
Zhang Yi menghentikan latihannya, sambil menghapus keringat di wajahnya dengan lengannya yang kekar.
Zhang Yi melangkah cepat menghampiri istrinya.
Tangan kanan menyambut tempat air minum dari istrinya, tangan kirinya dia gunakan untuk membelai perut istrinya yang besar.
"Xiao Tie hari masih pagi, kenapa kamu kemari ? tidak tidur sedikit lebih lama lagi.."
"pekerjaan kasar begini suruh pelayan kan bisa..?"
ucap Zhang Yi sambil terus membelai perut istrinya dengan lembut.
"Tidak apa apa suami ku, aku sudah biasa bangun pagi.."
"Kamu suami ku melayani mu adalah kewajiban ku sebagai istri.."
"Jangan lupa aku dulu juga pelayan.."
ucap Xiao Tie sambil tersenyum lembut.
"Itu dulu, tapi kini kamu kan istri ku, apalagi kamu sedang mengandung anak kita.."
"Kalau nanti kelelahan kondisi kalian berdua terganggu, bukannya akan lebih repot.."
"Ayo kita kembali ke kamar saja lagi.."
ucap Zhang Yi ingin membantu menuntun istrinya kembali ke kamar mereka.
"Tidak usah, lebih baik kamu tani aku jalan jalan di sekitar rumah, katanya itu akan sangat membantu proses kelahiran nanti.."
ucap Xiao Tie sambil tersenyum lembut.
"Engg,..! baiklah, mari kita jalan jalan di sekitar rumah.."
ucap Zhang Yi memegangi tangan istrinya dengan lembut.
Dia kemudian membantu menuntun istrinya meninggalkan ruang Lian Wu Ting.
Tapi baru saja mereka ingin beranjak dari tempat itu, terlihat seorang pelayan tua dengan langkah buru buru menghampiri Zhang Yi.
Tuan besar, di ruang tamu, ada Panglima Li dan istrinya datang berkunjung.
"Aku sudah mengaturnya, mereka kini sedang menikmati teh, sambil menunggu kedatangan tuan besar.."
ucap pelayan itu sopan.
"Terimakasih paman Kam, kamu sudah mengaturnya dengan tepat.."
puji Zhang Yi ke pelayan nya itu.
"Sayang aku terpaksa tidak bisa menemani mu, ada tamu penting aku harus segera temui mereka.."
ucap Zhang Yi sedikit tidak enak hati.
"Kamu pergilah suami ku, jangan khawatirkan aku, aku nanti bisa minta Siao Lian da Siao Bwee temani aku.."
ucap Istri Zhang Yi sambil tersenyum lembut penuh pengertian.
Zhang Yi mencium lembut kening istrinya, setelah itu dia pun dengan langkah buru buru langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Ada apa Li Ba pagi pagi kemari ini sangat tidak seperti kebiasaannya.."
gumam Zhang Yi sambil mempercepat langkahnya dengan penuh tanda tanya.
Zhang Yi sambil berjalan, dia langsung mengenakan jubah luarnya di bantu oleh kepala pelayan di kediamannya, Paman Kam.
Pelayan tua itu, saat berkunjung ke Lian Wu Ting, dia sudah sekalian menyiapkan jubah dinas Zhang Yi.
Sesaat kemudian Zhang Yi pun sudah tiba di ruangan di mana Li Ba dan Sian Sian sedang menunggunya.
Begitu melihat Li Ba dan Sian Sian sedang duduk santai menatap kearah nya.
Zhang Yi buru buru melangkah maju memberi hormat dan berkata,
"Panglima Li, putri Sian Sian, tumben pagi pagi begini kalian sudah kemari.."
"Ada masalah apa yang Lao Zhang bisa bantu.?"
tanya Zhang Yi sambil tersenyum lebar.
Lao Zhang adalah si tua Zhang.
Li Ba membalas penghormatan Zhang Yi dan berkata,
"Paman Zhang duduklah, kami ada beberapa pertanyaan penting ingin di bicarakan dengan paman.."
"Apa di sini bisa dan cukup aman..?"
Tanya Li Ba langsung ke pokok masalah, tidak berputar putar seperti sifat alaminya dia.
Zhang Yi tersenyum dan berkata,
"Katakan saja panglima di sini aman.."
"Bagaimana dengan dia..?"
tanya Sian Sian sambil menatap kearah paman Kam.
"Tidak apa apa paman Kam sudah lama mengikuti ku, aku sangat mempercayainya.."
"katakan saja, jangan ragu.."
ucap Zhang Yi penuh keyakinan.
"Baiklah paman Zhang, kalau begitu aku langsung saja.."
ucap Li Ba serius.
Zhang Yi meresponnya dengan anggukan kepala dan terus menatap kearah Li Ba dan Sian Sian secara bergantian, menunggu mereka berbicara.
Li Ba menoleh kearah istrinya, dia mendapatkan anggukan kecil dari Sian Sian yang mengijinkan dia berbicara.
Li Ba setelah mengumpulkan nafasnya, akhirnya dia berkata,
"Paman Zhang, apa paman ada terlibat dalam kasus suap menyuap di perbatasan,? juga terlibat kasus menjual infomasi rahasia militer ke pihak Qin..?"
Mendengar hal itu tentu saja Zhang Yi sangat kaget.
Dia sudah lama mengikuti Guo Yun, nyawanya pun adalah Guo Yun yang selamatkan.
Dia mana mungkin pernah berpikir untuk melakukan hal itu.
Jelek jelek dia termasuk salah satu pendiri pasukan harimau hitam bersama ketiga saudara angkatnya..
Pasukan pelindung nomor satu di kerajaan ini.
Dengan wajah kaget bercampur emosi, Zhang Yi sambil berusaha menahan emosi dia pun berkata,
"Panglima Li, meski aku tidak pernah bekerja di bawah mu, tapi reputasi dan sifat ku kamu tidak mungkin tidak pernah mendengarnya..?"
"Hari ini aku katakan pada mu, bila kamu bisa membuktikan aku melakukan hal yang kalian tuduhkan.."
"Tidak perlu kalian repot memikirkan cara menghukum ku.."
"Aku akan gorok leher ku sendiri sekarang juga di hadapan kalian berdua.."
"Tranggg...!"
Zhang Yi langsung meletakkan pedang yang tergantung di pinggangnya diatas meja.
Dia memang ahli senjata cambuk, tapi sebagai perwira militer, pedang itupun tidak pernah jauh dari sisinya.
Li Ba juga tidak kalah gertak, dia adalah orang yang jujur, apa adanya.
Emosinya juga labil pantang di tantang.
Melihat sikap Zhang Yi, dia memberi kode ke Sian Sian agar berkas bukti di keluarkan.
Suan Sian dengan tenang berkata,
"Paman Zhang tahan dulu emosi mu, segala hal bisa di bicarakan tak perlu seperti ini.."
"Ini ada beberapa bukti, paman Zhang bisa lihat sendiri.."
"Apakah stempel stempel dan tulisan tulisan di sini asli atau palsu.."
ucap Sian Sian sabar.
Dia meletakkan berkas berkas bukti berjejer di sana.
Zhang Yi dengan penasaran mencoba mendekat untuk melihat nya sendiri.
Begitu melihatnya, dia dengan tangan gemetar langsung mengambil setumpuk berkas itu.
Untuk di lihat secara lebih dekat, hasilnya dia terduduk lesu di sana.
Tiba-tiba dengan emosi dia menyambar pedang diatas meja.
"Sringggg..!!"
Zhang Yi langsung mencabut pedang itu meletakkan nya di lehernya.
Sambil menjatuhkan diri berlutut menghadap kearah Li Ba dan Sian Sian.
"Tolong sampaikan permintaan maaf ku pada Tuan Yun, Zhang Yi berangkat lebih dulu.."
__ADS_1
Setelah berkata, Zhang Yi langsung menarik pedang itu untuk menggorok lehernya sendiri.
"Tabbb...!"
Pedang di tangan Zhang Yi tertahan oleh telapak tangan Li Ba.
"Paman Zhang tahan...!"
"Paman bila pergi dengan cara seperti ini, itu adalah tindakan tak bertanggung jawab dan tidak ada manfaatnya.."
"Setidaknya paman harus jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi..,?"
"Mengapa paman bisa terseret dalam masalah ini..?"
ucap Sian Sian sabar.
Zhang Yi menyadari percuma saja dia beradu otot dengan Li Ba, dia tidak bakal menang.
Akhirnya dia melepaskan pedangnya dan berkata,
"Aku sudah tidak punya muka, untuk bertemu dengan Tuan Yun.."
"Mengapa kalian tidak biarkan aku pergi saja.."
"Keluarga ini mengalami ketidak beruntungan ini, ini adalah murni kesalahan ku.."
"Biarlah aku sendiri saja yang menanggungnya.."
ucap Zhang Yi tertunduk lesu.
Li Ba membantu Zhang Yi bangun dari posisi berlutut nya.
"Paman, tahu salah perbaiki kesalahan itu baru tindakan pria sejati.."
"Sudah tahu salah mendiamkannya saja, malah pilih mati, itu tindakan tak bertanggung jawab.."
"Paman akan mengecewakan kepercayaan dan harapan kakak ku pada mu.."
Mendengar ucapan Li Ba Zhang Yi seperti di tampar wajahnya hingga jadi tersadar.
Dia menatap Li Ba dan Sian Sian secara bergantian, beberapa saat kemudian dia baru berkata,
"Stempel ini asli milik ku, tapi perjanjian ini dan bukti bukti lainnya, itu semua di luar sepengetahuan ku.."
"Dari tulisan ini yang memberikan bocoran rahasia militer kita di perbatasan, dan berbagai tempat lainnya."
"Aku mengenali siapa pelakunya.."
"Dia adalah istri kedua ku..aku adalah kepala rumah tangga, yang gagal mengawasi tindak tanduk anggota keluarga terdekat ku.."
"Sudah sepantasnya aku terima hukuman ini.."
ucap Zhang Yi sedih penuh sesal.
Sesaat kemudian Zhang Yi menoleh kearah paman Kam dan berkata,
"Undang nyonya kedua kemari..masalah ini harus dia jelaskan..'
Paman Kam mengangguk dan berkata,
"Baik tuan,.."
Tanpa banyak bicara, paman Kam pergi menjalankan tugas nya.
Tak lama kemudian terlihat paman Kam kembali kedalam ruangan tersebut bersama Siao Tie yang sedang hamil dengan perut besar.
Melihat hal ini, Sian Sian menatap Li Ba dengan ekspresi wajah serba salah.
Li Ba tidak berkata apa-apa, tapi dia juga terlihat agak kasihan dengan nasib Zhang Yi dan istrinya.
Tapi bagaimana pun ini adalah tugas jadi harus di gali hingga tuntas.
Agar kelak tidak sampai terulang kembali.
"Suami ku, kamu kenapa ? paman Kam bilang kamu mencari ku,.ada apa..?"
Zhang Yi menghela nafas panjang dan berkata,
"Siao Tie kamu sungguh mengecewakan ku, tahu kah kamu perbuatan mu ini.."
"Membuat aku hidup tidak ada bedanya dengan mati.."
"Mengapa kamu bisa melakukan kesalahan seperti ini..?"
"Semua karya mu ada di sana kamu lihat saja sendiri.."
ucap Zhang Yi lesu.
Siao Tie yang mendengar ucapan suaminya, tanpa perlu melihat pun dia sudah tahu.
Siao Tie langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan suaminya sambil menangis dan memegangi perutnya yang besar dua berkata,
"Maafkan aku suami ku, seharusnya aku dari awal sudah semestinya berterus-terang pada mu.."
"Rasa egois yang takut kehilanganmu lah, yang membuat aku terjerat hingga sejauh ini.."
ucap Siao Tie sambil menahan tangis.
Zhang Yi terdiam di sana, hanya bisa menatap kearah wajah istrinya dengan perasaan campur aduk.
Dia benar benar tidak tahu mau bilang apa.
Siao Tie menoleh kearah Li Ba dan Sian Sian, lalu berkata,
"Yang Mulia semua masalah ini tidak ada hubungannya dengan suami ku.."
"Sendiri yang berbuat sendiri yang harus bertanggung jawab.."
"Aku tidak ingin melibatkan siapapun, hanya saja aku minta kebijaksanaan yang mulia.."
"Ijinkan aku melahirkan dulu, darah daging keluarga Zhang ini, setelah itu aku siap menerima hukuman ku.."
ucap Siao Tie penuh tekad, yang terlihat jelas di sepasang mata nya.
Dia sudah siap, bahkan hukuman mati sekalipun dia tidak akan ragu menerimanya.
"Ahh Siao Tie, mengapa harus seperti ini..?"
keluh Zhang Yi pelan, dia menatap kearah istri keduanya itu dengan hati hancur.
"Tidak apa-apa suami ku, bisa menjadi istri mu meski hanya sesaat aku tidak akan pernah menyesal.."
"Bila waktu bisa di ulang, aku tetap akan pilih jalan ini, asal bisa mendampingi mu.."
ucap Siao Tie dengan airmata bercucuran.
Suan Sian sudah tidak tahan melihat nya, dia membuang muka kesamping, menghapus dua butir air mata nya yang ikut tumpah.
Setelah perasaannya lebih tenang, dia baru maju membantu Siao Tie untuk bangkit berdiri, lalu membantunya untuk duduk.
"Semua masih bisa di bicarakan, asal kamu bersedia ceritakan semua dari awal hingga akhir secara terus terang."
ucap Sian Sian yang merasa kasihan dan bersimpati dengan keadaan Siao Tie dan Zhang Yi.
Siao Tie terdiam sejenak, dia terlihat termenung cukup lama, akhirnya perlahan-lahan dia bercerita.
"Aku dahulunya adalah pelayan di istana kerajaan Qin, yang melayani selir Yang.."
"Suatu hari saat raja Qin berkunjung, selir Yang tidak ada ditempat, kamu bertemu secara kebetulan.."
"Setelah beberapa saat mengobrol dengan nya, dia menawarkan aku tugas menjadi mata matanya menyusup kemari.."
"Rencana awalnya, aku di tugaskan untuk mendekati Raja Guo Yun.."
"Tapi di sana aku gagal, dan di usir oleh Raja Guo Yun di pindahkan ke bagian cuci baju di kuil istana.."
"Suatu hari secara tidak sengaja, aku bertemu dengan nyonya pertama, nyonya pertama tertarik dengan ku.."
"Dia membebaskan ku dari istana, lalu aku di bawa kekediaman nya.."
"Di sana lah aku mulai bekerja sambil mengumpulkan informasi militer untuk di kirim ke Xian Yang.."
"Tapi karena melihat kebaikan tuan dan nyonya, akhirnya aku memutuskan tidak melanjutkan pekerjaan ku lagi.."
"Aku memutuskan hubungan dengan informan yang menjadi penghubung ku dengan Yin Zheng."
"Tapi suatu hari saat dia tahu aku telah menjadi istri kakak Zhang, dia kembali menemui ku lagi.."
"Dia mengancam bila aku tidak mengikuti permintaannya, dia akan membongkar semua nya.."
"Aku yang takut bila kakak Zhang tahu, dia akan mengusir dan menceraikan ku.."
"Akhirnya aku kembali bekerja untuk nya, inilah hasilnya.."
ucap Siao Tie sambil menatap suaminya penuh penyesalan.
"Siao Tie, siapa informan itu,? apa dia juga orang penting di kerajaan Yue..?"
tanya Sian Sian ingin tahu.
Siao Tie menatap suaminya sejenak, seolah olah ingin mengumpulkan keberanian.
Setelah nya dia baru berkata,
"Dia adalah Menteri percepatan kesejahteraan rakyat, Mentri Yang Song.."
__ADS_1
"Nama aslinya adalah Zhao Kuai, dia masih terhitung adiknya Kasim Zhao Gao, Kasim yang paling dekat dengan Ying Zheng.."
Sian Sian dan Li Ba saling pandang sejenak, saat mendengar hal ini.
Menteri Kao, mereka berdua jadi teringat dengan adik ipar Zhong San yang katanya adalah putra dari menteri ini.
Kini mereka berdua mengerti mengapa keadaan di rumah orang tua Zhong San juga persis dengan di sini.
Carut marut, terlibat dalam skandal yang menyeret Zhong San sama seperti Zhang Yi.
Sementara Sian Sian dan Li Ba sedang sibuk dengan pikiran mereka.
Siao Tie sudah kembali melanjutkan berkata,
"Sebentar.."
ucap Siao Tie sambil bangkit berdiri dengan sedikit susah payah.
Dia harus memegangi perut bawahnya yang besar, sambil memegangi pinggang nya yang pegal dan terasa linu linu, karena harus menahan beban berat di perutnya.
Setelah itu dengan langkah pelan Siao Tie berjalan menuju sebuah patung Hiasan Ji Lay Hud, yang ada di ruangan itu.
Patung hiasan itu di.letakkan di sebuah rak kayu yang menempel ketembok.
Saat patung itu di geser, di bawah patung itu ada sebuah lubang.
Siao Tie memasukkan tangannya kedalam lubang tersebut, merongohnya.
Sesaat kemudian saat tangan di tarik keluar dari sana.
Di tangan Siao Tie kini ada sebuah lipatan kertas, Siao Tie menyerahkan ke Sian Sian dan berkata,
"Ini adalah daftar nama, jaringan informan Ying Zheng, yang sengaja di tempat kan di kerajaan Ini.."
Sian Sian menerimanya dengan gembira.
"Siao Tie terimakasih banyak,mengingat jasa dan kejujuran mu, juga kondisi mu.."
"Aku memutuskan masalah ini selesai sampai di sini saja.."
"Paman Zhang, kedepan nya kami masih banyak membutuhkan bantuan mu.."
"Jadi kesempatan paman untuk menebus rasa bersalah paman masih banyak.."
"Kami permisi dulu.."
"Besok pagi, paman dan Zhong San menghadap lah ke istana, kami tunggu di kediaman kami untuk merundingkan tugas besar buat kalian berdua.."
"Sekarang kami permisi dulu.."
ucap Sian Sian sambil bangkit dari duduknya.
Dia dan Li Ba memberi hormat ke tuan rumah, setelah itu mereka berdua pun langsung pergi dari sana.
"Terimakasih Yang Mulia, hamba siap jalankan perintah.."
ucap Zhang Yi penuh haru.
Dia benar benar merasa berhutang Budi besar terhadap Sian Sian dan Li Ba.
Mereka bukan hanya memaafkan dia, tapi yang terpenting mereka juga memaafkan istrinya.
Sepeninggal Li Ba dan Sian Sian, Siao Tie sambil menangis sedih kembali berlutut di hadapan suaminya.
"Suamiku, meski mereka sudah memaafkan aku.."
"Tapi aku tetap sulit untuk memaafkan diri ku sendiri.."
"Aku benar-benar tidak punya muka untuk berhadapan dan menjadi istri mu lagi.."
"Setelah anak ini lahir aku pasti akan pergi menjalani hukuman ku, aku akan pergi menjauhi kehidupan kalian..'
ucap Siao Tie sambil menangis sedih dengan kepala tertunduk.
Zhang Yi terlihat serba salah, dia berulang kali mengulurkan tangannya ingin menyentuh kepala istrinya.
Tapi pada akhirnya dia selalu membatalkannya, dan menarik tangan nya kembali.
Melihat hal itu, paman Kam yang jarang bicara.
Akhirnya pembantu setia itu ikut berbicara.
"Tuan dengarlah nasehat hamba mu ini.."
"Memaafkan nya, sama dengan memaafkan diri tuan sendiri.."
"Demi keutuhan dan kebahagiaan keluarga ini, maafkanlah nyonya Siao Tie tuan.."
"Tidak ada manusia yang sempurna tuan, asal dia mau bertobat dan memperbaikinya itu yang terpenting.."
"Jangan sampai ada penyesalan nanti nya, harap tuan pertimbangkan lagi baik baik."
ucap Paman Kam pelan.
Zhang Yi terdiam, seumur hidup ikut dengan nya, baru kali ini pembantunya itu berbicara begitu banyak, tapi sangat bermakna dan mendalam.
Padahal setahu Zhang Yi pembantunya ini, selama ini bila berbicara, dia hampir tidak pernah lebih dari 3 kata.
Ini adalah kali pertama dia mendengar pembantu setianya itu berbicara begitu banyak.
Ini yang di namakan orang yang sedikit bicara adalah orang yang paling bijaksana.
pikir Zhang Yi dalam hati.
Setelah mendengar ucapan panjang lebar pembantu setianya.
Sambil tersenyum pahit dan menghela nafas panjang.
Zhang Yi akhirnya mengukur tangan nya membelai kepala istrinya dengan lembut.
Kemudian dia ikut berlutut di hadapan istrinya, menariknya kedalam pelukannya.
Zhang Yi memeluknya dengan hangat dan berkata,
"Istri ku, kamu suruh aku bagaimana melanjutkan sisa hidup ku dan anak kita, bila kamu pergi meninggalkan kami.."
"Tidak istriku, aku tidak akan pernah bisa membiarkan hal itu terjadi pada kita.."
"Tidak akan pernah.."
"Aku hanya minta satu hal.padamu, kita adalah suami istri, bila ada masalah kita harus bahas dan bicara dengan jujur bersama sama.."
"Satu kebohongan akan memunculkan kebohongan lain, yang pada akhirnya akan menghancurkan semua nya.."
"Kamu mengerti kan maksud ku..?"
ucap Zhang Yi ikut basah sepasang mata nya.
Siao Tie sudah tidak bisa menjawab ucapan suaminya, dia hanya bisa menganggurkan kepalanya berulang ulang.
Dia terlalu sibuk dengan tangisannya yang di tahan tahan sejak tadi, kini pecah tumpah semuanya di dalam pelukan suaminya.
Hatinya kini sangat lega, setelah suaminya bersedia memaafkan dirinya dan tetap menerima kehadirannya di sisi nya.
Sementara itu Li Ba dan Sian Sian sendiri, setelah berhasil menyelesaikan kedua tugas yang paling berat itu.
Mereka berdua segera kembali ke istana, untuk memberikan laporan ke Gongsun Li.
Di mana mereka menerima informasi, bahwa Gongsun Li dan Si Si baru saja pulang dari Luo Yang bersama Han Wei dan Ying Wu.
Setelah mereka menyelesaikan tugas dari Guo Yun, untuk mengosongkan kota Luo Yang dan kota Da Liang.
Menarik kekuatan pasukan mereka kembali ke pusat ibu kota.
Berbeda dengan Zhang Yi yang bisa pulang lebih awal, Gongsun Li dan Si Si tidak bisa, karena mereka harus menjalankan tugas dari Guo Yun.
Pertemuan kembali keluarga besar itu berlangsung dengan gembira.
Mereka mengadakan pesta makan keluarga dengan gembira bersama putra putri mereka yang bermain bersama dengan gembira.
Li Ba dan Sian Sian, sengaja menyimpan laporan mereka agar tidak merusak suasana kegembiraan mereka.
Baru saat pesta usai, mereka sedang duduk santai, Sian Sian baru membuka dan menceritakan semua nya satu persatu ke Gongsun Li, Si Si, dan Min Min.
Gongsun Li menanggapinya langsung dengan emosi, saat mendengar cerita penyusup yang di tebarkan oleh Ying Zheng di kerajaan Yue..
Bahkan ada beberapa menterinya ikut terlibat menjadi anjing nya Ying Zheng.
Sementara Si Si meski ikut terkejut dan memberikan komentar, rapi dia terlihat lebih bisa mengendalikan emosinya.
Adalah Min Min, dia lebih memilih bersikap netral, hambar, terhadap urusan itu.
Dia bahkan lebih suka ikut bergabung bermain bersama anak anak, yang sangat menyukai kehadirannya di sana.
Tapi tidak ada yang menyalahkan nya, mereka semua paham posisi Min Min, karena bagaimanapun jeleknya Ying Zheng.
Mereka tetap punya pertalian sedarah satu ayah beda ibu.
Jadi paling baik adalah bersikap seperti saat ini.
Akhirnya pesta bubar, semua kembali kekediaman masing masing bersama putra putri mereka.
Keesokan paginya, saat Zhong San dan Zhang Yi datang menghadap ke kediaman Li Ba dan Sian Sian.
Mereka berdua menemukan di sana hadir juga Gongsun Li, Si Si, Li Ba dan Sian Sian.
__ADS_1
Diam diam kedua orang itu sedikit cemas, terutama kehadiran Gongsun Li di sana.