LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
AGAHAI KEMBALI MUNCUL


__ADS_3

Sesekali terdengar suara ledakan menggelegar di angkasa.


Tapi rombongan pasukan Qin itu, tidak terlihat ada tanda tanda menghentikan langkah mereka.


Kelompok itu terus bergerak menerobos hujan deras, semalam suntuk mereka terus bergerak menembus hujan hingga pagi hari matahari terbit.


Hujan baru berhenti, mereka akhirnya tiba di atas puncak sebuah bukit Padang rumput stepa.


Dari posisi mereka, mereka bisa melihat barisan panjang pasukan kerajaan Xiongnu yang menimbulkan debu mengepul di udara.


Saat barisan pasukan berkuda dalam jumlah yang sangat besar, dan panjang tidak putus putus itu melintas lewat.


Meng Yu dan keempat saudaranya serta pasukan yang mereka bawa, semua bertiarap di atas rumput.


Mereka diam diam mengamati dan memperhatikan pergerakan barisan pasukan berkuda yang sangat teratur itu.


Meng Yu berbisik,


"Aku akan mengambil jalan memutar, memukul barisan belakang mereka.


"Kakak berempat mengambil tempat persembunyian di belakang ku."


"Saat aku mundur, mereka mengejar ku, kakak berempat baru muncul memberikan serangan mendadak.."


"Tapi ingat tidak boleh menyerang keras lawan keras, bila situasi tidak memungkinkan segera mundur.."


"Kita akan.mencar peluang berikutnya."


ucap Meng Yu menjelaskan rencananya.


Meski usianya paling muda, tapi dia adalah yang paling cerdik diantara mereka berlima.


Sejak kecil pun, dia sudah sering ikut dengan kakaknya ke medan perang.


Jadi tidak heran, bila pengetahuannya tentang seni militer, tidak kalah dari keempat orang saudaranya yang lain.


Keempat saudaranya mengangguk, lalu mereka masing masing mengambil jalan memutar, berlawanan arah menuju barisan paling belakang pasukan Xiong Nu secara diam diam.


Suara derap langkah pasukan berkuda Kelima Jendral Meng dan pasukan mereka, suaranya hampir tidak terdengar.


Tertutup oleh suara berisik pasukan Xiong Nu sendiri, yang jelas berjumlah jauh lebih besar berkali kali lipat.


Meng Yu setelah berhasil mengambil jalan memutar, dengan suara teriakan nyaring.


Dia membawa 10,000 pasukan nya, bergerak melakukan serangan dadakan, secara melingkar menghancurkan barisan belakang pasukan Xiong Nu, yang kurang


disiplin dan kurang siap.


Meng Yu dengan gagah berani menerjang paling depan, membunuh paling banyak barisan belakang pasukan Xiongnu.


Baru setelah Mangga dan Tuli tiba dengan barisan pasukan kuda mereka.


Meng Yu segera menarik mundur pasukannya melarikan diri.


Tentu saja Tuli dan Mangga tidak bersedia membiarkannya pergi begitu saja.

__ADS_1


Mangga mengejar paling depan sambil melepaskan 10 anak panah kearah Meng Yu dalam satu kali tarikan.


Begitu tali busur di lepaskan, 10 anak panah menerjang dengan sangat cepat memburu punggung Meng Yu.


Untuk menghindari serangan berbahaya itu, Meng Yu sampai harus bersembunyi di bawah perut tunggangannya.


Sambil terus memacu kudanya berusaha melarikan diri.


Pasukan berkuda Mangga, yang sangat mahir memanah, mereka berhasil menjatuhkan pasukan Meng Yu, yang sedang melarikan diri.


Kejar kejaran terjadi di Padang rumput stepa, saat tiba di daerah Padang rumput ilalang, yang cukup tinggi rumput rumput nya.


Tiba-tiba dari arah kiri kanan, masing-masing muncul dua barisan pasukan berusaha menjepit pasukan Jendral Mangga dan Jendral Tuli.


Jendral Mangga dan barisan pasukan berkuda nya adalah jagoan memanah.


Sedangkan Tuli adalah barisan pasukan berkuda yang sangat mahir bertempur di atas kuda dengan senjata tombak panjang.


Pertempuran pun pecah, Jendral Meng Han dan Meng Huan mengeroyok Tuli.


Sedangkan Jendral Meng Sia dari Meng Liang, mengeroyok Jendral Mangga.


Di saat pertempuran sedang berlangsung sengit, kedua belah pihak terlihat sama sama kuat.


Anak buah kedua belah pihak mulai terlihat bertumbangan.


Di saat itulah pasukan Agahai yang tidak tahu muncul dari mana.


Tahu tahu sudah menjepit dan mengepung barisan pasukan keluarga Meng dengan sangat ketat.


Kemanapun barisan pasukan keluarga Meng, ingin melarikan diri di sana selalu terjaga oleh pasukan yang sudah di persiapkan oleh Agahai.


Jendral Meng Sia yang sedang terkepung oleh pasukan Agahai, tiba tiba pasukan pengepung menyibak ke kiri dan kanan.


Memberikan jalan masuk bagi Agahai masuk kedalam kepungan.


"Trangggg,..!"


Begitu Agahai muncul, dia langsung menerjang Kearah Meng Sia dengan putaran tombaknya.


Meng Sia yang tidak mau Mandah menjadi sate termakan tombak Agahai.


Dia segera mengangkat kedua tongkat besi ulirnya untuk menangkis.


Hasil pertemuan pertama itu, membuat Meng Sia terpental hingga hampir jatuh dari punggung kudanya.


Sepasang tangan Meng Sia, yang memegang sepasang tongkat besi ulir terlihat bergetar hebat.


Akibat benturan dengan tombak Agahai, Meng Sia merasa sepasang tangannya kesemutan.


Belum sempat Meng Sia memperbaiki posisinya, tusukan tombak bertubi-tubi dari Agahai kembali datang.


Meng Sia mati matian berusaha menghindari tusukan mata tombak, yang di arahkan ke tubuh dan wajahnya.


Agahai tiba tiba memutar ujung bagian belakang tombaknya, untuk menghantam Meng Sia, begitu Meng Sia berhasil menghindari serangan tusukan tombaknya tadi.

__ADS_1


Meng Sia terpaksa kembali melenting keatas untuk menghindari serangan ujung belakang tombak Agahai, yang menimbulkan suara angin menderu deru.


"Wusss,..!"


Serangan berhasil di hindari, hanya saja Meng Sia terpaksa harus terbang keatas, meninggalkan punggung tunggangan nya.


Saat dia kembali turun mendarat di atas punggung kudanya.


Serangan tombak yang ditebaskan ke bawah dengan kuat, memaksa Meng Sia harus memalangkan kedua tongkat ulirnya untuk menangkis serangan Agahai.


"Tanggg,..!"


"Hahhh,..!"


"Blukkk,..!"


terdengar bunyi senjata beradu dengan keras, hingga keluar kembang api berpijar.


Meng Sia berteriak kaget, saking kuatnya pukulan tombak yang menekannya.


Dia berikut kudanya ikut jatuh terguling keatas tanah.


Baru saja Meng Sia bangkit berdiri, ujung mata tombak sudah kembali datang dengan ganas terarah ke dadanya.


Meng Sia dengan tangan gemetaran, terpaksa mengangkat kedua tongkatnya, untuk menangkis serangan tombak itu.


"Trangggg,..!"


Sekali ini Meng Sia terdorong mundur oleh tombak Agahai, yang masih terus memacu kudanya maju mengejar dan menekan Meng Sia.


"Trangggg..!"


'Creebbbb..!"


Sekali ini pertahanan Meng Sia bobol, dia tidak kuat menahan serangan mata tombak Agahai, yang berputar seperti mata bor.


Tombak Agahai berhasil menembus dada Meng Sia.


Begitu Agahai mencabut ujung mata tombaknya, yang berhasil menembus dada hingga kepunggung Meng Sia.


Darah langsung menyembur deras dari lubang luka di dadanya.


Meng Sia berdiri mematung di sana, dengan sepasang tongkat ulir jatuh berkerontangan di atas tanah.


Sebelum akhirnya tubuhnya ikut rebah tergeletak tak bergerak di samping kedua senjata nya.


Setelah menghabisi Meng Sia, Agahai tanpa menoleh sudah memacu kudanya menghampiri Meng Liang.


Meng liang sendiri terlihat sedang berteriak memanggil Meng Sia, sambil memacu kudanya secepat mungkin mendekati tempat Meng Sia ambruk tadi.


Tapi langkah Meng Liang yang membawa tongkat panjang bermata kapak besar.


Harus terhenti oleh datang nya serangan tombak yang di lancarkan oleh Agahai.


"Trangggg,..!"

__ADS_1


Benturan keras yang menimbulkan kembang api di udara dan suara memekakkan telinga, kembali terdengar dengan sangat jelas, di sekeliling arena pertarungan Agahai melawan Meng Liang.


.


__ADS_2