
Li Ba sangat terkejut dia langsung terbangun, saat merasa ada yang menepuk bahu dan menegurnya agar bangun.
"Ehh ka,.. kakak Li ka,.. kamu su..sudah sadar syu,..syukurlah."
ucap Li Ba dengan suaranya yang gagap.
"Adik Ba kamu yang menolong ku kemari ? terimakasih ya ? tapi mana yang lain..?"
tanya Gongsun Li penasaran.
"Bu,..bukan aku ta,..tapi kakak Yun yang me,..menolong kakak.."
ucap Li Ba sambil menatap Gongsun Li dengan polos.
"Kakak Ching ke dia ada di mana ?"
tanya Gongsun Li mencemaskan Ching Ke.
"Ka,.. kakak pertama ba,..baik baik saja, dia dan se,,seluruh rombongan berhasil mun..mundur.. de..dengan se.selamat.."
"Di,..disini ha.. hanya ada ki..kita berti..tiga saja."
Mendengar hal itu, meski hatinya terasa sedikit kecewa, tapi dia tetap merasa lega Ching Ke tidak apa-apa.
"Guo Yun,.. dia di mana sekarang ?"
tanya Gongsun Li, sedikit heran.
Karena tidak biasanya Guo Yun berpisah dari Li Ba.
Li Ba menunjuk dengan lesu kearah kemah, yang bersebelahan dengan kemah tempat Gongsun Li di rawat.
"Ka,.. kakak Yun ada di..disana.."
ucap Li Ba sedikit sedih dan lesu.
Melihat sikap Li Ba yang tidak seperti biasanya, Gongsun Li menjadi curiga.
Dia buru-buru melangkah menuju kemah yang di tunjuk oleh Li Ba.
Saat Gongsun Li masuk kedalam kemah, dia berdiri terbelalak melihat Guo Yun yang terbaring lemah dengan mata terpejam.
Seluruh bagian punggungnya terlihat penuh luka berdarah, dua orang tenaga perawat di bawah pengawasan seorang tabib tua.
Terlihat sedang merawat dan mengobati luka luka yang di deritanya.
Tanpa perlu di jelaskan, Gongsun Li yang bukan gadis bodoh, dia juga paham.
Guo Yun lah yang kembali menggunakan taruhan nyawa menyelamatkan diri nya kemari.
Dia jadi teringat ucapan Guo Yun saat rapat di kemah, yang membahas keselamatan dirinya.
"Adik Yun mengapa kamu harus seperti itu,..?"
"Aku tidak layak untuk pengorbanan itu.."
"Maafkan aku yang hanya mencintai dia.."
gumam Gongsun Li pelan, dengan airmata bercucuran.
__ADS_1
Di dalam hati Gongsun Li berpikir, Alangkah akan baiknya, bila Ching Ke memiliki setengah saja, perhatian seperti Guo Yun padanya.
Dia tentu akan benar-benar merasa jauh lebih bahagia, bila ada hari Ching Ke akan berubah seperti itu..
Gongsun Li yang tidak kuat menyaksikan luka dan penderitaan yang di alami oleh Guo Yun.
Akhirnya dia memilih keluar dari dalam kemah.
Sambil duduk didepan kemah, Gongsun Li menggunakan tangannya menutupi mulutnya sendiri.
Gongsun Li berusaha menahan suara tangisannya, agar tidak terdengar keluar.
Tapi dia tetap tidak bisa menahan airmata nya, yang jatuh bercucuran.
membasahi kedua pipinya, yang berkulit putih kemerahan.
Di tempat lain Pangeran Ji Ao yang mendapat laporan, bahwa dia kehilangan Guo Yun, Li Ba dan Gongsun Li.
Pangeran Ji Ao terduduk lemas di sandaran kursi nya, dengan suara pelan dia berkata,
"Kabarkan situasi darurat di sini ke Mo Zi dan Konfusius, semoga mereka berdua ada solusinya.."
"Siap Yang Mulia pangeran,.."
ucap pengawal itu cepat, sambil bergerak mengundurkan diri dari sana.
Pangeran Ji Ao memijit mijit kening di kepalanya, yang terasa sakit.
Dia benar benar merasa pusing memikirkan situasi saat ini.
Dengan kehilangan ketiga orang itu, dia benar benar merasa pusing 7 keliling.
Kehilangan Gongsun Li, istrinya Gongsun Yan pasti bersedih, itu juga merupakan satu kepusingan tersendiri untuknya.
Tadinya dia menaruh harapan besar pada Guo Yun dan Li Ba, untuk menolong Zhong Yu dari kepungan.
Tapi kini kelihatannya semua menjadi sia sia.
Harapan tinggal harapan semua nya kini jadi harapan kosong.
Setelah puas menangis, melepaskan kesedihannya, Gongsun Li memilih pergi kedapur umum untuk memasak sup buat Guo Yun.
Selesai memasak, dia membawa sendiri sup jamur itu, ke kemah dimana Guo Yun di rawat.
Saat Gongsun Li datang, Guo Yun sudah siuman, seluruh luka di punggungnya sudah di balut dengan rapi.
Guo Yun yang terbaring dalam posisi telungkup tersenyum lebar saat melihat Gongsun Li datang mengunjunginya,
"Kakak Li,.. kamu sudah sadar ? syukurlah.."
"Bagaimana keadaan mu sekarang..?"
tanya Guo Yun penuh perhatian.
"Keadaan ku sangat baik, justru keadaan mu yang mengkhawatirkan.."
ucap Gongsun Li sambil berjalan menghampiri Guo Yun.
"Kakak Li tenang saja, nyawa ku keras, tidak semudah itu mati.."
__ADS_1
"Ini cuma luka kulit saja, satu atau dua hari juga sembuh.."
ucap Guo Yun enteng, untuk menenangkan Gongsun Li.
"Gara gara aku kamu jadi begini, kamu suruh aku bagaimana bisa tenang..?"
ucap Gongsun Li pelan, sambil duduk di sisi ranjang Guo Yun.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Lalu bagaimana cara nya agar kakak Li bisa merasa tenang ?"
"Katakan saja, asal kan Guo Yun mampu, Guo Yun pasti akan lakukan buat kakak.."
Gongsun Li menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Adik Yun,..kamu tidak seharusnya berkorban seperti ini buat ku.."
"Aku tidak pantas menerima pengorbanan mu.."
"Kamu kan tahu di hati ku selamanya hanya milik.."
"Cukup kakak Li, Yun er paham tak perlu di katakan.."
"Agar kakak Li tenang, setelah semua ini berlalu, Yun er pasti akan pergi jauh jauh dari kehidupan kakak Li dan dia, agar kakak Li bisa merasa lebih tenang.."
"Ehh bukan itu maksud ku.."
ucap Gongsun Li merasa tidak enak hati.
Guo Yun tersenyum lembut dan berkata,
"Sudahlah lupakan saja, lebih baik saat ini kakak Li bantu suapin sup itu ke aku."
"Dari wanginya saja kelihatannya sup itu pasti sangat lezat.."
Gongsun Li menghela nafas panjang, sambil mengangguk kecil .
Dia kemudian mulai menyuapi Guo Yun sesendok demi sesendok.
"Hmmm,.. benar dugaan ku, sup ini sungguh sangat lezat,.. terimakasih kakak Li.."
"Kalau kamu menyukainya, tiap hari aku akan memasakkan nya untuk mu.."
ucap Gongsun Li sambil tersenyum.
Gongsun Li berpikir, bila dia bisa melakukan sesuatu membantu Guo Yun pulih kembali, perasaan nya tentu akan jadi jauh lebih baik.
Guo Yun yang cerdas tentu bisa menebak jalan pikiran Gongsun Li.
"Tentu saja aku sangat menyukainya, guru Mo Zi tidak salah, masakan kakak adalah yang paling enak di dunia ini.."
Sambil menahan tawa, Gongsun Li berkata,
"Jangan asal bicara, bagaimana bila nanti terdengar oleh ibu mu.."
"Ibu mu pasti akan marah dan kecewa.."
Guo Yun tersenyum pahit dan berkata,
__ADS_1
"Aku dari lahir sudah tidak punya ibu, ibu yang menyusui ku adalah seekor macan, dan beberapa ekor kambing hutan.."
"Apa yang perlu aku khawatirkan..?"