
Sian Sian kembali teringat dengan masa masa pahitnya di Su Yuan.
Melihat hal itu Guo Yun pun buru buru berkata,
"Sini punggungnya, biar kakak bantu oleskan obat.."
"Sian er jangan bersedih, justru lewat tempaan kesulitan...kita baru bisa tumbuh dewasa.."
"Kita bisa belajar mensyukuri setiap apapun, yang kita dapatkan..benar tidak.."
Sian Sian memunggungi Guo Yun, sambil melihat kearah sungai.
Dia terlihat melamun, merenungkan, ucapan Guo Yun.
Tiba-tiba dia tersenyum dan berkata,
"Kakak benar, sekarang Sian Sian jadi mengerti.."
"Dulu sewaktu bersama kakek, mau angin dapat angin mau hujan dapat hujan, Sian Sian tidak pernah mensyukurinya.."
"Bahkan Sian Sian sering menganggap sepele dan membuangnya, bila bosan dan tidak suka.."
"Sian Sian tidak pernah menghargai jerih payah untuk memperolehnya.."
"Kini setelah melewati masa masa sulit itu, Sian Sian mulai mensyukurinya, dan sangat merindukan semua yang pernah Sian Sian sia sia kan dulu.."
ucap Sian Sian penuh semangat.
Guo Yun hanya menanggapinya dengan tersenyum, sambil dengan hati hati, dia membantu mengoleskan salep luka di punggung Sian Sian.
Salep luka itu, membuat rasa perih dan gatal di punggung Sian Sian terasa dingin dan nyaman.
Sehingga Sian Sian terlihat cukup menikmati proses pengobatan tersebut.
"Sudah selesai, sekarang pergilah istirahat.."
ucap Guo Yun tersenyum.
Dengan sikap malu malu Sian Sian berkata,
"Kakak Yun, boleh Sian Sian pinjam salep itu sebentar, Sian Sian mau.."
Sian Sian terlihat ragu dan malu mengucapkan nya.
Guo Yun mengerti, dia memberikan salep itu dan berkata,
"Bawalah, tapi jangan di hilangkan, luka di punggung mu, mungkin masih perlu dua hari lagi baru bisa pulih.. "
"Terimakasih kak Yun,.."
ucap Sian Sian gembira.
Lalu dia membawanya, ke kamar kecil yang terletak di ujung belakang perahu.
Setelah Sian Sian pergi, Guo Yun mencelupkan lengannya yang penuh dengan aliran listrik menyambar nyambar kedalam air sungai.
Sesaat saja ikan ikan di dasar sungai, yang berukuran besar pada mabuk mengambang keatas sungai.
__ADS_1
Guo Yun lalu dengan mudah menangkapnya satu persatu, Guo Yun memilih ukuran sedang, agar dagingnya tidak kaku dan alot.
Guo Yun juga menangkap cukup banyak udang sungai.
Sesaat kemudian, Guo Yun sudah terlihat sibuk membakar ikan,udang, di bantu oleh Li Kui yang terlihat gembira.
Karena seumur hidup, dia baru pertama kali, melihat cara menangkap ikan yang begitu mudahnya.
Setelah matang, dan siap semua nya, Guo Yun baru membangunkan Sian Sian untuk menikmatinya bersama sama.
Mereka bertiga makan ngobrol tertawa dan bercanda dengan penuh keceriaan.
Dalam 3 hari perjalanan, luka luka di punggung Sian Sian mulai sembuh.
Guo Yun sendiri juga sudah mulai mampu mengendalikan perahu, sehingga, Li Kui bisa bergantian dengan Guo Yun pergi istirahat.
Li Kui sendiri juga mulai menerima tehnik dasar menghimpun tenaga dalam dari Guo Yun.
Setelah menempuh perjalanan selama 3 Minggu di sungai Yang Tze.
Akhirnya perahu itu mulai memasuki muara, di mana 3 kekuatan besar mulai menyatu di satu titik muara.
Kekuatan air sungai Yang Tze, kekuatan sungai kuning dan air laut timur.
Untungnya sesuai anjuran Li Kui, mereka telah berganti dengan kapal layar, yang ukurannya sedikit jauh lebih besar.
Pergerakannya jauh lebih stabil, tahan menghadapi gelombang arus yang jauh lebih kuat.
Li Kui dan Guo Yun harus bekerja keras bahu membahu, menjaga kestabilan kapal, agar jangan sampai terbalik.
Akhirnya mereka berhasil membawa kapal itu memasuki perairan laut timur, yang arusnya mulai lebih tenang dan stabil.
Baru saat memasuki sore hari, air laut mulai bergelombang, kapal kembali terombang ambing di tengah lautan luas.
Kapal yang sebenarnya cukup besar, tapi di tengah lautan luas jadi terlihat kecil, dan tidak ada apa apanya.
Ketimbang kekuasaan alam raya, yang memiliki kekuatan yang begitu besar dan tak terbatas.
Menjelang malam, angin semakin kencang.
Awan hitam bergulung gulung mulai muncul di atas langit.
Gelombang laut sebesar 3 meter, mulai datang menghantam kearah kapal, yang di tumpangi oleh mereka bertiga.
Hujan rintik rintik mulai turun, semakin lama hujan semakin membesar dan lebat.
Guo Yun dan Li Kui kembali harus bekerja keras bahu membahu, menjaga keseimbangan perahu mereka, yang kini di hadang hujan angin badai dan gelombang laut setinggi 7 sampai 10 meter.
Sesekali petir menyambar nyambar dari angkasa, menyambar kearah laut yang gelap gulita.
Menimbulkan kilatan cahaya, yang menambah keseraman lautan, yang sedang mengamuk.
Sian Sian hanya bisa bersembunyi di dalam bilik perahu, tanpa berani keluar.
"Saudara Kui bagaimana ini !?"
"Kelihatannya semakin lama gelombang semakin besar, cuaca juga semakin buruk, badai semakin besar..!?"
__ADS_1
tanya Guo Yun sambil berteriak, agar suaranya bisa terdengar oleh temannya.
"Kakak Yun,..! kita harus pertahankan posisi kita, jangan sampai terseret ke pusaran raksasa di samping sana..!"
"Kita harus secepatnya menjauhi pusaran itu, bila terseret kedalam habislah kita semuanya..!"
Teriak Li Kui dengan mimik wajah serius dan terlihat agak cemas.
Guo Yun mengangguk paham, dan kembali berteriak,
"Saudara Kui, kamu jaga kestabilan kapal..!"
"Aku akan ke ujung sana membantu laju kapal kita, agar segera meninggalkan tempat ini..!"
"Baik kakak Yun..!"
Jawab Li Kui cepat.
Dia berusaha memegang kemudi kapal, mengendalikan posisi dan kestabilan kapal, dengan seluruh kemampuannya.
Guo Yun sambil berteriak, tubuhnya berkelebat cepat, menuju bagian paling belakang dari kapal tersebut.
Sambil menghimpun seluruh tenaga sakti energi 9 langit nya.
Guo Yun yang berdiri di ujung pinggiran perahu, mulai memasang kuda-kuda, Lalu dengan teriakan keras,
"Hyahhhh...!"
Guo Yun mendorongkan kedua telapak tangannya kedepan.
Dua rangkum angin berkekuatan dahsyat, membentuk pusaran berulir, menerjang kearah lautan yang berwarna gelap.
"Boooom..! Boooom..!"
"Boooom..! Boooom..!"
"Boooom..! Boooom..!"
"Boooom..! Boooom..!"
"Boooom..! Boooom..!"
"Boooom..! Boooom..!"
Guo Yun berulangkali tanpa henti terus menerus, melepaskan pukulan berkekuatan dahsyat kearah lautan.
Setiap hantamannya, akan membuat kapal mereka melompat beberapa meter kedepan.
Meski kapal terombang ambing, dan terus berguncang hebat, tapi sepasang kaki Guo Yun, yang berdiri di pinggiran kapal, seperti menancap di sana, mengakar dan menyatu dengan pinggiran kapal.
Bagaimana pun kapal Bergerak dan berguncang, hal itu sama sekali tidak berpengaruh pada posisi kuda kuda kedua kaki Guo Yun.
Perlahan-lahan kapal mulai menjauhi pusat pusaran.
Akhirnya setelah berhasil keluar dari pusat badai, keadaan pun mulai tenang.
Guo Yun terlihat terduduk lemas bersandaran di dinding belakang kapal.
__ADS_1
Guo Yun terlihat berusaha untuk duduk bersila, lalu tanpa menghiraukan gerimis yang turun, mengguyur tubuhnya yang telah basah kuyup.
Guo Yun terus berusaha menghimpun hawa murni untuk mengisi kembali tenaga dalam nya yang habis terkuras.