LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
RENCANA MO KAM


__ADS_3

Kedatangan Kwa Tek, berhasil memukul mundur beberapa serangan pedang Guo Yun.


Kwa Tek juga menggunakan senjata cambuk merah, sama seperti Kwa Sin.


Sebenarnya kemampuan Kwa Tek dan Kwa Sin hampir sama, tapi karena mereka berdua bergabung bekerja sama dengan sangat baik.


Dalam sekejab mata keadaan pun berubah, Guo Yun lah yang kini terlihat lebih tertekan, dan mulai main mundur.


Dia hanya bisa berusaha menangkis cambuk yang menyerangnya, bagaikan dua ekor ular hidup.


Melihat keadaan Guo Yun yang terlihat kurang menguntungkan, kakek Sian Sian pun berkata.


"Yun er mundurlah serahkan mereka pada ku.."


Kakek Sian Sian selesai berucap, dia langsung terbang kedepan, menangkap kedua ujung cambuk Kwa Sin dan Kwa Tek, dengan sepasang telapak tangannya.


Kedua ujung cambuk tertahan di sepasang telapak tangan kakek Sian Sian.


Tarik menarik pun terjadi, cambuk terbentang kencang, hingga mengeluarkan suara berkerenyit.


Kakek Sian Sian tersenyum tenang, sedangkan Kwa Sin dan Kwa Tek sedikit pucat.


Mereka berdua terlihat kesulitan mempertahankan posisi mereka.


Perlahan-lahan kedua kaki mereka terseret maju kedepan.


Bagaimana pun mereka mengerahkan segenap tenaga menahannya, tetap saja kaki mereka terseret kedepan.


Melihat situasi tersebut, ketiga saudaranya yang lain, segera bergerak maju membantu.


Di bawah arahan pimpinan mereka, Si kepala cucut Mo Kam.


Si badan cucut Cui Sin dan si ekor cucut Cui San.


Mereka berdua bergerak memberikan tenaga dukungan ke Kwa Sin dan Kwa Tek.


Cui Sin menempelkan sepasang tangannya di kedua bahu Kwa Sin dan Kwa Tek.


Sedangkan Cui San menempelkan kedua tangannya di pinggang Cui Sin.


Mo Kam sendiri terbang lurus kedepan, dengan pedang cahaya merahnya, menusuk kearah leher kakek Sian Sian.


"Tranggg,..!"


Kakek Sian Sian menggerakkan kedua mata cambuk di tangannya , di gunakan untuk menangkis serangan pedang Mo Kam.


Akibat pergerakan kakek Sian Sian, Kwa Sin dan Kwa Tek, keduanya terseret kedepan.


Begitu pula dengan Cui Sin dan Cui San, yang berada di belakangnya.


Tapi Cui San memanfaatkan situasi ini, tubuhnya melenting kedepan.

__ADS_1


Sepasang kakinya yang memiliki dua belati tajam, di gunakan untuk menyerang Kakek Sian Sian.


Mo Kam yang serangannya berhasil di tangkis, tubuhnya terpental kebelakang.


Kedua kakinya di sambut oleh telapak tangan Kwa Sin, Kwa Tek, yang membantu mendorong Mo Kam, untuk kembali terbang kedepan.


Mo Kam yang di bantu tenaga lontaran Kwa Sin dan Kwa Tek, dia kembali terbang kedepan.


Untuk melancarkan serangan pedang nya, yang diarahkan ke tujuh titik didepan tubuh Kakek Sian Sian.


Melihat hal ini, kakek Sian Sian terpaksa melepaskan pegangan ujung cambuknya.


Dia bergerak cepat menangkis serangan dari kaki Cui San, dan serangan dari pedang Mo Kam.


Sepasang telapak tangannya berubah menjadi banyak bayangan telapak tangan, yang mengeluarkan cahaya merah.


Menangkis semua serangan yang datang kearahnya.


Termasuk kedua cambuk. Kwa Sin dan Kwa Tek yang datang dari kanan kiri kembali menyerangnya.


Cui San yang serangannya gagal dan tertangkis oleh tapak cahaya merah.


Dia kembali lagi ke posisi belakang Cui Sin.


Sedangkan Mo Kam, setelah ketujuh serangan pedangnya tertangkis, dia terdorong mundur kembali kebelakang.


Punggungnya di tahan oleh tenaga gabungan keempat orang saudaranya.


Tapi hal itu masih bisa di netralisir oleh Kwa Sin dan Kwa Tek, yang memegang gagang kendali cambuk.


"Cetar..! Cetar..! Cetar..! Cetar..!"


Terdengar suara ujung cambuk yang di netralisir meledak ledak di udara.


Kini kedua belah pihak bagaikan ayam jago, yang sedang mengukur kemampuan lawan mereka.


Sebelum saling maju bergebrak lagi.


Ditempat lain, Guo Yun sudah di kepung rapat oleh bajak sungai bawahan si cucut merah, mereka menggunakan berbagai macam alat dan senjata.


Meski jumlah mereka cukup banyak, tapi Guo Yun masih bisa merobohkan mereka satu persatu.


Setiap pedang Guo Yun bergerak, pasti ada bajak sungai, yang bila tidak terlempar keluar kapal


Dia akan merintih rintih kesakitan diatas lantai, sambil memegangi pergelangan tangan mereka yang terluka berdarah.


Bajak sungai yang meski jumlahnya mencapai 100 orang lebih, masih mampu di hadapi Guo Yun dengan Cui Mo Cien.


Kakek Sian Sian kembali saling bergebrak dengan kelima pimpinan bajak cucut merah.


Kelima orang itu membentuk formasi cucut merah, Mo Kam menjadi ujung tombak pedang cucut merah.

__ADS_1


Sedangkan Kwa Sin dan Kwa Tek menjadi Surai kiri kanan yang memberikan serangan dukungan, untuk melancarkan serangan Mo Kam.


Cui Sin bertugas menjaga keseimbangan, memberikan dukungan kekuatan, Cui San yang menjadi bagian ekor bergerak gerak mencari peluang.


Bila ada peluang, dia akan terbang kedepan menggunakan sepasang kakinya, yang di pasangi belati di sepatu, untuk memberikan serangan dadakan mematikan, seperti kibasan ekor ikan.


Kakek Sian Sian yang unggul dalam tenaga dalam dan kecepatan, dia bersikap tenang dalam menghadapi serangan lawan.


Hanya di saat terdesak, dia akan melepaskan tapak cahaya merah memukul mundur lawan nya.


Kakek Sian Sian masih berusaha mempelajari letak kelemahan dari jurus formasi unik tersebut.


Setelah mulai memahami cara kerja formasi unik itu, kakek Sian Sian terus menunggu.


Hingga suatu saat Mo Kam ,Kwa Sin dan Kwa Tek datang menyerangnya.


Dengan secepat kilat, kakek Sian Sian berubah menjadi 4 bayangan.


3 bayangan bergerak memukul mundur Mo Kam Kwa Sin Kwa Tek hingga terpental menjauhi Cui Sin.


Sisa satu bayangan muncul untuk menyerang Cui Sin di bagian yang tak terlindung.


Cui San yang melihat hal itu, dia segera melesat maju, untuk memberikan bantuan.


Cui San menyerang dengan sepasang belati di kakinya.


Tapi justru inilah yang di tunggu-tunggu oleh Kakek Sian Sian.


Begitu serangan Cui San datang, kakek Sian Sian langsung menyambutnya.


"Pranggg,...! Pranggg,...!"


Sepasang belati di kaki Cui San hancur lebur terkena cengkraman cahaya merah


Selanjutnya serangan cakar merah langsung mencengkram kedua pergelangan kaki Cui San, meremukkannya.


Lalu menariknya dengan kuat ke arah kiri dan kanan, tubuh Cui San robek menjadi dua bagian sebelum dia sempat menjerit.


Cui Sin yang datang ingin memberikan batuan, hanya menerima potongan tubuh terbelah dua dan cipratan darah memenuhi wajahnya.


Sebelum sempat sadar dari terkejutnya, tubuhnya telah terpental dengan dada remuk, di tendang oleh kakek Sian Sian.


Dengan hancurnya poros tengah dan belakang, secara keseluruhan formasi ikan cucut merah, yang kuat dan berbahaya telah di hancurkan.


Tersisa Mo Kam Kwa Sin dan Kwa Tek, mereka bertiga tahu bila diteruskan pasti mati konyol.


Kwa Sin dan Kwa Tek melompat kedalam sungai melarikan diri.


Sedangkan Mo Kam yang sok pintar, saat melihat di perahu ada seorang anak kecil, di temani seorang pemuda tanggung yang wajahnya terlihat polos.


Dia langsung melayang kesana, pedangnya di tusukkan kearah leher si pemuda berwajah polos.

__ADS_1


Sedangkan tangannya yang lain di gunakan untuk mencengkram bahu anak kecil itu.


__ADS_2