
"Dasar sinting, ayo kita bersulang jangan dengarkan mahluk aneh itu.."
ucap Wu Ti Siaw Jen sambil kembali menyodorkan cawan nya kearah Guo Yun.
Guo Yun mengisinya hingga penuh, Wu Ti Siau Jen sambil tertawa gembira, langsung menghabiskan isi cawan nya.
Cui Ming Koai Jen mendengus kesal, lalu kakek yang bertabiat aneh itu mengulurkan tangannya yang bisa memanjang menyambar sebuah guci arak berukuran sedang.
"Kamu kalau mampu menerima arak dari ku, baru layak duduk di kursi besar itu.."
"Bila tidak minggat lah, biar cucu mantu ku saja yang duduk di sana.."
ucap Cui Ming Koai Jen dengan suara sedingin es.
"Kakek...!"
tegur Cu Cu kesal.
Tapi Cui Ming Koai Jen pura pura tidak mendengar dan tidak ambil peduli dengan sikap cucunya.
Li Kui di buat semakin serba salah, dia buru buru menghampiri Guo Yun dan berkata,
"Kakak tolong jangan di ambil hati, kakek memang kalau bicara suka agak sedikit kelewat batas..'
"Mohon kakak jangan tersinggung karena nya.."
Guo Yun tersenyum sambil menepuk pundak Li Kui,.dia berkata,
"Kalau semudah itu aku tersinggung, apa layak aku menjadi kakak mu,? apa layak aku menjadi pemimpin di sini..?"
"Sudah kamu tenang saja, aku pasti akan melayani kakek mu dengan baik.."
"Kakek mu berarti dia kakek ku juga.."
ucap Guo Yun tersenyum lembut.
"Kakak.."
ucap Li Kui tersentuh, hingga tidak tahu mau berkata apa.
Guo Yun dengan tenang mendorong Li Kui mundur, dia memberi kode mata ke Cu Cu.
Agar membawa Li Kui mundur kembali ketempat nya.
Cu Cu yang cerdik mengerti keinginan kakak iparnya, dua segera maju untuk menarik suaminya mundur.
Guo Yun menghampiri Cui Ming Koai Jen berdiri di hadapannya, lalu dengan sikap tenang, dia mengulurkan cawan kosongnya kedepan dan berkata,
"Silahkan kek,.. terimakasih banyak kakek mau merepotkan diri menyulangi junior.."
"Kamu jangan senang dulu, kalau tidak ada kemampuan, aku pasti tidak akan sungkan melempar mu keluar dari sini.."
__ADS_1
ucap Cui Ming Koai Jen dingin.
Lalu dia mulai menuangkan arak dari guci di tangannya, memenuhi cawan Guo Yun yang kecil.
Cawan sekecil itu di tuangi dengan arak dari guci yang bermulut besar.
Tentu saja seharusnya arak langsung akan bercipratan kemana mana, sedangkan arak yang di tumpahkan ke dalam cawan, tentu saja langsung akan meluber keluar.
Tapi pada kenyataannya, justru berbeda, semua arak yang tumpah semua tersedot memenuhi cawan.
Sedangkan isi cawan yang penuh dengan arak terus naik keatas seperti air mancur yang terus naik keatas.
Berapa banyak pun di tuang, arak akan terus naik keatas dan keatas.
Wu Ti Siaw Jen sambil tertawa berkata,
"Wah ini jadi menarik, tapi tidak adil bila anak muda ini saja yang di uji.."
"Seharusnya kakak juga ikut menemaninya, siapa yang arak nya tumpah berarti kalah.."
"Li Kui Cu Cu,..! kalian jangan bengong aja.."
"Lekas bawakan guci arak besar,..!"
"Semua bawa kemari..makin banyak makin baik..!"
Li Kui tidak berani membantah, dia segera memberi kode agar pengawal dan pelayan di sana.
Segera pergi menyiapkan permintaan Wu TI Siau Jen.
Dia mulai memenuhi cawan di tangan kakak nya, lagi lagi kembali terjadi kejadian yang sama uniknya.
Arak di cawan Cui Ming Koai Jen juga terus membumbung keatas, juga tidak ada yang tumpah sedikitpun.
Seiring dengan Wu Ti Siaw Jen sambil tertawa-tawa, terus mengisi cawan arak di tangan kakak nya tanpa henti.
Hingga dalam sekejap mata, arak di cawan Cui Ming Koai Jen berhasil menyusul tingginya arak yang ada di cawan Guo Yun.
Ini adalah suatu demontrasi pengendalian tenaga dalam tingkat tinggi.
Tanpa saling serang sekalipun, mereka berdua bisa saling menguji sampai di mana batas kemampuan lawan mereka.
Dalam waktu singkat pelayan dan pengawal mulai berdatangan mengantarkan arak guci demi guci memenuhi ruangan.
Melihat hal itu, baik Cui Ming Koai Jen maupun Wu Ti Siaw Jen, mereka saling menuangkan arak .
Wu Ti Siaw Jen mengurus isi cawan kakak nya, sedangkan Cui Ming Koai Jen mengurus cawan di tangan Guo Yun.
Saat arak hampir mencapai langit langit ruangan, Cui Ming Koai Jen wajahnya mulai terlihat berkerut.
Rambutnya sedikit berdiri, dari kepalanya mulai keluar uap tipis.
__ADS_1
Sebaliknya Guo Yun bersikap biasa saja.
"Cussss,..!"
"Cussss,..!"
Baik arak yang berasal dari Guo Yun dan Cui Ming Koai Jen, secara hampir bersamaan menembus atap langit langit hingga berlubang dan terus naik keatas.
Semua orang yang hadir di sana, menatap dengan takjub dan sulit mempercayai nya.
Selain itu wajah mereka juga terlihat tegang menunggu hasil akhir siapa yang keluar sebagai juara nya.
Hanya Si Si dan Gongsun Li yang bersikap tenang dan menatap kearah suaminya dengan penuh percaya diri.
Seolah-olah mereka sangat yakin Guo Yun pasti menang.
Tapi hal ini segera terbukti, arak yang berasal dari cawan Cui Ming Koai Jen.
Perlahan lahan mulai terlihat tidak stabil, tangan Cui Ming Koai Jen yang memegang cawan juga terlihat mulai gemetaran.
Begitupula dengan arak yang membumbung tinggi ke udara, arak milik Cui Ming Koai Jen mulai labil, sebentar doyong ke kiri, sebentar doyong ke kanan.
Sedangkan di pihak Guo Yun, dia terlihat tenang tenang saja.
Semuanya masih berjalan seperti biasa, selain arak yang semakin lama semakin membumbung tinggi ke udara.
Sama sekali tidak ada perubahan apapun disana.
Wu Ti Siaw Jen melihat hal itu segera berkata,
"Sudahlah kak, mengaku saja kalah.."
"Aku akan membantu mu menghadapi nya.."
Cui Ming Koai Jen yang terlihat semakin pucat, tidak ada kemampuan lagi untuk menjawab.
Dia hanya mengangguk kecil saja, menunjukkan bahwa dia menyetujui usulan adiknya.
Melihat kakaknya yang keras kepala, ada hati nya juga memohon bantuan dari nya.
Sambil tertawa gembira, Wu Ti Siaw Jen tangan kanannya segera membantu memegang pundak kanan Cui Ming Koai Jen.
Menyalurkan energi kesana, sedangkan tangan kirinya masih tetap sibuk menuangkan arak, kedalam cawan kakaknya.
Agar arak mereka tidak sampai kalah tinggi dengan arak hasil kreasi Guo Yun.
Datangnya bantuan dari Wu Ti Siau Jen, keadaan arak dan cawan di tangan Cui Ming Koai Jen, yang tadinya bergetar hebat dan tidak stabil.
Kini mulai normal kembali semua nya, tangan yang memegang cawan arak tidak gemetar lagi..
Arak yang membumbung keatas juga kembali stabil terus mengimbangi tingginya arak Guo Yun yang terus naik keatas.
__ADS_1
Karena baik Cui Ming Koai Jen, maupun Wu Ti Siaw Jen.
Mereka tetap tidak ada yang bersedia berhenti menuang arak ke cawan di tangan Guo Yun, dan cawan di tangan Cui Ming Koai Jen.