
Liu Qin Lung beberapa saat berpikir dan mengawasi situasi.
Dia mulai memberi perintah kearah Jendral Mo Jendral Li Jendral Cing dan Jendral Shou, untuk melakukan persiapan.
Menyambut Wang Jia. besok siang, mereka beramai ramai mulai merancang jebakan untuk Wang Jian dan pasukan besar nya.
Di sepanjang jalan pinggiran tebing, atas instruksi dari Liu Qin Lung.
Semuanya di pasangi jebakan mematikan.
Pasukan harimau hitam bekerja keras sepanjang malam hingga pagi.
Di bawah pengawasan keempat jendral bawahan Liu Qin Lung, yang bertugas mengawasi langsung pemasangan jebakan maut itu.
Saat pagi tiba semua kapal perang Yue mulai bergerak meninggalkan lokasi tempat mereka memasang jebakan.
Menjelang siang saat kabut lenyap di sana hanya tersisa 2 kapal perang Yue dibawah pimpinan Liu Qin Lung langsung.
Kedua kapal itu memasang sauh, diam menunggu di kanan kiri tebing awan putih.
Kabut tebal perlahan lahan mulai lenyap, seiring matahari yang memasuki tengah hari.
Sinarnya mulai menyeruak masuk ke bagian tengah tebing awan putih.
Tumpukan puing puing kapal yang tumpang tindih terlihat jelas di sana
Mayat mayat yang mengapung di atas air, sebagian terbawa aliran air sungai bergerak menuju, hilir sungai Yang Tze.
Sebagian lagi tersangkut di dekat kapal perang Qin, yang bertumpuk tumpuk, menjadi puing puing kapal yang tidak bisa diperbaiki ataupun di gunakan lagi.
Sementara itu di mulut jalan menuju wilayah perairan tebing awan putih, Wang Jian begitu melihat kabut mulai hilang.
Dia segera memberi instruksi seluruh kapal bergerak mengikutinya, memasuki wilayah perairan tebing awan putih, yang kini terlihat tidak lagi berkabut.
Tidak lama kemudian terlihat rombongan besar kapal kapal perang Qin mulai berbaris rapi memasuki perairan tebing awan putih, yang kini sepenuhnya bersih, tidak lagi ada kabut yang terlihat.
Wang Jian yang bergerak paling depan, adalah yang paling pertama melihat tumpukan puing puing kapal perang Qin yang kandas dan tenggelam di bagian tengah sungai.
Meski hati nya cemas dengan nasib putranya, tapi jendral tua itu, memang bukan sembarang Jendral.
Dengan sikap tenang, dia segera memberi kode instruksi dengan kedua tangannya.
Agar kapal kapal di belakang nya membelah diri menjadi dua barisan.
Masing masing segera bergerak merapat ketepi sisi kanan kiri tebing.
Kapal kapal berbaris rapi mengambil jalan yang merapat ketepi tebing
Menghindari bagian tengah sungai.
Saat semakin dekat dengan tumpukan puing puing kapal, kapal perang Yue yang bersiaga menghadang di kedua sisi tebing mulai terlihat.
Dari kedua kapal itu mulai terdengar suara sorakan dari pasukan harimau hitam.
"Serigala tua Wang, datang jauh jauh menjadi pengecut hina..!"
"Membiarkan serigala muda Wang, mati mengenaskan di tebing awan putih, secara sia sia..!"
__ADS_1
"Sungguh menyedihkan dan mengenaskan menjadi putra dan bawahannya..!"
"Sudahlah bila sudah tua, nyali menciut, lebih baik segera pulang kerumah, menghabiskan hari tua.."
"Daripada membawa pasukan terkubur di tanah orang tanpa makna..!"
Terimakan puisi yang bergema di sepanjang sungai tebing awan putih, bercampur dengan jasad dan puing puing yang bertumpuk tumpuk disana.
Sungguh sungguh suatu situasi yang sangat menyulut emosi.
Wang Jian yang akhirnya kehabisan kesabaran dan ketenangan nya
Apalagi saat dia melihat mayat putranya yang sebagian hangus, sengaja di gantung di ujung tiang bendera Qin yang berada di tengah tengah tumpukan puing puing kapal.
Akhirnya Wang Jian berteriak keras,
"Tembak...!!"
"Habisi mereka semuanya..!!'
"Jangan ada sisa..!"
"Hancurkan..!"
"Hancurkan semua nya..!'
"Kejar musnahkan..!"
Teriak Wang Jian penuh emosi
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Booom..!" Booom..!" Boooom..!"
"Booom..!" Booom..!" Boooom..!"
"Booom..!" Booom..!" Boooom..!"
Panah panah berhamburan peluru meriam juga di tembakkan kearah dia kapal itu.
Kedua kapal perang Yue setelah memberikan serangan balasan anak panah seadanya.
Mereka dengan cepat, menarik sauh dan bergerak mundur menjauhi kapal kapal perang Qin.
Kapal kapal perang Qin, terus melakukan pengejaran sambil melakukan serangan tiada henti.
Untungnya kedua kapal perang Qin ukuran nya tidak terlalu besar, pengemudinya juga adalah kakek Ma dan cucu nya.
Sehingga di saat kritis mereka berhasil lolos menjauh dari kapal perang Qin.
Mereka kalah jumlah mau melawan juga mustahil, selain melarikan diri sudah tidak ada pilihannya.
Kejar kejaran di sepanjang sungai terus berlangsung, beberapa ratus meter di depan.
__ADS_1
Kembali di temukan rombongan kapal perang Yue.
3 berjejer di sisi kanan, 2 di sisi kiri.
Mereka menunggu tongkat estafet, untuk menahan rombongan besar kapal perang Qin.
Sementara dua kapal perang yang pertama, kini terlihat melewati kapal penghadang lapis kedua.
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
Anak anak panah terlihat berhamburan diarahkan ke kapal kapal Wun yang sedang bergerak mendekat.
Selain menembakkan anak panah, mereka juga menggunakan perisai, untuk menahan datangnya serangan anak panah dari pihak Qin.
Pertukaran serangan anak panah yang tidak berimbang, terlihat mulai memenuhi udara.
Booom..!" Booom..!" Boooom..!"
"Booom..!" Booom..!" Boooom..!"
Begitu pasukan Qin mulai memainkan meriam nya yang berbahaya.
Kapal kapal perang Yue yang bertugas membantu proses melarikan diri kapal perang lapis pertama.
Kini mereka juga segera bergerak menyusul, ikut melarikan diri.
Secepatnya berusaha menjauhi kapal perang Qin.
Wang Jian yang melihat sisa kapal perang Yue, yang pernah menghadang perjalanan nya sudah lengkap hadir di tempat itu.
Dia segera memberikan instruksi untuk terus melakukan pengejaran dan menghujani kapal kapal perang Yue dengan persenjataan yang mereka miliki.
Wang Jian tidak sadar bahwa ke 7 kapal perang itu, ternyata hanya di isi 100 personil pasukan harimau hitam, di setiap kapal nya.
Sisanya yang berjejer dan terlihat banyak jumlahnya, hanyalah patung patung manusia jerami, yang menggunakan seragam.pasukan kerajaan Yue saja.
Mereka di tempatkan di semua sudut khusus untuk menghalau anak panah yang datang.
Kapal kapal itu tidak sepenuhnya ingin bertarung dan menghadang pasukan Qin.
Mereka hanya bertugas memancing Wang Jian dan pasukan besarnya masuk kedalam jebakan mereka.
Sambil melarikan diri, 100 personil yang berada di setiap kapal, terus mengumpulkan anak panah dari pasukan Qin yang menancap di patung jerami mereka.
Setelah itu secara estafet mereka kirimkan ke kapal yang berada paling belakang.
Kedua kapal yang paling belakang adalah kapal perang yang di huni oleh Liu Qin Lung dan Jendral Mo di kedua sisi berbeda.
Kejar kejaran terus berlangsung hingga memasuki daerah yang menjadi pusat jebakan maut.
Di mana di tempat ini aliran sungai melebar, tempat tersebut meluas seperti sebuah area mangkuk besar, bila di lihat dari udara.
Sebelum kemudian di penghujung sana, aliran sungai kembali menyempit seperti semula.
__ADS_1