
Guo Yun tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya,
"Li Er bukan aku tidak mau mengajak mu, tapi coba kamu pikir dan dengarkan alasan penjelasan ku."
"Li er aku yakin situasi ini selangkah demi selangkah, semua seperti sudah di siapkan buat kita.."
"Dengan kepergian ku dan Li Ba dari kerajaan Yue, aku yakin tidak lama lagi pihak Qin, pasti akan menggerakkan pasukan mereka menginvasi wilayah perbatasan kita.."
"Bila kamu ikut, saat mereka datang menginvasi, siapa yang aku bisa percaya, untuk memimpin pasukan kita menghadapi invasi mereka.."
"Sebaliknya bila kamu ada, setidaknya kamu bisa menjadi pimpinan buat pasukan kita, menggerakkan mereka untuk mempertahankan kerajaan ini.."
ucap Guo Yun sambil menatap kearah ketiga istrinya, dengan tatapan mata khawatir dan penuh sesal.
Mereka adalah istrinya, harusnya di saat berbahaya seperti ini, dia harusnya menjaga dan melindungi mereka.
Tapi dia malah harus pergi meninggalkan mereka, malah memberikan tanggung jawab besar ke mereka, untuk membantu nya melindungi kerajaan ini.
Dia sangat merasa menyesal dan bersalah dalam hal ini, tapi dia benar benar tidak berdaya.
Saat ini dia benar benar tidak punya pilihan.
Bila menimbang resiko, resiko bagi Gongsun Li Si Si dan Min Min jauh lebih kecil.
Mereka kalaupun harus bertempur, mereka akan bertempur bersama pasukan harimau hitam yang terlatih.
Di sana juga ada Zhang Sun, Ling Tong Zhou Tai, Han Wei, Ying Wu, juga ada jendral Lim, Guan, Xing, Fu.
Di pihaknya itu, semuanya adalah jendral pilihan yang sangat berpengalaman dalam pertempuran dan mengatur pasukan.
Sedangkan di pihak Li Ba dan Sian Sian jelas berbeda, bila dia tidak menyusul mereka.
Hanya ada satu jalan, yaitu jalan kematian yang sedang menunggu kedatangan mereka.
Dengan segala pertimbangan itu, mau tidak mau Guo Yun harus memutuskan pergi menolong Li Ba dan Sian Sian.
Setelah mendengar penjelasan Guo Yun dan alasannya, Gongsun Li akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang dan berkata,
"Baiklah kalau begitu kamu cepat pergi cepat kembali.."
"Ingat harus kembali dengan selamat, kami menanti mu.."
ucap Gongsun Li sambil bergerak maju memeluk suaminya.
Sesaat kemudian dia pun bergerak mundur, memberikan kesempatan kepada Si Si dan Min Min untuk maju secara bergantian memeluk suami bersama mereka.
Guo Yun sebelum pergi, dia menggelar peta, di hadapan Gongsun Li, Si Si dan Min Min.
Dia memberi petunjuk dan strategi bila Pasukan Qin berani datang melakukan invasi.
Setelah menjelaskan berbagai strategi yang kira kira bisa di gunakan, untuk menghadapi invasi kerajaan Qin.
__ADS_1
Guo Yun sebelum pergi menatap Gongsun Li dengan serius dan berkata,
"Li er sekali lagi kerajaan Yue bergantung pada mu, jangan lupa bila kamu menghadapi kesulitan dan hambatan, segera gunakan kitab rahasia langit peninggalan guru mu, Dewi perang Mu Lan, .."
"Mungkin itu bisa membantu mu keluar dari masalah.."
ucap Guo Yun sambil menatap lembut kearah Gongsun Li.
Gadis cantik yang telah merebut hati dan cinta pertamanya itu.
Gongsun Li tersenyum dan berkata,
"Pergilah dengan tenang, fokus dengan masalah mu sendiri.."
"Di sini aku dan mereka, bisa mengatur semuanya..'
Guo Yun mengangguk lalu dia kembali maju, menarik Gongsun Li kedalam pelukannya.
Memeluknya dengan lembut dan menciumi kepala dan rambut Gongsun Li dengan mesra dan berbisik pelan di dekat telinga Gongsun Li.
"Li er ingat bila tidak bisa di pertahankan, jangan bahaya kan nyawa mu.."
"Keselamatan mu yang terpenting, segera mundur kembali keseberang sungai Yang Tze."
"Di seberang sini adalah pertahanan alami terbaik, kita bisa berperang di sungai, juga bisa menghancurkan mereka, sebelum mereka berhasil mendarat di tepi sungai."
pesan Guo Yun pelan.
"Jangan khawatir, aku akan mengingat nya.."
Setelah berpelukan sejenak dan memberi pesan, Guo Yun beralih memeluk Si Si dan Min Min secara bergantian.
Setelah itu dia baru membalikkan badannya dengan langkah buru buru, menuju istal kuda.
Setelah mendapatkan kuda terbaiknya, Guo Yun pun langsung memacu kuda tersebut meninggalkan istana, meninggalkan ibukota Guiji.
Dia langsung keluar dari gerbang kota sebelah timur, setelah itu dia langsung mengambil jalan menuju arah timur laut.
Guo Yun memacu kudanya, menempuh perjalanan secepatnya, menyusul Li Ba dan Sian Sian.
Sepanjang jalan, setiap mampir di desa ataupun kota, Guo Yun selalu bertanya tanya dan mencari informasi tentang kabar berita, kedua saudara seperguruan nya itu
Agar dia tidak berselisih jalan dan kehilangan jejak mereka berdua.
Saat tiba di pelabuhan Zhang Yang, Guo Yun yang sedang mengedarkan pandangannya melihat kesana kemari mencari cari di sekitar pelabuhan.
Pandangan matanya berbinar saat melihat pasangan muda, yang sedang duduk santai, bersama seorang bocah kecil, dan dua orang kakek tua.
Guo Yun langsung melompat turun dari atas punggung kudanya, lalu dengan langkah lebar, dia menuntun kudanya menghampiri restoran di tepi pelabuhan.
Dimana kelima orang yang di kenali nya itu berada.
__ADS_1
Begitu dia tiba di depan restoran, sambil menyerahkan kudanya untuk di urus oleh pelayan yang berjaga di depan restoran itu.
"Adik ketiga..!"
teriak Guo Yun sambil tersenyum lebar, sambil melangkah memasuki restoran tersebut.
"Kakak,..!"
Teriak pemuda itu kaget.
Guo Yun dengan langkah lebar, langsung menghampiri meja tempat di mana, kenalannya sedang duduk sarapan pagi.
"Ta Puo.."
ucap wanita cantik yang duduk di sebelah pria, yang di panggil adik ketiga oleh Guo Yun dengan wajah kaget.
Guo Yun menganggukkan kepalanya dan memberi hormat Kearah dua kakek aneh, yang duduk di sana dengan wajah cemberut.
"Kakek terimalah salam hormat dari Guo Yun.."
ucap Guo Yun penuh hormat.
"Anak brengsek bagus kamu datang, segera bayarkan semua tagihannya.."
"Lalu Carikan perahu besar buat kami.."
ucap Kakek kecil.pendek itu sesuka hati.
Guo Yun gak heran, dia sudah lama kenal dengan tabiat aneh kedua kakek itu.
"Baik kek bukan masalah, serahkan saja ke Guo Yun."
"Guo Yun akan aturkan semuanya.."
ucap Guo Yun penuh hormat.
"Paman kakek, kamu jangan kelewatan..dan bikin malu.."
tegur wanita cantik itu dengan wajah kurang senang.
"Kamu diam, masih berani bersuara, percaya tidak, nanti dia yang aku hajar..!"
bentak kakek kecil itu sewot sambil menunjuk kearah wajah pria, yang duduk disebelah gadis cantik itu.
Pria itu hanya bisa menelan ludahnya sendiri, sambil tersenyum canggung, dia menyentuh lengan gadis cantik itu.
Memberi kode dengan menggelengkan kepalanya, agar gadis cantik itu tidak melayani keributan yang di pancing oleh kakek cebol itu.
"Ehhmm..! mau apa kamu kemari..?"
tegur kakek tinggi kurus seperti gala, dengan wajah seperti mayat hidup itu, dengan suaranya yang seperti datang dari alam baka.
__ADS_1