
Cu Cu sangat terkejut mendengar permintaan Li Kui, dia mengangkat kepalanya menatap kearah Li Kui.
Cu Cu menatap Li Kui lekat lekat, seolah olah ingin mencari tahu, keseriusan Li Kui atas permintaannya barusan.
Saat dia melihat keseriusan di mata Li Kui, dengan agak ragu ragu dia berkata,
"Kakak Kui bagaimana bila aku kenakan topeng sebelah wajah saja..?"
Li Kui menyentuh bagian wajah Cu Cu yang bermasalah dengan lembut.
Sambil menggelengkan kepalanya, Li Kui berkata,
"Tidak adik Cu Cu, itu tidak perlu."
"Aku justru ingin semua orang tahu, aku bangga dan sangat mencintai mu apa adanya, baik kelebihan maupun kekurangan mu.."
"Ahhh kakak Kui,.."
Cu Cu sudah tidak bisa berkata-kata, selain memeluk erat Li Kui menangis penuh haru.
"Ha...ha..ha..! Bocah nakal, ternyata pilihan mu tidak salah.."
"Pemuda bodoh ini ternyata cukup baik..Ha...ha...ha..!"
"Akhirnya kamu laku juga..!"
ucap kakek Cu Cu sambil tertawa puas.
Dia berjalan keluar dari balik lorong bersama seorang kakek lain, yang bertubuh pendek kecil seperti seorang bocah 3 tahun.
"Kakek,..! Paman kakek,..! apa yang kalian lakukan di sini..kalian..!?"
tegur Cu Cu dengan wajah merah menahan kesal dan malu.
Dia buru-buru melepaskan diri dari pelukan Li Kui.
Dia menatap marah ke kedua kakek aneh dihadapan nya.
Tapi kakek Cu Cu bersikap cuek dan santai, tanpa memperdulikan respon cucunya.
Dia dengan santai bertanya ke kakek cebol di sebelahnya.
"Adik kamu lihat, gimana menurut mu..?"
ucap kakek Cu Cu sambil menoleh kearah kakek cebol di sebelahnya.
"Bagus,.. sangat bagus,.. gadis jelek bersanding dengan pemuda idiot, sangat cocok.."
"Mereka akan hasilkan cucu yang sama anehnya dengan mu.."
ucap si cebol sambil tersenyum senyum.
"Ha..ha..ha.. biarin setidaknya aku punya cucu, ketimbang kamu katak cebol."
"Aku tahu kamu hanya iri saja.."
ucap Kakek Cu Cu membalasnya sambil tersenyum mengejek.
"Kau,..!"
teriak si cebol marah, sambil menunjuk kakek Cu Cu dengan mata mendelik.
Tapi sesaat kemudian, sambil mendengus kesal.
__ADS_1
Dia lebih memilih membalikkan badannya, lalu meninggalkan tempat tersebut.
"Ayo kakak Kui jangan perdulikan mereka, ayo kita main ketempat lain.."
ucap Cu Cu sambil menarik tangan Li Kui hendak meninggalkan kakeknya.
"Hei kalian mau kemana..!?"
teriak kakek cucu dari belakang, saat dia melihat Li Kui di tarik pergi oleh cucu nya.
Cu Cu menoleh kearah kakeknya menjulurkan lidah mengejeknya dan berkata,
"Mau tahu saja,..wekkk,..!"
Tanpa memperdulikan reaksi kakeknya, Cu Cu menarik tangan Li Kui meneruskan langkahnya.
Mereka masuk kembali kedalam ruangan kamar Cu Cu.
Cu Cu memutar sebuah bulatan batu gepeng.
Ranjang batu Cu Cu berderak, setelah batu gepeng di bawah ranjang batu dia putar.
"Kreekkk,..! Kreekkk,..! Kreekkk,..!"
Perlahan lahan ranjang batu bergeser kesamping.
Memunculkan deretan anak tangga menurun kebawah.
Tanpa memperdulikan tatapan mata heran Li Kui.
Cu Cu membawa Li Kui menuruni anak tangga.
Begitu mereka berdua masuk dan mulai menuruni anak tangga, ranjang batu di atas langsung tertutup kembali.
Akhirnya mereka berdua tiba di sebuah mulut gua.
Di hadapan mulut gua ada sebuah pantai pasir putih dan sebuah kolam dangkal berair jernih.
Sekeliling kolam di kelilingi oleh tebing curam dan terjal.
Di tepi pantai di hiasi tanaman pohon tinggi kurus dengan buah buah hijau muda, sebesar besar kepala, selain itu juga ada beberapa pepohonan rindang lainnya.
Di bawah salah satu pepohonan besar dan rindang, ada sebuah bangku kayu ayunan, yang tergantung di udara.
Cu Cu mengajak Li Kui berjalan menuju kearah pohon rindang, yang ada ayunannya.
Cu Cu mengambil tempat, duduk di ayunan.
Lalu dia memberi tanda agar Li Kui ikut duduk di sebelahnya.
Li Kui mengikuti permintaan Cu Cu, dia ikut duduk di sana.
Kemudian Cu Cu sambil tertawa gembira, mulai mengayun bangku ayunan itu.
Sehingga mereka berdua terayun ayun diudara.
Mereka berdua berpelukan sambil tertawa-tawa bermain-main ayunan seperti anak kecil.
"Adik Cu kamu sering ya bermain di sini bersama kakek mu..?"
tanya Li Kui di sela permainan mereka.
Cu Cu menggelengkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Tidak aku biasanya bermain sendiri, kakek terlalu sibuk berlatih, begitu pula paman kakek.."
"Mereka mana punya waktu menemani ku bermain."
Li Kui yang melihat Cu Cu sedikit bersedih saat bahas hal itu.
Dia menciumi pipi Cu Cu dan berkata,
"Adik Cu tidak perlu khawatir, mulai saat ini, akulah yang akan selalu temani adik Cu bermain."
Cu Cu kembali tersenyum, sambil menoleh kearah Li Kui dan menggenggam tangan nya, Cu Cu berkata,
"Terimakasih kakak Kui..."
Li Kui tersenyum dan berkata,
"Tak perlu, kamu adalah istri ku, tentu adalah kewajiban ku, membuat mu bahagia."
Cu Cu mengangguk gembira dan tersenyum manis mendengar ucapan Li Kui.
Li Kui membantu menaikkan anak rambut Cu Cu kesamping telinganya, lalu berkata,
"Adik Cu aku ingin dengar cerita tentang kamu dan keluarga mu, boleh,..?"
Cu Cu termenung sejenak kemudian berkata,
"Kakek ku dan paman kakek ku adalah keturunan bangsawan kerajaan Zhou.."
"Kakek ku bernama Ji Sun, sedangkan paman kakek ku bernama Ji Bun.."
"Karena sejak muda mereka suka merantau, dan sangat suka ilmu silat, akhirnya mereka berdua memiliki kesaktian tinggi.'
"Kakek ku dan paman kakek ku, sebelum berada di pulau ini, mereka berdua adalah adalah pelindung kekaisaran Zhou.."
"Suatu hari mereka berdua bentrok dan dikalahkan oleh Kui Zi Sian Seng dari lembah hantu."
"Mereka terusir dari daratan tengah, pindah ke tempat ini mengasingkan diri."
"Aku sejak kecil sudah di rawat dan dibesarkan oleh kakek ku.."
"Kedua orang tua ku meninggal muda, akibat luka luka yang mereka derita, saat melawan pasukan Qin."
"Mereka di utus oleh kakek ku untuk pergi membantu kerajaan Zhou saat di invasi oleh Qin."
"Tapi bukan hanya misi gagal, bahkan nyawa pun ikut tergadai."
ucap Cu Cu sambil tertunduk sedih.
"Kok bisa,? apa mereka tidak mewarisi ilmu kedua kakek mu..?"
tanya Li Kui heran.
Cu Cu menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Mewarisi, tentu saja mereka mewarisinya, tapi lawan di pihak pasukan Qin terlalu kuat."
"Kabarnya pihak Qin berhasil mengundang bala bantuan dari lembah hantu ."
"Mungkin orang orang lembah hantu lah, yang turun tangan melukai kedua orang tua ku.."
ucap Cu Cu penuh dendam.
Li Kui ikut prihatin, tapi dia juga tidak bisa apa apa, dengan kemampuannya saat ini.
__ADS_1
Kalaupun dia mampu, hal ini juga masih harus di dalami, siapa benar siapa salah, tidak bisa asal memihak secara membuta.