LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KABAR DUKA CITA


__ADS_3

"Bertanya pada langit


Bertanya pada bumi


Apa itu cinta."


"Mengapa setelah dia hendak pergi, meninggalkan segala perasaan nya."


"Aku baru menyadari, aku sebenarnya tidak dapat hidup dengan bahagia, tanpa dirinya."


"Ohh bulan yang indah, katakan pada ku, mengapa baru kini aku menyadarinya."


"Ternyata dia lah yang paling ku cinta."


"Dulu aku menganggapnya seperti udara, seperti cahaya matahari."


"Bisa di rasa, tapi tidak menghargai keberadaan nya."


"Kini setelah dia tiada, yang tersisa hanya rasa sesal, yang menyesakkan dada dan airmata."


"Semoga saja masih ada kesempatan untuk kami kembali bersama."


"Semoga saja.."


Guo Yun tersenyum penuh haru, setelah selesai membaca syair dari istrinya.


Dia bisa membayangkan, selama ini bagaimana istrinya melewati hari hari, menanti kepulangan nya, dari Zhuang Zi Su Yuan.


Guo Yun memejamkan matanya, menghirup nafasnya dalam dalam dan bergumam.


"Segera setelah temui guru, aku pasti akan segera pulang.."


"Aku tidak akan membiarkan mu, kembali menunggu nunggu tanpa kepastian.."


Guo Yun buru buru merapikan dan membersihkan pondok tempat tinggal istrinya.


Setelah itu dia langsung pergi menemui guru nya, di pondok peristirahatan.


Tiba di sana melihat gurunya sedang menyiram tanaman seorang diri.


Gurunya kini terlihat jauh lebih tua, dibandingkan beberapa tahun lalu.


Dengan penuh haru Guo Yun melangkah menghampirinya.


Guo Yun langsung berlutut di samping nya dan berkata,


"Guru,.. murid tidak berbakti Guo Yun pulang menjenguk mu.."


Guru Mo Zi sangat terkejut dengan kehadiran Guo Yun, yang tiba-tiba berlutut padanya.


Begitu mendengar ucapan Guo Yun, dia mencoba menatap Guo Yun dengan teliti, untuk mendapatkan kepastian.


"Yun er kamu telah kembali syukurlah... syukurlah..kamu baik baik saja.."


"Ayo berdirilah, kita duduk ngobrol di sana saja.."


ucap Mo Zi sambil tersenyum penuh haru, dia membantu Guo Yun berdiri.


Lalu dia menggandeng tangan Guo Yun, menuju pondok tempat dia biasanya bersantai, sambil minum teh.


"Yun er apa kabar dengan Ba er,? kenapa dia tidak terlihat bersama mu ?"


tanya Guru Mo Zi sambil merebus air untuk menyeduh teh.


Guo Yun terdiam sejenak dan berkata,


"Ba er baik baik saja guru, Ba er masih tertahan di Zhuangzi Su Yuan menjalani pelatihan.."

__ADS_1


"Guru tak perlu khawatir.."


ucap Guo Yun sedikit berbohong.


Agar tidak membuat Guru Mo Zi yang sudah tua, dan terlihat banyak beban pikiran, menjadi semakin khawatir dengan Li Ba.


"Baguslah bila kalian berdua baik baik saja.."


"Jangan seperti kedua kakak seperguruan mu, Li er dan Ke er.. setelah pergi mereka tidak pernah kembali."


"Aku benar-benar sedikit menyesal, mengirim mereka berdua pergi ke lembah sungai Huai.."


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Guru tak perlu khawatir Li er baik baik saja, kami sudah menikah.."


"Kini dia sedang menanti ku di Xian Yang, sedangkan kakak Ching aku kurang tahu.."


"Terakhir aku Zhong Yu dan kakak Ching, kami berpisah di tepi sungai Huai."


Guru Mo Zi tersenyum gembira, menepuk pundak Guo Yun, dengan lembut dan berkata,


"Syukurlah kalian akhirnya bisa bersama.."


"Guru bisa melihat dengan jelas, setelah kalian berpisah dulu.."


"Gadis bodoh itu benar benar telah menyesal, dan dia sungguh sungguh sangat mencintai mu.."


"Kamu tidak tahu, setiap pagi dan setiap sore, bila tidak ada kelas.."


"Dia pasti akan pergi ke tembok kota menanti mu kembali.."


"Tapi selalu berakhir pulang dengan wajah lesu sedih dan kecewa.."


"Guru benar'benar tak tega melihatnya, guru hanya bisa berdoa, agar kalian bisa kembali bersama.."


ucap Guru Mo Zi sambil tersenyum gembira.


Dia memberikan secawan teh wangi, yang baru di seduh nya ke Guo Yun.


Guo Yun menerimanya dengan hati hati dan berkata,


"Terimakasih guru, guru sendiri bagaimana kabarnya..?"


Mo Zi tersenyum dan berkata,


"Seperti yang kamu lihat, guru masih belum di panggil panggil.."


"Maksud guru,..?"


tanya Guo Yun untuk memastikan arah pembicaraan gurunya.


Guru Mo Zi menghela nafas kecewa dan berkata,


"Negara sudah hilang, murid hampir 3/4 nya di kerahkan pergi bela negara.."


"Sekali pergi tidak ada yang kembali, hanya tersisa tua Bangka yang tidak di kehendaki oleh yang kuasa, masih tetap ada di sini.."


ucap Mo Zi sedih.


"Guru tak perlu menyesali diri, semua sudah ada yang atur, kita hanya bisa menjalaninya saja.."


"Posisi negara Lu yang seperti ini, akan sangat sulit bagi siapapun untuk menyelamatkannya.."


"Bahkan guru konfusius pun bukannya juga sudah menyerah dan meninggalkan Lu..?"


ucap Guo Yun berusaha meyakinkan gurunya, bahwa semua yang terjadi, tidak ada hubungannya dengan gurunya.."

__ADS_1


Guru Mo Zi tersenyum pahit dan berkata,


"Mari kita minum teh nya.."


Guo Yun mengangguk, lalu minum teh dan mengobrol santai bersama gurunya.


Menjelang sore, Guo Yun berpamit dengan gurunya.


Setelah berkumpul kembali dengan pasukannya, Guo Yun segera memimpin mereka menuju lembah sungai Huai.


Dalam perjalanan menuju lembah sungai Huai, Guo Yun mendapat kabar berita duka cita dari Ibukota.


Bahwa Raja ZhuangXiang telah wafat


Mendengar raja itu wafat, di gantikan oleh Ying Zheng.


Guo Yun diam diam menjadi cemas, dan khawatir dengan istrinya di Xian Yang.


"Kakak Zhang dan kakak semuanya, aku harus secepatnya kembali ke Xian Yang, melihat situasi.."


"Bila kita melakukan perjalanan bersama, itu akan lambat.."


"Jadi aku putuskan, kalian berkemah saja diatas bukit, yang dulu pernah menjadi markas kita, tidak jauh dari tepi sungai Huai."


"Bila ada hal yang bersifat mendesak, kalian boleh konsultasikan dengan kakak Wang.."


"Aku yakin dia akan membantu.."


ucap Guo Yun di dalam sebuah markas darurat saat mereka sedang beristirahat.


"Siap tuan..'


"Tuan sendiri kapan rencana berangkatnya..?"


tanya Zhang Yi sambil menatap Guo Yun dengan cemas.


"Sekarang.."


jawab Guo Yun tegas.


"Kita berpisah di sini.."


"Kalian manfaatkan waktu ini dengan baik, terus berlatih tanpa putus, .selama aku tidak ada.."


ucap Guo Yun mengingatkan.


Kelima orang itu mengangguk dengan serius.


Setelah meninggalkan pesan dan berpamit, Guo Yun langsung Bergerak meninggalkan kemah darurat.


Dia terus memacu kudanya secepatnya menuju Xian Yang.


Kepergian Guo Yun, tidak terlalu berpengaruh terhadap pergerakan pasukan harimau hitam, yang di pimpin oleh 5 ajudan kepercayaan nya.


Guo Yun hanya mampir sebentar di markas Wang Jian, untuk mendapatkan kepastian.


Setelah itu dia langsung menyeberangi sungai Huai, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju kota Xian Yang.


Baru saja Guo Yun hendak memasuki kota Xian Yang.


Lu Bu Wei dan pangeran Ying Zheng, yang masih mengenakan pakaian berkabung.


Mereka terlihat hadir disana, khusus untuk menyambut kedatangan Guo Yun.


Guo Yun langsung turun dari kudanya, dan memberi hormat kepada mereka lalu berkata,


"Maaf aku baru tahu kabar duka ini, aku turut berduka cita, untuk Raja ZhuangXiang, beserta seluruh keluarga yang di tinggalkan nya.."

__ADS_1


__ADS_2