
"Kami tidak lagi sempat membahas apapun, kami langsung buru buru kemari.."
Ucap Tabib Si Fu berbohong secara halus.
Padahal dia dan Kasim Zhao jelas sudah membahasnya.
Hanya saja demi membuat Ying Zheng merasa bangga.
Mereka berpura pura tidak tahu hal apapun
Raja Qin Ying Zheng, menoleh kearah Zhao Gao, menuntut penjelasan.
Zhao Gao pun buru buru berkata,
"Maaf Yang Mulia, ucapan tabib Si tepat sekali.."
"Karena terlalu buru buru, agar bisa cepat cepat kemari.."
"Hamba tidak ada waktu, untuk menjelaskan secara detil. mohon Yang Mulia bisa memakluminya dan memaafkan hamba..."
Ying Zheng tersenyum ramah dan berkata,
"Tidak apa apa, sekarang saja kamu sampaikan yang kamu tahu ke tabib. Si Fu.."
Zhao Gao mengangguk patuh, dia segera menjelaskan garis besar cerita peristiwa yang dia tahu..
Setelah selesai bercerita, dia langsung menundukkan kepalanya dan berkata,
"Begitu lah penjelasannya.."
"Bila ada yang kurang lengkap harap semuanya bisa, membantu melengkapinya dan bisa memakluminya."
Ucap Zhao Gao merendah.
Ying Zheng tidak menanggapi ucapan basa basi Zhao Gao, begitu pula dengan yang lainnya.
Ying Zheng langsung menoleh kearah Tabib Dewa Si Fu dan berkata
"Bagaimana menurut tabib Si..?"
"Apa Tabib Si bisa membantu memberikan solusi terbaik dari usulan Perdana menteri Li Si..?"
Si Fu terdiam sejenak, sebagai tabib Dewa dia tentu punya dan bisa untuk itu..
Tapi sebagai seorang tabib, dia mana boleh berbuat begitu, seharusnya dia menolong orang dengan ilmunya, tapi ini dia malah di suruh mencelakakan orang.
Ini adalah sesuatu yang sangat bertentangan dengan tanggung jawab moralnya, sebagai seorang tabib.
Tapi ingin menolaknya, apalagi bilang dia tidak tahu apa apa tentang itu, itu jelas sama saja dengan ingin bunuh diri.
Bila cuma dirinya saja itu masih baik, tapi masalah ini bisa saja mencelakai seluruh keluarganya bila dia menolak.
Diam diam Si Fu mengutuk Perdana menteri Li Si yang demi keuntungan pribadi, menariknya masuk kedalam lumpur kenistaan.
Si Fu memberi hormat dan berkata,
"Yang Mulia cara ini sangat berbahaya, virus wabah penyakit itu aku memang punya.."
"Tapi berilah aku sedikit waktu, agar aku bisa menemukan penawarannya.."
__ADS_1
"Jadi bila wabah itu menyebar balik ke kita, setidaknya kita punya penawarnya.."
Ucap Si Fu hati hati.
Ying Zheng menatap kearah Si Fu dari berkata,
"Tabib Si butuh waktu berapa lama untuk menemukan penawar itu.."
Tabib Si Fu terdiam sebentar, lalu berkata.
"Kalau boleh berilah hamba waktu satu bulan lagi.."
"Tidak bisa, itu terlalu lama..kami bisa menunggu, tapi wadah yang akan menjadi alat penyebar virus, tidak mungkin bisa bertahan selama itu. "
Ucap Ying Zheng cepat.
Dia terlihat sangat tidak setuju dengan pendapat Tabib Si Fu.
"3 hari tidak boleh lebih dari itu, lebih dari itu, kita temukan penawarnya sambil jalan kan rencana kita.."
Si Fu tahu percuma saja dia berdebat, karena dia cuma pelengkap rencana.
Bila dia tidak setuju sekalipun, mereka tetap akan jalan tanpa dia.
Kini Si Fu jadi mulai berpikir dan menyesal, tidak mendengarkan nasehat Guo Yun dulu.
Si Fu kini mulai berpikir dan menyusun rencana kedepannya, agar dia bisa meloloskan diri menjauhi Ying Zheng, setelah misi ini selesai
Berpikir sampai di situ, Si Fu akhirnya berkata,
"Baiklah Yang Mulia, segera saya akan berikan ke Zhao Kung Kung racun yang Mulia inginkan."
Ying Zheng memberi kode agar Kasim Zhao mengikuti Si Fu pergi mengambil racun virus yang mereka perlukan itu.
Setelah Kasim Zhao Gao dan Si Fu pergi, Ying Zheng pun berkata,
"Perdana menteri Li Si, masalah ini aku titipkan pada mu untuk mengaturnya.."
"Kamu butuh siapapun dalam memperlancar misi ini, kamu bebas pilih siapa saja."
"Aku akan selalu mendukung mu.."
Ucap Ying Zheng serius.
"Meng Thian Zhang Han kalian berdua saling berkoordinasi Perdana menteri Li Si, kapan kalian mulai bisa bergerak melakukan serangan ke Guiji, mengikuti jalur yang yang di sebutkan Perdana menteri Li Si tadi."
"Siap Yang Mulia,.."
Ucap mereka bertiga memberi hormat, lalu segera mengundurkan diri dari sana."
Ying Zheng tersenyum puas dan berkata sendiri,
"Guo Yun kamu tunggu saja, aku mau lihat bagaimana kamu mau menangani masalah ini.."
Seminggu kemudian pagi itu desa harapan, di datangi oleh Meng Yu yang membawa pasukan berkuda elite nya.
Sesampainya di mulut desa Meng Yi langsung memberi kode agar pasukan nya bergerak melakukan pengepungan terhadap desa itu dari dua arah.
Dia sendiri membawa rombongan sekitar 100 personil, bergerak memasuki Desa Harapan dari arah pintu gerbang desa.
__ADS_1
Begitu memasuki desa pasukan elit berkuda Meng Yu, dengan tombak terhunus langsung bergerak menyebar.
Mereka memaksa penduduk desa tersebut, untuk mundur ke bagian tengah desa tanpa terkecuali.
"Hieeehh..!"
"Ahhh...!"
"Ada apa ini..!"
"Mundur mundur semuanya..!"
"Jangan ada yang berani melawan..!"
Suara hiruk pikuk teriakan ketakutan warga desa, ringkik kuda dan bentakan keras dari pasukan elit berkuda itu, terdengar di mana mana.
Dalam keadaan panik dan kacau balau tanpa menghiraukan mereka pria ataupun wanita.
Pasukan bawahan Meng Yu terus memaksa warga desa mundur ketengah tengah desa.
Semua warga di kumpulkan jadi satu di sana.
Setelah semua nya di paksa berkumpul jadi satu di sana.
Meng Yu baru buka suara.
"Harap kepala desa yang bertanggung jawab maju kedepan..!"
Seorang kakek tua, terlihat menyeruak kedepan, dari balik kerumunan warga.
Dia berdiri di hadapan Meng Yu dengan wajah pucat dan gemetaran.
"Kakek tidak perlu takut.!"
"Asalkan kakek bisa jawab dengan jujur, dan memberikan petunjuk dengan baik.juga bersedia bekerjasama dengan baik.."
"Aku janji kami tidak akan pernah menganggu keselamatan seluruh warga desa ini.."
Kakek tua itu mengangguk cepat.
"Tuan katakan saja, informasi apa yang Tuan Jendral ingin tahu..?"
"Asalkan yang tua ini tahu, Yang Tua ini pasti akan bekerjasama dan memberikan informasi selengkapnya kepada tuan Jendral.."
"Mudah beritahukan saja, di mana tempat tinggal Liu Lau Po dan keluarganya saat ini..?"
"Hadiah ini boleh jadi milik mu
Ucap Meng Yu singkat, sambil melempar lempar sebuah bungkusan kain hitam berisi uang, melayang naik turun di udara, sebelum kemudian masuk kembali kedalam telapak tangan nya.
Kakek kepala desa harapan, terlihat berbinar sepasang matanya.
Saat melihat kain bungkusan di dalam genggaman tangan Meng Yu.
Dia kemudian mengerutkan alisnya, berpikir siapa yang di maksud oleh Meng Yu.
Beberapa saat kemudian, dia baru berkata,
"Ohh Liu si penjual kulit hewan itu.."
__ADS_1
"Ya..ya..ya..aku tahu..aku tahu,.."
"Baik, biar saya suruh orang saya, segera antarkan tuan Jendral kesana ."