
Xiao Tie yang malang, tubuhnya terus terguncang guncang oleh perbuatan gila Ying Zheng.
Akhirnya Xiao Tie ikut mengejang bersamaan dengan semburan cairan hangat, yang di lepaskan oleh Ying Zheng, memenuhi seluruh bagian dalam celah sempitnya.
Saking banyaknya, saat Ying Zheng menarik keluar rudalnya, yang panjang dan besar.
Celah sempit Xiao Tie, yang kini terlihat menganga lebar seperti sebuah gua.
Kini dari balik gua itu, mengalir keluar cairan merah bercampur cairan putih kental, membasahi kain sprei di bawah pinggul Xiao Tie.
Ying Zheng terkulai lemas diatas tubuh Xiao Tie, yang berbentuk indah dan berkulit halus putih dan licin.
Xiao Tie yang kembali sadar sepenuhnya, sambil menahan rasa perih di bagian bawah tubuhnya dan hatinya.
Tangan nya diam diam terulur kebawah bantal, Dia menjangkau pisau belatinya, yang tersimpan di sana.
Begitu pisau belati berada dalam genggaman nya, dengan gerakan secepat kilat Xiao Tie.
Langsung menyarangkan pisau itu kearah bagian samping leher Ying Zheng.
"Tappp..!"
"Plakkkk..!"
Tapi malang bagi Xiao Tie, gerakannya ketahuan.
Tangan nya yang memegang belati tertangkap oleh Ying Zheng.
Sedangkan tangan Ying Zheng yang lainnya, langsung memberikan sebuah tamparan keras kearah wajah Xiao Tie.
Hingga wajah Xiao Tie yang cantik, terhempas kesamping.
Ying Zheng mengeraskan cengkraman tangannya pada tangan Xiao Tie, yang memegang belati.
"****** lepaskan pisau mu, berani kau ingin membunuh calon suami mu..?!"
Bentak Ying Zheng marah, Ying Zheng sebenarnya bisa saja mencekik mati Xiao Tie, yang dia kira Gongsun Li.
Tapi dia sedikit tidak sampai hati membunuh Gongsun Li, yang cantik dan bertubuh aduhai.
Sebagai pria berpengalaman, dia jelas menyadari, tadi saat rudalnya menikmati celah sempit Xiao Tie, yang dia kira Gongsun Li.
Dia tahu persis gadis yang bersamanya ini masih bersegel, belum pernah di sentuh oleh Guo Yun saingannya.
Diluar dugaan Ying Zheng, Xiao Tie bukannya melepaskan belatinya, dia malah melakukan hal ini,
"Cuihhh...!"
Xiao Tie meludahi wajah Ying Zheng dengan air ludahnya, yang bercampur darah.
Karena bibirnya yang imut, sedikit sobek oleh tamparan keras Ying Zheng barusan.
"Blukkk,...!"
__ADS_1
"Ufghhh,..!"
Sebagai balasannya, Ying Zheng dengan kasar menyarangkan tinjunya kearah ulu hati Xiao Tie.
Xiao Tie yang kesakitan, mules hingga sulit bernafas, terpaksa melepaskan belati di genggamannya.
Dia langsung meringkuk seperti udang kering diatas ranjang.
Melihat posisi Xiao Tie yang sedang meringkuk, sambil tertawa puas, Ying Zheng membuang belati di atas ranjang jauh jauh.
Ying Zheng yang nafsunya kembali bangkit, saat melihat Xiao Tie yang meringkuk tak berdaya dengan tubuh polos.
Dengan kasar Ying Zheng membalikkan tubuh Xiao Tie menghadap kebawah.
Lalu dengan kasar pula, dengan tanpa perasaan, dia menancapkan rudalnya yang besar dan keras kearah gua Xiao Tie, yang baru mulai mau menutup dan sedikit agak kering.
Sehingga Ying Zheng yang merasa kesat dan nikmat, tanpa memperdulikan jeritan dan teriakan kesakitan Xiao Tie.
Ying Zheng malah semakin bersemangat menghentak nya, dengan keras dari belakang hingga terdengar bunyi.
"Plok,..! Plok,..! Plok,..! Plok,..!"
Suara jeritan dan rin ti han Xiao Tie, yang terus bergema memenuhi seluruh ruangan kamar tersebut, justru seperti alunan musik penyemangat bagi Ying Zheng.
Hingga Xiao Tie akhirnya kehabisan suara untuk menjerit, dia hanya bisa terdiam, seperti seonggok kayu, dengan tatapan mata kosong.
Membiarkan si bangsat Ying Zheng berbuat sesuka hatinya.
Ying Zheng yang kehilangan perlawanan dan mulai merasa bosan, dengan celah sempit yang tidak mengigit lagi.
Gua itu terlihat agak bengkak pinggiran nya dan terluka berdarah.
Tanpa menghiraukan hal itu, kini Ying Zheng dengan kasar memaksa memasukkan rudalnya ke lubang yang diatasnya yang lebih sempit.
"Akhhhhh...!"
Teriak Xiao Tie dengan suara serak, kepalanya sampai mendongak keatas.
Sepasang matanya terbelalak lebar, seolah olah ingin melompat keluar dari lubang matanya.
Tanpa memperdulikan keadaan Xiao Tie, yang terlihat semakin tersiksa, Ying Zheng dengan kasar dan buas melakukannya dengan sesuka hati.
Hingga tubuhnya mengejang puas dan menyemburkan banyak sekali cairan kental, memenuhi seluruh gua baru, yang dia ciptakan secara paksa.
Ying Zheng dengan kasar menarik keluar rudal besarnya, lalu sambil tertawa puas, dia menampar Bo kong Xiao Tie yang bulat indah padat putih dan lembut itu dengan kasar.
"Plakkkk...!"
"Kamu boleh juga, mulai besok pindah lah kembali ke istana ku lagi."
"Kamu kini adalah wanita ku, aku tidak akan ijinkan kamu tinggal di gedung ini lagi.."
"Mengerti..!"
__ADS_1
Xiao Tie yang tertelungkup lemah diatas kasur, menahan sakit di hati pikiran, hingga bagian bawah tubuhnya, depan belakang.
Dia mana ada tenaga untuk mendengar dan menjawab ocehan Si bajingan Ying Zheng.
Dia hanya bisa menangis dalam diam, menerima semua pengalaman yang sangat sangat menyakitkan dalam hidupnya.
Hanya satu keinginan Xiao Tie saat ini, bila tidak bisa membunuh Ying Zheng, dia juga tidak Sudi meneruskan hidupnya lagi.
Setelah trauma yang begitu besar telah di torehkan oleh Ying Zheng kepadanya.
Dia tidak mungkin bisa sanggup hidup, menanggung malu dan penderitaan yang begitu besar.
Setelah apa yang telah di lakukan oleh binatang itu padanya.
Ying Zheng setelah berbaring sebentar, kemudian dia bangun dari ranjang.
Dengan gerakan santai tanpa dosa, dia meninggalkan Xiao Tie, yang terlihat dalam kondisi menyedihkan.
Terkapar lemah di atas kasur, yang menjadi saksi bisu atas penderitaan yang di alaminya.
Saat matahari terbit tinggi, di dalam kamar Gongsun Li, kini hanya terlihat tubuh Xiao Tie, yang tergantung di udara, dengan leher terjerat tali selendang nya sendiri.
Sepasang matanya yang melotot, terlihat penuh dendam dan kesedihan mendalam.
Pelayan yang datang di utus oleh Ying Zheng, untuk menjemput pengantin barunya itu.
Segera menurunkan jasad Xiao Tie, yang telah kaku.
Jasad itu kemudian di tandu ketempat Ying Zheng, sebagai bahan laporan.
"Apa yang terjadi..?"
tanya Ying Zheng sambil mengerutkan keningnya.
Saat melihat pelayannya datang menandu sebuah jasad, yang wajahnya tertutup kain putih.
"Lapor yang mulia, di kamar Gongsun Li, kami hanya menemukan jasad gadis ini, yang menggantung dirinya di dalam kamar.",
ucap pelayan Ying Zheng memberikan laporan sambil menyembah kearahnya.
Ying Zheng dengan alis berkerut, dia berjongkok di sebelah mayat yang membujur kaku di sebelahnya.
Lalu dengan perlahan-lahan dia menyingkap kain putih, yang menutupi wajah gadis itu.
Begitu kain tersingkap, Ying Zheng terlihat kaget, menatap wajah Xiao Tie.
Terutama sepasang mata Xiao Tie yang sedang melotot menatap kearah nya, dengan penuh kebencian.
Ying Zheng buru buru menutup kembali kain putih itu dan berkata,
"Segera bawa pergi dari sini,.."
"Cepat singkirkan dari sini..!"
__ADS_1
Bentak Ying Zheng sambil terburu-buru, berjalan dengan langkah lebar meninggalkan ruangan tersebut.