
"Kalian bertiga bersiaplah, mari ikut dengan ku ke ruang Suci perguruan kita, ayo lewat sini.."
ucap kakek Zhuangzi.
Mereka bertiga mengangguk cepat penuh semangat, lalu bergerak mengikuti guru Zhuangzi dari belakang.
Guru Zhuangzi mengajak mereka bertiga menuju halaman belakang pondok rumahnya.
Di halaman belakang pondok , yang luas dan datar, dari bagian atas undakan anak tangga.
Bisa terlihat jelas, di atas tanah bagian paling bawah undakan anak tangga , ada sebuah lingkaran dan garis 8 arah mata angin di bagian luar, sedangkan di bagian tengah ada garis tulisan 5 unsur.
"Kalian bertiga harus ikuti langkah ku mengerti..?"
ucap guru Zhuangzi serius.
"Baik guru, jawab ketiga anak itu kompak."
Guru Zhuangzi mulai bergerak dengan pelan.
Dari langkah awal hingga ke bagian tengah Guo Yun mengenalinya, itu adalah bagian dari 72 langkah ajaib miliknya.
Tapi menjelang bagian akhir, langkahnya berubah menjadi semakin rumit dan sulit di duga.
Tapi karena guru Zhuangzi sengaja memperlambat gerakan setiap jurusnya.
Ketiga anak itu, sejauh ini masih berhasil mengikuti nya.
Setelah menyelesaikan rangkaian 72 langkah ajaib versi guru Zhuangzi.
Bagian paling tengah lingkaran berderak keras, kemudian muncul sebuah lubang, dengan undakan anak tangga menurun ke bawah.
"Ayo kita masuk,.."
ucap Guru Zhuangzi sambil melangkah menuruni anak tangga.
Mereka bertiga mengikuti guru Zhuangzi menuruni anak tangga batu alam, yang berputar-putar melingkar menurun kebawah.
Saat mereka tiba di undakan anak tangga ke 10, di bagian atas jalan masuk, pintu masuk kembali menutup dengan sendirinya.
Begitu bagian atas tertutup, obor didalam ruangan tersebut.
Semua pada menyala secara otomatis, sehingga suasana di undakan anak tangga, kini menjadi terang benderang.
Mereka bertiga terus mengikuti guru Zhuangzi bergerak menuruni undakan anak tangga itu.
Setelah beberapa waktu berlalu, mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan, di mana ruangan tersebut kosong melompong.
Hanya terlihat sebuah batu tipis mirip cermin, yang mengeluarkan cahaya 5 warna bercampur jadi satu.
Di sana terlihat ada bayangan warna hitam putih merah kuning dan hijau.
Guru Zhuangzi melangkah menembus cermin itu
Melihat hal itu, ketiga anak itu saling pandang dengan wajah tak percaya dan sedikit kaget.
__ADS_1
Tapi mereka bertiga secara berbarengan, mengikuti guru Zhuangzi melangkah menembus batu cermin tipis 5 warna itu.
Melewati penghalang itu, mereka muncul di sebuah lorong yang di kelilingi oleh ke 5 cahaya, yang bersinar terang, menerangi seluruh lorong tersebut.
Di sana terlihat guru Zhuangzi sedang menanti kedatangan mereka.
Begitu melihat mereka bertiga sudah tiba di lokasi tersebut.
Tanpa berkata apapun, Guru Zhuangzi membalikkan badannya.
Kemudian dia meneruskan langkahnya menelusuri lorong itu.
Beberapa waktu berlalu, saat tiba di penghujung lorong, mereka kembali bertemu dengan batu cermin 5 warna, sama persis dengan batu cermin yang pernah mereka lewati sebelumnya.
Perbedaan nya dengan batu cermin sebelumnya, adalah bila di sebelumnya mereka bisa langsung masuk.
Di sini terlihat guru Zhuangzi harus memutar sebuah batu bundar bergerigi, yang terletak persis di sebelah batu cermin tersebut.
Guru Zhuangzi memutar batu tersebut kearah kanan secara berurutan 1 3 dan 5 kali.
Perlahan-lahan cermin itu pun merekah, mereka bisa melihat pemandangan di luar sana, yang terlihat seperti gambaran taman surga dalam lukisan.
Guru Zhuangzi tanpa memperdulikan reaksi ketiga muridnya, dia berjalan melewati pintu batu cermin itu.
Ketiga anak itu buru buru mengikutinya, memasuki lembah yang memilki pemandangan yang sangat menakjubkan itu.
Saat sepasang kaki mereka menginjak rumput pendek di tempat itu.
Mereka serasa menginjak permadani yang sangat halus dan lembut.
Hal ini membuat ketiga anak itu merasa pernafasan dan pikiran mereka terasa tenang tentram dan sangat nyaman.
"Ayo jangan bengong saja di sana ."
ucap Guru Zhuangzi, yang sudah melangkah cukup jauh meninggalkan mereka bertiga.
Ketiga anak itu seperti baru tersadar dari hipnotis suasana di tempat itu.
Dengan hati riang, mereka bertiga langsung berlari mengejar kearah guru Zhuangzi.
Tentu saja untuk mempercepat gerakan mereka, Sian Sian di letakkan duduk di bahu Li Ba
Sehingga gadis kecil itu tertawa tawa sangat gembira, dia mulai lupa dengan kesedihan dirinya sebelumnya.
Melihat anak itu tertawa gembira Guo Yun dan Li Ba pun turut senang, terbawa oleh suasana yang di bawa gadis cilik itu.
Guru Zhuangzi membawa mereka memasuki sebuah bangunan besar yang mirip istana.
Bangunan utama istana itu, terletak ditempat tinggi.
Untuk mencapainya mereka harus melewati undakan anak tangga yang cukup tinggi.
Memasuki bangunan istana saat tiba di bagian dalam istana.
Mereka bertiga bisa melihat ada sebuah ruangan yang luas, dengan pilar pilar raksasa di sana.
__ADS_1
Di mana pilar pilar raksasa yang menjulang tinggi keatas, di gunakan untuk menyangga atap langit langit ruangan yang berbentuk kubah.
Langit langit ruangan berwarna biru dengan bercak putih menghiasinya, Hal itu membuat langit langit ruangan tersebut berkesan seperti langit biru dengan awan putih berarak.
Jarak dari lantai hingga langit langit istana mencapai ketinggian 10 meter.
Hal ini membuat ruangan yang sudah luas terkesan semakin luas.
Di penghujung ruangan terlihat ada 3 pintu besar berwarna merah yang tertutup rapat.
"Pintu bagian tengah adalah ruang suci yang akan kita masuki sebentar lagi.."
ucap Zhuangzi sambil menunjuk kearah pintu di bagian tengah.
"Pintu di sebelah kanan sana, adalah pintu menuju ruangan perenungan perguruan kita."
ucap Zhuangzi sambil menunjuk kearah tersebut.
"Dan yang terakhir pintu sebelah kiri, itu adalah pintu menuju ruangan hukuman perguruan kita."
ucap Guru Zhuangzi menerangkan.
"Sekarang mari ikuti aku, masuk ke pintu ruangan tengah."
ucap guru Zhuangzi sambil melangkah menuju ruangan tersebut.
Guo Yun dan yang lainnya bergerak mengikuti dari belakang.
Mereka kembali melihat guru Zhuangzi memutar sepasang gelang di depan pintu, mengikuti arah jarum jam.
Putaran ini pun ada aturan nya, setelah di putar beberapa kali.
Pintu gerbang raksasa itupun terbuka dengan sendirinya.
Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar, hanya terlihat sebuah tablet batu Giok putih su su, seukuran 30 kali 30 cm.
Tablet giok putih itu, di sangga oleh sebuah pilar setinggi pinggang.
"Kalian bertiga, secara bergantian letakkan kedua telapak tangan kalian, di atas tablet batu itu.."
"Batu itu akan membantu ku mendeteksi, sampai sejauh mana tingkat kultivasi tenaga dalam, yang kalian miliki."
"Ayo siapa yang akan maju untuk mencobanya duluan.."
Ucap Guru Zhuangzi sambil menyapukan pandangannya kearah wajah ketiga muridnya.
Li Ba yang maju paling duluan, dia berkata,
"Guru biar aku mencobanya.."
"Silahkan Ba er.."
ucap Guru Zhuangzi sambil tersenyum sabar.
Li Ba dengan jantung berdebar debar.
__ADS_1
Dia mencoba meletakkan sepasang telapak tangannya, yang besar dan tebal, menekan di atas batu tablet giok putih itu.