LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MUSASHI


__ADS_3

Guo Yun balas melambaikan tangannya dan berkata,


"Yu er kemarilah.."


"Tuan Abu Nawas mengundang kita menemuinya,..ayo.."


Xiang Yu mengangguk gembira, lalu dia mengikuti langkah Guo Yun menyusul pelayan tuan abu Nawas, yang bertindak sebagai penunjuk jalan di depan sana.


Zulkarnaini, tidak ikut, dia memilih mengatur sisa pasukan nya, untuk melakukan penjagaan.


Sebagai profesional dia hanya tahu jalankan tugas, tidak di panggil tentu dia tidak perlu pergi kesana ikut campur urusan orang lain.


Saat tiba di hadapan Tuan Abu Nawas yang sedang di temani oleh tiga belas istrinya yang cantik cantik.


"Tuan,..Pendekar muda sudah saya undang kemari."


ucap pelayan itu dengan sikap sopan penuh hormat.


Abu Nawas memberi kode agar pelayan nya bisa mundur dari sana.


Pelayan itu setelah memberi hormat, dia langsung pergi.


Guo Yun mengangkat kedua tangannya yang terkepal keatas, memberi hormat pada tuan Abu Nawas.


"Terimakasih sudah di undang kemari, kalau boleh tahu ada urusan apa ya,? saya diundang kemari..?"


tanya Guo Yun langsung.


"Ha..ha..ha..ha..!"


"Tidak apa apa tuan pendekar,.saya hanya mau ucapkan terimakasih secara pribadi atas pertolongan anda tadi."


"Tidak ada maksud lain nya.."


ucap Abu Nawas sambil tertawa maju merangkul pundak Guo Yun dengan hangat.


"Ohh itu, itu tidak perlu tuan.."


"Sebagai teman perjalanan dalam satu rombongan, adalah sangat wajar saling tolong menolong.."


"Apalagi sepanjang perjalanan saya dan keponakan saya ini, sudah menikmati berbagai kebaikan dari tuan.."


"Jadi sudah sepatutnya saya turun tangan membantu mengatasi masalah ini..'


ucap Guo Yun sambil tersenyum sopan.


Dari sejak Guo Yun tiba hingga saat ini, ketiga belas istri Abu Nawas yang haus belai kasih sayang pria.


Mereka terus menatap kearah Guo Yun tanpa berkedip.


Mereka sangat kagum dengan ketampanan dan bentuk tubuh Guo Yun yang terlihat sangat menjanjikan kepuasan bagi mereka.


Suami mereka Abu Nawas meski kaya raya, sehat dan cukup tampan.


Tapi bagaimana pun Abu Nawas itu sudah tua dengan di kelilingi istri muda sebanyak itu.


Tentu saja dia sudah agak loyo, tidak mungkin bisa di bandingkan dengan Guo Yun yang tampan dan terlihat masih muda.


Guo Yun tahu hal itu, tapi dia sengaja tidak mau menatap kearah mereka.


Selain demi kesopanan, Guo Yun sendiri memang tidak mudah tertarik dengan wanita cantik.


Di hatinya selamanya hanya ada Gongsun Li Si Si dan Min Min.


Bagi dia mereka bertiga sudah jauh lebih dari cukup.


Guo Yun yang merasa risih, dia mencoba untuk sebisa mungkin untuk pergi melihat kearah mereka.


"Anak muda mari saya kenalkan dengan istri istri saya.."


ucap Abu Nawas, lalu dengan bangga dia memperkenalkan satu persatu istrinya yang cantik cantik dan bertubuh indah Sempurna kepada Guo Yun.


Guo Yun hanya menanggapinya dengan anggukan kecil tanpa berkata-kata.


Dia bahkan tidak mau beradu tatap dengan istri istri Abu Nawas yang sedang berusaha menarik perhatiannya.


Setelah berbasa-basi sejenak, Abu Nawas pun berkata,


"Tuan pendekar, Sudi kiranya tuan pendekar ikut dalam rombongan inti, menemani kami di sini.. sepanjang perjalanan sisa nya ini.."


Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata


"Terimakasih atas tawarannya tuan, tapi Guo Yun lebih suka kebebasan.."


"Biarlah Guo Yun berbaur dengan rombongan di luar saja, disana Guo Yun merasa lebih bebas dan nyaman..."


ucap Guo Yun menolak secara halus.


Abu Nawas menghela nafas kecewa, tapi dia tidak berani memaksa.


"Baiklah tuan pendekar, bila tuan pendekar suatu saat berubah pikiran.."


"Di tempat ini selalu terbuka menyambut kedatangan tuan pendekar, ikut bergabung bersama kami.."


Guo Yun mengangkat kedua tangannya yang terkepal memberi hormat.


Lalu dia segera mengajak Xiang Yu kecil meninggalkan tempat itu.


Tak lama setelah Guo Yun kembali ke barisan belakang perjalanan pun kembali di lanjutkan.


Rombongan yang di kawal oleh pasukan bayaran kadal gurun, kembali bergerak melanjutkan perjalanan mereka.


Sekali ini tanpa halangan mereka semuanya akhirnya tiba di kota Yong.


Setelah tiba di kota Yong, Guo Yun dan Xiang Yu pun memisahkan diri dari rombongan Abu Nawas.


Guo Yun memilih sebuah penginapan yang tidak terlalu besar, tapi cukup rapi dan bersih.


Dia tidak mencari yang besar dan mewah, agar tidak bertemu dengan Abu Nawas dan rombongannya, yang pasti menginap di penginapan mewah dan mahal.


Membawa begitu banyak barang berharga, mereka tidak mungkin bisa menginap di tempat sembarangan, yang tidak bisa menjamin keamanan mereka.


Di kota Yong, Abu Nawas dan rombongannya hanya singgah dua hari, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Guo Yun tetap mengikuti rombongan tersebut dari bagian paling belakang, bergabung dengan pedagang pedagang kecil dan orang orang golongan bawah.


Di kota Yong, Guo Yun melihat Zulkarnain, sudah mengisi kembali kekuatan pasukan nya, dengan tenaga baru dari cabangnya di kota Yong.


Mereka kembali melanjutkan pengawalan mereka menuju Xian Yang.


Ibukota kerajaan Qin, merupakan salah satu kerjaan terbesar di selatan hingga ke barat Utara dan timur.


Sementara Guo Yun Xiang Yu kecil dan rombongan tuan Abu Nawas sedang bergerak menuju Kota Xian Yang.


Di kota Xian Yang sendiri, di dalam sebuah gedung yang cukup besar, mewah dan angker.


Di ruangan Aula pertemuan yang luas.


Terlihat 4 orang berseragam hitam, sedang berlutut di hadapan pimpinan mereka..


Mereka langsung melaporkan semua informasi yang mereka tahu, kepada dua orang pimpinan mereka, yang duduk tenang, di kursi kebesaran mereka.


Mereka menceritakan dengan detil semua kejadian yang mereka alami.


Kedua pimpinan yang duduk di kursi kebesaran itu, mendengarkan dengan penuh perhatian.


Sesaat kemudian setelah cerita mereka selesai.


Orang yang duduk di kursi kebesaran paling tinggi berkata dengan suaranya yang halus lembut.


"Musashi kelihatannya kamu harus turun tangan sendiri ke garis depan.."


"Kemungkinan pemuda yang di ceritakan oleh mereka, adalah pemuda yang sama, dengan pemuda yang di minta oleh rekan kerjasama kita, untuk di lenyapkan."


ucap orang yang duduk di kursi kebesaran, yang berukir naga dan Phoenix.


"Siap ketua, biar hamba pergi menemuinya.."


ucap Pria berwajah persegi, dengan alis tebal hitam seperti golok.


Sepasang godek panjang menghiasi sisi kiri kanan kedua pipinya.


Sepasang matanya sipit tapi tatapan mata nya sangat tajam dan penuh percaya diri.


Potongan rambutnya agak aneh di sekeliling kepala botak, hanya bagian tengah yang di kuncir keatas.


Dia adalah Musashi wakil ketua kelompok misterius ini.


Kelompok ini bernama kelompok bunga matahari.


Mereka berasal dari negeri yang jauh di ujung timur laut sana.


Mereka tadinya beroperasi di daerah laut timur, kemudian masuk melalui Wilayah eks kerajaan Yan.


Dari sana mereka terus mengembangkan sayapnya terus bergerak menuju wilayah Eks kerajaan Qi.


Tapi saat mereka mencoba memasuki wilayah kerajaan Yue.


Mereka di hadang dan berulang kali di pukul mundur oleh pasukan Harimau Hitam yang memilki armada pasukan air yang sangat kuat.


Akhirnya mereka berbelok arah terus memasuki wilayah eks kerajaan Zhao, Wei, hingga tiba di Xian Yang.

__ADS_1


Mereka di sambut baik oleh Ying Zheng yang menerima mereka sebagai mitra kerjasama.


Sehingga kelompok bunga matahari ini, kini di seluruh wilayah Qin berkembang dengan sangat pesat.


Mereka di wilayah kekuasaan Qin bergerak di bidang jasa keamanan.


Anak buah dari seluruh cabang mereka, di seluruh pelosok negeri Qin, bertugas mengumpulkan uang jasa perlindungan keamanan dari semua pedagang dan pengusaha di kerajaan Qin.


Sedangkan di luar wilayah kekuasaan Qin, mereka tetap beroperasi dengan pekerjaan mereka, yakni merampok siapa saja yang melintasi wilayah kekuasaan mereka.


Itulah sekelumit tentang asal usul kelompok ini.


Ketua kelompok bunga matahari mengangguk pelan menanggapi ucapan wakilnya.


"Kalian berempat bantu wakil ketua Musashi, ikuti arahan nya dalam tugas ini.."


ucap ketua kelompok bunga matahari itu dengan suaranya yang lembut merdu sangat nyaman di telinga.


Keempat orang itu memberi hormat dengan sangat patuh.


Sesaat kemudian, mereka berempat mengikuti wakil ketua Musashi meninggalkan ruangan tersebut.


Ketua kelompok bunga matahari menunggu sampai anak buahnya pergi.


Dia baru perlahan-lahan berdiri dari kursinya, melangkah santai meninggalkan ruangan pertemuan tersebut, masuk ke bagian dalam kediamannya.


Ketua kelompok bunga matahari, wajahnya selalu tertutup cadar tidak ada yang pernah melihat wajah aslinya.


Bahkan semua pembantunya, tidak ada yang pernah melihat wajah asli ketuanya itu.


Dari gerak gerik nya, suaranya, sepasang mata dan alisnya, jelas dia adalah seorang wanita.


Hanya saja tidak ada yang bisa memastikan nya, karena ketua mereka yang misterius itu, suka mengenakan pakaian yang berlapis lapis dan longgar longgar.


Sehingga perawakan tubuhnya tidak ada yang tahu persis.


Selain itu hal yang membuat anak buahnya ragu, ketua mereka sangat haus wanita cantik.


Dia tidak pernah menolak bila di suguhkan wanita cantik untuk menemani nya.


Satu lagi kebiasaan anehnya adalah wanita cantik yang di persembahkan ke dia.


Tidak lebih dari 3 hari pasti akan di kirim keluar dari kamarnya, dalam kondisi tidak bernyawa lagi.


Tapi semua anggota kelompok bunga matahari, dari atas hingga bawah, mereka sangat takut dengan ketua nya ini.


Mereka sangat setia dan patuh, bekerja dengan nya melebihi kesetiaan seekor anjing.


Bagi anggota yang berprestasi, setiap awal tahun, hari pertama musim semi.


Mereka masing masing akan mendapatkan sebiji pil bunga matahari.


Bagi mereka yang tidak berprestasi sama sekali, tidak memberikan kontribusi terhadap tugas tugas, yang di berikan oleh organisasi ke mereka.


Mereka tidak akan menerima pil bunga matahari dari ketua mereka.


Bagi yang tidak menerima pil itu, mereka hanya bisa bertahan hidup dengan sangat tersiksa.


Mereka akan mengalami kesakitan yang sangat luar biasa, hingga hari ke 7, mereka baru akan tewas, dengan seluruh tubuh meleleh berubah menjadi cairan yang berbau sangat busuk.


Hal inilah yang membuat seluruh anggota organisasi ini, sangat patuh dan takut dengan ketua mereka.


Di tempat lain rombongan Abu Nawas mulai memasuki sebuah lembah hijau yang di kelilingi oleh batu batu alam yang menjulang tinggi keatas.


Di dalam lembah ini, bila di lihat dari angkasa sana, mereka semua terlihat sangat kecil, seperti barisan semut, yang sedang bergerak dengan pelan pelan, menyusuri wilayah lembah luas itu.


Saat mereka hendak keluar dari mulut lembah, langkah mereka semua terpaksa di hentikan oleh Zulkarnain, sebagai pemimpin tertinggi di barisan pasukan pengawal bayaran Kadal gurun.


Zulkarnaini menatap tajam sekaligus cemas, terhadap kelompok penghadang berbaju hitam yang menghadang perjalanan mereka.


Dari penampilan dan senjata yang mereka bawa, Zulkarnain menemukan para penghadang ini, sama dengan penghadang mereka sebelumnya, di celah sempit sebelum memasuki kota Yong.


Zulkarnaini segera berbisik pada ajudannya,


"Segera pergi panggilkan Tuan pendekar Guo Yun kemari, kita memerlukan bantuan nya.."


Ajudan Zulkarnain menanggapinya dengan cepat, dia segera meninggalkan tempat itu, sambil menunggangi kuda nya.


Guo Yun yang sedang duduk santai, sambil makan buah anggur, yang di kirim oleh pelayan Abu Nawas untuk nya.


Melihat kedatangan ajudan Zulkarnain, yang terlihat terburu buru dan agak gugup.


Guo Yun pun menghentikan makannya untuk sementara waktu dan berkata,


"Tidak perlu panik katakan saja, ada masalah apa..?"


Ajudan Zulkarnain langsung melompat turun dari punggung kuda nya dan berkata,


Guo Yun mengangguk tenang, dia sudah menduga cepat lambat kelompok itu pasti akan kembali.


Mereka pasti akan berusaha untuk menebus rasa malu kekalahan mereka tempo hari.


Guo Yun menoleh kearah Xiang Yu kecil dan berkata,


"Yu er kamu tunggu di sini sambil makan.."


"Paman ada perlu mau kedepan sebentar.."


"Pergilah paman, Yu Er akan tunggu di sini.."


ucap Xiang Yu kecil tenang.


Guo Yun membelai kepala Xiang Yu kecil, setelah itu dia langsung bergerak mengikuti ajudan Zulkarnain meninggalkan tempat itu.


Saat tiba di barisan depan, Guo Yun melihat barisan pasukan berbaju hitam itu, belum ada yang bergerak.


Mereka masih berbaris rapi di belakang 5 orang yang berdiri di barisan paling depan.


4 dari lima orang itu, Guo Yun mengenali mereka.


Mereka adalah lawannya tempo hari yang menggunakan kabut asap warna warni melarikan diri.


Seorang lainnya yang ber godek panjang di kedua sisi wajahnya, Guo Yun baru pertama kali bertemu dengan orang ini.


Dia tidak mengenakan topeng penutup wajah, sehingga Guo Yun bisa mengenali wajahnya dengan jelas.


Berbeda dengan keempat lawannya sebelumnya, mereka berempat hingga kini masih menutupi wajah mereka dengan rapat.


Mereka belum juga bergerak, Guo Yun menduga, mereka ada kemungkinan sedang menanti dirinya.


"Siapa kamu ? apa mau kalian ?"


tanya Guo Yun tenang.


"Aku Musashi,hari ini datang untuk menantang mu duel.."


ucap pria itu dengan logat yang kaku, tapi masih bisa terdengar dengan jelas.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Coba saja, aku selalu siap kapan pun.."


"Majulah.."


ucap Guo Yun sambil melambaikan jarinya kearah Musashi memintanya untuk maju.


Guo Yun bukannya memandang rendah lawannya, tapi dia sengaja bertingkah seperti itu untuk memancing emosi lawannya.


Sehingga dia ada celah untuk mengalahkan lawannya itu.


"Sringggg...!"


Pedang tajam panjang satu sisi Musashi, yang di hiasi bayangan gerigi kecil di kedua sisi badan pedang, terlihat berkilauan tertimpa cahaya matahari.


"Hyaaaaaat..!"


Dalam satu teriakan keras, Musashi bergerak dengan kecepatan luar biasa memberikan beberapa serangan kearah Guo Yun.


"Cuiiitt,..!" "Cuiiitt,..!" "Cuiiitt,..!"


"Cuiiitt,..!" "Cuiiitt,..!" "Cuiiitt,..!"


"Cuiiitt,..!" "Cuiiitt,..!" "Cuiiitt,..!"


Bayangan putih berkilauan, melesat bagaikan petir menyambar nyambar seluruh tubuh Guo Yun dari atas hingga kebawah.


"Sreettt..!""Sreettt..!" "Sreettt..!"


"Sreettt..!""Sreettt..!" "Sreettt..!"


"Sreettt..!""Sreettt..!" "Sreettt..!"


Tapi Guo Yun dengan gerakan tenang berlompatan, bergulingan, melangkah kesana kemari dengan cepat.


Sehingga cahaya berkilauan itu selalu lewat Dua atau tiga Cun di dekat bagian tubuhnya yang diserang.


Tidak hanya menghindar, Guo Yun mulai melepaskan energi pedang cahaya merah putih membalas menyerang balik ke arah lawannya.


"Singggg..!" Singggg..!" Singggg..!"


"Singggg..!" Singggg..!" Singggg..!"

__ADS_1


"Singggg..!" Singggg..!" Singggg..!"


Musashi mampu bergerak lincah menghindari hawa hawa pedang yang Guo Yun lepaskan.


Dalam waktu sekejab mata, mereka masing masing sudah saling serang dengan puluhan tebasan berbahaya.


Tapi sejauh ini pertandingan masih berjalan dengan imbang, masing masing saling serang dengan gerakan kecepatan tingkat tinggi.


Musashi di dalam hati sangat kaget dengan kemampuan lawannya.


Dua sudah melepaskan hampir 50 tebasan tapi satu pun belum mengenai sasaran.


Padahal selama ini, dalam setiap duelnya tidak sampai 3 tebasan, lawannya pasti sudah terluka parah.


Sebelum memasuki tebasan kesepuluh, lawannya pasti sudah kehilangan nyawa.


Tapi kini situasi nya, benar benar di luar dugaan, pantas saja 4 pelindung organisasi bunga matahari, bisa kalah di tangan Guo Yun.


Batin Musashi sambil mencari akal yang tepat untuk mengakhiri pertarungan ini.


Guo Yun sendiri juga kagum dengan pergerakan Musashi yang sederhana, tapi mematikan, sangat efektif dalam menyerang.


Pergerakan Musashi terlihat lebih ganas menyerang, sedangkan pertahanan kurang di perhatikan.


Tapi herannya, setiap kali Guo Yun balas menyerang, dia hanya dengan menggeser kaki dan tubuhnya.


Serangan Guo Yun selalu berhasil dia hindari dengan baik, di detik detik hampir mencapai sasaran.


Guo Yun akhirnya mulai mengeluarkan jurus 8 arah mata angin.


Tubuh Guo Yun terbelah menjadi 8 masing masing menyerang Musashi dari 8 penjuru arah.


Sehingga Musashi di buat seperti sedang . menghadapi lawan dari 8 penjuru.


.


Tapi Musashi tidak kehabisan akal, berdasar pengalaman tarungnya.


Dia memutar pedangnya. dan tubuhnya bergerak dengan sangat cepat berputar-putar seperti gasing.


Sehingga di sekeliling nya, terlihat terbentuk gulungan cahaya, mirip gulungan benang yang berbentuk lonjong.


"Tranggg,..! Tringgg...! Tranggg..!"


"Tranggg,..! Tringgg...! Tranggg..!"


"Tranggg,..! Tringgg...! Tranggg..!"


Terdengar suara benturan benda logam dengan bunga api berpijar pijar.


Padahal yang berbenturan dengan pedang Musashi, hanyalah energi pedang yang Guo Yun lepaskan.


Bukan pedang sejati, karena Guo Yun sejak pertarungan dengan Attila.


Dia sudah tidak memilki pedang satupun untuk menghadapi lawan lawan nya.


Untuk menghadapi lawan lawannya, Guo Yun hanya bisa menciptakan energi pedang sebagai pengganti pedangnya.


Musashi yang tubuh dan pedang nya menyatu, dia terus berputar-putar, menciptakan gulungan angin tornado.disekitar nya, menghalau semua serangan yang datang.


Sesekali dari balik gulungan tornado, akan melesat keluar pedangnya melakukan serangan Bali yang laksana kilat.


""Tranggg,..! Tringgg...! Tranggg..!"


""Tranggg,..! Tringgg...! Tranggg..!"


""Tranggg,..! Tringgg...! Tranggg..!"


Serangan pedang Musashi yang mencuat dari balik gulungan pusaran tornado.


Selalu berhasil Guo Yun tangkis dengan kedua tangannya yang kerasnya melebihi baja.


Karena terlindungi oleh hawa sakti Thian Ti Sen Kung.


Mereka berdua masih saling serang sambil mencari akal untuk menjatuhkan musuh yang sangat berimbang ini.


Tiba-tiba Musashi mulai membuat tubuhnya yang berputar putar, menerjang menabrak kearah Guo Yun tanpa henti.


Guo Yun menggunakan Thian Ti Sen Kung yang dahsyat untuk membuatnya terpental.


Tapi setelah terpental, lawannya terus kembali lagi menabrak kan diri kearahnya.


Perlahan-lahan Guo Yun mulai merubah pola permainan silatnya.


Begitu jurus Je Yek Sen Cang mulai dia mainkan.


Hawa disekitar mereka mulai berubah menjadi dingin membeku, lalu berubah menjadi panas membakar silih berganti, dilepaskan dari Guo Yun.


Musashi konsentrasi nya mulai terganggu, dengan ilmu andalan Guo Yun yang membuat suhu udara di sekitarnya terus berubah ubah secara drastis.


Di saat Musashi mulai kebingungan, menghadapi keunikan jurus Je Ye Sen Cang.


Guo Yun dengan cerdik mulai membentak bentak Musashi dengan suaranya yang mengandung kekuatan magis.


"Musashi kamu sudah lelah,..!!"


"Menyerahlah..!"


bentak Guo Yun dengan kekuatan magisnya.


Guo Yun berhasil membuat Musashi melangkah mundur dengan tubuh terhuyung-huyung kebelakang, kehilangan kestabilan nya.


Musashi merasa tubuhnya seperti di landa oleh kekuatan tekanan yang sangat dahsyat.


Kekuatan dahsyat itu terus memaksa dirinya untuk menyerah.


Seluruh tubuh nya terasa sangat lelah, sangat sulit di ajak berkompromi.


Seolah-olah tidak mau lagi menuruti keinginan nya.


"Dasar curang,..!"


teriak Musashi kesal.


Sebisa mungkin dia mempertahankan diri agar tidak jatuh dalam pengaruh ucapan dan tatapan mata Guo Yun.


Melihat Musashi kondisinya mulai labil, Guo Yun dengan gerakan cepat memberikan tebasan cahaya merah dan putih meluncur kearah Musashi.


"Wussss...!"


"Wussss...!"


Dua berkas cahaya merah dan putih melesat cepat menerjang kearah Musashi.


Di detik-detik akhir, Musashi menjatuhkan diri nya bergulingan diatas tanah.


Sehingga serangan Guo Yun lewat diatasnya.


Tiba-tiba Musashi bukan hanya sekedar menjatuhkan diri nya diatas tanah.


Tapi lebih dari itu, dia menyusup kedalam tanah.


Terlihat tanah tempat Musashi menyusup kedalam tanah, saat dia bergerak tanah diatas nya sedikit mengembung keatas.


Tanah yang mengembung itu, bergerak dengan sangat cepat mengejar kearah Guo Yun.


"Hyaaaaaat..!"


teriak Guo Yun sambil mendorongkan kedua tangannya menyerang gundukan tanah yang bergerak cepat kearah nya.


"Blaaarrr...! Blaaarrr...! Blaaarrr...!"


"Blaaarrr...! Blaaarrr...! Blaaarrr...!"


"Blaaarrr...! Blaaarrr...! Blaaarrr...!"


Terjadi Ledakan keras diatas tanah, di mana tanah yang menjadi sasaran pukulan Guo Yun meledak membentuk lubang lubang yang cukup dalam di mana mana.


Tanah batu pasir berhamburan keudara menutupi jarak pandang.


Disaat keadaan di sekitarnya kurang jelas, tiba tiba Musashi terbang keluar dari dalam tanah.


Dia muncul dari arah belakang Guo Yun, menebaskan pedang panjangnya, melakukan gerakan tebasan vertikal dari atas kebawah, sambil berteriak dahsyat untuk meningkatkan kekuatan serangannya.


"Hyaaaaaat...!"


"Singggg...!"


Guo Yun yang sedang sibuk mengincar gundukan tanah yang bergerak lincah kesana kemari, menghindari tiap serangan nya.


Saat serangan Musashi tiba dia tidak sempat menangkis ataupun menghindar.


Sehingga dia hanya bisa memiringkan kepalanya kesamping, menghindari benturan pedang dengan batok kepalanya.


Mengorbankan bahunya yang penuh dengan tenaga sakti Thian Ti Sen Kung, menyambut serangan tak terduga itu.


"Crack...!"


"Ahhhhhh...!"


Musashi berteriak kaget dengan sepasang mata membulat kaget.

__ADS_1


Darah terlihat bercucuran dari bahu Guo Yun yang terluka, pedang Musashi terlihat menempel di sana, tidak mampu ditarik kembali.


__ADS_2