
"Dasar ******,.. berani kalian menipu ku,.. lihat bagaimana aku mengurus mu, bila tertangkap nanti.."
Gumam Ying Zheng sambil melangkah buru buru keluar dari kediamannya.
"Pengawal...!"
"Siapkan kuda .!"
teriak Ying Zheng ke anak buahnya tanpa menoleh dan terus melangkah meninggalkan halaman istana.
Beberapa saat kemudian terlihat Ying Zheng dan 1000 pasukan menunggang kuda, bergerak keluar dari pintu gerbang sebelah selatan Ibukota Xian Yang.
Mengikuti informasi dari penjaga gerbang, Ying Zheng yang di bantu oleh Li Sin dan Fan Sui langsung melakukan pengejaran.
Di tempat lain sebuah kereta kuda yang di kendalikan oleh Xiao Li, terus bergerak di lereng pegunungan gunung Bagong.
Dari petunjuk yang di dapatnya dari penduduk desa di kaki gunung, setelah melewati gunung ini mereka akan sampai di perbatasan negara Chu dan Qin.
Di sana bila berhasil menemukan Wang Jian, maka mereka akan aman, mereka bisa meminta perlindungan untuk di antar menemui Guo Yun.
Cuma cara itulah yang terlintas dalam pikiran Xiao Li.
Karena dia meninggal kan Xian Yang ditengah malam buta, tanpa arah tujuan jelas
Dia terlanjur nyasar sampai kaki gunung Bagong, setelah bertanya kepada penduduk desa dan mengetahui posisinya saat ini.
Xiao Li tidak punya pilihan lain, selain berusaha melewati gunung Bagong ini.
Harapan nya kini hanya bisa bertumpu pada Wang Jian, yang kini berada di lembah sungai Huai, wilayah perbatasan Chu
Asal bisa bertemu Wang Jian, amanlah mereka.
Wang Jian pasti bisa membantu mereka bertemu dengan tuan mudanya.
Xiao Li terus memacu kereta kudanya berjalan di lereng gunung Bagong yang tidak rata.
Saat dia teringat dengan nasib ayah dan kakaknya, yang tidak tahu masih hidup atau sudah pergi selama lamanya dari dunia yang luas ini.
Sesekali Xiao Li akan menghapus airmatanya yang jatuh menitik.
Gongsun Li yang terguncang guncang, di dalam kereta kuda, karena jalan lereng gunung berbatu yang tidak rata.
Akhirnya dia pun tersadar dari pingsannya.
Gongsun Li membuka matanya pelan pelan, sambil memegangi kepala dan tengkuknya, yang masih terasa agak nyeri, juga kepalanya yang terasa agak pusing
Dia mengedarkan pandangannya melihat keadaan sekitarnya.
Melihat ruang sempit, yang di tempatinya dan ruangan yang terus berguncang guncang.
Sadarlah Gongsun Li, dia saat ini pasti berada dalam kereta kuda.
Gongsun Li mencoba bangun, lalu menyingkap tirai jendela.
Begitu tirai tersingkap, angin gunung yang kencang langsung menerpa wajah Gongsun Li.
Gongsun Li buru buru melihat keluar jendela, Gongsun Li sangat kaget, saat melihat pemandangan di luar adalah jurang jurang dalam.
__ADS_1
Di mana bagian bawah sana terlihat rumah rumah penduduk kaki Gunung, yang letaknya cukup jauh dari tempatnya berada saat ini.
Gongsun Li menutup kembali tirai jendela, lalu dia mencoba menyingkap tirai yang menghubungkan kereta dengan tempat duduk kusir kereta.
Di sana dia hanya menemukan Xiao Li, tidak ada yang lain.
Dengan sisa ingatannya yang mulai pulih, Gongsun Li sadar apa yang terjadi dan mengapa dia dan Xiao Li bisa berada di tempat ini.
Gongsun Li ikut duduk di samping Xiao Li dan berkata,
"Maafkan kakak, adik Xiao Li, gara gara kakak kalian sekeluarga jadi seperti ini.."
Xiao Li menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak nyonya muda, ini semua adalah keputusan kami sendiri, tidak ada hubungannya dengan nyonya.."
"Nyonya kembali lah kedalam, di luar angin besar.."
"Setelah melewati gunung ini, kita akan tiba di lembah sungai Huai ."
"Di sana ada paman Wang Jian, dia pasti bisa membantu kita temukan tuan muda.."
"Nyonya tunggulah di dalam sana.."
ucap Xiao Li sambil berusaha mengendalikan laju kudanya dengan hati hati.
Gongsun Li paham, di depan juga tidak ada yang bisa dia lakukan.
Kehadirannya justru, hanya akan menjadi pengganggu bagi Xiao Li, yang sedang berkonsentrasi mengendalikan kuda kuda, yang sedang menarik kereta mereka.
Sambil menghela nafas panjang, Gongsun Li berkata,
Gongsun Li kembali masuk kedalam keretanya.
Dia duduk termenung di dalam kereta, menatap keluar jendela dengan wajah berduka.
Saat memikirkan nasib kakaknya, paman Lai Fu dan Xiao Tie yang begitu baik dan setia padanya.
Tanpa terasa air mata Gongsun Li jatuh berderai membasahi pipinya, yang berkulit putih licin dan halus.
"Yun ke ke..kamu di mana ? aku sungguh sungguh merindukanmu.."
gumam Gongsun Li sedih, sambil menghapus airmata, yang menggantung di pipinya.
Di tempat lain, Ying Zheng yang melakukan pengejaran dengan kuda cepat.
Rombongan mereka tiba di sebuah persimpangan jalan, Ying Zheng menoleh kearah Fan Sui dan berkata,
"Kemana kita sekarang..?"
Fan Sui melompat turun dari kudanya dan berkata,
"Harap tunggu sebentar yang mulia.."
"Biar aku periksa dulu.."
ucap Fan Sui sambil memberi hormat.
__ADS_1
Ying Zheng menanggapinya dengan mengangguk pelan.
Fan Sui langsung pergi memeriksa keadaan kedepan.
Tak lama kemudian, dia kembali dengan wajah gembira.."
"Yang Mulia, mereka mengambil jalan kanan sana.."
"Kita ambil jalan yang lurus ini saja Yang Mulia.."
ucap Fan Sui cepat.
Ying Zheng mengerutkan keningnya dan berkata,
"Mengapa, bukankah seharusnya kita mengambil jalan kanan menyusul mereka....?"
Fan Sui menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Jalan sebelah kanan ini adalah sebuah jalan memutar cukup jauh.."
"Tapi pada akhirnya, mereka akan sampai di desa Gong, di kaki gunung Bagong, yang letaknya tidak jauh dari jalan lurus ini.."
ucap Fan Sui gembira.
"Ya sudah jangan di tunda lagi, kita lewat jalan ini saja.."
ucap Ying Zheng bersemangat.
Lalu dia segera memacu kudanya mengambil jalan lurus, diikuti oleh rombongan pasukan berkuda nya, yang bergerak menyusul dari arah belakang.
Dengan cepat mereka menyusul sampai di desa Gong
Setelah mendapatkan informasi dari penduduk desa Gong,
Bahwa kereta kuda yang di kendalikan oleh Xiao Li.
Bergerak menuju gunung Bagong, Ying Zheng kembali memacu kudanya melakukan pengejaran.
Pergerakan rombongan Ying Zheng jauh lebih cepat, karena setiap kuda hanya membawa satu penumpang.
Selain itu Xiao Li yang salah jalan, mengambil jalan memutar, memboroskan banyak waktu berharga.
Sehingga meski Xiao Li menang start duluan, tapi karena salah jalan, dia tanpa sengaja telah menghabiskan banyak waktu.
Perbedaan jarak di antara mereka menjadi semakin dekat.
Jalan lereng gunung, yang sulit di tempuh, sambil menarik kereta kuda, juga ikut memperpendek jarak pengejaran.
Akhirnya Ying Zheng dan rombongan nya berhasil menyusul, di atas lereng mereka mulai bisa melihat kereta yang di tumpangi oleh Gongsun.Li.
"Hei kalian berhenti..!"
teriak Li Sin dari arah bawah lereng, sambil menunjuk kearah kereta di depan mereka.
"Xiao Li yang mendengar teriakkan dari arah bawah, dia buru-buru melihat sebentar.
Begitu melihat siapa yang sedang berteriak, meminta mereka berhenti.
__ADS_1
Xiao Li dengan wajah pucat, buru buru memacu keretanya.