LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
TIBA DI DERMAGA HU YANG


__ADS_3

Guo Yun akhirnya bersedia melepaskan pelukannya, dia menyerahkan dengan hati hati jasad Min Min ke Si Si.


Setelah berpakaian, dia dengan tatapan mata kosong, seperti orang yang telah kehilangan jiwanya.


Guo Yun berjalan keluar dari dalam kamar nya seperti mayat hidup berjalan.


Guo Yun berjalan seorang diri menuju bagian paling belakang kapal.


Dia duduk di bagian paling ujung perahu, menatap kearah ombak sungai, yang terlihat bergelombang karena di lewati oleh kapal kapal besar.


"Aku yang salah, semua ini salah ku.."


"Aku tidak berguna,.."


Ucap Guo Yun sambil menutupi wajahnya, dia duduk diam menangis seorang diri di sana.


Semua orang, tidak ada yang berani mendekatinya.


Di saat suasana hatinya sedang seperti saat ini.


Bahkan Li Ba pun hanya berdiri diam mengamatinya dari jauh, tanpa bersuara.


Guo Yun terus menangis sedih dalam diam seorang diri di sana.


Hingga akhirnya Gongsun Li datang duduk di sampingnya dan berkata pelan,


"Yun ke ke, kami sudah selesai dengan nya, apa yang Yun Ke ke ingin kami bantu lakukan selanjutnya..?"


Guo Yun menurunkan tangan nya, menghapus sisa airmatanya dan berkata,


"Aku akan kembali ke sisinya, kalian berdua urus dan jagalah anak anak dengan baik.."


"Agar dia bisa tidur dengan tenang.."


Ucap Guo Yun pelan, dia bergerak maju memeluk Gongsun Li sebentar.


Setelah itu dia langsung bangkit berdiri, lalu berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah lesu.


Kembali kedalam kamar nya.


Di dalam kamar, terlihat Si Si duduk di samping jenazah Min Min yang sudah di rias dan berpakaian rapi.


Min Min benar benar terlihat sangat cantik dan anggun, mirip putri yang sedang tidur dengan wajah tenang.


"Yun ke ke kami sudah selesai, sekarang sesuai janji ku sebelumnya.."


"Kami kembalikan Min Min ke Yun ke ke.."


Ucap Si Si sambil menatap kearah Guo Yun dengan lembut.


Guo Yun maju memeluk Si Si sebentar dan berkata,


"Terimakasih, tolong bantu jaga rawat dan tenangkan anak anak, selama Min Min ada di sini bersama ku.."


Si Si mengangguk pelan dan berkata,


"Dia sudah pergi, biarkan dia pergi dengan tenang.."

__ADS_1


"Yang pergi tidak mungkin kembali, Yun ke ke harus belajar merelakan nya, tegar lah.."


"Ingat jaga kesehatan Yun ke ke sendiri, jangan terlalu larut dalam kesedihan.."


"Jangan sia sia kan nyawa Yun ke ke, yang dia dapatkan dengan menukar nyawa nya.."


"Jaga diri.."


Ucap Si Si sambil menciumi pipi Guo Yun dengan lembut.


Setelah itu dia segera berlalu dari kamar tersebut bersama Gongsun Li


Guo Yun menghela nafas sedih menatap kearah Jasad Min Min yang membujur disana.


"Sayang aku benar benar sulit percaya dan sulit menerima kenyataan ini.."


"Mengapa kamu pergi sendirian, apa kamu lupa dengan janji kita dulu.."


"Bukankah dulu kita sudah pernah bicarakan hidup kita hidup bersama,.mati pun kita akan sama sama.."


"Tapi kini kamu malah.."


"Ahhh,..! Min Min...!"


Guo Yun langsung maju menarik tubuh Min Min kembali kedalam pangkuan nya.


Guo Yun kembali memeluk tubuh yang sudah dingin itu, sambil menangis sedih seperti anak kecil kehilangan ibunya.


"Min Min Ahhh..!"


Ucap Guo Yun di dalam tangisannya yang tidak ada lagi suara yang keluar.


Tiga hari berlalu, Guo Yun tidak pernah keluar dari kamar, dia terus duduk bodoh di sana.


Pagi siang malam, terus memeluk tubuh Min Min yang sudah kaku dan mulai membiru jasadnya.


Dia hanya makan minum sedikit, saat Gongsun Li datang menyuapinya makan.


Tubuhnya terlihat kurus sepasang matanya cekung kedalam, airmata sudah tidak terlihat.


Karena sudah kering, di gunakan untuk menangis tanpa henti selama 3 hari 3 malam.


Kapal yang di tumpangi Guo Yun sudah merapat di pelabuhan Hu Yang.


"Tok..! Tok.! Tok..!"


"Yun ke ke..!"


Terdengar suara panggilan dan ketukan pintu di luar sana.


"Masuklah Si Si, Li Er,.. pintu tidak terkunci.."


Sahut Guo Yun dengan suara tanpa semangat.


Pintu terbuka Gongsun Li dan Si Si melangkah masuk kedalam.


"Yun ke ke kapal sudah berlabuh, kita sudah bisa turun ke darat.."

__ADS_1


"Yun ke ke tidak bisa terus seperti ini, jasad Min Min akan segera rusak, kita secepatnya harus mengurus pemakamannya.."


Ucap Gongsun Li menegur Guo Yun sambil menatap nya dengan serius.


Tiga istri memang hanya Gongsun Li yang berani menegur dan memarahi Guo Yun.


Min Min bila marah pilih diam tidak mau bicara.


Si Si bila marah dia akan pilih menangis diam diam seorang diri.


3 istri 3 karakter berbeda, memang cukup pusing buat Guo Yun, tapi semua ini masalah yang dia buat sendiri.


Jadi dia harus siap menghadapi semuanya.


Guo Yun mengangguk lesu dan berkata,


"Kalian turunlah lebih dulu, bawa anak anak menjauh dari dermaga.."


"Siapkan saja sebuah kereta untuk ku, bersama seorang kusir kereta.."


"Peralatan sembahyang dan peti mati suruh mereka juga sekalian siapkan, sisa nya akan aku urus sendiri.."


Ucap Guo Yun pelan.


Setelah itu dia pun kembali tertunduk sedih menatap kearah wajah Min Min yang mulai terlihat membiru.


Gongsun Li memberi kode mata dengan Si Si agar membiarkan saja Guo Yun seperti itu.


Si Si mengangguk pelan, mereka berdua segera pergi mengatur permintaan Guo Yun.


Dari jendela di samping tempat tidur, Guo Yun bisa menyaksikan semua orang satu persatu meninggalkan dermaga Hu Yang.


Guo Yun menunggu hingga dermaga terlihat sepi, di mana hanya ada kereta mewah yang ditarik oleh 4 ekor kuda parkir di tepi dermaga.


Guo Yun pun menggendong jasad Min Min yang kaku dan berat.


"Sayang sudah saatnya aku mengantar mu ke peristirahatan terakhir.."


"Mari kita turun dari kapal sekarang.."


Ucap Guo Yun berbisik pelan di samping telinga Min Min.


Guo Yun menggendong Min Min keluar dari kamarnya seorang diri, begitu pula saat tiba di jembatan kayu untuk turun ke darat.


Guo Yun tetap melakukan semuanya seorang diri.


"Min Min hati hatilah, kita akan menyeberangi jembatan, berjalan lah dengan baik.."


Ucap Guo Yun kembali berbicara pelan dengan Min Min, sebelum dia melangkah menyeberangi jembatan kayu, menuju pinggiran dermaga.


Setibanya di daratan Guo Yun langsung menuju kereta kuda mewah yang tersedia untuk nya.


Kusir kereta segera membantu membuka tirai penutup pintu kereta, agar Guo Yun bisa melewatinya dengan leluasa.


Kusir kereta menatap kagum dengan kekuatan dan ketangkasan tuannya yang menggendong mayat kaku seperti tanpa beban.


Dengan mudah Guo Yun melakukan semuanya seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2