LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
TEMPAT RAHASIA


__ADS_3

Kakek Cu Cu yang bernama Ji Sun bukan orang sembarangan, di dunia persilatan, dia terkenal dengan julukan Cui Ming Koai Jen (Manusia siluman pencabut nyawa )


Dia termasuk seorang Datuk aliran sesat yang bengis dan kejam.


Sedangkan kakek pamannya Ji Bun, dia juga bukan orang sembarangan.


Di dunia persilatan, dia terkenal dengan julukan ( Wu Ti Siaw Jen)


Manusia rendah tanpa lawan.


Dia juga termasuk seorang Datuk aliran sesat yang tidak kalah kejam di banding kakaknya.


Mereka berdua memang berasal dari keluarga bangsawan Ji, masih terhitung paman dari Kaisar Ji Gai.


Kaisar kerajaan Zhou di era 200 tahun yang lalu.


Ketika peralihan kekuasaan dari raja Ji Gai ke raja Ji Ren,. Raja Ji Ren yang kurang menyukai tabiat mereka berdua.


Dia mengusir mereka keluar dari istana,, dengan bantuan Kui Zi Sian Seng.


Dalam duel heboh di halaman depan istana, kedua kakek ini berhasil di kalahkan oleh Kui Zi Sian Seng.


Sehingga mereka berdua memilih mengasingkan diri di pulau neraka.


yang merupakan Pulau tempat asal Ji Sun dan Ji Bun memperoleh ilmu kesaktian mereka.


Sedangkan ayah kandung Cu Cu


Ji Seng, dia juga bukan seorang baik baik, di dunia persilatan dia di kenal dengan julukan Raja Iblis Hitam ( Hei Mo Wang )


Hanya ibu Cu Cu lah yang berasal dari aliran lurus terpandang, karena tertipu oleh obat perampas ingatan Hei Mo Wang, dia akhirnya menjadi istri Hei Mo Wang dan melahirkan Cu Cu.


Hei Mo Wang yang memilih hidup mewah dan mengejar kekuasaan, dia memilih mengabdi pada Raja Ji Yan, seorang raja lalim, yang merupakan raja terakhir dinasti Zhou.


Dalam sebuah pertempuran hebat dengan kerajaan Qin yang di bantu oleh murid lembah hantu.


Hei Mo Wang dan istri nya terluka parah, akhirnya ibu Cu Cu gugur di tempat.


Sedangkan ayah Cu Cu, dia berhasil meloloskan diri membawa putri tunggalnya kembali ke pulau neraka.


Tapi karena luka yang di deritanya sangat parah,. akhirnya setelah berhasil kembali ke pulau neraka dan menyerahkan putrinya kepada ayahnya Cui Ming Koai Jen, dia pun menghembuskan nafas terakhirnya pergi menyusul istrinya.


Demikianlah sekelumit tentang keluarga Cu Cu dan kedua kakeknya itu.


"Cu Cu kamu haus tidak, aku ambilkan buah buah itu untuk mu ya..?"


ucap Li Kui setelah Cu Cu menyelesaikan ceritanya..


Cu Cu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, menyetujui usulan Li Kui.


Li Kui dengan penuh semangat melompat turun dari bangku ayunan.


Lalu dia berlari pergi, memanjat pohon yang kurus menjulang tinggi ke atas itu.


Li Kui menggunakan goloknya untuk membantu, membuat tempat injakan kaki saat dia memanjat keatas pohon itu.


Cu Cu hanya memperhatikan apa yang di lakukan oleh Li Kui sambil tersenyum.

__ADS_1


Dia tidak melarang juga tidak mengiyakan, hanya memandang suaminya dengan tatapan mata penuh rasa kagum.


Dengan susah payah, setengah jam kemudian, Li Kui akhirnya berhasil duduk di pelepah daun pohon jangkung itu.


Li Kui menggunakan goloknya, menebas jatuh buah buah hijau besar itu.


Kemudian dia dengan hati-hati merosot turun dari atas pohon tersebut.


Sampai di bawah, Li Kui menggunakan goloknya untuk mengupas dan membuat lubang kecil di buah hijau itu.


Li Kui memasukkan sebatang ilalang berrongga di lubang kecil yang di buatnya, ilalang itu di gunakan sebagai sedotan, untuk memudahkan Cu Cu meminum air dari dalam buah hijau itu.


Li Kui membawa buah yang siap di minum itu kehadapan Cu Cu dan berkata.


"Adik Cu,..cobalah.."


Cu Cu sambil tersenyum lembut, menggunakan ujung lengan bajunya membersihkan keringat di wajah dan leher Li Kui.


"Kakak Kui minumlah dulu sedikit, baru Cu Cu menyusul.."


ucap Cu Cu menawarkan ke Li Kui.


Li Kui sambil tersenyum gembira, dia meminum nya seteguk, rasa manis dan segar langsung menyelimuti tenggorakan nya yang kering.


"Mmphh,..!"


"Enak,..ayo cobalah Adik Cu.."


ucap Li Kui yang terlihat antusias.


Akhirnya mereka berdua minum secara bergantian hingga buah itu habis.


Setelah air di buah itu habis, Cu Cu menggunakan lengannya yang halus kecil, untuk di hantamkan ke buah yang berkulit tebal dan alot itu.


Melihat hal itu, reflek Li Kui berteriak kaget,


"Hei ja...!"


Li Kui sangat kaget, dia khawatir lengan Cu Cu yang kecil akan patah.


Tapi kenyataannya, sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya, buah itu sudah terbelah dua.


Li Kui hanya bisa menatap dengan wajah melongo, seperti orang bodoh.


Hingga mulutnya di suapin dengan isi buah itu, yang terlihat putih bening lembut gurih dan manis.


Li Kui baru tersadar dari rasa kagetnya.


Dia buru-buru memegangi lengan Cu Cu dan berkata,


"Adik Cu, lengan mu tidak apa-apa ?"


Sambil tersenyum Cu Cu berkata,


"Tidak apa-apa, kakak Kui tenang saja.."


"Ayo kakak Kui ini lagi,..gimana enak kan..?"

__ADS_1


ucap Cu Cu sambil menyuapi isi buah ke mulut Li Kui, dengan menggunakan cangkang kulit kerang mutiara.


Li Kui mengangguk setelah menelannya, dia dengan heran kemudian berkata,


"Adik Cu bagaimana mungkin tangan mu bisa sekuat itu..?"


Cu Cu tersenyum dan berkata,


"Bila kakak Kui tertarik ingin belajar, asalkan kakak Kui rajin berlatih.."


"Cu Cu yakin kakak bahkan bisa lebih hebat dari Cu Cu.."


Li Kui menatap Cu Cu sambil tersenyum, lalu berkata


"Kalau memecahkan buah itu mungkin bisa, tapi lebih hebat dari adik Cu kurasa itu sulit."


"Adik Cu pasti di latih dari kecil oleh kakek, sedangkan aku udah tua gini baru mau memulainya, bisa setengahnya saja kurasa udah hebat.."


ucap Li Kui sambil tersenyum pahit.


"Kakak Kui tak boleh putus asa, asal ada niat, semuanya mungkin saja.."


"Cu Cu sangat yakin itu, Cu Cu akan selalu dukung kakak."


"Kakak sendiri juga harus punya keyakinan..'


ucap Cu Cu serius.


Li Kui mengangguk, sambil menyentuh lembut wajah Cu Cu, Li Kui berkata,


"Terimakasih adik Cu, kakak berjanji akan berusaha, kakak tidak akan mengecewakan harapan mu.."


Cu Cu tersenyum senang dan berkata,


"Ayo kak ikut Cu Cu, Cu Cu akan tunjukkan sesuatu ke kakak.."


"Apa itu ?"


ucap Li Kui heran, sambil melangkah mengikuti arah tarikan tangan Cu Cu.


Cu Cu membawa Li Kui menghampiri sebuah tebing setinggi 20 meter.


Dengan dua kali lompatan, Cu Cu berhasil membawa Li Kui berdiri di atas tebing batu karang.


"Kakak Kui lihat kesebelah sana,.."


"kelihatan ?"


tanya Cu Cu.sambil menunjuk ke sebelah bawah sana.


Li Kui mengikuti arah telunjuk Cu Cu, dan dari sana.


Dia bisa menemukan Guo Yun dan Sian er, terlihat sedang sibuk menyiapkan bahan untuk menambal kapal.


Melihat mereka berdua begitu sibuk, sedangkan dirinya sedang enak enak bersama Cu Cu di sini.


Li Kui agak sedikit merasa tidak enak hati.

__ADS_1


__ADS_2