
Bila di teruskan, dia yang tidak mampu berenang pasti akan kelelep ke dalam air.
Dia bisa tenggelam mati konyol di sana.
Tapi suara mencicit di seberang sana kian jelas, samar samar dia juga bisa melihat pinggiran sungai di seberang sana.
Hal itu sangat memicu rasa penasarannya.
Sambil menghirup nafas dalam dalam dan mengigit bibir nya erat erat.
"Mati ya matilah, bila tetap di tempat ini, cepat lambat juga akan mati kelaparan.'
batin Gongsun Li di dalam hati.
Dengan nekad Gongsun Li, meneruskan langkahnya, meski air kini mulai menutupi mulutnya, dia mulai megap megap.
Tapi dia masih terus memaksa maju, sambil mencoba berpegangan pada permukaan dinding, yang tidak rata tapi sangat licin.
"Ufpss.."
Air masuk ke hidung dan mulut Gongsun Li, dia sedikit gelagapan.
Untungnya tangan nya berpegangan erat pada dinding tebing.
Sehingga dia bisa kembali muncul kepermukaan air, dengan nafas sedikit terengah engah.
Sebagian rambut dan wajah Gongsun Li mulai basah, air dari anak rambutnya menetes netes menghalangi pandangan matanya.
Gongsun Li menghapusnya, sambil sedikit mengatur nafas.
Dia kembali melanjutkan meniti dinding tebing maju sedikit demi sedikit.
Baru meniti beberapa langkah, kaki Gongsun Li akhirnya menginjak dasar sungai.
Dia hampir bersorak kegirangan, untungnya, dia keburu sadar.
Dia langsung membatalkan niatnya yang sangat beresiko itu.
Gongsun Li terus meniti dinding tebing hingga posisi air berada di bawah dagu.
Dia baru bisa sedikit bernafas lega dan kembali melanjutkan langkahnya, menuju pinggiran sungai di seberang.
Kini cahaya biru di tangannya, mulai bisa menjangkau pinggiran sungai.
Setelah tiba di pinggiran sungai, Gongsun Li mulai bisa melihat dengan lebih jelas.
Suara mencicit itu ternyata berasal dari mahluk bermata merah, yang bergelantungan dengan posisi terbalik kebawah.
Mahluk itu paling paling berukuran sebesar telapak tangan, tapi jumlahnya sangat banyak.
Gongsun Li sedikit bergidik, melihat mahluk mahluk menyeramkan itu.
Bau kotoran mahluk itu di sepanjang pinggiran sungai, mulai menyengat penciuman Gongsun Li.
__ADS_1
Dengan hati hati Gongsun Li melewati lautan kotoran binatang itu, yang sudah berubah menjadi lumpur kotoran, yang lembek lengket dan sedikit hangat hangat memuakkan.
Gongsun Li harus melangkah sambil menutupi hidungnya, mencoba bernafas dengan mulut.
Beberapa kali dia harus menahan diri agar tidak muntah.
Gongsun Li terus melangkah pelan, tanpa berani mengeluarkan suara berisik sedikitpun.
Dia takut suara berisik nya, akan menganggu mahluk mahluk yang bergelantungan di atas kepalanya.
Bila mereka terganggu marah, kemudian menyerangnya, dia pasti akan konyol dikeroyok oleh mahluk mahluk itu, yang mungkin jumlahnya mencapai ribuan ekor.
Melewati lautan kotoran itu, adalah satu satunya jalan menuju sebuah titik cahaya, yang bisa terlihat dari posisinya saat ini.
Cahaya itu adalah secercah harapan bagi Gongsun Li, agar bisa meninggalkan tempat ini.
Lautan kotoran semakin lama semakin tebal dan tinggi, dari kotoran setinggi mata kaki, kini telah mencapai sebatas lutut.
Sambil berusaha menahan jijik, Gongsun Li terus melangkah.
Hingga akhirnya berhasil keluar dari lautan kotoran tersebut.
Setelah meninggalkan lautan kotoran, Gongsun Li kini menyusuri terowongan lantai batu, yang tidak rata dan banyak batu batu runcing.
Sepatu pelindung kakinya mulai sobek sobek, telapak kakinya juga terasa perih, tanda dia mengalami luka gores di sana.
Sambil mengeraskan hati nya, menahan rasa perih di telapak kaki nya.
Gongsun Li terus melangkah menuju titik cahaya, yang semakin lama semakin besar.
Gongsun Li tersenyum girang saat melihat kenyataan. cahaya itu ternyata berasal dari mulut sebuah gua.
Saat semakin dekat dengan mulut gua, Gongsun Li mendapatkan kenyataan.
Ternyata tidak jauh dari mulut gua ada sebuah ruangan luas.
Dari dinding gua sebelah kanan ada sebuah pancuran kecil berair jernih, jatuh kesebuah kolam yang airnya sangat jernih.
Hingga bebatuan di dasarnya terlihat jelas.
Melihat tempat itu, Gongsun Li yang sudah sangat muak dengan kotoran yang menempel di paha betis hingga kaki nya.
Dia tentu sangat gembira, tanpa menghiraukan pemandangan di sisi lainnya.
Gongsun Li langsung fokus berlarian menghampiri tempat tersebut.
Tanpa malu malu, dia langsung melepaskan sepatu dan seluruh pakaian nya yang compang camping.
Lalu masuk kedalam kolam berair bening itu, untuk membersihkan diri dan mandi sepuasnya di bawah pancuran air.
Kolam itu tidak dalam tidak luas, tapi airnya terus mengalir menuju mulut gua.
Sehingga air kolam selalu mengalir dan berganti dengan air baru, yang turun dari pancuran dinding tebing.
__ADS_1
Setelah puas mandi dan membersihkan diri.
Gongsun Li melanjutkan dengan membersihkan sepatu rombeng dan pakaian compang camping nya dengan hati hati.
Karena hanya pakaian dan sepatu itulah, yang tersisa untuk menutupi tubuhnya.
Selesai membersihkan sepatu dan pakaiannya, sambil menunggu kering.
Gongsun Li mencoba meneliti ke mulut gua, untuk memastikan tempat itu aman.
Tidak akan ada orang yang masuk tiba tiba, dan melihat tubuhnya yang sedang polos itu.
Selain Guo Yun suaminya, dia tidak akan ijinkan siapa pun untuk melihat nya dalam kondisi seperti itu.
Teringat Guo Yun, Gongsun Li langsung tersenyum sendiri.
Kini kembali timbul harapan nya, untuk bisa segera bertemu dengan Guo Yun, bila dia mampu meninggalkan tempat ini.
Sambil tersenyum sendiri, Gongsun Li terus melangkah menuju mulut gua.
Tiba di depan mulut gua, Gongsun Li sedikit bergidik, karena angin dingin yang kencang berhembus masuk menerpa tubuhnya yang sedang polos.
Sambil memeluk kedua lengannya sendiri dengan sepasang paha agak dirapatkan.
Gongsun Li meneruskan langkahnya menuju mulut gua.
Begitu melongok keluar dari mulut gua, Gongsun Li yang melihat pemandangan di luar gua.
Wajahnya langsung terlihat kecewa dan sedih.
Sambil menghela nafas penuh keputusasaan, Gongsun Li kembali melangkah masuk kedalam ruangan luas di sebelah dalam gua.
Gongsun Li menjadi kecewa karena pemandangan di luar gua sana adalah, sebuah gua yang posisinya terletak di tengah tengah sebuah tebing curam.
Di mana 50 meter kebawah gua adalah aliran sungai Yang Tze, yang berarus deras dan lebar sungainya.
Turun kebawah adalah tidak mungkin, dia pasti akan mati tenggelam.
Bahkan bila dia mampu berenang sekalipun, tidak mungkin bisa selamat.
Menghadapi arus sungai yang begitu deras dan sungai yang begitu.lebar.
Kecuali dia punya sayap dan bisa terbang, ada kemungkinan dia masih bisa tinggalkan tempat ini.
Gongsun Li sempat melihat ke sisi atas, bagian atas mulut gua adalah sebuah tebing yang menjulang tinggi keatas.
Selain berubah menjadi seekor cecak ataupun monyet, dia tidak mungkin mampu naik keatas tebing.
Sambil melangkah dengan wajah kecewa, Gongsun Li kembali masuk kedalam ruangan.
Saat kembali lagi kedalam ruangan gua, iseng iseng Gongsun Li melakukan pemeriksaan ke bagian sisi kiri ruangan.
Di sebuah pojok agak tersembunyi, dia melihat pemandangan yang sedikit aneh dan mengejutkan nya.
__ADS_1
Sepasang mata Gongsun Li yang indah terbelalak kaget.