
"Hush..!"
"Sembarangan,.. biar udah tua masih perlu saya.."
"Bila hilang, aku gak bakal di ijinkan masuk kedalam rumah nanti.."
ucap Jendral Ciong sambil bergaya menutupi senjata rahasianya.
Sehingga ramailah suasana canda tawa di sana.
Mereka beramai ramai sambil ngobrol dan bercanda naik kepuncak menara pengawas.
Sambil ngobrol Jendral Ciong dan Jendral San mulai di sulangi dengan arak yang berisi obat bius.
Sedangkan untuk Guo Yun dan yang lainnya, mereka minum dari guci arak yang satu lagi.
Tidak sampai 3 kali bersulang, kedua Jendral itu sudah jatuh tertelungkup di atas meja.
"Jendral Xie Jendral Mi segera ambil alih kekuasaan dari mereka berdua, untuk mengamankan benteng kota.."
ucap Guo Yun cepat.
"Siap tuan Yun,. "
ucap kedua jendral itu, mereka lalu meraba raba kantong baju, kedua Jendral yang tidak sadarkan diri itu.
Setelah menemukan Token yang di cari, kedua orang itu segera bergegas mengambil alih kekuasaan benteng ibukota.
Dengan token di tangan, pekerjaan Jendral Xie dan Mi menjadi lebih mudah.
Sedangkan Kedua jendral yang tidak sadarkan diri di ikat oleh Guo Yun dan Li Ba, lalu di tinggalkan di menara.
Setelah ibukota sepenuhnya di amankan, Guo Yun segera mengirimkan utusan memberi kabar ke pangeran Ji Ao.
Selanjutnya Guo Yun dan Li Ba, hanya bisa menunggu dengan santai kedatangan rombongan pangeran Ji Ao
Di tempat Zhong Yu dan terutama di markas pangeran Ji Ao, saat mereka menerima surat dari Guo Yun.
Baik Zhong Yu maupun pangeran Ji Ao, mereka sangat gembira dan tidak menyangka, mereka bisa menang dengan begitu mudah.
Dari posisi sulit tiba-tiba berbalik 180°, dari kalah berbalik menjadi menang telak.
Mereka segera menuruti petunjuk dari Guo Yun, untuk merebut kembali satu persatu kota mereka, yang jatuh ketangan musuh.
Pangeran Ji Ao, Jendral Xi Jendral Zu, segera bergerak mengambil kembali ketiga kota yang direbut oleh pihak Song.
Sedangkan Jendral Zhong Yu, dia sengaja tidak di ikut sertakan, atas perintah Pangeran Ji Ao.
Zhong Yu ditugaskan membereskan sisa kekacauan.di depan gerbang kota Xia, yang terendam air dan penuh dengan mayat pasukan Song.
__ADS_1
Bila tidak segera di bereskan, Pangeran Ji Ao khawatir, akan membawa wabah penyakit ke negara Lu..
Saat menerima laporan bahwa Guo Yun telah merebut ibukota Song, dan pangeran Ji Ao di undang kesana.
Pangeran Ji Ao saking kaget dan gembiranya, dia sampai duduk mematung tidak tahu mau berkata apa.
Bila di hadapannya sedang tidak banyak orang, mungkin dia sudah jingkrak jingkrak kegirangan, dan bergulingan diatas lantai saking gembiranya.
Setelah buru buru mengatur segala sesuatu ke Jendral Xi Jendral Zu.
Pangeran Ji Ao sendiri langsung memimpin 100.000 pasukan, berangkat menuju ibukota Song.
Begitu rombongan Pangeran Ji Ao tiba di ibukota kerajaan Song.
Guo Yun Li Ba memimpin Jendral Xie Jendral Mi, serta Jendral Ciong dan Jendral San, dua jendral yang paling terakhir berhasil dia bujuk, untuk mengabdi pada pangeran Ji Ao.
Mereka semua berlutut di depan pintu gerbang menyambut kedatangan pangeran Ji Ao.
Pangeran Ji Ao sambil tersenyum gembira, segera turun dari kereta nya.
Dengan setulus hati pangeran Ji Ao, membantu mereka semua untuk berdiri.
"Bangunlah bangunlah semuanya, tak perlu sungkan dan banyak peradatan.."
"Terimakasih banyak kalian telah bekerja keras dan bersusah payah.."
"Budi besar ini Ji Ao tidak akan pernah lupa seumur hidup.."
Dengan di pimpin oleh Jendral Xie, rombongan itu langsung menuju istana.
Kedatangan Rombongan tersebut langsung di sambut oleh Komandan Lei dan Wu.
Komandan Lei dan Wu mengantar pangeran Ji Ao dan rombongannya, keruangan di mana seluruh keluarga Raja Huan di tahan.
Dalam perjalanan menuju keruang tahanan, Guo Yun pun berbisik pada pangeran Ji Ao.
"Pangeran Ji, kini semua sudah aman, sisanya saya yakin pangeran pasti bisa mengurusnya.."
"Guo Yun mohon ijin untuk kembali ke Su Yuan, memberikan laporan ke guru Mo Zi."
Pangeran Ji Ao menatap Guo Yun dengan penuh rasa haru dan penuh rasa terimakasih yang sulit di ucapkan.
Setelah termenung beberapa saat, akhirnya Pangeran Ji Ao menghela nafas berat, setelah itu dia baru berkata,
"Yun er terus terang saja, sebenarnya paman sangat keberatan berpisah dengan mu secara terburu-buru begini.."
"Paman sudah membuat rencana akan membawa mu ke istana, untuk bertemu ayah paman, memperkenalkan mu, merekomendasikan mu, serta membuat pesta perayaan besar sebagai tanda terimakasih kerajaan Lu, atas jasa besar mu ini.."
"Paman juga ingin kamu ajukan apapun yang kamu inginkan ke ayah paman, paman yakin ayah paman tidak akan pernah menolaknya.."
__ADS_1
"Yun er maukah kamu menunggu hingga Paman selesaikan masalah di sini, ,?"
"Kemudian kamu dan Li Ba bisa ikut dengan paman pergi menghadap ke istana kerajaan Lu, untuk menemui Yang Mulia raja Lu.."
ucap Pangeran Ji Ao penuh harap.
Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf pangeran, Yun er tidak bisa memenuhinya.."
"Yun er melakukan semua ini tanpa mengharapkan apapun, Yun er hanya melakukan yang Yun er bisa saja.."
"Harap paman bisa menyetujui permintaan Yun er.."
ucap Guo Yun serius.
Pangeran Ji Ao dengan berat hati menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Baiklah Yun er, paman tahu paman tidak mungkin bisa mencegah mu.."
"Pergilah hati hati di jalan, setelah ini selesai, paman pasti akan mengunjungi mu ke Su Yuan.."
"Salam untuk guru mu, tolong sampaikan rasa terimakasih ku padanya.."
ucap Pangeran Ji Ao sambil menepuk bahu Guo Yun dan Li Ba dengan lembut.
Guo Yun dan Li Ba serempak memberi hormat kemudian mereka mengundurkan diri dari sana.
"Tuan Yun..kamu mau pergi..?"
tanya Jendral Xie kaget.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Ya jendral,.. Tapi jendral tidak perlu khawatir, pangeran Ji Ao pasti tidak akan melupakan jasa kalian semuanya.."
"Bukan begitu pangeran ?"
tanya Guo Yun sambil tersenyum.
Pangeran Ji Ao tersenyum lebar dan berkata,
"Itu sudah pasti, mulai saat ini mereka semua adalah aset kerajaan Lu, tentu aku akan memberikan perhatian terbaik buat mereka semua.."
Mendengar ucapan janji pangeran Ji Ao, maka para pimpinan pasukan kerajaan Song, yang sudah tahluk itupun bisa kembali tersenyum lega.
"Ayo semuanya sampai jumpa.."
ucap Guo Yun sambil memberi hormat ke semua jendral, yang telah membantunya menahlukkan ibukota kerajaan Song.
__ADS_1
Mereka semua segera membalas penghormatan Guo Yun.
Tak lama kemudian Guo Yun dan Li Ba sudah memacu kuda mereka, berlari kencang, meninggalkan gerbang pintu ibukota kerajaan Song.