LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PENGORBANAN MULIA


__ADS_3

Saking gembiranya, dia sendiri yang mengisi tiga mangkok di hadapannya sampai penuh.


Kemudian dia berkata dengan gembira,


"Ayo kita bersulang...!"


Li Ba mengambil mangkuk penuh arak di hadapannya, mengangkat mangkuk itu keatas untuk bersulang dengan kedua jendral yang duduk dihadapannya.


"Tingggg.."


Terdengar suara mangkuk beradu, saat mereka bertiga membenturkan mangkuk mereka masing masing di udara.


Sambil tertawa gembira, mereka bertiga minum bersama.


Jendral Lim dan Jendral Fu hanya minum sedikit, keduanya saling pandang dan tersenyum penuh arti.


Saat melihat Li Ba begitu bersemangat meminum semangkuk arak penuh hingga habis.


Jendral Lim segera maju, memenuhi cawan Li Ba dan berkata,


"Ini aku bersulang sebagai ucapan terimakasih, atas obat salep manjur, yang sudah membuat kami berdua pulih dengan begitu cepat."


"Hi..Ho.ho..! tentu saja, karena itu adalah obat resep rahasia dari guru ku yang tiada duanya.."


"Mari bersulang..!"


ucap Li Ba gembira.


Kini giliran Jendral Fu yang maju mengisi cawan Li Ba dan berkata,


"Ini dari ku, aku mengucapkan terimakasih atas pengajaran tegas dari tuan buat kami berdua.."


"Ho..Ho..Ho..! bagus bagus, kalian punya pemikiran begitu, baguslah.."


"Ayo kita bersulang..!"


"Tingggg..!"


Li Ba kembali menghabiskan isi mangkuknya dengan penuh semangat.


Begitulah, dengan cara secara bergantian Jendral Lim dan Jendral Fu terus menerus bergantian, mengisi mangkok arak Li Ba dengan penuh.


Melontarkan pujian pujian setinggi langit, semangkuk semangkok, mereka terus bersulang dengan Li Ba.


Sedangkan mereka sendiri hanya minum sedikit saja sebagai syarat aja.


Melihat Li Ba mulai mabuk, Jendral Lim menukar guci pertama yang kosong, di lanjut dengan guci kedua, yang ada di campuri obat bius.


Tidak sampai lima mangkok, Li Ba pun tumbang tertelungkup di atas meja, dengan mangkuk berisi arak yang tumpah berceceran di atas meja.


Melihat Li Ba sudah tumbang, Jendral Lim dan Jendral Fu secara berganti maju mengguncang guncang bahu Li Ba.


"Tuan...! Tuan...! Bangunlah ..! Tuan...!"


Melihat Li Ba tidak merespon mereka, hanya berbicara ngelantur tidak karuan.


Jendral Lim dan Jendral Fu saling memberi kode, mereka masing masing mengeluarkan seutas tal tambang, yang besar dan kuat.


Untuk di lilitkan ke sekujur tubuh Li Ba, setelah terikat kuat, sambil saling melakukan benturan telapak tangan diudara.


Mereka berdua tertawa puas, dengan santai Jendral Lim berjalan kearah pintu kemah.


"Kalian berempat masuklah.."


ucap Jendral Lim cepat.


Keempat pengawal mengangguk patuh, lalu mereka ikut masuk kedalam tenda.


Begitu masuk melihat apa yang terjadi keempat pengawal itu terlihat kaget.


"Singggg,..! Singggg,..! Singggg,..!"


"Singggg,..!"


Mereka langsung mencabut senjata, di pinggang mereka masing masing, dan berkata,


"Jendral Lim Jendral Fu apa yang kalian lakukan ?!"


"Kalian berani bersikap khianat, dan ingin memberontak..?!"


"Kalian berempat tenang dulu, simpan senjata kalian, dengarkan dulu kami.."


ucap Jendral Fu tenang.


Ke empat pengawal itu terlihat ragu ragu.


Melihat hal itu, Jendral Fu berkata,


"Baiklah bila kalian merasa tindakan kami bersalah, tangkap lah kami berdua untuk pemimpin gila dan arogan ini.."


"Semoga kalian kelak tidak menyesal, dengan keputusan kalian hari ini.."


ucap Jendral Fu sambil menyodorkan kedua tangannya kedepan untuk di ikat.


Jendral Lim juga melakukan hal yang sama.


Kini keempat orang y terlihat semakin ragu ragu...


Melihat hal Ini Jendral Lim pun berkata,


"Kalian tahu kenapa kami menangkap nya, ? asal kalian tahu saja.."


"Perintah dia ke kita hari ini adalah bergerak menyerang dan menangkap Bai Hu.."


"Itu adalah perintah tidak masuk akal dan ingin kita bunuh diri, sedangkan dia sendiri enak enak mabuk mabukan di sini.."


ucap Jendral Lim penasaran.


"Tapi kita tidak boleh khianat, bagaimana pun dia adalah saudara nya Yang Mulia Guo Yun yang banyak jasa terhadap kita.."


protes salah satu pengawal ragu.


Jendral Lim menatap pengawal itu dan berkata,


"Kamu jawab aku, mengapa kita dari Qin berbalik mengabdi pada Yang Mulia Guo Yun..?"


"Tentunya karena Yang mulia Guo Yun pimpinan yang baik, bersamanya kita akan meraih masa depan yang jauh lebih baik.."


"Bukan begitu..?"


tanya Jenderal Lim balik.


Keempat pengawal itu langsung mengangguk cepat..


"Lah dia,.. ! dia ini ingin kita bunuh diri..apa itu adalah pimpinan yang baik..?"


"Apa kita punya masa depan bersama nya..?"


tanya Jendral Lim kembali.


Keempat pengawal itu kini menyimpan kembali senjata mereka dan berkata,


"Tapi dia saudara nya Yang Mulia Guo Yun dan Tuan Li Kui, bila sesuatu yang buruk terjadi dengan nya.."


"Kita juga tidak mungkin bisa lolos dari kedua saudaranya yang saktinya seperti dewa.."


ucap salah satu pengawal itu mengingatkan.


"Oleh karena itu kita tidak melakukan apa apa, kita hanya menangkapnya, untuk di serahkan ke Bai Hu.."


"Apapun yang kelak terjadi, itu urusan dan tanggung jawab Bai Hu, bukan kita.."


"Bai Hu juga tidak mungkin melepaskan dan membiarkan dia hidup begitu saja.."


"Setalah dia melontarkan hinaan hingga ke leluhur Bai Hu, dia bawa bawa.."


"Jadi apalagi yang perlu di khawatirkan..?"


tanya Jendral Fu balik.


Keempat pengawal itu saling pandang, lalu salah satu dari mereka berkata,


"Lalu sekarang apa yang bisa kami lakukan ?"


"Salah satu dari kalian pergilah panggil 8 komandan pasukan kita kemari."


"Sisanya serahkan pada kami.."


ucap Jendral Fu cepat.


Salah satu dari pengawal itu langsung bergegas meninggalkan tenda.


Sedangkan yang tiga lainnya dengan wajah cemas berjalan keluar dari tenda.


Berjaga di depan tenda, seolah olah tidak pernah terjadi apa apa di dalam sana.


Tak lama kemudian pengawal yang pergi menjemput para komandan pasukan.


Dia terlihat kembali dengan 8 komandan pasukan harimau hitam yang langsung di ajak memasuki tenda.


Sama seperti keempat pengawal sebelumnya, mereka juga terkejut, dan sempat saling berargumen dengan Jendral Lim dan Jendral Fu.


Tapi pada akhirnya dari delapan komandan tujuh menyerah, hanya satu yang menolak, jadi dia di tangkap dan di ikat sama dengan nasib Li Ba.


Setelah nya, Jendral Fu sendirian menuruni bukit, membawa bendera putih.


Memohon bertemu dengan Bai Hu.

__ADS_1


"Aku Jendral Fu di sini ! tolong sampaikan keatasan kalian Bai Hu..!"


"Aku mohon bertemu, ada hal entong yang ingin aku bahas dengan nya. !"


ucap Jendral Fu lantang sambil mengibarkan bendera putih di hadapan pasukan lawan.


Salah satu komandan pasukan yang berwenang di sana segera maju kedepan dan berkata,


"Harap di tunggu, aku akan pergi menyampaikan pesan anda barusan Jendral Fu.."


Setelah berkata dan memberi hormat, Komandan pasukan Qin itu dengan cepat bergegas kembali ke markas Bai Hu untuk memberi laporan.


Mendengar laporan anak buahnya, sambil tertawa lantang, Bai Hu yang cerdik sudah bisa menebak kondisi apa yang terjadi, dia langsung berkata,


"Thian membantu kemenangan kita.."


"Ayo kita pergi temui Jendral Fu itu, kita lihat apa yang akan dia tawarkan ke kita.."


ucap Bai Hu penuh semangat.


Dia segera bergegas mengikuti komandan pasukan nya, pergi menemui Jendral Fu yang menantikan kedatangan nya.


Saat bertemu Bai Hu pun berkata,


"Jendral Fu, aku telah di sini, katakan saja apa kemauan mu..!?"


"Tak perlu ragu..!"


Jendral Fu langsung berkata terus terang,


"Jendral Bai Hu, aku bisa membantu kemenangan mu tanpa pertumpahan darah.."


"Syaratnya mudah kamu hanya perlu jamin keselamatan kami dari nya.."


"Bila kamu bisa, kami semua akan menyerah tanpa perlawanan bagaimana..?"


Bai Hu sambil tersenyum berkata,


"Itu mudah, asal kalian bersedia menyerah semua bisa di bicarakan.."


"Kecuali si bajingan bernama Li Ba itu, aku menginginkan kepalanya untuk menyucikan nama baik leluhur ku.."


ucap Bai Hu tegas.


"Sepakat,..! itu bukan masalah.."


"Kami tidak berkeberatan.."


ucap Jendral Fu cepat.


"Bagus tunjukkan lah niat mu.."


ucap Bai Hu..


"Apa Jendral mau menjemputnya sendiri keatas, atau Jendral lebih tenang menunggu di sini.."


ucap Jendral Fu yang seolah olah menantang keberanian Bai Hu.


Bai Hu tentu sadar bahaya dirinya keatas sana, karena dia tidak mungkin membawa pasukan besarnya tapi keatas.


Tapi bila dia tidak ikut, Jendral Fu dan pasukannya, akan meragukan dirinya mampu memberi perlindungan kepada mereka.


Begitupula dengan pamornya di tubuh pasukannya, mungkin akan menurun, setelah kejadian hari ini.


Setelah berputar otak sejenak, Bai Hu berkata,


"Aku akan mengikuti mu keatas, tapi aku hanya akan menunggu di depan celah itu.."


Jendral Fu mengangguk, dia juga tahu, betapa cerdiknya Bai Hu.


Dia tidak mungkin mau mengambil resiko ikut dengan nya ke markas harimau hitam.


Jendral Fu bergerak di depan, saat tiba di depan celah, dia juga tidak naik.


Dia hanya memberitahu pasukan penjaga di sana untuk melapor, bahwa dia sudah siap.


Tidak lama kemudian terlihat dari atas bukit sana beriringan Jendral Lim yang memimpin terdepan, menarik seekor kuda.


Diatas punggung kuda terlihat Li Ba yang terikat erat, tertelungkup diatas sana belum sadarkan diri.


Di belakangnya terlihat 8 komandan mengiringi nya.


Barisan pasukan harimau hitam, juga terlihat berbaris rapi ikut turun sambil mengibarkan bendera putih.


Melihat hal itu Bai Hu pun tersenyum puas dan berkata,


"Kerja yang bagus, Jendral berdua dan para komandan jangan khawatir, Bai Hu tidak akan mengecewakan harapan kalian semua.."


"Ayo kita kembali ke Xin Cheng sekarang.."


Bergerak duluan menjadi pembuka jalan.


Dia mengikuti dari belakang, bersama 100 pasukan pengawal pribadinya.


Mereka mengawal ketat Li Ba yang tertelungkup tidak bergerak diatas kuda.


Sedangkan barisan pasukan harimau hitam yang menyerah, mereka bergerak menyusul di belakang, mengikuti pimpinan mereka Jendral Lim dan Jendral Fu, yang bergerak di barisan paling belakang.


Mengiringi pasukan pengawal Bai Hu yang mengawal Li Ba sang tahanan hidup.


Dalam perjalanan pulang, tiba tiba 4 pengawal yang di tugaskan menjaga kemah Li Ba selama ini.


Mereka berempat maju kedepan, menghampiri Bai Hu melaporkan segala situasi yang terjadi di puncak bukit burung hantu.


Bai Hu mengangguk angguk dan tersenyum gembira mendengar laporan dari mereka.


Bai Hu kini terlihat tersenyum lega puas dan bangga, dengan hasil, yang dia peroleh karena keberuntungan nya.


Menenangkan semua nya tanpa bersusah payah, karena si kerbau dungu Li Ba yang merusak semuanya sendiri.


Tanpa dia harus repot repot, menghabiskan tenaga waktu dan pikiran untuk nya.


Keempat pengawal itu setelah memberikan laporan, mereka langsung ikut bergabung dengan pasukan pengawal Bai Hu.


Rupanya mereka berempat adalah bawahan terpercaya Bai Hu yang sengaja di susupkan kedalam tubuh barisan pasukan Li Ba.


Karena mereka memilki banyak kelebihan di banding pasukan rata rata, makanya mereka terpilih menjadi pengawal yang mengawasi kemah utama, yang menjadi tempat tinggal Li Ba.


Jendral Fu dan Jendral Lim yang melihat hal itu, mereka saling pandang dengan kaget.


Ternyata di dalam tubuh pasukan mereka ada kesusupan mata mata pasukan musuh.


Sampai satu pun di antara mereka semua tidak ada yang tahu.


Bila tidak ada kejadian hari ini, mungkin tidak tahu sampai kapan mereka akan tahu.


Bisa jadi sampai mereka tewas tanpa tahu siapa pembunuhnya, mereka masih tidak tahu siapa pelakunya.


Tapi kedua Jendral yang memilih menyerah itu, tidak berkata apa-apa.


Mereka milih larut dalam hening, dengan kepala tertunduk menunggangi kuda mereka menyusul di barisan belakang Li Ba di tahan.


Perjalanan di tempuh dengan pergerakan santai tapi cukup cepat.


Menjelang matahari terbenam mereka mulai memasuki kota Xin Cheng.


Melihat gelagatnya, Jendral Lim dan Jendral Fu menebak Li Ba tidak langsung di eksekusi.


Repot repot di bawa kembali sampai ke Xin Cheng, dia mungkin akan di tunjukkan di alun alun kota.


Dipermalukan dulu di sana, di siksa baru di eksekusi di bawah tontonan masyarakat kota Xin Cheng


Sambil memancing munculnya sisa pemberontak, yang di pimpin oleh penasehat Yo, sebagai mantan pejabat setia kerajaan Han yang sudah runtuh.


Tapi saat seluruh barisan pasukan harimau hitam memasuki gerbang kota Xin Cheng.


Tiba tiba Jendral Lim dan Jendral Fu berteriak,


"Serang sekarang..! serang ..! serang..,! habisi mereka..!"


Dengan penuh semangat pasukan Harimau Hitam merapatkan barisan dalam formasi bergerak dengan garang membantai pasukan pengawal Bai Hu yang sedang tidak siap.


Sementara itu, Li Ba yang sedari awal terlihat seperti orang mati diam tidak bergerak.


Saat kedua lengannya dan seluruh tubuhnya mengeluarkan letupan cahaya putih terang.


"Sreettt..! Sreettt..! Sreettt..!"


"Tasss..! Tasss..! Tasss..! Tasss..!"


Tasss..! Tasss..! Tasss..! Tasss..!"


Tasss..! Tasss..! Tasss..! Tasss..!"


Seperti kilat di langit menyambar ke bumi, seluruh tali yang mengikat tubuhnya dengan erat, langsung putus hancur berantakan.


Begitu terlepas Li Ba langsung meluncur seperti kilat, dengan sepasang telapak tangan di penuhi cahaya petir putih kemilau.


Itu adalah Tapak petir 9 langit level tertinggi yaitu level sembilan.


Langsung di arahkan kepunggung Bai Hu yang sedang tidak siap dan tidak menyangka ada kejadian seperti ini.


Dia benar benar tidak pernah menyangka, dirinya yang seumur hidup selalu berhati hati dan cerdik.


Hari ini bisa jatuh oleh jebakan sandiwara maut Li Ba, jurus Gu Rou Ci ( Strategi penderitaan daging )


Di mana semua ini adalah sandiwara yang di mainkan dengan sangat apik dan luar biasa oleh Jendral Lim dan Jendral Fu.

__ADS_1


Di mana mereka yang mengusulkannya, mereka juga yang menanggung penderitaan nya.


"Plakkkk..!'


Punggung Bai Hu terhajar telak oleh serangan sepasang telapak tangan Li Ba yang mengandung tenaga petir langit level 9.


Tubuh Bai Hu langsung terpental jatuh dari atas punggung kudanya.


"Blukkkk...!"


Tubuh Bai Hu terbanting ke atas tanah, Bai Hu terlihat meringkuk dengan tubuh kejang kejang.


Pakaian seragam perang di bagian punggungnya, terlihat gosong.


Mengeluarkan asap tipis.


Sedangkan seluruh tubuh Bai Hu terlihat listrik listrik kecil kecil, menyambar nyambar di sekitarnya.


Bai Hu tidak sampai mati, karena hawa sakti awan merahnya, bergerak otomatis melindungi tubuhnya.


Tapi pukulan Li Ba kali ini sangat dahsyat, jauh berbeda dengan pukulan pukulan nya, saat pertemuan mereka sebelumnya.


Bai Hu kini baru sadar, ternyata Li Ba tempo lalu saat bertarung dengan nya.


Dia sengaja pura pura mengalah, tidak mengeluarkan kemampuan sejatinya.


Baru kini dia menunjukkan kekuatan sebenarnya.


Tapi kini semua sudah terlambat, sebelum dia pulih dan bisa bergerak normal.


Sebuah totokan dengan ujung kaki menghantam bagian tengkuk atas nya.


"Dessss..!"


Bai Hu langsung kehilangan kesadarannya, seluruh pandangan matanya langsung gelap.


Karena tendangan tersebut tepat mengenai dua titik pusat Meridian Ya Men dan Feng Fu, yang khusus mengatur sistem kesadaran dan kelumpuhan.


Bai Hu kini posisi tertelungkup diam tidak bergerak.


Li Ba mencengkram kerah baju Bai Hu dengan ringan, Li Ba mengangkat tubuh Bai Hu yang tak berdaya keatas.


Lalu dengan ringan dia melayang berdiri di atas punggung kuda tunggangan Bai Hu.


Dari sana Li Ba berteriak keras,


"Jendral Fei Jendral Yi, Jendral Han,.. sebaiknya kalian bertiga menyerah lah..!"


"Lihat atasan kalian kini sudah ada di tangan ku..!"


"Bila kalian berkeras, aku tidak akan bisa menjamin satupun dari kalian semua, bisa keluar hidup hidup dari sini..!"


Bersamaan dengan bentakan Li Ba, pertempuran pun berhenti.


100 pengawal khusus Bai Hu, sudah habis di lindas pasukan harimau hitam, di bawah pimpinan Jendral Lim dan Jendral Fu.


Kini mereka bersiap berhadapan dengan pasukan Qin pimpinan Jendral Fei, Jendral Yi dan Jendral Han.


Sedangkan pasukan Qin di bawah pimpinan Jendral Fei, Yi, dan Han.


Mereka sedang membentuk pertahanan bersiap menghadapi serangan.


Dengan berkumandangnya suara bentakan Li Ba yang menggelegar di tempat itu, otomatis masing masing menahan diri.


Untuk tidak bergerak, terutama pasukan harimau hitam, mereka kini sedang menunggu aba aba dari Li Ba pimpinan puncak mereka.


Mereka meski awalnya sedikit bingung dengan perubahan yang begitu cepat dan di luar dugaan.


Tapi sesaat kemudian mereka semua pun mengerti bahwa semua ini hanya sandiwara ketiga atasan puncak mereka, untuk menipu musuh.


Jendral Fei Jendral Yi dan Jendral Han saling pandang sejenak.


Mereka menemukan kesepakatan bersama, mereka segera berteriak,


"Serang, sampai mati kita tidak akan pernah menyerah..!"


Teriak mereka bertiga kompak, sambil mengangkat pedang mereka keatas.


Seluruh pasukan Qin yang berjumlah 2 kali lipat di bandingkan pasukan harimau hitam.


Langsung mengakar senjata mereka keatas berteriak dengan penuh semangat.


Bersiap siap ingin melakukan pertempuran hingga titik darah penghabisan.


Li Ba yang Mel hat jawaban keras kepala ketiga Jendral Qin itu, langsung menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang.


"Kalian yang mencari mati jangan salahkan aku.."


gumam Li Ba pelan.


Lalu tanpa menoleh Li Ba melemparkan tubuh Bai Hu yang tak berdaya kearah Jendral Lim dan Jendral Fu.


Jendral Lim dan Jendral Fu langsung menyambut tubuh Bai Hu lalu menyerahkan ke salah satu komandan nya untuk di awasi.


Komandan itu langsung menerima nya, lalu dia di bantu oleh beberapa bawahannya, mengikat tubuh Bai Hu erat erat, lalu di lemparkan ke depan pintu gerbang.


Di jaga oleh puluhan prajurit harimau hitam yang menempelkan mata tombak mereka, di beberapa titik mematikan di tubuh Bai Hu.


Di depan sana Li Ba setelah melempar tubuh Bai Hu kebelakang.


Melihat pasukan Qin berbaris rapi melangkah maju.


Li Ba mengeluarkan busur kumala pusaka nya.


Begitu di rentangkan sebuah anak panah energi muncul di sana.


"Serrrr...!"


Saat anak panah di lepaskan kedepan, anak panah itu berubah menjadi seekor Phoenix api.


"Wussss,..!"


Phoenix api itu bergerak melengkung kearah Jendral Fei.


"Pasukan tameng tahan burung api itu...!"


teriak Jendral Han, yang posisinya paling jauh dari pergerakan Phoenix api itu.


Puluhan pasukan tameng langsung maju menghalau kedatangan Phoenix api yang kelihatannya ingin mengincar Jendral Fei.


"Brakkkk...!"


"Ahhhhh...!"


Terdengar suara tabrakan keras, di susul dengan teriakan kesakitan, pasukan tameng yang maju menghadang,, serangan Phoenix api tersebut.


Mereka pada terjengkang kebelakang, dengan tubuh gosong.


Sebelum ada pasukan tameng lain yang maju menahan serangan Phoenix api.


Phoenix api sudah menembus tubuh Jendral Fei, di susul Jendral Yi, terakhir baru melewati tubuh Jendral Han.


Ketiga Jendral itu tanpa sempat mengeluarkan suara, tubuh mereka yang hangus dan berlubang di dada kiri.


Langsung tumbang dari atas punggung tunggangan mereka.


"Wahai pasukan Qin,..!"


"Harap dengarkan saya..!"


"Semua Jendral kalian sudah tewas, tak ada gunanya kalian melawan..!"


"Ini tawaran sekali lagi dari saya, menyerahlah lemparkan senjata kalian ke bawah..!"


"Bila tidak, nasib kalian pasti akan sama dengan ketiga Jendral bandel itu..!"


ucap Li Ba mengingatkan.


Sekali ini cukup efektif, hampir setengah dari pasukan Qin, terlihat melemparkan senjata mereka, lalu menyerah tanpa syarat.


Sisa yang lainnya melihat hal tersebut, mereka juga ikut melemparkan senjata mereka menyerah.


Hingga hanya tersisa beberapa ribu pasukan yang terlihat bingung.


Akhir nya satu persatu mereka terpaksa melemparkan senjata mereka.


Setelah melihat pasukan Qin sepenuhnya sudah menyerah, Li Ba pun bernafas lega.


Kini Li Ba sadar, mengapa Guo Yun mengirimnya untuk bertempur seorang diri, memimpin pasukan.


Mengapa juga dalam pertempuran selama ini, Guo Yun selalu mengambil jalan paling repot, untuk menghindari konfrontasi langsung.


Mengapa Li Kui begitu mencemaskan nya, dan selalu mewanti wanti dirinya sebelum mereka berpisah.


Ternyata yang di inginkan oleh kedua saudaranya adalah, menangkan pertempuran sebisa mungkin hindari korban.


Bila tidak mungkin, setidaknya korban di pihak kita sendiri harus seminim mungkin.


Kini berkat kesabarannya, mendengar kan masukkan dari Jendral Lim dan Fu bawahan nya yang tenang dan banyak akal.


Akhirnya mereka bisa merubah keadaan dari kalah berulang kali, menjadi kemenangan cantik yang memuaskan.


Li Ba menoleh kearah dua orang Jendral nya itu menatap mereka berdua penuh haru.


Sambil tersenyum bangga, Li Ba mengacungkan jempolnya buat mereka berdua.


Tanpa pengorbanan mereka yang begitu mulia, mustahil mereka akan ada pencapaian seperti hari ini.

__ADS_1


__ADS_2