
Meski sebagian besar sudah di bantu di kerjakan oleh Gongsun Li dan Si Si.
Tapi tetap saja banyak hal hal pelik, yang tidak berani mereka putuskan.
Mereka menundanya sambil menunggu Guo Yun pulang untuk menanganinya sendiri.
Kini Gongsun Li duduk dengan setia, membantu mengasah bak tinta buat Guo Yun, yang terlihat sangat serius membaca tumpukan laporan di hadapannya.
Menjawabnya satu persatu secara tertulis dan di beri stempel.
Sebelum nanti semua berkas itu, di kirim kembali ke pejabat pejabat yang mengajukan laporan tersebut.
Hingga menjelang matahari tenggelam akhirnya tersisa beberapa berkas laporan yang baru masuk.
Guo Yun baru meluruskan pinggang nya, lalu menoleh kesebelah nya.
Guo Yun melihat Gongsun Li sudah tertidur bersandaran di kursinya.
Dengan hati hati Guo Yun memanggilnya,
"Li Er,..Li er.."
"Bangunlah, ayo kita pindah ke kamar saja tidurnya.."
ucap Guo Yun pelan.
Gongsun Li perlahan-lahan membuka matanya dan berkata,
"Ehh maaf aku ketiduran,.. bagaimana sudah selesai..?"
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Sudah sudah, tinggal sedikit lagi, besok pagi saja baru di lanjut.."
"Ayo kita istirahat sekarang kedalam.."
"Kamu lapar tidak..?"
"Mau makan apa..?"
tanya Gongsun Li sambil tersenyum lembut.
Guo Yun menatap Gongsun Li dengan mesra dan berkata,
"Aku memang sedikit lapar, makan apa saja aku suka.."
"Asalkan itu masakan mu aku pasti suka.."
ucap Guo Yun sambil membantu membereskan anak rambut Gongsun Li yang terjatuh kebawah.
Gongsun Li tersenyum dengan wajah sedikit merah dan berkata,
"Aku pergi menyiapkan nya, kamu tunggu sebentar.."
Guo Yun menatap Gongsun Li dan berkata,
"Bagaimana bila aku ikut temani kamu di dapur.."
"Jangan,..status mu sekarang berbeda, nanti kamu malah membuat heboh bagian dapur.."
ucap Gongsun Li buru buru mencegahnya.
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Baiklah ikut kamu saja, aku menunggu di sini saja.."
Gongsun Li mengangguk cepat, lalu berlalu dari sana.
Guo Yun kembali menghadap ke berkas laporan sisanya, sambil menunggu dia kembali membaca laporan laporan tersebut.
Dan menjawabnya satu persatu,
Beberapa waktu berlalu.
Gongsun Li terlihat sudah kembali kedalam kamar, di temani oleh 3 orang pelayan, yang masing masing membawa beberapa jenis masakan ditangan mereka.
Gongsun Li ikut duduk di sebelah Guo Yun membiarkan mereka menata dan menyusun beberapa macam masakannya di atas meja.
Guo Yun yang sudah tidak sabar, menunggu mereka selesai menatanya.
Dia sudah mengambil mangkuk berisi nasi dengan sumpitnya, dia langsung mencicipi satu persatu masakan di hadapannya.
Setiap satu masakan masuk kedalam mulutnya, dia akan memejamkan matanya.
Seperti sangat menikmati masakan tersebut.
"Bagaimana rasanya..?"
tanya Gongsun Li yang duduk di sebelah suaminya dengan harap harap cemas.
"Hmmm,.. masih kurang.."
ucap Guo Yun pelan,
Lalu dia kembali melanjutkan nya ke pilihan selanjutnya, melakukan hal yang sama, juga memberikan jawaban yang sama berulang kali.
Setiap Gongsun Li bertanya padanya.
Gongsun Li mulai terlihat gelisah tidak tenang dan agak cemberut menanggapi sikap suaminya.
Guo Yun pura pura tidak melihatnya, dia terus menikmatinya.
Hingga seluruh masakan di atas meja habis tak bersisa.
Dia sambil menahan senyum melihat ekspresi wajah istrinya.
berkata pelan.
"Sayang masakan mu selalu yang paling sempurna buat ku.."
"Tapi kamu dari tadi terus berkata kurang.."
ucap Gongsun Li sedikit protes.
Guo Yun memegang jemari istrinya dengan lembut dan berkata,
"Maksud ku bukan kurang enak, tapi aku menyayangkan tidak punya waktu berlebih untuk menikmatinya."
"Bersama mu, aku selalu merasa waktu kurang panjang.."
Gongsun Li langsung tersenyum dan berkata,
"Gombal, kalau kamu begitu mementingkan ku, tentu tidak akan menambah koleksi yang begitu banyak.."
"Malah ada bonusnya lagi, kedepannya bukannya makin kurang waktu kita..?"
Guo Yun tersenyum canggung dan berkata,
"Kamu juga tahu, semua terjadi di luar kehendak ku, adalah situasi dan kondisi, yang membuat ku harus bertanggung jawab dan mengecewakan mu.."
"Maafkan aku..sayang.."
Gongsun Li tersenyum lembut dan berkata,
"Meski hanya ada satu detik waktu bersama mu, aku tetap tidak akan pernah menyesal memilih mu."
Guo Yun tersenyum lebar dan berkata,
"Kalau begitu tunggu apalagi, ayo kita kedalam menyelesaikan nya.."
"Agar kamu juga bisa segera memberi ku bonus seperti Min Min.."
ucap Guo Yun sambil menggendong tubuh Gongsun Li masuk kedalam kamar peristirahatan nya.
"Yun ke ke tunggu kamu belum cerita, bagaimana bisa bertemu dengan Min Min dan dapat bonus itu..?"
tanya Gongsun Li penasaran.
"Akan ku ceritakan di dalam sana.."
bisik Guo Yun lembut
Di ruang kerja itu, memang ada di sediakan sebuah kamar buat peristirahatan raja Guo Jian, ayah kandung Guo Yun yang sangat doyan wanita itu.
Kini Guo Yun tinggal menggunakan nya saja, tanpa perlu banyak merenovasinya lagi.
Beberapa waktu berlalu dalam keheningan di dalam kamar yang tertutup rapat.
Di mana di luar sana justru hujan rintik rintik mulai turun membasahi halaman dan genteng istana kediaman Guo Yun.
Setelah beberapa waktu berlalu, diatas ranjang di dalam kamar.
Terlihat Gongsun Li berbaring dalam pelukan Guo Yun tanpa busana, hanya tertutup oleh selimut tipis berwarna merah, berbahan lembut.
Dia terlihat tersenyum sangat puas dengan sepasang mata terpejam rapat.
Keringat terlihat memenuhi kening dan tubuh mereka berdua, meski cuaca sebenarnya tidak terlalu panas.
Guo Yun yang juga terlihat berbaring tanpa busana memeluk istrinya.
Dia berkata pelan,
"Sayang, maaf aku tidak berhasil membalas dendam buat kakak mu, Siau Tie dan ayah mu.."
Gongsun Li menghela nafas panjang dan berkata,
"Tidak perlu sayang, aku tahu kesulitan mu.."
"Aku meski membencinya, tapi aku juga belum tentu tega menghabisinya, karena terus terang saja terhadap ku dia juga cukup baik ."
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Aku mengerti, bila tidak ada aku, mungkin kamu sudah menerimanya, benar..?"
Gongsun Li terdiam sejenak dan berkata,
"Entahlah, yang jelas setelah memilih mu, seumur hidup aku hanya milik mu.."
"Meski kamu tiada sekalipun, aku juga tidak mungkin bisa menerima yang lainnya.."
Guo Yun mengangguk pelan dan berkata,
__ADS_1
"Li Er terkadang aku sendiri hampir sulit percaya, kami yang begitu tinggi diatas dan menjadi pujaan seluruh Mo Zi Su Yuan."
"Kini bisa berbaring disini bersama ku, dalam keadaan seperti ini.."
"Mimpi pun aku tidak berani, membayangkan ada hari begini.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum sendiri menatap langit langit tempat tidur.
Gongsun Li tersenyum manis dengan wajah merah padam dan berbisik pelan.
"Setinggi apapun posisi ku dulu, setelah menjadi milik mu, aku tetaplah akan selalu di bawah."
Guo Yun tersenyum nakal membalikkan tubuh istrinya naik keatas dan berkata,
"Kalau kamu ingin diatas menunggangi ku, aku juga tidak akan menolak nya.."
"Kamu kan termasuk penunggang yang handal."
"Isss,..! ceriwis..! tidak tahu malu..!"
tegur Gongsun Li yang selimutnya jadi tersingkap, karena dia kini duduk menunggangi di atas pusar Guo Yun.
Tubuhnya yang indah dan sangat menawan kini terpampang jelas seluruhnya di hadapan Guo Yun.
Sesaat kemudian suara de sah an dan deru nafas memburu kembali terdengar jelas di dalam kamar tersebut.
Sementara hujan di luar juga semakin deras, seperti tidak mau kalah dengan aktivitas yang sedang terjadi di dalam sana.
Hingga saat matahari terbit, suara burung mulai berkicau di luar sana.
Dengan wajah malas, Gongsun Li yang terlihat jelas masih lelah, memanggil Guo Yun, sambil mengguncang tubuhnya dengan lembut dan berkata,
"Yun ke ke bangunlah hari sudah pagi, kamu harus bersiap siap pergi hadiri sidang pagi.."
Guo Yun mengangguk, lalu dia bangkit berdiri berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah berganti dengan rapi, dia kembali lagi kearah pembaringan dan berkata,
"Kamu mau ikut..?"
Gongsun Li tersenyum malu dan berkata,
"Setelah melayani mu hingga seperti ini, apa aku masih bisa ikut..?"
"Udah cari adik Si Si sana, aku mau beristirahat.."
ucap Gongsun Li sambil menahan senyum bahagia.
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Baiklah kamu beristirahatlah, aku pergi dulu ."
"Nanti baru kemari lagi.."
Gongsun Li mengangguk kecil dengan mata terpejam.
Guo Yun sambil tersenyum memberikan ciuman pelan di keningnya.
Lalu dia pun berangkat meninggalkan kamar kerjanya, pergi menghadiri sidang pagi istana.
Setelah sekian lama tidak berada di istana, kini harus kembali duduk diatas kursi kebesaran nya.
Guo Yun sedikit merasa canggung dan kurang nyaman, apalagi harus menghadapi begitu banyak pasang mata yang berada di hadapannya.
Si Si yang menggantikan Gongsun Li mendampinginya, dengan lembut memegang bahunya.
Seolah olah mengerti dengan perasaan yang sedang di hadapinya saat ini.
Guo Yun segera merasa tenang dan berkata,
"Kalian semua berdirilah.."
Semua yang hadir di istana baru berani berdiri, setelah mendengar ucapan Guo Yun.
"Siapa yang ingin menyampaikan sesuatu silahkan saja.."
ucap Guo Yun mempersilahkan bawahannya untuk maju menyampaikan laporan mereka satu persatu.
Guo Yun mendengarkan laporan mereka satu persatu hingga selesai.
Bila ada yang sama dengan laporan tertulis di ruang kerjanya, Guo Yun akan meminta pelayan nya, untuk membagikan laporan yang sudah di jawab nya.
Sebaliknya bila belum pernah ada berkas laporannya, Guo Yun akan menjawabnya secara lisan.
Sidang pagi istana, berjalan dengan cukup lancar,. setelah tidak ada laporan lagi Guo Yun pun membubarkan acara sidangnya.
Dia lalu bersama Si Si kembali keruang kerjanya, pergi menemui Gongsun Li.
Tapi saat tiba di sana, Gongsun Li sudah tidak ada di sana..
"Pelayan ..!"
panggil Guo Yun.
"Ya Yang Mulia.."
jawab seorang pelayan yang bertugas mengurus tempat itu sambil berlutut
tanya Guo Yun singkat.
"Permaisuri beresan dia sudah kembali ke kamar nya sendiri.."
"Permaisuri juga berpesan, agar hari ini selir Si Si yang temani yang mulia, besok baru giliran selir Min Min yang temani Yang Mulia."
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Tolong sampaikan ke permaisuri, siang nanti harus kemari.."
"Aku hanya ingin masakan beliau.."
"Baik Yang Mulia.."
jawab pelayan itu dengan kepala tertunduk.
"Pergilah,.."
ucap Guo Yun sambil memberi kode agar pelayan itu untuk pergi .
Setelah pelayan pergi, Guo Yun kembali larut dalam tumpukan laporan sambil di temani oleh Si Si.
Saat makan siang tiba, melihat yang hadir hanya pelayan yang datang mengantar makanan saja.
Guo Yun langsung mengerutkan alisnya dan berkata,
"Pelayan,.."
"Ya Yang Mulia.."
jawab pelayan pelayan di sana, buru buru berlutut.
"Kalian bangunlah, ehh kamu siapa nama mu..? bagaimana dengan pesan ku tadi pagi ? apa kamu tidak sampaikan..?"
"Mengapa permaisuri tidak terlihat ? ini masakan siapa..?"
tanya Guo Yun sambil menatap tajam kearah pelayan yang tadi pagi melayaninya.
"Sudah Yang Mulia, tentu saja hamba sudah menyampaikan nya,"
"Tapi permaisuri bilang dia berhalangan hadir, dia hanya meminta hamba dan yang lainnya, pergi menjemput masakan nya saja."
"Semua masakan ini adalah masakan, yang sengaja permaisuri siapkan sendiri buat Yang Mulia."
Guo Yun mengangguk lalu berkata, baiklah kalian bubarlah.
Bila ada perlu aku akan memanggil kalian kembali.
Pelayan pelayan itu dengan cepat buru buru mengundurkan diri dari sana.
Guo Yun tersenyum tak berdaya menatap Si Si dan berkata,
"Mengapa harus kalian buat seperti ini, seperti sedang mengantre apa saja.."
"Mengapa tidak di buat satu keluarga besar makan minum tertawa bersama.."
"Bukankah begitu akan lebih nyaman, dengan begini aku justru akan semakin merasa bersalah dan tidak betah hidup di istana yang penuh aturan ini.."
ucap Guo Yun mengeluh.
Untuk sesaat dia bahkan kehilangan selera makannya, meski dia tahu itu adalah masakan Gongsun Li.
Si Si tersenyum dan berkata,
"Semua adalah atas pengaturan kakak Li, kami hanya ikut saja.."
"Bila Yun Ke ke belum lapar, bagaimana bila Si Si hibur dengan beberapa musik kecapi ."
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Boleh tapi sebaiknya kita makan dulu, jangan kecewakan jerih payah Li er.."
ucap Guo Yun, lalu dia mulai makan dengan lahap di temani oleh Si Si.
Sambil makan Si Si pun berkata,
"Yun ke ke apa yang sebenarnya terjadi ? bagaimana Min Min dia bisa..?"
Guo Yun sambil makan, dua menceritakan semua nya tanpa perlu di tutupi sedikitpun.
Dia sangat tenang dan santai dalam bercerita, karena dari tiga istrinya, Si Si lah yang merupakan teman bercerita yang paling baik.
Si Si sangat pengertian dan lembut, dia sekalu bisa memahami kesulitan orang lain.
Makanya Guo Yun tidak perlu berhati hati, seperti saat bercerita dengan Gongsun Li.
Dia harus menutup nutupi beberapa bagian yang tidak perlu.
Selesai makan, Guo Yun dan Si Si kembali melanjutkan sisa pekerjaan mereka.
Menjelang sore, tepat saat pekerjaan nya selesai.
Si Si pun berkata,
__ADS_1
"Yun ke ke bagaimana bila kita pergi kekediaman adik Min Min.."
"Aku sedikit kangen dengan Meng Yun.."
Guo Yun menoleh menatap Si Si dan berkata,
"Tapi saat ini adalah waktu kamu dan aku.. yang sudah di atur."
Si Si tersenyum dan berkata,
"Aturan adalah mati, kita adalah hidup, asalkan nyaman apa yang perlu di pikirkan.."
"Ayo kita main ketempat adik Min Min, tentu akan lebih menyenangkan sore sore begini, duduk minum teh dan bersantai bersama."
ucap Si Si sambil menarik tangan Guo Yun ikut dengan nya.
Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandengan tangan meninggalkan ruang kerja Guo Yun.
Saat tiba di kediaman Min Min, mereka malah menemukan Gongsun Li di sana sedang duduk memangku Meng Yun.
Sedangkan Min Min sedangkan menyuapi putranya makan.
Melihat kedatangan ayahnya, Meng Yun langsung berhenti makan.
"Ayah...!"
teriak anak itu gembira.
Lalu dia merosot turun dari pangkuan Gongsun Li berlari masuk kedalam pelukan ayahnya.
Sambil tersenyum lebar Guo Yun menggendong putranya, sambil melangkah menghampiri kedua istrinya yang lain.
Ketiga istri Guo Yun saling pandang, sesat kemudian mereka malah tertawa bersama.
Guo Yun mengambil tempat duduk di sisi Gongsun Li, sambil memangku putranya, dia berkata,
"Li Er jangan pakai urutan lagi seperti antrean, kita bersama sama saja seperti ini.."
"Terus terang aku lebih nyaman seperti ini, makan bersama, ngobrol dan bersantai bersama.."
"Tentu nya saat tidur baru kita atur secara bergantian.."
"Tapi bila ada kondisi khusus, seperti kalian ada yang sakit, aturan itu aku tidak bisa.."
"Aku tidak akan bisa tenang tidur, bila salah satu di antar kalian ada yang sakit, tapi aku tinggal.."
ucap Guo Yun serius.
Gongsun Li tersenyum dan berkata,
"Semua mengikuti mu, kamu kepala rumah tangga nya.."
Guo Yun tersenyum lebar, lalu dia membantu Min Min menyuapi makan putra mereka.
Setelah itu mereka berempat baru makan bersama, masakan yang di buat oleh koki istana.
Meski tidak seenak masakan istrinya, tapi Guo Yun tidak masalah, dia sudah terlalu bahagia bisa kumpul bersama seperti saat ini.
Baru saat malam sudah cukup larut, Guo Yun mengantar Gongsun Li kembali ke kamarnya di temani Si Si.
Terakhir dia baru menginap di kamar Si Si.
Hari hari berlalu dengan cepat tidak terasa 3 tahun telah berlalu.
Kini Guo Yun sudah memilki dua putra satu putri, Gongsun Li melahirkan seorang putri untuk nya yang di beri nama Guo Ling Ling.
Sedangkan Si Si melahirkan seorang putra yang usianya beberapa bulan lebih muda dari Guo Ling.
Putra dari Si Si diberi nama Guo Feng.
Selama 3 tahun terakhir semua berjalan dengan aman tentram dan damai.
Guo Yun melewati kehidupannya dengan penuh kedamaian, Guo Yun juga sudah menunjuk seorang perdana menteri muda, yang tidak kalah cerdas dari nya.
Perdana menteri ini bukan orang lain, dia masih terhitung keponakan nya Zhang Yi, putra tunggal dari almarhum adik perempuan Zhang Yi.
Lewat Zhang Yi, keponakannya yang bernama Zhong San di perkenalkan dengan Guo Yun.
Melihat pemuda itu sangat berbakat dalam ilmu politik dan tata negara.
Guo Yun sendiri yang membimbingnya secara langsung, hampir di semua kegiatan pemerintah, dia selalu ikut hadir di sisi Guo Yun.
Setelah merasa cukup, Guo Yun sedikit demi sedikit mulai mewakilkan pekerjaan kepadanya.
Sambil diawasi dan dievaluasi ulang, saat merasa dia sudah siap.
Guo Yun pun melepaskan satu persatu pekerjaan nya, untuk di wakilkan oleh Zhong San.
Sehingga Guo Yun bisa punya waktu lebih buat keluarganya, juga sekaligus mengawasi perkembangan militernya.
Untuk mengukuhkan kekuasaan pemuda itu, Guo Yun mengangkatnya sebagai perdana menteri kerajaan Yue.
Kini Guo Yun hanya sesekali saja mengevaluasi hasil pekerjaan nya, sejauh ini Guo Yun menemukan pekerjaan Zhong San sangat memuaskan.
Selain itu Guo Yun juga menemukan Zhong San mewarisi sifat pamannya Zhang Yi yang sangat jujur dan setia.
Tenang dalam bertindak, sabar juga bijaksana.
Hanya satu kekurangan Zhong San, dia sering tidak tega.
Agak sedikit mirip Li Kui.
Guo Yun menyadari hal itu, makanya, dia membuat aturan hukum yang jelas buat Zhong San agar dia tidak sulit menjalankan tugas nya.
Terutama saat harus mengambil hukuman secara tegas.
Dengan hadirnya Zhong San sebagai perdana menteri kerajaan Yue.
Guo Yun baru bisa menikmati kehidupannya yang tenang dan santai.
Seperti pagi ini Guo Yun dan keluarganya terlihat sedang duduk santai sambil minum teh di Ting peristirahatan, di taman bunga, yang terletak di halaman belakang kediaman Guo Yun.
"Zhong San kamu pagi pagi sekali kemari..ada apa. ?"
tanya Guo Yun heran.
Saat melihat kedatangan perdana menteri barunya itu.
"Salam Yang Mulia..semoga yang mulia dan keluarga sehat selalu panjang umur dan sejahtera.."
ucap Zhong San sambil bersujud penuh hormat.
"Tidak perlu peradatan Zhong San, bangunlah.."
"Mari ikut duduk bergabung bersama kami, minum teh sambil jelaskan maksud kedatangan mu.."
ucap Guo Yun tersenyum lembut.
Sambil mengisi cawan kosong di hadapan Zhong San.
Sementara itu Gongsun Li, Min Min dan Si Si, mereka bertiga menatap dengan agak cemas kearah Zhong San.
Tidak seperti biasanya Zhong San yang biasanya selalu bersikap tenang terlihat gugup.
"Terimakasih Yang Mulia.."
ucap Zhong San sopan, lalu dia meminum pelan teh wangi di hadapannya.
Setelah menenangkan hatinya, lewat seteguk teh hangat yang di minumnya.
Zhong San pun berkata,
"Yang Mulia barusan aku mendapat kabar cepat dari Xian Yang.."
Guo Yun yang sedang minum teh menghentikan gerakannya, dua menaruh kembali cawan nya keatas meja dan berkata,
"Ada kabar berita apa dari Xian Yang..?"
Zhong San menghela nafas panjang, lalu berkata,
"Ada terjadi perubahan di Xian Yang, Lu Bu Wei berhasil membujuk Jendral Liu dan Jendral Sun berbelot kearahnya.."
"Mereka melakukan kudeta secara internal yang berakhir dengan Jendral Wen dan Jendral Nan gugur dalam tugas.."
"Pejabat berwenang kita Mi Fang, kini di masukkan kedalam penjara.."
"Kini Xian Yang telah jatuh ketangan Lu Bu Wei, yang mendapat dukungan dari pasukan Xiong Nu dari wilayah barat."
Guo Yun hanya mendengarkan semua nya dalam diam, sepasang matanya sedikit berkaca kaca, saat mendengar dua jendral kepercayaan nya, jendral Wen dan Jendral Nan gugur dalam tugas.
Sesaat kemudian Guo Yun baru berkata,
"Bagaimana dengan keadaan keluarga mereka..?"
Zhong San menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang selamat Yang Mulia, mereka semua di eksekusi oleh penguasa baru.."
Cawan ditangan Guo Yun jatuh keatas lantai.
"Pranggg..!"
Cawan yang jatuh keatas lantai langsung hancur pecah berantakan..
"Lu Bu Wei tidak mungkin berani bergerak tanpa pendukung kuat, siapa yang menjadi pendukungnya..?"
tanya Guo Yun mencoba bersikap setenang mungkin.
Zhong San dengan kepala tertunduk berkata,
"Menurut laporan dari mata mata kita, Lu Bu Wei di lindungi oleh Dewa Naga Gurun Pasir dan ketua Ling Yun Pai."
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Pantas saja Jendral Liu dan Sun melakukan kudeta, di bawah ancaman jagoan seperti itu."
"Wajar mereka terpaksa berbelot, atau akan mengalami nasib seperti Jendral Wen dan Nan.."
"Apa kabar dengan Yin Zheng..?"
tanya Guo Yun.
__ADS_1