
Guo Yun menganggukkan kepalanya, menanggapi jawaban Li Kui.
Dia tidak akan memaksa, semua dia serahkan sepenuhnya kepada pilihan Li Kui.
Apapun itu, besok pagi semua akan jelas, dia juga tidak akan menunggu.
Bila waktu ditentukan tiba, dia pasti berangkat.
Pagi pagi saat matahari terbit adalah waktu paling tepat meninggalkan pulau berbahaya ini.
Karena waktu tersebut adalah waktu di mana laut dan cuaca berada pada titik paling tenang.
Guo Yun dan Li Kui kembali ke bibir pantai ,di mana terlihat Cu Cu dan Sian Sian, dengan akrab bekerjasama menyiapkan makan malam sederhana, untuk mereka berempat.
Melihat buah hijau besar berjejer di sana, Li Kui pun paham.
Pasti istrinya yang pergi mengambil buah itu dari pantai dan tebing rahasia.
Guo Yun yang mencoba buah itu, dia segera menoleh kearah Cu Cu dan berkata,
"Adik ipar rasa buah ini luar biasa sekali, di mana kamu mendapatkannya ?"
Cu Cu sambil tersenyum menunjuk kearah sebuah tebing batu karang yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
"Dari balik tebing itu.."
ucap Cu Cu santai.
Melihat ketinggian tebing curam itu yang mencapai dua puluh meteran.
Guo Yun sadar istri Li Kui bukan wanita biasa.
Sebagai cucu si mayat hidup jangkung itu, pasti dia mewarisi kemampuan kakek itu.
Dugaan Guo Yun terjawab, saat Cu Cu dengan santai membelah buah yang berkulit tebal dan alot itu. dengan satu kali hantaman menggunakan telapak tangannya yang kurus kecil.
"Prakkk,..!"
buah itu dengan mudah terbelah dua.
Cu Cu memberikan buah yang sudah terbelah dua itu ke suami nya dan berkata,
"Suami ku ini untuk mu, kamu paling suka ini.."
"Terimakasih sayang,.."
ucap Li Kui menerimanya dengan senyum canggung.
"Kakak ipar aku juga mau,.."
ucap Sian Sian tanpa sungkan menyodorkan buah hijau nya yang sudah habis airnya dia minum.
Cu Cu sambil tersenyum lembut, menerimanya, lalu dengan gerakan santai, tangannya berkelebat.
"Prakkk,.."
Buah itu pun terbelah dua, lalu dia serahkan ke Sian Sian.
Cu Cu menatap kearah Guo Yun dan berkata,
"Kakak Yun, buah mu mau di bantu sekalian.."
"Guo Yun menggoyangkan tangannya dan berkata cepat,
__ADS_1
'Tidak perlu adik ipar, terimakasih."
Cu Cu mengangguk kecil lalu meneruskan meminum air buah hijau di tangannya sendiri.
Sesekali dia akan menerima suapan daging ikan bakar dari tangan Li Kui.
Wajahnya sedikit merah menahan malu, saat Li Kui menyuapinya.
Untungnya sinar dari api unggun, membuat merah merona di wajahnya tersamarkan.
Meski merasa malu dengan Sian Sian dan Guo Yun, tapi setiap di suapin, sambil membuka mulut.
Dia tidak bisa menahan diri untuk menatap kearah Li kui, dengan tatapan mata penuh rasa terimakasih dan bahagia.
Setelah makan bersama berakhir, mengobrol basa basi sejenak,Li Kui pun berkata,
"Kakak Yun, kami berdua pamit permisi dulu, hari sudah malam.."
"Kami harus kembali ketempat tinggal kami, besok kami baru kembali kemari.."
Guo Yun tersenyum dia mengangguk dan berkata,
"Terimakasih banyak, kalian hati-hati di jalan."
"Adik,.. kakak pulang dulu ya.. sampai ketemu besok"
ucap Cu Cu sambil membelai kepala Sian Sian dengan lembut.
Sian Sian mengangguk cepat dan berkata,
"Baik kak hati hati di jalan,..sampai besok.."
Selesai berpamitan, Li Kui dan Cu Cu, bergandengan tangan meninggalkan pantai berjalan menuju tebing tinggi itu.
Sesaat saja tubuh keduanya sudah menghilang di balik kegelapan malam.
"Kakak Yun apakah kakak mampu melakukan yang seperti kakak Cu Cu lakukan pada buah itu..?"
tanya Sian Sian penasaran.
Guo Yun tersenyum, lalu mengayunkan tangannya dengan ringan.
"Plakkk,.."
buah di hadapannya langsung terbelah dua.
Dengan gembira Sian Sian memungutnya, lalu dia berkata,
"Kakak mau mencobanya..?"
Guo Yun sambil tersenyum menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kamu habiskan saja bila suka.."
Guo Yun mengambil posisi berbaring di tepi api unggun berbantalkan lengangnya.
Sambil makan dengan lahap, Sian Sian berkata,
"Kakak Yun, menurut kakak bila kakak dan istri kakak Kui bertarung siapa yang akan menang..?"
Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kakak tidak tahu, karena kakak dan dia belum pernah bertarung."
__ADS_1
"Lagipula kami tidak mungkin bertarung, dia adalah istri adik Kui..teman kita.."
Guo Yun memang menjawab dengan sejujurnya, dan apa adanya.
Dia memang tidak tahu siapa yang akan menang bila mereka bertarung.
Mereka berdua juga tidak mungkin bertarung, tanpa alasan jelas.
Apalagi Cu Cu dan Li Kui kelihatannya memang saling mencintai.
Guo Yun hanya bisa menafsir, kemungkinan, Cu Cu ada di tahap pendekar Bumi atau mungkin ada ditahap pendekar langit awal..
Kurang lebih imbang imbang dengan Li Ba dan dirinya.
Selagi Guo Yun dan Sian Sian sedang mengobrol santai.
Ditempat lain Li Kui dan Cu Cu setelah kembali ke ruangan kamar mereka berdua.
Li Kui langsung berbaring santai di atas ranjang, di susul dengan Cu Cu yang ikut berbaring di sisi nya.
Sambil berbaring memeluk Cu Cu dan menatap langit langit di atas tempat tidur, Li Kui berkata,
"Adik Cu, tadi sehabis menambal kapal, kakak Yun berkata pada ku.."
"Besok pagi saat matahari terbit, dia kakak Yun dan Sian er akan pergi dari sini."
"Mereka akan melanjutkan perjalanannya mengantar Sian er ke pulau Peng Lai di timur sana.."
ucap Li Kui melempar bola liar, menunggu respon jawaban istrinya dengan jantung berdebar-debar.
Mendengar ucapan suaminya, Cu Cu yang dari awal sudah tahu, hal ini yang paling dia takutkan.
Cepat lambat pasti akan terjadi, dia berusaha terlihat tegar dan berkata pelan..
"Lalu apa jawaban kakak pada kak Yun ?"
Li Kui menghela nafas panjang dan berkata,
"Aku katakan pada kak Yun, akan merundingkannya dengan mu dulu, besok baru beri jawaban.."
Cu Cu terdiam sejenak, dia memutar tubuhnya memunggungi suaminya.
Karena dia tidak ingin, suaminya melihat dirinya menangis.
"Lalu apa yang menjadi pemikiran kakak kui,.."
ucap Cu Cu pelan setelah berhasil menekan gemuruh gelombang kesedihan di dalam dadanya.
Li Kui memeluk istrinya dengan mesra dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak istrinya.
"Istri ku bagaimana menurut mu, bila kita berdua ikut pergi mengantar Sian Sian.?"
"Habis dari sana, kita baru kembali lagi kemari..?"
ucap Li Kui berhati hati, agar tidak timbul salah paham.
Cu Cu menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak bisa, aku tidak mungkin bisa ikut dengan kalian.."
"Bila aku ikut kedua kakek ku pasti akan marah besar, dan yang menjadi sasaran pasti kalian.."
"Aku..."
__ADS_1
keluh Cu Cu sambil menghela nafas tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang tercekat di tenggorokan.