LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MASALAH BARU


__ADS_3

Pedang berhasil menembus bahu Guo Yun.


Sambil menahan nyeri Guo Yun, bergerak maju, sehingga pedang menembus semakin dalam.


Lalu dengan gerakan cepat pedang Han Kuang Cien di tebaskan kearah leher Ling Yun Lao Jen.


Hawa dingin membeku berkelebat dengan sangat cepat kearah leher kakek tua itu.


"Dukkk...!"


Sebuah tendangan keras mendarat di dada Guo Yun, hingga tubuh Guo Yun terpental kebelakang sabetan pedang Guo Yun hanya menimbulkan hawa dingin yang menggores sedikit pipi Kakek Ling Yun Lao Jen.


Guo Yun terpental sambil memumtahkan darah segar dari mulutnya


Akibat dada nya di Godam oleh tendangan keras kaki Ling Yun Lao Jen.


Secara keseluruhan hasil bentrokan ini, Guo Yun ada di pihak paling rugi, pundaknya tertembus pedang, otomatis tangannya yang memegang Hung Sie Cien kehilangan daya.


Ditambah dengan dadanya yang menerima tendangan keras, hingga muntah darah segar.


Guo Yun telah mengalami luka luar dalam yang cukup serius dalam bentrokan cepat dan singkat itu.


Sedangkan Ling Yun Lao Jen sendiri selain cuma menerima goresan kecil di pipinya.


Secara keseluruhan dia terlihat baik baik saja, bahkan pedang pusaka masih di genggam erat di tangan.


Selain nafas yang terlihat semakin tidak teratur, hal lainnya dia terlihat cukup baik.


Guo Yun buru buru menotok nadi di bahunya, untuk mengunci jalan darah di bahunya agar tidak mengalir dengan deras keluar dari luka nya.


Pertarungan masih panjang, Guo Yun tidak mau mati kehabisan darah di tempat tersebut.


Guo Yun terlihat bergerak mundur dengan langkah tidak beraturan.


Melihat keadaan Guo Yun, Ling Yun Lao Jen kembali melakukan serangan kuat yang menekan.


Untuk menghambat Guo Yun bergerak menghindar.


Melihat Guo Yun tidak berdaya dan pasrah, Ling Yun Lao Jen menjadi gembira.


Dia segera menyarangkan pedang nya menebas dengan kuat dari atas kebawah.


"Singggg..!"


Pedang berdesing keras membelah udara, menghujam kearah kepala Guo Yun.


"Wuttt..!"


Guo Yun melakukan gerakan menghindar, sehingga tebasan itu berhasil mendarat di bahu Guo Yun yang sudah terluka sebelumnya.


Meski terlindung oleh Thian Ti Sen Kung, pedang tetap menancap di bahu Guo Yun.


Darah bercucuran membasahi pakaian Guo Yun.


"Tabbb..!"


Tangan Guo Yun menangkap' tangan Ling Yun Lau Jen yang memegang gagang pedang, menguncinya dengan cengkraman kuat.


Di saat bersamaan tangan Guo Yun yang lain, penuh dengan energi Thian Ti Sen Kung bergerak menyerang kearah jantung Ling Yun Lao Jen.


"Plakkk..!"


Ling Yun Lao Jen menyambutnya keras lawan keras.


Sepasang telapak tangan mereka menempel saling dorong.


"Ahhh..!"


Jerit Ling Yun Lao Jen kaget, saat merasa tenaganya merembes keluar dengan cepat, terhisap oleh Guo Yun.


Belum sempat dia mencari akal melepaskan diri, karena kedua tangannya terlanjur terkunci.


Tiba-tiba sepasang mata Guo Yun bersinar terang, suaranya juga terdengar lantang.


Mengguncang hati dan jiwa saat berkumandang di lubang telinganya.


"Ling Yun kamu sudah tua, tenaga mu sudah habis..!"


"Menyerahlah, ! kaki mu sudah tidak kuat lagi..!"


"Sebelum ajal tiba, serahkan sisa kekuatan mu, yang tinggal sedikit pada ku..!"


"Ahhh..!"


Ling Yun Lao Jen menjerit pucat, tanpa bisa dia kontrol.


Kedua kakinya jatuh bertekuk di hadapan Guo Yun.


"Ilmu iblis,..kau apakan aku..!?"


Bentak Ling Yun Lao Jen kaget.


Dia mencoba mengerahkan tenaga sakti dan pikiran sadar nya untuk coba melepaskan diri.


Tapi bukannya berhasil, tenaga dalamnya justru terhisap semakin kencang.


Dia tetap sulit melawan pengaruh sihir dari Guo Yun.


Beberapa saat berlalu, Ling Yun Lao Jen terlihat semakin lemah dan tak berdaya.


Wajahnya semakin pucat, sepasang matanya terlihat suram hampir kehilangan roh kehidupannya.


"Anak muda cukup..!"


"Terimakasih sudah memberikan pengajaran berharga padanya..!"


"Berilah kesempatan dia hidup beberapa tahun lagi untuk menebus dosa dan insaf terhadap kelakuan nya !"


Saat suara itu tiba, pengaruh sihir Guo Yun lenyap sendiri.


Serangkum awan putih bergerak lembut tapi kuat mendorong Guo Yun mundur menjauh dari Ling Yun Lao Jen.


Guo Yun berusaha untuk mempertahankan diri, tapi dia tetap jatuh terjengkang kebelakang.


Dorongan kekuatan kakek itu sungguh dahsyat.


Guo Yun seketika sadar, bila kakek itu menginginkan nyawanya.


Dia hanya seperti memijit seekor semut saja, semua kemampuan Guo Yun di hadapan kakek itu hanya seperti permainan anak kecil yang tiada artinya.


Guo Yun setelah berhasil bangun, dia kaget bukan main dorongan itu bukan hanya membuatnya terpental saja.


Lebih dari itu,. kekuatan ajaib itu telah menyembuhkan dua luka di bahunya yang cukup parah.


Darah sudah berhenti, bahkan bekas luka sekalipun tidak terlihat lagi.


Kulit daging semua sudah merapat sempurna hingga bekas luka pun tidak ada.


Guo Yun buru buru berlutut di hadapan kakek berpakaian putih yang wajahnya selalu di hiasi dengan senyum lembut dan penuh welas asih.


Sambil bersedekap kedua telapak tangan nya di depan dada, Guo menatap kearah kakek itu dengan penuh hormat dan berkata,


"Terimakasih banyak senior, maafkan junior, yang tidak mengenal gunung Thai San, berani berbuat onar di hadapan senior."


"Terimalah sembah sujud dari junior.."


ucap Guo Yun penuh hormat.


"Tidak apa apa anak muda, dari awal hingga akhir, murid ku yang haus nama dan kemenangan inilah yang paling bersalah."


"Hal ini tidak bisa salahkan kamu.."


"Bangunlah anak muda.."


ucap kakek berwajah welas asih itu lembut, sambil menggerakkan tangannya kearah Guo Yun.


Tanpa Guo Yun bisa cegah tubuhnya sudah langsung terangkat berdiri tanpa mampu dia melawannya.


Ada kekuatan halus lembut yang tak terlawan olehnya, memaksanya untuk berdiri.


Sementara itu Ling Yun Lao Jen terlihat tertunduk lesu dan berkata,


"Maafkan murid guru, murid kini sudah terima pelajaran.."


"Murid sudah tahu salah, murid akan lepaskan semua.."


"Murid akan bertapa kembali di sisi guru..'


"Bagus Lie Feng, tahu salah tahu memperbaiki nya itu adalah tindakan mulia.."


"Pintu pertobatan akan selalu terbuka, hanya tergantung dari dirimu sendiri untuk menyadarinya.."


"Mari kita pergi.."


ucap kakek berwajah welas asih itu lembut.


Sekali dia mengulapkan tangannya, dirinya dan Ling Yun Lao Jen pun menghilang dari hadapan Guo Yun.


"Senior bolehkah junior tahu siapa senior sebenarnya..?"


"Apalah artinya sebuah nama, semuanya adalah kosong.."


"Hati dan jiwa bersih itu yang paling utama.."


"Kalahkan ego mu sendiri itu adalah pencapaian tertinggi.."


"Semoga semua mahluk hidup dalam damai tentram dan berbahagia selalu.."


"Aku hanya lah seorang tua tanpa nama.."


ucap suara kakek itu lembut, tapi hanya suaranya saja yang berkumandang, orang nya sama sekali tidak terlihat.


Guo Yun seketika sadar dan berteriak keras,


"Terimakasih banyak wejangannya yang berharga, senior Wu Ming Lao Jen.."


Guo Yun langsung teringat dengan pesan terakhir di salinan kulit kambing yang berisi ilmu Shi Chi Hua Ming Sin Fa.


Di bagian terakhir ada nasehat dari Wu Ming Lau Jen, orang yang menggubah kitab pusaka itu.


Kini dia sudah bertemu langsung, ternyata memang seorang yang memilki kemampuan yang sulit di nalar.


Pantas dua mampu menggubah kitab yang menjadi andalan seorang iblis seperti Che You.


batin Guo Yun di dalam hati.


Seiring dengan munculnya Wu Ming Lau Jen, Guo Yun tiba tiba jadi teringat dengan nasehat Wu Ming Lau Jen.

__ADS_1


Tentang bintang penghalang dirinya, adalah orang yang memegang pedang Panca Warna.


Kira kira siapa orang itu batin Guo Yun yang duduk termenung seorang diri.


"Ahh biarlah semua berjalan sesuai takdir.."


"Sudah saatnya aku pulang.."


gumam Guo Yun seorang diri.


Lalu perlahan lahan dengan santai Guo Yun bergerak menuruni Pai Yun San.


Saat naik selalu ada yang menghadang jalannya, dan selalu berjaga di sana.


Tapi kini saat turun gunung, satu pun tidak terlihat.


Selain kedua tetua yang bersikap cuek, terus bermain catur seolah-olah tidak melihat kehadirannya.


Juga Ling Thian yang terlihat terus menyetel senar kecapinya, seolah olah dia hanya angin lalu saja.


Guo Yun akhirnya berhasil tiba di kaki gunung Pai Yun San tanpa halangan sama sekali.


Dengan langkah santai, Guo Yun berjalan memasuki kota kecil di kaki gunung itu.


Guo Yun yang merasa perutnya terasa lapar, dia langsung membelokkan langkah memasuki salah satu restoran kecil di kota itu.


Di restoran itu Guo Yun memesan semangkuk mie kuah daging sapi.


Dia duduk di sana dengan santai, sambil menikmati mie Kuah daging sapi di hadapannya.


Restoran itu cukup ramai, banyak orang hilir mudik keluar masuk restoran secara bergantian.


Guo Yun tidak ambil perduli dengan mereka, dia hanya fokus menikmati mie kuah daging sapi di hadapannya.


"Hei A Fei, kamu baru datang,..mari mari duduk.."


"Kamu dari mana saja beberapa hari ini tidak kelihatan..?"


tanya seorang pria paruh baya yang duduk tidak jauh dari Guo Yun.


Dia terlihat tersenyum lebar menyambut kedatangan temannya.


Pria yang dipanggil A Fei itu langsung menarik kursi untuk duduk.


"Mau pesan apa Fei..?"


tanya temannya yang lain.


Meja itu diisi oleh dua orang pria paruh baya, orang yang menegur A Fei bernama A Lai.


Sedangkan yang menawarkan makan bernama A Ju.


"Bubur ayam aja,.."


jawab A Fei santai.


"pelayan..!"


"Tambah bubur ayam satu..!"


teriak A Ju dengan suara kencang.


"Siap bos...!"


jawab pelayan restoran, yang kelihatannya sudah biasa dan cukup akrab dengan mereka.


A Ju memberikan tanda jempol kearah pelayan tadi.


Setelah itu kini dan A Lai menatap kearah A Fei, menunggu cerita dari teman mereka itu.


A Fei dengan gaya santai menuang teh mengisi cawan di hadapannya.


Setelah itu baru berkata,


"Terus terang saja, aku sebenarnya baru pulang dari wilayah tahlukkan Qin, wilayah Qi dan Lang Ya.."


"Wah di sana sangat maju, banyak lapangan kerja terbuka, banyak lahan lahan kosong yang di buka.."


"Siap menerima siapapun yang ingin punya lahan sendiri.."


"Semua fasilitas dan lahan di sediakan oleh pemerintah, kita hanya tinggal pergi menggarap nya saja.."


ucap A Fei penuh semangat.


Mendengar ucapan A Fei seketika Guo Yun berhenti makan, dia memasang pendengarannya ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.


Kedua sahabatnya A Lai dan A Ju juga ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Lah kalau di sana begitu bagus, kenapa kamu pulang lagi..?"


tanya A Lai spontan.


A Fei tersenyum dan berkata,


"Tentu saja aku harus pulang, bila tidak pulang bagaimana aku bisa mencari dan membawa orang kesana..?"


"Loh kamu jadi pedagang budak sekarang..?"


tanya A Ju penasaran.


"Wah A Fei kamu jangan macam macam, hukum wilayah selatan ini, melakukan perdagangan manusia adalah ilegal.."


ucap A Lai terlihat cemas.


A Fei yang di cemaskan oleh temannya, malah tertawa dan berkata,


"Kalian salah, pertama aku tidak menjual manusia menjadi budak di wilayah Qi dan Lang Ya.."


"Mereka kesana secara suka rela, di sana mereka dapat lahan dapat kerja, juga dapat santunan hingga lahan yang mereka garap menghasilkan.."


"Semua di tanggung oleh pemerintah Qin.."


"Jadi tidak ada pelanggaran sama sekali.."


"Kedua aku bekerja pada biro legal milik pemerintah setempat kita, yang bekerja sama dengan biro pencari tenaga kerja dari pemerintah Qin.."


"Setiap orang yang bersedia kita bawa kesana, kita akan di bayar 10 Tael perak.."


"Setelah dipotong oleh pemerintah setempat aku terima bersih 2 Tael perak.."


"Lah dikit banget jauh jauh menempuh perjalanan, habis waktu hampir seminggu cuma dapat segitu.."


"Sedangkan pemerintah diam aja tidak bergerak, langsung dapat 8 Tael perak, bedanya jauh banget ."


"Gak cocok itu Fei.."


ucap A Lai kurang puas.


"Ha..ha..ha..! kalau itu pemikiran mu kamu salah besar.."


"Kamu tahu kemarin aku berangkat bawa berapa orang..?"


tanya A Fei balik ke temannya.


Kedua orang itu langsung menggelengkan kepala.


A Fei sambil tersenyum berkata,


"Aku bawa 100 orang, kalian hitung saja sendiri.."


"Keberangkatan kedua ini, sudah ada 300 orang siap berangkat.."


"Kalian hitung aja sendiri.."


ucap A Fei sambil tersenyum lebar.


"Wah hebat juga kamu Fei, kamu bisa kaya mendadak nih.."


ucap A Lai dan A Ju bersemangat.


"Ada peluang, bagi bagi rejeki dong ke kita kita.."


Ucap Ju dan A Lai kompak.


A Fei tersenyum lebar dan berkata,


"Tentu saja, kalian berdua kan kawan akrab ku, mana boleh aku mengecewakan kalian.."


"Ada rejeki tentu bagi bagi, ada masalah tentu tanggung sama sama, benar tidak ?"


"Benar,.. benar ."


jawab A Lai dan A Ju kompak.


"Lalu apa tugas kami..?"


tanya A Lai bersemangat.


"Tugas kalian berdua adalah menyiapkan sebanyak banyaknya orang yang mau di berangkatkan kesana ."


"Kalian harus atur jadwalnya, seminggu sekali akan ada keberangkatan.."


"Maximal satu trip 300 orang saja.."


"Biar tidak menyolok dan aku sulit mengaturnya di perjalanan nanti.."


ucap A Fei membuat pengaturan.


"Berapa bagian kami..?"


tanya A Ju berterus-terang.


A Fei tersenyum lebar dan berkata,


"Bagus berterus-terang aku suka.."


"Begini aku juga tidak mau enak sendiri, aku satu Tael perak satu orang.."


"Kalian berdua 1 Tael perak bagi dua gimana..?"


"Setuju.."


jawab A Lai dan A Ju kompak.


"Ayo kita makan.."


ucap A Fei.

__ADS_1


Mereka bertiga pun terlihat makan dengan penuh semangat.


Sambil meneruskan makan bersama, mereka pun kembali mengobrol.


"A Fei menurut mu, kira kira banyak tidak orang yang akan mau kita ajak untuk berangkat kesana..?"


tanya A Ju kurang yakin.


A Lai juga mengangguk dan berkata,


"A Ju benar, sebaik apapun tempat itu, di sana adalah negeri orang, tanah lahan semua milik orang."


"Sedangkan di sini tanah tanah kita, lahan lahan kita, hasil pun punya kita.."


"Bila di sini bisa, kenapa harus jauh jauh kesana..?"


A Fei tersenyum dan berkata,


"Kalian bukan petani, kalian juga bukan pedagang, kalian berdua kan kerja di tempat hartawan Wang.."


"Tiap bulan dapat gaji.."


"Kalian mana tahu derita kami sebagai petani dan pedagang saat ini.."


"Aku beritahu kalian, hartawan Wang bos mu kini dari pemilik perkebunan dan pemilik hasil pertanian.."


"Kini sudah beralih menjadi penyalur hasil perkebunan dan hasil pertanian.."


"Dia sudah tidak produksi lagi kalian tahu kenapa..?"


tanya A Fei sambil menatap kedua rekannya.


"Aku dengar sih, hasil produksinya tidak laku, beban pajak dari pemerintah semakin berat, birokrasi ijin juga semakin rumit.."


ucap A Ju jujur sesuai dengan yang dia tahu.


A Fei pun mengangguk dan berkata,


"Nah itu dia, bila bos mu berhenti produksi, terus orang orang yang bekerja menggarap lahan nya, ataupun orang orang yang biasanya jual hasil lahan mereka nasib nya gimana..?"


A Lai dan A Ju pun mengerti, mereka mengangguk cepat dan berkata,


"A Fei kamu memang luar biasa, baiklah kami yakin sekarang.."


"Kamu berangkatlah dengan tenang, trip depan kami pasti akan siapkan orang untuk mu.."


ucap A Lai dan A Ju bersemangat.


Selesai makan mereka bertiga langsung ngeluyur pergi dari restoran.


Mereka tidak menyadari Guo Yun, juga ikut meninggalkan restoran diam diam terus mengikuti kemana A Fei pergi.


Setelah keluar dari restoran berpisah dengan kedua sahabatnya.


A Fei terlihat dengan santai berjalan menuju gedung pemerintahan setempat.


Tanpa kesulitan A Fei dengan mudah bisa langsung masuk kedalam kediaman pejabat setempat.


Mungkin bila saat ini, ini adalah wilayah setingkat kecamatan, pejabat setempat itu adalah camatnya.


Guo Yun dengan ilmu Wu Ying Ru Tian tanpa halangan juga sudah menyelinap masuk kedalam kediaman pejabat setempat itu.


Guo Yun bersembunyi di Wuwungan kediaman itu, sambil memasang telinga mendengarkan apa yang di perbincangkan A Fei dan pejabat setempat itu.


"Tuan Coa,.. ini adalah setoran dari 100 orang yang aku bawa kemaren.."


ucap A Fei sambil memberikan sebuah bungkusan berat kehadapan pejabat itu.


Pejabat itu mengangguk dan tersenyum puas.


Dia mendorong bungkusan itu kearah seorang wanita muda cantik yang duduk di sisinya.


Wanita cantik itu dengan gerakan cekatan langsung menghitung isi bungkusan setoran dari A Fei.


Sedangkan pejabat itu sendiri, menatap kearah A Fei dan berkata,


"Adik Ipar, trip ini kamu akan bawa berapa orang..?"


"Mungkin 200 orang tuan Coa.."


ucap A Fei singkat.


Pejabat itu mengangguk pelan, lalu berkata,


"Lalu trip trip berikutnya apa kamu sudah punya jadwalnya..?"


A Fei mengangguk cepat dan berkata,


"Tuan Coa tenang saja, kami sudah ada pengaturan nya.."


"Bagus adik ipar.."


"Kamu memang bisa di andalkan.."


"Lalu kapan adik mu, akan di kirim kemari..?"


A Fei tersenyum licik dan berkata,


"Hal itu harus aku atur dulu, mungkin malam nanti bisa ."


"Bagaimana pun dia sudah punya suami tuan Coa.."


"Agar tidak timbul keributan di kemudian hari yang akan merusak reputasi tuan.."


"Aku terpaksa harus atur suaminya dulu.."


Pejabat itu tersenyum puas dan berkata,


"Ha..ha..ha..! A Fei kamu sungguh tidak mengecewakan, baiklah kamu atur saja.."


"Tapi sebelum kamu berangkat aku sudah harus.."


"Tahu kan kamu maksudku..?"


tanya pejabat itu sambil tersenyum penuh arti.


A Fei mengangguk dan berkata,


"A Fei gak berani janji, tapi A Fei akan usahakan.."


Pejabat itu mengangguk dan berkata,


"Baiklah aku tunggu kabar gembiranya saja.."


"Tapi ingat jangan terlalu lama, bila terlalu lama aku terpaksa cari orang lain gantikan pekerjaan mu.."


ucap pejabat itu sedikit menekan A Fei.


A Fei mengangguk, memberi hormat lalu mundur dari sana.


Setelah A Fei pergi, Guo Yun berturut turut melihat pejabat itu di datangi oleh orang orang seperti A Fei untuk menyetor uang.


Guo Yun sangat kesal, tapi dia menahan diri, dia ingin melihat dan mengamati dulu sampai sejauh mana kegiatan pejabat kota itu.


Setelah beberapa saat melakukan pengamatan, Guo Yun pun menghilang dari tempat kediaman pejabat setempat itu.


Meninggalkan kediaman pejabat itu, Guo Yun langsung kembali ke restoran.


Dia langsung menemui pelayan yang akrab dengan rombongan A Fei.


"Ada yang bisa saya bantu tuan..?"


tanya pelayan restoran itu menemui Guo Yun di gang sempit di samping restoran.


Tadi pelayan itu di beritahu oleh temannya, ada orang yang mencarinya.


Orang tersebut sedang menunggunya di Gang sempit di samping restoran.


Guo Yun menggenggam 3 keping perak di tangan dan berkata,


"Aku mau tahu di mana tempat tinggal A Fei pengunjung restoran tadi pagi itu, sekaligus di mana tempat tinggal adik perempuannya itu.."


"Bila jawaban mu memuaskan, perak ini boleh jadi milik mu.."


ucap Guo Yun sambil tersenyum tenang.


"Ohh itu mudah, A Fei itu tinggal bersama kepala Opas Wu, yang merupakan suami adiknya.."


"Rumah mereka bila dari gang ini, lurus terus, saat keluar dari mulut Gang ini, tiga rumah di seberang mulut gang ini, rumah yang berwarna hijau, itulah tempat mereka tinggal.."


ucap pelayan itu bersemangat.


Guo Yun tanpa banyak basa-basi, langsung melemparkan 3 keping perak di tangan nya, kearah pelayan di hadapannya itu.


Pelayan itu menyambarnya dengan gembira dan berkata,


"Terimakasih banyak tuan.."


"Ada yang bisa saya bantu lagi tuan..,?"


Guo Yun menatap pelayan itu tajam dan berkata,


"Bila kamu berani memberitahu A Fei, aku menanyakan alamatnya, maka aku akan membuat mu seperti tembok ini."


"Crakkk..!"


"Cresss..!"


Kelima jari tangan Guo Yun yang terisi hawa Thian Ti Sen Kung, menembus tembok batu.


Lalu mencengkram nya hingga hancur berantakan.


Melihat hal itu, wajah pelayan itu langsung pias seperti kertas.


Sepasang lututnya terlihat gemetaran.


Sesaat kemudian celananya mulai basah.


Guo Yun yang meras jijik langsung menghilang dari hadapan pelayan itu.


Begitu melihat Guo Yun bisa menghilang seperti setan.


Cairan terlihat mengucur semakin deras hingga membasahi lantai di bawah kakinya.


Guo Yun sendiri sudah tiba di depan halaman rumah hijau, yang tidak begitu besar tapi terlihat cukup bersih dan rapi.


Melihat tidak jauh dari rumah itu ada sebuah kedai mie sekaligus menjual arak.

__ADS_1


Guo Yun pun membelokkan langkahnya menuju kedai mie tersebut.


__ADS_2