LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PENGEMUDI PERAHU LI MING


__ADS_3

Pengemudi perahu yang di sewa oleh Guo Yun, berdiri dengan tubuh mengigil menatap kearah Guo Yun.


Sedangkan pengemudi perahu Li Ming, yang telah kehilangan perahunya, akibat di tabrak oleh tubuh Li Ming.


Dia segera menjatuhkan diri berlutut menyembah kearah Guo Yun dan berkata,


"Pendekar Muda, ampunilah nyawa ku.."


"Aku tidak ada hubungannya dengan penumpang perahu ku itu.."


"Aku hanya pemilik perahu sial, yang kebetulan perahu ku di sewa olehnya.."


"Kini pun aku sudah menerima hukuman kehilangan perahu ku, karena menerima tawaran kerjasama nya.."


"Harap pendekar muda, Sudi kiranya mengampuni nyawa hamba.."


"Hamba di rumah masih punya, istri dan anak yang masih kecil kecil, juga punya ibu tua yang sakit sakitan, dia sangat memerlukan perawatan dari ku.."


Guo Yun menoleh kearah pria itu dan berkata,


"Kamu serius mengambil tanggung jawab merawat ibu mu yang sudah tua dan sakit sakitan..?"


"Bagaimana bila aku kerumah mu mendapati kamu berbohong.."


"Di mana aslinya kamu menyia nyiakan ibu mu yang tua dan sakit sakitan, karena kamu takut dengan istri harimau betina mu, yang tidak mau jalani tanggung jawab sebagai mantu..!?"


bentak Guo Yun dengan suara di keraskan.


Guo Yun sebenarnya hanya menebak nebak, sekedar bercanda untuk menakut nakuti pria itu.


Tidak di sangka pria itu wajahnya langsung pias seperti kertas, dia mengira Guo Yun adalah manusia dewa yang tahu segalanya.


Sehingga masalah dalam rumah tangganya pun dia tahu dengan jelas.


Kini datang untuk menghukumnya yang tidak berbakti, telah melempar ibunya yang sudah tua sakit sakitan ke rumah adik perempuannya yang kehidupannya lebih sulit.


Karena anak nya masih kecil kecil, ditambah lagi penghasilan suaminya yang pas Pasan, dimana suaminya juga punya ibu tua yang harus di rawat.


Hal ini membuat kehidupan adik perempuannya yang sulit semakin sulit.


Dia jelas tahu itu, tapi karena takut dengan istri macan betinanya, yang melarang dia membawa pulang ibu tuanya yang sakit sakitan itu.


Dia terpaksa dengan tega menyarankan ke adik perempuan nya, mengikuti anjuran istri macan betinanya.


Bila suatu hari nanti adik perempuan nya merasa tidak sanggup lagi merawat ibu tua mereka.


Dia menyarankan adik perempuan nya untuk membuang ibu tuanya ke hutan saja.


Adik perempuan nya menolak hal itu, sehingga akhirnya ibu tuanya kini menjadi tanggungan adik perempuan dan suami adik perempuan nya.


Padahal bila di lihat dari taraf ekonomi maupun beban kehidupan dia jauh lebih ringan.


Dia punya dua perahu peninggalan orang tuanya, karena sebagai anak laki dia mewarisi harta orang tuanya.


Anaknya pun sudah besar besar dan masing masing sudah bekerja punya penghasilan.


Sedangkan suami adik perempuan nya perahu nya masih menyewa perahu orang, anak 3 masih kecil kecil.


Teringat semua hal itu pria itu langsung menangis ketakutan dan berkata,


"Ohh Dewa Yang Maha tahu, Maha kuasa, kamu ampunilah dosa hamba mu yang sangat tidak berbakti ini.."


"Aku bersumpah, asalkan aku di beri kesempatan hidup, sepulang dari sini.."


"Aku pasti akan menjalankan bakti ku terhadap ibu ku.."


"Harap dewa yang mulia Sudi memaafkan kekhilafan dan kesalahan hamba selama ini.."


ucap pria itu sambil menangis ketakutan dan penuh penyesalan.


Melihat dan mendengar semua itu, Guo Yun yang tadinya ingin bercanda.


Malah kini jadi terkejut di buatnya, ada rasa kaget sulit percaya tapi juga geram dengan sifat pria di hadapannya ini..


Ingin rasanya dia sekali kepruk memecahkan kepala pria itu, lalu melempar tubuhnya ke sungai menyusul Li Ming jadi santapan ikan.


Tapi saat berpikir jauh Guo Yun tidak jadi melakukan nya.


Bila dia menuruti amarahnya, dia bukannya menyelesaikan masalah.


Dia justru menimbulkan masalah baru yang tidak ada penyelesaian nya.


Berpikir demikian Guo menghela nafas panjang dan berkata,


"Kamu berdirilah, aku tidak akan membunuh mu, asalkan kamu tunjukkan pada ku, di mana keberadaan ibu tua mu saat ini.."


Pria itu mengangkat kepalanya menatap Guo Yun untuk mendapatkan kepastian.


Melihat wajah dingin dan tegas Guo Yun yang terlihat tidak main main.


Tanpa berani bangun dia buru buru menunjuk kearah tepi sungai dan berkata,


"Tepi sungai sebelah barat daya sana, ibu ku ada di rumah adik perempuan ku, yang tinggal di sebelah sana.."


Guo Yun menoleh kearah tukang perahu nya yang masih berdiri mematung di sana.


"Paman antarkan aku ketempat yang di tunjuk nya, nanti saya akan tambahkan biaya sewanya.."


ucap Guo Yun .


Tukang perahu mengangguk cepat, dia segera menarik sauh nya keatas perahu.


Setelah itu mengikuti petunjuk pria itu, dia menggerakkan perahunya bergerak menepi ke posisi yang di tunjuk oleh pria itu.


Saat perahu tiba di tepian, Guo Yun melompat ringan ke darat, menanti si tukang perahu Li Ming menyusulnya naik ke daratan.


Mereka berdua baru berjalan beriringan meninggalkan tepi sungai.


Beberapa saat melakukan perjalanan darat Guo Yun akhir nya menemukan sebuah rumah reyot yang jauh dari kata layak.


Di mana di depan halaman rumah, terlihat seorang perempuan yang wajahnya agak mirip dengan si tukang perahu.


Perempuan yang berumur 30 an hampir 40 itu terlihat sedang menyuapi makan seorang ibu tua,


Ibu tua itu terlihat duduk bersandaran diatas sebuah kursi rotan tua yang sudah reyot.


Ibu tua itu wajahnya terlihat agak mirip dengan wajah perempuan yang sedang menyuapinya itu.


Wajah ibu tua itu terlihat sangat pucat dan kurus.


Sesekali dia akan terbatuk batuk tanpa henti.


Sehingga berulang kali perempuan itu harus membantu membersihkan makanan yang sudah masuk di muntahkan lagi, karena batuk.


Tidak jauh dari perempuan itu terlihat ada seorang bayi yang tidur beralaskan kain diatas lantai.


Di sisi yang tidak jauh dari bayi yang sedang tidur, terlihat seorang anak berusia 2 tahunan sedang duduk bermain sendiri dengan mangkuk dan sumpit usang.


Di sisi anak itu, ada anak lain yang berusia sekitar 6 7 tahun sedang menjaga anak itu.


Di halaman depan rumah terlihat ada seorang ibu tua lainnya, sedang menjemur sayur sawi. dan ikan kering.


Rumah reyot itu hanya terlihat perempuan anak anak dan wanita tua, sedangkan pria nya tidak terlihat.


Melihat kedatangan Guo Yun dan pria tukang perahu itu.


Perempuan itu langsung tersenyum lebar melambaikan tangannya kearah pria tukang perahu di sebelah Guo Yun dan berkata,


"Kakak Kuang kamu datang, kemarilah..!"


"Ayo masuk..!"


"Ibu terus menyebut nama mu, pagi siang malam..!"


"Kemarilah kak..!"


ucap perempuan itu sambil tersenyum ramah menyambut kedatangan kakaknya.


Melihat keadaan rumah itu, dan kondisi yang ada.


Hati Guo Yun sangat terenyuh dan merasa kasihan dengan kehidupan keluarga itu.


"Siapa perempuan itu, apa dia istri mu..?"


tanya Guo Yun tiba tiba.


Saat pria di sebelahnya sedang membalas lambaian tangan perempuan itu.


Pria itu menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Bukan dia adik perempuan ku.."


Wanita tua yang sedang menjemur ikan dan sayur sawi,


Terlihat menghentikan kegiatannya.


Dia menatap kearah Guo Yun dan pria di sebelahnya dengan wajah kurang senang.


Sesaat kemudian dia langsung melangkah cepat menghampiri Guo Yun dan pria itu yang berdiri di luar pagar halamannya.


"Hei A kuang mengapa kamu baru kemari .!?"


"Mau apa kamu kemari !? mau lihat ibu mu sudah mati belum !? atau mau tahu ibu mu sudah kami lempar ke hutan belum sesuai anjuran istri mu..!?"


Bentak wanita tua itu sedikit emosi sambil menunjuk nunjuk wajah si A Kuang itu.


Mendengar teguran wanita tua itu, Guo Yun yang cerdas, sudah langsung bisa menangkap sebagian dari alur cerita nya.


Dia hanya melirik si A Kuang yang menundukkan kepalanya dengan malu tanpa berani berkata apa apa.


Selain malu, A Kuang juga takut, semakin dia menjawab boroknya akan semakin ketahuan.

__ADS_1


Bila Dewa di sebelahnya sampai marah, dia mungkin tidak akan bisa melihat matahari esok pagi lagi.


Tiba-tiba perempuan yang tadinya sedang menyuapi wanita tua yang sakit itu datang dan berkata,


"Ibu sudahlah,.. kakak lama lama baru datang sekali, jangan seperti ini.."


"Tidak enak di lihat, lagipula ada orang luar di sini.."


ucap perempuan yang datang bersama kedua anaknya, yang masih kecil kecil itu.


Wanita tua itu menatap kearah perempuan itu dan berkata,


"Biar aja orang tahu, berani berbuat kenapa harus takut orang tahu..?'


"Yang harus malu bukan kita, tapi dia, mahluk tak berjantung yang takut istri ini, yang harusnya malu.."


"Harta orang tua mau, rumah mau, perahu mau, giliran ibunya sakit kagak mau.."


"Manusia seperti apa dia ini, dia gak merasa malu aku yang malu..!"


bentak wanita tua itu kesal.


Lalu dia berlalu dari sana, pergi meneruskan pekerjaannya.


Mendengar unek unek yang di keluarkan oleh wanita tua itu, kini pahamlah Guo Yun apa yang terjadi.


Dia bisa menebak, wanita tua yang barusan marah itu, pasti lah ibu mertua adik perempuan A Kuang.


Sedangkan wanita tua yang sakit sakitan itu, pastilah ibunya


A Kuang ini.


batin Guo Yun dalam hati.


Guo Yun tidak berkata apapun, dia membiarkan semua mengalir dengan natural hingga semua terungkap jelas.


Tanpa perlu dia repot repot banyak bertanya.


Setelah melihat ibu mertuanya pergi, perempuan itu tersenyum tak berdaya dan berkata,


"Kakak jangan di ambil hati, ayo masuklah.."


"Ibu sangat merindukan kakak, ayo aku antar lihat ibu.."


"Ibu ada di sana ayo kak.."


ucap perempuan itu ramah sambil menarik tangan A Kuang.


Akuang terlihat ragu untuk melangkah masuk kedalam halaman, sesekali matanya melirik kearah mertua adik nya yang sedang menatap galak kearah nya dari jauh.


"Sudahlah kak, jangan di pikirkan."


"Ibu mertua ku, kamu juga bukannya tidak tahu sifatnya.."


"Pada dasarnya hatinya baik, hanya mulutnya saja yang kalau bicara terlalu berterus terang.."


"Tapi setelah lewat, dia juga akan baik lagi.."


"Ayo kak.."


ucap adik perempuan A kuang , sambil kembali menarik tangan kakaknya setengah menyeretnya untuk masuk..


"Kalian kenapa diam saja, ayo panggil Paman..mu.."


ucap perempuan itu menegur kedua putranya yang masih kecil.


"Paman..! Paman..!"


ucap kedua anak kecil itu kompak.


A Kuang berjongkok untuk memeluk kedua keponakannya, dengan sepasang mata berkaca kaca.


Bagaimana pun darah lebih kental dari air.


Manusia tetap terbuat dari darah dan daging, sejahat apapun, dia tetap ada perasaan dan sisi baiknya.


batin Guo Yun dalam hati penuh haru.


Terutama saat dia melihat, bagaimana kebesaran hati adik perempuan A Kuang, yang tetap sangat menghargai kakaknya.


Meski kakaknya telah melakukan kesalahan besar.


"Kakak siapa teman mu, mengapa tidak di ajak masuk ..?"


tanya adik perempuan A Kuang polos.


"Nama ku Guo Yun, aku teman kakak mu, yang kebetulan sedang menyewa perahu kakak mu.."


"Kakak mu merasa bersalah dan tidak tenang, sebelum pergi mengantar ku, dua ingin datang menjenguk ibu nya dulu.."


ucap Guo Yun sedikit berbohong.


untuk menyenangkan adik Akuang yang baik hati itu.


"Maaf harap maklum rumah kami agak kotor dan reyot.."


ucap perempuan itu sambil tersenyum gembira.


Lalu dia memegang kembali tangan kakaknya menariknya menghampiri ibunya.


Sambil berjalan dia berkata,


"Aku sudah duga, pasti kakak sedang sibuk.."


"Bila ada waktu kakak pasti akan datang kemari jenguk ibu.."


"Karena kakak adalah putra ibu yang paling dia sayang dan rindu kan.."


"Ayo kak kita lihat, ibu pasti akan senang."


ucap adik A Kuang dengan gembira, setelah mendengar penjelasan Guo Yun barusan.


Sedangkan A Kuang hanya bisa melirik kearah Guo Yun dengan wajah merah padam merasa sangat malu.


Sesaat kemudian mereka sudah tiba di sisi wanita tua lemah dan pucat, dia terlihat sedang terbaring lemah dengan mata terpejam.


"Ibu bangunlah,..! Lihat siap yang datang menjenguk mu..!?"


ucap perempuan itu sedikit di keraskan suara nya.


Perlahan-lahan wanita itu membuka matanya, mengedarkan pandangannya, saat melihat putranya yang selalu di nanti nantikan olehnya hadir di sana.


Wanita tua dan lemah itu, berusaha sekuat tenaga bangun untuk duduk, dan berkata dengan suara bergetar menahan Isak.


Sepasang mata tua nya terlihat sudah basah duluan sebelum suaranya keluar.


"A Kuang..putra ku... akhirnya.. akhir nya,.. kamu datang juga.."


"Ohh Thian akhirnya...kamu bersedia.. kabulkan..mimpi ..wanita tua ini..sebelum pergi.."


"Akuang,.. kemarilah..biar ibu lihat.. biarkan ibu memeluk mu..nak..!"


Akuang dengan airmata jatuh bercucuran, tanpa bisa bersuara, karena tenggorokannya tercekat penuh haru.


Dia maju memeluk ibunya dalam diam, di dalam hati dia sangat menyesali semua sikapnya selama ini.


"Anak ku..putra ku .. yang baik..Akuang putra ku.."


"Ibu sangat merindukan mu.. kapan kamu akan jemput ibu pulang kerumah kita nak..?"


tanya wanita tua itu sambil terisak Isak.


Guo Yun yang sejak kecil sudah kehilangan kasih ibu nya dan akhirnya dia juga kehilangan kasih dari ayah angkatnya Fan Li yang melebihi ayah kandungnya.


Dia sudah tidak sanggup menahan haru melihat hal itu semua.


Dia buru buru menengadahkan wajahnya keatas, berusaha menahan airmata nya tidak ikutan runtuh .


Tapi tetap saja rasa haru dan kesedihan yang memenuhi dadanya.


Akhirnya airmatanya ikut runtuh juga tak tertahankan lagi.


Sambil menghapus dua butir air bening yang mengalir turun dari kedua matanya.


Guo Yun berkata,


"Akuang cepat pergi cari tandu, mari kita jemput ibu mu pulang kerumah.."


Akuang menatap Guo Yun dengan kaget, tapi melihat ketegasan ucapan dan ekspresi Guo Yun.


Dia tidak berani banyak membantah, membantah sama saja cari mati.


Li Ming pendekar sakti yang menyewa perahunya saja mati tanpa jasad di buatnya.


Apalagi dirinya, Akuang tanpa berani banyak berbantah, dia langsung berkata,


"Ibu, Akuang akan pergi Carikan tandu untuk bawa ibu pulang, ibu tunggulah sebentar ya.."


"Putra ku...kamu serius...kamu tidak sedang menyenangkan hati ibu bukan..?"


"Kamu tidak boleh.. menipu ibu nak.."


"Apa..apa..istri mu tahu...dan..dan..dia setuju..?"


tanya wanita tua itu terlihat bersemangat tapi juga cemas.


"Ibu tenang saja, dia akan setuju.."


"Sudah,.. ibu baring dulu,.. jangan banyak pikir ."


"Aku pergi sebentar,..nanti kembali lagi.."

__ADS_1


ucap Akuang terburu-buru.


"Baiklah nak..kamu hati hati di jalan.."


Akuang mengangguk cepat, lalu dia hendak pergi.


"Akuang Carikan 4 tandu kemari.."


ucap Guo Yun dingin.


"Tuan..!"


jerit Akuang tertahan.


Satu tandu dia masih sanggup, 4 tandu biaya sewanya bisa menghabiskan satu bulan pengeluarannya.


Tentu saja Akuang sangat kaget, dan terlihat agak keberatan.


"Kenapa.."


tanya Guo Yun sambil menatap tajam kearah A Kuang .


Seketika ciut lah nyali A Kuang, sambil menelan ludah dia berkata,


"Tuan maksud ku, apa tidak terlalu boros..?"


A Kuang bertanya, sambil menatap kearah Guo Yun dengan hati hati.


Guo Yun tersenyum dingin dan berkata,


"Menurut mu ."


A Kuang yang mendengar nada penuh ancaman itu, dia langsung menelan ludahnya sendiri dan buru buru berkata,


"Baiklah, itu sudah seharusnya, jangankan 4, 8 pun akan ku datangkan.."


Selesai berkata, dengan langkah terburu-buru Akuang meninggalkan kediaman adiknya.


Tak lama Akuang pergi seorang pemuda lain berwajah jujur dan polos terlihat sedang melangkah masuk kedalam halaman rumah.


Dia menatap kearah Guo Yun yang hadir di sana dengan heran.


Melihat kedatangan pemuda itu, adik akuang buru buru membawa semangkuk air menghampirinya.


"Suamiku kami baru pulang, pasti sudah lelah, ayo minumlah dulu.."


ucap Perempuan itu menggunakan lengan bajunya membantu menghapus keringat dileher suaminya.


"A Fen, siapa dia ? aku tidak pernah melihatnya..?"


tanya pria berwajah polos itu, setelah menghabiskan air di mangkuk pemberian istrinya barusan.


"Ohh itu dia tuan Guo Yun, teman sekaligus penumpang perahu kakak ku Akuang.."


"Akuang kemari ? mau apa dia..?"


tanya pria berwajah polos itu kurang senang.


"Tidak ada apa-apa, kakak cuma datang mau jenguk ibu, sekalian menjemput ibu pulang.."


"Ini kakak sedang pergi cari tandu untuk membawa ibu pulang kerumahnya.."


"Istri ku kamu serius, hal seperti ini tidak boleh di buat candaan, kita kan tahu gimana sikap kakak mu, terutama istrinya itu.."


"Kondisi ibu mu sangat lemah, bila dia di bawa kesana menjalani hari hari sulit, lebih baik dia bersama kita."


"Meski kita miskin apa adanya, tapi setidaknya kita tulus.."


ucap pria itu serius.


Guo Yun mendengarkan semua percakapan itu, diam diam dia kagum dengan hati dan pikiran pasangan itu.


Guo Yun tidak berkata apapun selain tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Seolah olah tidak mendengarnya, karena jarak pasangan suami istri itu cukup jauh darinya.


Lagipula mereka juga berbicara dengan suara berbisik bisik.


Tapi bagi pendengaran Guo Yun yang tajam, semua itu bukan halangan.


Adik perempuan A Kuang menatap suaminya dan berkata,


"Suami ku, kamu jangan berpikir terlalu jauh,.."


"Kita lebih baik ikuti dan lihat perkembangannya saja.."


"Syukur syukur kakak memang menyesal dan bertobat, bila tidak kita bawa kembali ibu juga tidak masalah.."


ucap istrinya sambil tersenyum lembut.


Pria itu mengangguk setuju dan berkata,


"Baiklah, mari kita hampiri tamu, tidak baik kita terus berbicara di sini mengabaikan tamu.."


A Fen mengangguk, membenarkan pendapat suaminya.


Dia segera menggandeng suaminya menghampiri Guo Yun dan berkata,


"Tuan perkenalkan ini suami saya A Gong, maaf bila ada sikap kami yang kurang pantas.."


"Harap tuan memakluminya, kami hanya keluarga miskin kasar juga buta huruf.."


ucap A Fen merendah dan penuh hormat.


Guo Yun membalas memberi hormat dan berkata,


"Nyonya terlalu merendah, aku justru sangat kagum dengan sifat jujur polos dan baik hati, seperti kalian berdua.."


"Ahh tuan Yun anda terlalu memuji, kami hanya menjalankan tugas dan tanggung jawab kami saja.."


"Mari silahkan duduk tuan Yun.."


ucap A Gong sambil tersenyum ramah.


"Istri ku, siapkan lah makanan, mari kita makan sama sama.."


"Panggil juga ibu kemari untuk makan, "


"Oh ya ibu mu sudah makan..?"


tanya A Gong .


Afen menggelengkan kepalanya, dan berkata pela,


"Tadi sudah aku suapi, tapi karena batuk, jadinya lebih banyak yang keluar daripada yang masuk.."


A Gong menghela nafas panjang dan berkata,


"Ya sudah nanti aku akan pergi belikan obat batuk.."


"Agar tidak semakin parah.."


Afen mengangguk pelan, lalu dia pergi kebelakang rumah untuk menyiapkan makanan buat makan siang.


Tidak lama kemudian Afen sudah kembali bersama ibu mertuanya.


Mereka masing masing membawa masakan untuk di sajikan diatas meja.


"Tuan Yun, maaf kami hanya bisa menjamu anda dengan teh kasar dan nasi seadanya.."


ucap mertua Afen dengan sikap ramah.


Guo Yun tersenyum lembut dan berkata,


"Bibi terlalu sungkan, bagi ku ini sudah lebih dari cukup, aku justru sangat berterimakasih dan kagum dengan kebaikan dan ketulusan keluarga ini.."


"Cobalah sayur asin ini, Tuan muda Yun.."


"Semoga cocok ."


ucap mertua Afen sambil membantu menyumpitkan masakan sayur asin ke mangkuk Guo Yun.


"Terimakasih bibi,.. semuanya makan.."


ucap Guo Yun sambil tersenyum sopan .


Sesaat kemudian terlihat mereka semua makan sambil mengobrol dengan akrab.


Dari cerita ibu mertua Afen, Guo Yun semakin paham duduk permasalahannya.


Tapi dia tidak ikutan berbicara, hanya menjadi pendengar setia dan mengangguk angguk seperti burung beo.


Bertepatan dengan mereka selesai makan siang, Akuang pun datang dengan 4 buah tandu yang masing masing tandu di pukul oleh 4 orang pria bertubuh kekar.


Melihat tandu tiba Guo Yun pun berkata,


"Bibi bibi naiklah dulu keatas tandu kedua,.."


"Tandu pertama biar di isi oleh bibi yang sedang sakit, dan kakak Fen."


"Tandu ketiga nanti diisi oleh kakak Agong dan anak anak.."


"Tandu keempat nanti buat saya dan Akuang.."


ucap Guo Yun melakukan pengaturan.


"Tuan Yun, sebaiknya kami tidak usah ikut lah, biar Afen ibunya dan kakaknya saja yang berangkat.."


"Kami biar jaga rumah dan anak anak saja.."


ucap mertua Afen merasa sungkan dan kurang enak hati.

__ADS_1


Agong juga terlihat mengangguk, menyetujui ucapan ibunya.


__ADS_2