
Pengawal Si Si yang melihat hal itu, sudah pada mengerutkan alis tidak senang, melihat sikap si kecil keriting yang arogan dan sombong itu.
Tapi mereka tetap tidak berkata apa-apa, selama tidak ada perintah dari Si Si, mereka yang disiplin tidak berani sembarangan mendahului atasan mereka.
Si Si sebetulnya juga kurang senang, tapi dia tetap berusaha sabar dan tidak ikut campur.
Agar tidak menyulitkan Liu Lau Po yang sedang bertransaksi.
"Nyonya Na,..ambil saja pesanan mu, jangan di acak acak semuanya.."
tegur Liu Lau Po halus.
Tapi sebagai responnya, tanpa merasa bersalah si kecil pendek keriting itu, malah membanting kulit kulit yang di pegang nya dan berkata,
"Aku beli pakai uang kan ?"
"Bukan pakai daun kan..?"
Liu Lau Po menghela nafas panjang dan mengangguk kecil.
"Ya nyonya Na."
"Lah kalau sudah tahu begitu, mengapa masih rewel.."
"Aku pembeli tentu aku harus memeriksanya dengan teliti sampai puas baru beli.."
"Bila tidak puas buat apa aku beli.."
"Sudah, kalau gak suka kamu jual tempat lain saja.."
"Mood ku hilang, aku tidak jadi beli.."
Liu Lau Po langsung terbelalak kaget dan berkata,
"Tapi nyonya Na bukankah barang barang ini sebagian besar pesanan mu..?"
"Mana boleh kamu main batal begitu saja,..aku mengumpulkan nya juga pakai tenaga dan biaya hidup yang tidak murah.."
"Tolonglah jangan seperti ini.."
ucap Liu Lau Po memelas hingga wajahnya terlihat seperti ingin menangis.
Si kecil pendek keriting itu, mengambil beberapa lembar kulit hewan liar membentangkan nya dan berkata,
"Lau Liu bukan aku cerewet, kamu lihat barang mu, sini sobek sini berlubang, barang jelek ini gimana aku bisa beli.."
"Tapi nyonya Na, ini adalah hewan liar, bila tidak di lumpuhkan dengan anak panah dan tombak bagaimana mau menangkap nya.?"
"Jadi bila ada sedikit lubang, menurut ku itu sangatlah wajar.."
ucap kakek Liu mencoba membela produk nya.
"Bagi mu wajar bagi ku tidak, pelanggan ku juga sama, mana mau tahu itu.."
"Begini saja memandang kamu sudah tua, kita juga sudah lama bekerja sama.."
"Jangan nanti bilang aku tidak berperasaan.."
"Semuanya 3 tael.perak, kalau setuju, masukkan kedalam, bila tidak kamu boleh angkat kaki dari sini.."
__ADS_1
"Jangan mengganggu pemandangan, sekalian bawa pergi wanita wanita penggoda ini, desa ini tidak menyambut mereka.."
ucap Si keriting itu sambil meludah kearah kaki Si Si.
Si Si masih hendak berusaha sabar tidak melayaninya, tapi dari arah belakangnya malah terdengar suara dingin.
"Adik ada apa ribut ribut, ? kenapa lama ? ada masalah..?"
tanya Gongsun Li yang baru saja tiba di sana seorang diri.
Dia sengaja datang menyusul tanpa bawa pasukannya.
Si Si terkejut saat mendengar suara tersebut, dengan senyum canggung dia berbalik menghampiri Gongsun Li dan berkata,
"Sudah ketemu kak, hampir beres harap sabar sebentar ya.."
"Penunjuk jalan kita Liu Lau Po itu sedang menjual barang dagangan nya sejenak, setelah selesai kita bisa berangkat."
ucap Si Si mencoba menenangkan Gongsun Li yang dia tahu bertemperamen aneh.
Gongsun Li mengangguk pelan dan berkata,
"Ya sudah kalau tidak ada apa apa aku tunggu di kemah saja.."
"Ada apa apa hubungi saja.."
Tapi baru mau pergi ujung telinga nya menangkap syara perdebatan Liu Lau Po dengan si kecil pendek berambut keriting itu.
Gongsun Li pun batal melangkah, dengan alis berkerut, dia memasang pendengarannya untuk mendengarkannya dengan lebih jelas.
"Nyonya Na tawaran mu itu sungguh kelewatan, kamu saat pesan bilang 10 lembar 15 Tael perak, di sini paling sedikit ada 35 lembar, belum lagi yang lainnya.."
ucap Liu Lau Po mulai terpancing kekesalannya.
"Hei A Liu, aku bilang harga segitu dengan kualitas bagus, ini kamu lihat kualitas barang mu.."
"Kamu masih berani banyak protes."
"Sudah dua Tael, bila tidak mau kamu telan sendiri barang barang menjijikkan mu ini."
"Sekalian sama dengan lacur lacur menjijikkan itu, bawa pergi semuanya dari sini..!"
bentak Nyonya Na sambil kembali meludah keatas tanah.
Sepasang alis Gongsun Li langsung berdiri mendengar ucapan nyonya keriting dangdut itu.
Tapi sebelum dia bicara terdengar Liu Lau Po berbicara lebih dulu.
"Nyonya Na harap jaga mulut mu yang kotor itu, mereka ini adalah tuan penolong ku yang terhormat manusia berhati mulia.."
"Jangan samakan dengan diri mu yang bermulut comberan dan keji itu."
"Tidak mau beli ya sudah, jangan menghina orang lain kelewat batas."
"Kamu menghina ku tidak apa-apa, tapi kamu menghina tuan penolong ku tentu aku tidak terima..!"
"Cepat minta maaflah sebelum masalah jadi besar..!"
bentak Liu Lau Po dengan wajah merah padam dengan sepasang tangan terkepal.
__ADS_1
"Kenapa mau pukul orang,!? pukul..! ayo pukul..! pilih mana yang empuk..! pukul kalau berani..!"
"Kamu pikir aku takut,..!? meminta maaf Cih..! tidak Sudi..!"
ucap si keriting malah dianya yang lebih galak.
Terus maju menyodorkan wajahnya hingga Liu Lau Po terpaksa mundu mundur kebelakang, hingga punggungnya di tahan oleh telapak tangan Gongsun Li yang lembut.
"Lau Puo, urusan ini serahkan pada ku saja, kamu mundurlah.."
ucap Gongsun Li tenang.
"Tapi nona, dia sudah kelewatan, sebelumnya dia juga sudah menipu nona penolong ku, menunjukkan jalan yang banyak hewan beracunnya."
"Kini masih mengeluarkan kata kata biadab itu.."
ucap Liu Lau Po sulit menahan sabar lagi.
Mendengar ucapan Liu Lau Po, wajah Gongsun Li seketika berubah dingin.
Dia menoleh kearah Nyonya Na dan berkata,
"Benarkah yang Lau Puo ini katakan barusan..?"
Si keriting tersenyum mengejek, sambil berkacak pinggang dua berkata,
"Kalau benar kenapa ? kamu mau apa ? dasar pelacur mura..."
Belum selesai ucapan nya, tangan Gongsun Li langsung melayang kedepan.
"Plakkkk...!"
"Ahhhhh..!"
Jerit si keriting dangdut kesakitan, sambil memegang pipinya, yang terlihat biru lebam terkena tamparan Gongsun Li.
"Kau ..kau..kau..berani menampar ku..!"
teriak Sipendek keriting marah.
"Hari ini aku tidak akan selesai dengan mu..!"
"Pengawal....! Pengawal....!"
"Pengawal... !" Pengawal....!"
teriak si kecil keriting histeris.
"Ya nyonya, puluhan pemuda bertubuh kekar berlarian keluar dari dalam toko sambil membawa Toya di tangan mereka masing masing.
Seorang pria setengah tua juga ikut mengiringi mereka berjalan keluar dari dalam toko dengan langkah buru buru menghampiri si keriting pendek kecil itu.
"Istri ku kamu kenapa ? kenapa pipi mu..?"
tanya pria setengah tua itu begitu berdiri di samping si keriting dangdut itu.
Sambil menangis si keriting dangdut itu langsung menunjuk kearah Gongsun Li dengan marah dan berkata,
"Suami ku, dia dia yang menindas ku..!"
__ADS_1