninggalkan ku..!"


"Kamu bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan ku.!"


"Kamu juga melupakan janji mu, yang katanya akan menemani ku hingga hari kiamat nanti..!"


"Kamu mengingkarinya dan meninggalkan ku tanpa perasaan..!"


"Aku benar-benar membencimu.."


"Kamu jahat, aku membenci mu,..aku tidak mau melihat mu lagi.."


"Kamu pergilah..! pergi..!"


teriak Camelia sambil berbalik memunggungi Attila.


Attila terkejut dengan perubahan sikap Camelia yang tiba-tiba, tadi mereka masih berpelukan mesra.


Kenapa tiba-tiba jadi begini,. dengan wajah bingung, Attila mencoba mendekati Camelia dan berkata,


"Camelia aku tahu salah, aku tidak seharusnya bertingkah seperti anak kecil.."


"Aku seharusnya mencari tahu dengan lebih jelas, sebelum menduga yang bukan bukan dan meragukan perasaan mu pada ku.."


"Untung saudara Yun membantu ku menemukan kebenaran ini.."


ucap Attila sambil menunjukkan setumpuk kertas yang menuliskan keinginan Camelia.


"Aku Camelia memohon pada yang kuasa, agar di beri kesempatan, untuk selalu hidup bersama Attila hingga hari kiamat tiba.."


Camelia melirik kearah telapak tangan Attila yang di sodorkan kehadapan nya.


Tadinya Camelia hanya berpura-pura marah, berharap,


Attila akan membujuknya merayu nya, meminta maaf agar dia tidak lagi marah padanya.

__ADS_1


Memberi dua kado kecil sebagai ungkapan pernintaan maafnya.


Tapi kini bukannya yang dia inginkan yang Attila berikan.


Si bebal itu malah memberitahunya, bahwa dua kembali karena Guo Yun, Guo Yun si manusia yang paling menyebalkan sedunia itu.


Yang membuatnya paling kesal adalah Attila baru mau kembali karena menemukan jawaban kertas kertas sialan ini sebagai bukti.


Attila baru mau percaya dengan nya dan merasa bersalah, setelah melihat bukti bukti sialan ini..


Jadi selama ini sikap mesra sayang dan cinta kasih serta perhatian yang dia tumpahkan ke Attila serasa percuma, kalah dengan kertas kertas sialan ini.


Berpikir sampai disini Camelia sudah tidak bisa menahan diri untuk melepaskan emosi nya.


Dia langsung merebut dan melempar jauh jauh kertas di tangan Attila.


Lalu dengan wajah penuh emosi dia berbalik menatap ke arah Attila. dan berteriak marah,


"Jadi kamu pergi karena kertas sialan itu, kembali juga karena kertas sialan itu..!?"


"Attila kamu benar-benar jahat..!'


"Aku membenci mu...! aku benar benar membenci mu..!"


"Kamu pergilah jauh jauh,.. jangan pernah muncul di hadapan ku lagi..!"


"Atau aku akan bunuh diri di hadapan mu..!"


"Pergi,..! cepat enyah..dari kehidupan ku..!"


teriak Camelia marah sambil melayangkan tangannya kearah wajah Attila.


"Plakkkk...!"


Wajah Attila langsung terlempar kesamping terkena tamparan keras dari Camelia.


Attila menatap bingung kearah Camelia dan berkata,


"Camelia maafkan aku,..aku..aku..benar benar minta maaf.."


"Tidak,..! tidak perlu lagi..! kamu pergi saja..!"


teriak Camelia sambil menunjuk kearah jalan untuk meninggalkan tempat itu dengan tangan gemetaran menahan emosi.


Sedangkan wajah kembali terlihat basah oleh airmata nya yang kembali jatuh bercucuran .


Attila menatap dengan bingung kearah Camelia, secara bergantian dengan jalan yang di tunjuk oleh Camelia agar dia pergi dari sana.


Satu sisi dia berat untuk pergi, satu sisi lainnya, dia takut takut Camelia benar benar memenuhi ucapan nya.


Dia tahu benar sifat Camelia yang keras, bukan tidak mungkin dalam keadaan emosi, dia bisa saja melakukan ancamannya tadi.


"Baiklah aku pergi, maafkan aku Camelia, kamu jangan bersedih dan marah lagi.."


"Dalam hal ini aku lah yang salah, aku telah merusak kebahagiaan kita.."


"Maafkan aku Camelia.."


ucap Attila bangkit berdiri lalu dia berjalan mundur menjauhi Camelia.


Sesaat kemudian dengan wajah sedih dan penuh rasa bersalah, dengan kepala tertunduk dalam dalam, Attila membalikkan badannya berjalan pergi dari sana.


Melihat Attila benaran pergi, Camelia kini yang kaget.


Dia tidak serius mengusir Attila, dia hanya emosi saja.


Semua kata kata yang dia keluarkan, semua tidak serius hanya ucapan orang emosi saja.


Melihat Attila benar benar mau pergi, Camelia menjadi panik.


"Attila kamu tahan...!"


teriak Camelia kembali.


Attila tentu saja langsung menahan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap kearah Camelia.


Dengan wajah bingung dua berkata,


"Ya Camelia..."


Belum sempat dia bertanya, Camelia sudah berlari maju menghampirinya.


Camelia langsung menubruk kedalam pelukan nya, menangis sedih di sana.


Sesaat kemudian tanpa memperdulikan ekspresi wajah bingung Attila, Camelia langsung mendarat kan ciuman hangat dan lembut nya di bibir Attila, untuk meluapkan semua perasaan nya.


Attila awalnya terlihat bingung, tapi akhirnya dia ikut membalasnya dengan tidak kalah hangatnya.


Sesaat kemudian, tanpa menghiraukan teriakan kaget Camelia.


Attila telah menggendong Camelia dengan lembut, sambil memegang erat bagian paha Camelia dengan tangan kanan nya, Sedangkan tangan kiri dia letakkan di bagian bawah ketiak Camelia.


Camelia pun melingkarkan tangan kanan nya dengan manja di belakang leher Attila, sedangkan tangan yang lainnya dia gunakan untuk memegang baju di bagian dada Attila dengan erat.


Kepalanya dia sandarkan di dada Attila yang bidang dengan manja sambil tersenyum bahagia.


Justru tanpa berkata-kata, Attila merasa semuanya lebih nyaman dan indah, dari pada banyak bicara, yang hanya akan mendatangkan masalah yang tidak perlu.


Dengan melangkah santai, sambil menikmati udara sejuk, Attila menuruni undakan tangga menuruni bukit yang menjadi tempat pemakaman keluarga raja raja Xiongnu.


Di tempat lain Guo Yun yang namanya sempat di sebut sebut oleh Attila.


Dia sampai berbangkis berulang kali,


"Dasar bebal, jangan sampai kamu sebut sebut nama ku di depan nya.."


"Kamu hanya menggali lubang kubur sendiri.."


Omel Guo Yun yang curiga dengan tindak tanduk sahabat barunya yang terkadang tidak beda jauh dengan Li Ba adik keduanya itu.


Hanya saja kalau Attila mungkin hanya di bagian asmara saja, sedangkan di bagian lainnya tentu saja tidak.


Guo Yun sampai ke kota Long Cheng sudah menjelang subuh, di mana suara ayam berkokok mulai terdengar oleh nya.


Guo Yun tanpa perlu melewati pintu gerbang yang sedang tertutup rapat.


Dia berlompatan ringan melewati tembok benteng kota Long Cheng, mendarat ringan di dalam kota.


Lalu melanjutkan langkahnya yang sedikit terburu-buru menuju restoran tempat makan daging kaki domba panggang.


Saat tiba di sana, Guo Yun melihat restoran sudah tutup, Xiang Yu kecil terlihat duduk bersandaran di pintu restoran.


Dia tertidur bersandarkan pintu restoran yang tertutup rapat.


Melihat hal ini Guo Yun jadi merasa kasihan.


"Yu er..Yue er.. bangunlah,..ayo ikut dengan paman kita pindah tidur di penginapan.."


tegur Guo Yun.


Melihat Xiang Yu kecil tidak juga kunjung bangun.


Guo Yun akhirnya turun tangan menggendong anak itu, menuju tempat penginapan yang tersedia di kota tersebut.


Datang berkunjung di jam jam luar biasa seperti itu, tentu saja Guo Yun tidak punya banyak pilihan.


Dia hanya bisa memasuki sebuah losmen kecil yang buka 24 jam, di mana petugasnya pun terlihat sedang asyik tidur di kursi santainya.


"Klining,..! Klining,..! Klining,..!"


Guo Yun menggoyang goyangkan lonceng kecil di depan meja petugas jaga itu.


Sehingga petugas jaga itu, langsung terbangun dengan wajah sedikit gelagapan.


"Ehh tuan muda, apa ada yang bisa saya bantu.."


tanya pelayan itu sambil menguap, dia terlihat masih sangat mengantuk.


Guo Yun sambil tersenyum berkata,


"Apa masih ada kamar untuk menginap ?"


"Aku perlu satu, kalau ada yang satu kamar punya dua tempat tidur.."


"Ohh ada tuan, ada yang satu malam 10 tembaga, ada yang 20 tembaga, yang paling tinggi 50 tembaga tuan.."


"Tuan mau yang mana..?"


tanya pelayan itu cepat.


"Yang 50 tembaga aja, antarkan kami ke kamarnya sekarang bisa..?"


tanya Guo Yun balik.


"Bisa tuan itu bukan masalah, yang penting uang deposit nya untuk 2 malam atau 3 malam tuan..itu harus tuan di bayar di muka.."


Guo Yun langsung meletakkan satu Tael perak di hadapan pelan itu dan berkata,


"Apa itu cukup..?"


"Cukup cukup tuan,.. silahkan tuan mari saya antar ."


ucap pelayan itu dengan cepat menyambar uang diatas meja.


Dia lalu mengambil kunci kamar yang akan di sewakan ke Guo Yun, setelah itu dia langsung bergegas mengantar Guo Yun menuju kamarnya.


Begitu sampai di kamar, Guo Yun langsung membaringkan Xiang Yu di atas tempat tidur nya.


Setelah itu Guo Yun baru memperhatikan penjelasan dari si pelayan, tentang fasilitas yang bisa dia terima atas penyewaan kamar ini.

__ADS_1


Setelah pelayan itu selesai menjelaskan dan pergi, Guo Yun baru naik keatas pembaringan nya.


Bersila di sana, melatih Thian Ti Sen Kung, untuk memulihkan kekuatan dan kesegaran tubuh nya.


__ADS_2