
Guo Yun lantas teringat dengan macan tutul sahabatnya, yang juga ibu susunya dulu.
Guo Yun mendayung rakitnya mendekati tepian sungai.
"Yun ke ke, mengapa kamu malah mendekatinya, itu bisa bahaya.."
ucap Min Min heran.
Guo Yun menggeleng kan kepalanya dan berkata,
"Kamu tenang saja..aku mau mengamatinya dari dekat.."
"Kamu lupa cerita ku, aku dulu di susui oleh macan sewaktu kecil..?"
Min Min sambil tersenyum berkata,
"Tentu aku tidak akan pernah lupa, hanya saja bila salah mengenalinya.."
"Dia bisa saja melompat keatas rakit menyerang kita."
ucap Min Min ragu.
Guo Yun tersenyum tenang dan berkata,
"Kamu tenanglah, ada aku tidak akan ada masalah.
Guo Yun terus mendayung mendekati macan tutul yang terus menatap kearah nya dengan tajam
Guo Yun mengamati dari dekat beberapa bekas luka yang menjadi ciri khas sahabatnya itu.
"Teman ku,..Ta Mao masih ingatkah kamu pada ku ?"
tanya Guo Yun.
Macan tutul itu tidak merespon dia diam saja, masih terus menatap tajam.
Dari bekas luka di tubuhnya, Guo Yun yakin inilah Ta Mao teman baiknya.
Kelihatannya Ta Mao pun masih mengingatnya, hanya saja dia ragu.
Karena dulu Guo Yun masih anak 15 tahun sedangkan dia kini jelas sudah dewasa karena sudah berumur 25 tahun.
Untuk membuat sahabatnya itu tidak ragu dan mengenalinya.
Guo Yun mengulurkan tangannya.
Mendekati moncong macan tutul itu, meski itu tindakan sangat berbahaya.
Tapi Guo Yun bersikap santai saja, dia terus mengulurkan tangannya kearah moncong macan tutul itu.
"Growwww..!"
Macan itu mengeram dan menunjukkan taringnya.
Min Min otomatis bergerak mundur kebelakang mencoba menjauh.
Tapi Guo Yun bersikap beda, dengan percaya diri, Guo Yun meletakkan telapak tangan nya di dekat moncong macan tutul itu.
Rakit yang di tumpangi Guo Yun kini sudah merapat di pinggiran sungai itu.
__ADS_1
Macan tutul itu mencium cium tangan Guo Yun sebentar, tiba tiba dia mengulurkan lidah menjilati telapak tangan Guo Yun.
Lalu menggunakan kepala dan lehernya untuk di gesek gesekan ketangan Guo Yun.
Dengan gembira Guo Yun berkata,
"Ta Mao kamu sudah mengenali ku..?"
"Baguslah teman ku, "
ucap Guo Yun sambil melompat ringan ke darat untuk bermain dan bercengkrama dengan macan tutul itu.
Mereka berpelukan dan bergulingan melepas rasa rindu.
Beberapa saat mereka bermain.
Muncul 4 ekor macan tutul berukuran mini yang terlihat lucu dan menggemaskan.
Keempat macan tutul kecil itu, melihat Guo Yun asyik bercengkrama dengan induknya.
Mereka justru menghampiri Min Min yang kini sudah ikut mendarat, dan sedang menonton kedekatan Guo Yun dan induk macan tutul itu sambil tersenyum.
Setelah mendekati Min Min bagaikan 4 ekor kucing berbulu halus.
Keempat ekor macan tutul mini itu, menggosok gosokan badan mereka ke kaki Min Min.
Melihat hal itu, Min Min pun berjongkok dan membelai kepala dan leher mereka dengan lembut.
Hingga 4 macan mini berguling guling diatas tanah, membiarkan bagian perutnya di belai belai oleh Min Min.
Induk macan tutul tahu hal itu, tapi dia tidak bereaksi, karena percaya penuh pada Min Min yang datang bersama Guo Yun.
"Ta Mao antarkan aku kembali kerumah, aku ingin menemui ayah ibu ku.'
Induk macan tutul terlihat meragu, menggereng pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Ta Mao, apa ada penguasa lain yang menguasai rumah lama ku..?"
tanya Guo Yun pelan.
Induk Macan yang di panggil Ta Mao (Kucing Besar ) menggereng kecil dan mengangguk.
Guo Yun tersenyum dan membelainya dengan lembut, lalu menciuminya dan berbisik.
"Sekarang aku sudah pulang, kamu takut apa ?"
"Kamu lupa, Macan hitam besar dan beruang api siapa yang membunuhnya.."
Ta Mao akhirnya mengangguk ragu, lalu dia bergerak menjadi petunjuk jalan.
Ta Mao sambil melangkah mengeluarkan suara pelan, keempat anaknya yang sedang asyik bermain dengan Min Min.
Segera berlari menyusul induknya, tapi ada satu ekor yang betah dengan Min Min, dia malah melompat kedalam pelukan Min Min.
Min Min menggendongnya, sambil bergerak menyusul Guo Yun.
Mereka bergerak menerobos hutan mengikuti Ta Mao, menembus hutan rimba yang lebat.
Saking lebarnya pepohonan besar tumbuh, cahaya matahari tidak terlalu bisa menembus hingga kedalam hutan.
__ADS_1
Hal itu membuat cuaca di balik hutan terasa agak remang remang.
Tapi ada Ta Mao yang menjadi penunjuk jalan, mereka tidak perlu takut tersasar.
Ta Mao sangat hapal, apalagi Ta Mao memiliki penciuman yang tajam.
Perjalanan pun menjadi jauh lebih mudah, Ta Mao juga tidak memilih jalan yang harus melewati rerimbunan semak belukar.
Dia memilih melewati daerah pepohonan dan tanah datar, terkadang mereka melewati genangan air sungai dangkal.
Beberapa waktu menempuh perjalanan, gerakan Ta Mao semakin melambat saat mendekati komplek yang menjadi tempat tinggal Fan Li dan Guo Yun dulu.
Dari sikapnya, Guo Yun menangkap, Ta Mao sangat takut dengan penghuni baru itu.
Saat semakin dekat dan pintu depan rumah dan halaman depan rumah Guo Yun mulai terlihat.
Ternyata di depan halaman rumah Guo Yun ada beberapa ekor anak harimau yang berbadan jauh lebih besar dari anak anak Ta Mao sedang asyik bermain di sana.
Tapi pergerakan mereka terhenti,saat mereka mendeteksi ada bau lain yang sedang mendekati area' kekuasaan mereka.
Keempat anak harimau itu langsung menggereng marah menunjukkan sikap tidak bersahabat.
"Grrrrrroww..!"
Grrrrrroww..!"
Grrrrrroww..!"
Suara keributan itu mengundang sepasang harimau bertubuh Segede sapi muda, bergerak keluar dari dalam pondok kediaman Guo Yun.
Ta Mao buru buru bergerak mundur menjauh, dan memberi kode agar anak anaknya ikut dengan nya.
Hanya Guo Yun seorang diri yang berjalan memasuki halaman yang ditempati oleh keempat anak harimau yang sedang menggereng penuh ancaman.
Guo Yun bersikap tenang, terus melangkah mendekati mereka.
Sebelum keempat anak harimau maju menerkam Guo Yun.
Induk harimau dari atas tangga pondok kediaman lama Guo Yun, mengeluarkan gerengan kode.
Agar anak anaknya mundur menjauhi Guo Yun.
Pasangan harimau itu sadar, Guo Yun yang sikap nya sangat tenang dan percaya diri tentu akan menjadi ancaman serius buat anak anak mereka yang kurang berpengalaman.
Sambil mengeluarkan suara gerengan marah kedua ekor harimau sebesar sapi muda.
Melompat ringan kearah halaman, setelah mengeluarkan gerengan beberapa kali, sambil memamerkan taring mereka yang panjang dan runcing.
Secara bergantian kedua Harimau besar itu sudah menerkam kearah Guo Yun.
"Grrrrrroww..!"
"Grrrrrroww..!"
"Grrrrrroww..!"
Terkaman mereka di hindari oleh Guo Yun dengan mudah.
Begitu terkaman pertama gagal, mereka langsung membalikkan badannya.
__ADS_1
Lalu berlari cepat dan kembali bergerak menerkam dengan sepasang cakar depan nya, yang besar dan tajam.